
Malam dengan cepat telah menjelma menjadi mentari pagi.Raeviga merenggangkan tubuhnya di pelukan Dava.Raeviga akan melepaskan pelukan Dava padanya namun seakan lengan Dava terbuat dari baja,Raeviga terlihat kesusahan melepaskan rengkuhan Dava pada tubuhnya.
Dava hanya meringis geli dalam hatinya yang merasakan pergerakan tubuh Raeviga yang mencoba melepaskannya.
"Dav.."seru Raeviga kemudian mencoba membangunkan Suaminya.Dava membiarkan Raeviga mengoyangkan tubuhnya mencoba melepaskan diri sambil berseru memanggil Dava berulang kali.Namun Dava mencoba membalas perbuatan Raeviga yang kemarin malam meninggalkannya tidur terlebih dahulu.
"Akhhh!!"pekik Dava ketika Raeviga mencubit keras pinggang lelaki itu.Dava mengelus-elus pinggang yang terlihat memerah itu.
"Sakit Rae.."keluh Dava
"Biarin,siapa suruh di bangunin gak bangun-bangun"keluh Raeviga yang akan beranjak bangun dari tidurnya.Namun Dava dengan cepat memeluk kembali tubuh Raeviga hingga gadis itu terhuyung dalam dekapan hangat Dava.
"Ekkhmm!!"seru seseorang dari balik pintu tiba-tiba.Dava spontan melepaskan pelukannya pada Raeviga yang sudah terlihat memerah pada kedua pipinya.Perawat datang dengan membawa paket lengkap alat cek kesehatan beserta catatan pemeriksaan harian.
"Kamu kan.."keluh Raeviga sembari memukul kecil lengan Dava dan berjalan menghindari tatapan Perawat wanita yang sudah berumur sekitar 40 tahunan.
Perawat wanita itu tersenyum melihat Raeviga yang sudah terlihat sangat malu dan menghindar dari tatapannya.
"pengantin baru ya?"tanya perawat itu sambil mengecek kesehatan Dava.
Raeviga yang tak ingin menjawab karena malu ,dia hanya tersenyum paksa melihat ke arah Dava dengan tajam seakan ingin memaki dengan keras suaminya sekarang.
Dava yang sudah sedari tadi menatap wajah Raeviga yang memerah dengan sorot mata yang menoleh padanya seakan ingin menerkamnya.
"iya sus,doain ya lancar malam pertamanya.."ucap Dava sembari menoleh kepada Raeviga yang sudah mendengus kesal mendengar jawabannya
Suster wanita itu tertawa mendengar perkataan Dava sedangkan tatapan tajam Raeviga tengah mengintai untuk menunggu waktu yang tepat untuk mengoyak mulut Dava.
Angela terbangun dari tidurnya yang terlihat sangat lelap itu.
"morning Angel.." sapa Raeviga yang duduk di sebelahnya.
"Pagi tante.Pagi Om.."jawab gadis itu sambil tersenyum senang.
"Tante,Mama Angela dimana?"seru gadis itu sembari menengok ke kanan ke kiri.
Raeviga akan menjawab pertanyaan Angela namun tiba-tiba suara Siska terdengar menjawab pertanyaan anaknya.
Angela berlari memeluk Siska dengan erat.
"Good Morning Mom.."sapa Angela sambil mengecup singkat pipi Mamanya.
"Morning sayang"ucap Siska membalas sapaan hangat buah hatinya.Raeviga tersenyum melihat kebersamaan Siska dan Angela yang terlihat sangat bahagia.Dava yang dapat menangkap sorot wajah sedih di wajah Istrinya mencoba sedikit mengobati kesedihannya.
"Rae.."panggil Dava santai.
Raeviga menoleh ke arah Dava yang memanggilnya.
"kita proses yuk…" pinta Dava pada Raeviga membuat Raeviga dan Maura mengernyitkan alisnya tak mengerti.
__ADS_1
"proses apa?"tanya Raeviga kemudian.
"Proses Buat dede biar Angela ada temennya"Siska yang mendengar perkataan Dava seketika tertawa kecil mendengarnya.Sedangkan Raeviga melemparkan bantal yang berada di sofa kepada Dava.
"Dasar Gila!"seru Raeviga bersamaan dengan lemparan bantal pada Dava yang mengenai lengannya.
Tak berselang lama Laili dan Arga datang bersama dengan Dokter yang menangani perawatan Dava.Arga mendorong kursi dan menempatkannya di sisi ranjang rawat Dava.
"Bagaimana kondisi kamu sekarang Dav?"tanya Dokter itu sembari kembali mengecek suhu badan dan kesehatan Dava.
"Berapa lama aku bisa berjalan lagi?"tanya Dava dengan wajahnya serius.
"Untuk tingkat kesembuhan saya belum bisa memastikan dengan akurat.Karena itu tergantung dengan kondisi tubuh itu sendiri dan terapi berjalan yang akan kamu lakukan nanti..."jelas Dokter itu sembari mengecek kondisi kaki Dava.
Raeviga berjalan ke sisi Dava,meraih tangan Lelaki itu dan mengenggamnya.
"kamu akan segera sembuh.."bisik Raeviga pelan pada telinga Dava yang mencoba menguatkan lelaki di sampingnya.
Dava menggulum senyum kecil di wajahnya mendengar ucapan Raeviga.
"Dan sekarang,kamu sudah di perbolehkan pulang Dav.."
Dava mengangguk mengiyakan perkataan Dokter itu.
Dava mulai menggeser tubuhnya perlahan hingga terduduk di samping ranjang rawatnya.Arga dan Raeviga membantu Dava untuk turun dari ranjang dan duduk di kursi roda yang sudah berada dekat di depannya.
Raeviga berjongkok membenarkan letak posisi kaki Dava pada tempat sandaran kaki.
"Terima kasih dok"ungkap Dava sebelum Raeviga mulai mendorongnya keluar ruangan.
Begitu pula dengan Laili dan keluarga kecilnya turut berterima kasih pada Dokter pribadi mereka.
Raeviga dan Dava sudah berjalan mendahului dari yang lainnya.Tangan Dava menyentuh telapak tangan Raeviga yang berada di sampingnya.Lelaki itu mengusap lembut dan memegang erat tangan Raeviga.
"Rae.."panggil Dava pada wanitanya.
Raeviga berdeham menyahuti seruan Dava.
"Maaf,kamu harus liat aku kayak gini.."keluh lelaki itu.Raeviga menghentikan laju kursi rodanya dan berjalan ke depan agar bisa melihat wajah Dava dengan jelas.
"Aku bersyukur pada tuhan masih bisa liat kamu sekarang.."Ucap Raeviga dengan air mata yang sudah menetes keluar.
Dava yang melihat air mata menetes di wajah Raeviga mengangkat jemarinya dan menghapus air mata itu.
"aku beruntung punya kamu,Rae."Serunya sambil mengusap pelan pipi Raeviga yang telah basah dengan air mata.
Dava meraih kedua lengan Raeviga dan menariknya mendekat lalu memeluknya menghiraukan orang-orang yang tersenyum melihat kemesraan mereka berdua yang masih pagi itu.
"woy,diliat orang tuh!"tegur Arga yang berada di belakang mereka,disusul oleh Siska dan Laili yang tertawa melihat keintiman mereka.
__ADS_1
Sontak pasangan itu melepaskan pelukan mereka karena suara teguran Arga.Walaupun Dava masih tidak ingin melepaskan pelukan hangat dari tubuh Raeviga.
Raeviga merasa malu dengan sorot mata orang-orang yang memperhatikan mereka walau di hatinya ia begitu berbunga-bunga dengan pelukan Dava yang menghangatkannya itu.
"tuh muka kalian udah pada merah"gurau Siska yang kini berjalan mendahului di susul Arga di belakangnya.
Raeviga menyembunyikan senyum malu-malunya dan kembali mendorong kursi roda Dava.Supir pribadi Dava sudah menunggu di depan rumah sakit.
"Silakan tuan.."serunya sembari membuka pintu mobil dan membantu tuannya untuk masuk ke dalam mobil.
Dava dan Raeviga telah masuk ke dalam mobilnya sedangkan yang lainnya menggunakan mobil yang berbeda.
"hati-hati pak..."ungkap Laili yang dengan tatapan khawatir.
Tak berselang lama mobil hitam model terbaru milik Arga sudah berhenti tepat di depannya.Arga bersama istri dan anaknya sudah masuk dahulu di susul oleh Laili.
________________
Di dalam mobil Dava sudah kembali bermanja-manja pada Raeviga.Menggunakan kesempatan berduanya dengan wanita di sampingnya.
"Rae.."seru Dava memanggil istrinya.
Raeviga menoleh menatap Dava yang memanggilnya.Gadis itu mengerutkan kening melihat Dava yang tiba-tiba memonyongkan bibirnya.
"Apa sih!"seru Raeviga sedikit menjauh dari Dava berpura-pura tidak mengerti maksud dari tingkah Dava itu.
"Uhmm"gumam Dava sambil mendekat mengerucutkan bibirnya.
Raeviga menutup bibirnya Dava dengan telapak tangannya dan mendorongnya menjauh.
"Mesum.Gak malu apa sama supir kamu di depan"keluh Raeviga melotot ke arah Dava yang menatapnya.
"Dia kan gak liat.."keluh Dava kembali mendekatkan bibirnya.
"Bisa liat dari spion,mesum" keluhnya dalam hati
Supir pribadi Dava itu hanya tersenyum kecil melihat kemesraan majikannya.
BERSAMBUNG
-
-
- Vote dan Like sebanyak-banyaknya ya temen2,terima kasih
Egh,kalian tipe pembaca yang suka baca cerita dengan episode cerita yang banyak atau yang biasa-biasa aja terus di buat PART 2 di judul yang berbeda?
Koment di bawahnya karena sebenarnya aku dari awal hanya berencana hanya sampai baba 50 an gak lebih.
__ADS_1
Terima kasih,