
Raeviga telah mengganti pakaiannya yang telah di berikan oleh pelayan yang di suruh Dava untuk mengantarkannya.Raeviga tengah duduk di kursi meja kerja Dava sembari melihat berkas-berkas perusahaan yang tidak tertata dengan rapi.
Gini ya rasanya jadi bos besar.
Sedangkan Dava,suaminya sedang berada di dalam kamar mandi mengguyur tubuhnya dengan air hangat.
Raeviga merapikan meja kerja suaminya dan menata ke tempatnya semula.
"Rae.."panggil Dava ketika sudah keluar dari kamar mandi hanya berbalut handuk yang menutupi bagian bawahnya saja.Lelaki itu berjalan menghampiri Raeviga yang duduk di kursi kerjanya.
Raeviga yang melihat hal itu mendengus kesal dengan sikap Dava yang tidak tahu malu karena berjalan di ruangannya hanya berbalut handuk seperti itu.
"Mau pamer otot perut sama pegawai kamu?"tanya Raeviga dengan tatapan tajamnya pada Dava.
Dava mengerutkan keningnya bingung dengan pertanyaan Raeviga.
"kamu gak malu apa di liat sama pegawai di luar?"tanya Raeviga lagi karena tidak mendapat jawaban dari mulut suaminya.
Dava tertawa senang ketika menyadari kini istrinya sedang menatapnya cemburu.
"Sayang,ruangan ini kedap suara sekaligus kacanya tidak tembus pandang"jelas Dava sembari berjongkok di hadapan Raeviga yang masih duduk di kursinya.
Dava meletakkan tongkat kruk yang di pakainya di samping meja.Lelaki itu menekuk kakinya dan mendorong kursi yang di duduki Raeviga itu agar berhadapan dengannya.
"Kamu cemburu ya?"tebak Dava menatap wajah istrinya mencari jawaban lewat ekspresi kesal Raeviga.
Raeviga menggelengkan kepalanya pelan dan memalingkan wajahnya dari tatapan Dava sedari tadi.
Suami gak peka!
Dava memutar pengunci kursi itu sehingga tinggi kursi putar yang sedang di duduki Raeviga menjadi sangat rendah.Gadis itu terkejut ketika tiba-tiba kursi yang di dudukinya menjadi sangat rendah.
"Ekkhh!!"ucapnya ketika Kursi itu menjadi sangat pendek.
Dengan cepat Dava memeluk tubuh Raeviga dan menenggelamkan wajahnya pada lekukan leher istrinya.
"Baunya kok harum sayang"ungkap Dava ketika mencium aroma favorite Dava dari tubuh Raeviga.
Raeviga menggeliatkan tubuhnya dari rengkuhan Dava yang sudah lama memeluknya.
"Aku laper.Ayo pergi makan.."seru Raeviga dengan menghalau tubuh Dava yang semakin merengkuhnya erat.
"Nanti aja Rae,nanggung!"ungkap Dava sembari mencium leher wanitanya.
Raeviga menepuk pelan punggung Dava dan mengerutu berkali-kali.
"perut aku udah bunyi.Gak peka banget!"
"Jangan di gigit nanti ada bekas!"
"Dava nanti bekas!"omel Raeviga berkali dengan nada suara yang sedikit keras.Untung saja ruangan itu telah kedap suara jika tidak maka sekretaris yang berada di depan ruangan Dava akan sangat jelas mendengar ucapan Raeviga itu.
Dava tersenyum geli dengan omelan istrinya.Dia memandang wajah Raeviga yang telah merasa sangat kesal.
"Iya sayang ayo makan"ajak Dava dengan nada tertawanya.
"Aku udah online makanan,Rae.Tinggal nunggu aja.."seru Dava kemudian.
__ADS_1
Namun Raeviga menggelengkan kepalanya menolak hal itu.
"kita beli di luar aja,sekalian buat pegawai kantor.."Ajak Raeviga pada suaminya.
"Tapi udah pesen,kasihan bapaknya kalau di batalkan.."
"Gausah di batalkan,kasih ke bapaknya aja.Hitung-hitung sedekah"gerutu Raeviga pada suaminya.Entah kenapa gadis itu sangat ingin makan di warung nasi sebelah perusahaan itu bersama suaminya.
"kamu mau makan apa?"tanya Dava penasaran melihat istrinya yang terlihat sangat semangat ingin pergi makan di luar.
"Warung nasi sebelah.."ucap Raeviga enteng.
"Warung kecil itu?"tanya Dava memastikan.
Raeviga mengangguk mengiyakan perkataan suaminya.
"Kemaren waktu kita lewat di depannya kelihatannya enak.."jawab Raeviga mencoba menyakinkan suaminya.
"makanan itu gak higenis sayang.."tegur Dava seolah memperingatkan.
"Nanti kamu sakit.."
"Kalau gak higenis kenapa banyak yang beli kemaren.Lagian penjualnya kan gak mungkin menjual makanan yang gak higenis.."Jelas Raeviga sambil mengerutkan bibirnya kecewa.
"Ayo Dav.."ajak Raeviga lagi lebih tepatnya merengek kepada suaminya itu.
"Nanti ke buru habis.."
Dava masih merasa enggan dengan ajakan istrinya itu untuk makan di warung pinggiran.Bukan karena merasa sombong,sejak kecil Dava tidak pernah sama sekali duduk di warung kecil bahkan memesan makanannya.
Almaarhum Papanya selalu membawanya makan di tempat restoran mewah dengan tingkat kebersihan yang sangat berkelas.
"Ayo Dav"Rengek Raeviga lagi ketika melihat Dava masih tidak menanggapinya.
"Iya sayang sebentar"
"Sekarang! perut aku udah bunyi!"
"Iya sayang,aku mau pakai baju dulu.Emang kamu mau aku keluar pake ginian aja.."ungkap Dava sambil menunjuk handuk yang melilit tubuh bagian bawahnya itu.
Raeviga tertawa cekikikan sembari menggelengkan kepalanya pelan.
__________________
"Mari pak,bu.."sapa pegawai kantornya ketika dirinya dan Raeviga telah keluar dari ruang kerja.
"Siang pak.."
"Mari bu"
Dava mengangguk tersenyum membalas sapaan beberapa pegawai yang berlalu lalang di depannya.Begitu pula dengan Raeviga yang berada di belakang Dava membalas senyum pegawai yang menyapanya.
"Dav,bilang gih ke pegawai kamu kalau makanan siang hari ini kamu yang bayar di warung sebelah perusahaan ini.."ucap Raeviga pelan sembari mengandeng tangan suaminya.
Dava mengangguk mengiyakan ucapan istrinya.
"Perhatian buat semuanya," Ucapan Dava itu membuat semua pegawai yang berada di ruangan itu menoleh ke arah atasannya.
__ADS_1
"Makan siang hari ini saya akan traktir kalian semua di rumah makan sebelah perusahaan."ucap Dava meneruskan.
Pegawai Dava bersorak senang dengan pernyataan bosnya.Pasalnya baru kali ini Dava ataupun Arga akan mentraktir mereka yang hanya sebatas pegawai mereka.
"Terima kasih pak.."
"Terima kasih,"seru pegawai itu bersahut-sahutan.
Dava mengangguk mengiyakan dan tersenyum ke arah Raeviga yang berdiri tak jauh dari dirinya.
"Rae.."bisik seorang wanita sembari melambaikan tangannya perlahan.
Raeviga menoleh ke arah sumber suara itu.Raeviga tersenyum menyapa Desi,rekan kerjanya dulu yang duduk bersebelahan.
Raeviga menghampiri wanita itu sembari membalas lambaian tangannya.
"Kamu apa kabar.."seru Desi kemudian.
"seperti yang kamu liat"jawab Raeviga tersenyum melihat rekan kerjanya itu.Ini pertama kalinya mereka bertemu lagi setelah acara pesta pernikahan Dava-Raeviga dulu.
"Kamu sama Siska enak banget sih udah jadi istri CEO sekarang.Resepnya apa?"goda Desi yang hanya di balas senyum kecil di wajah Raeviga.
Enaknya baru sekarang,dulu asem bambang!
"Ekhhm!!" Raeviga dan Desi tersentak dan menoleh ke arah sumber suara.Dava telah berdiri sedari tadi di belakang mereka mendengar ucapan Desi yang di dengarnya sangat jelas.
"Eeh,Pak Dava.."seru Desi dengan gugup dan kembali ke tempat duduknya.
Mampus gue!
"Ayo Rae,"ajak Dava pada istrinya untuk segera pergi.Raeviga mengangguk dan berjalan berdampingan bersama Dava yang berjalan perlahan dengan tongkat kruk yang membantunya berjalan.
_______________
Dava telah duduk di rumah makan yang sangat sederhana itu,lebih tepatnya Warung makan pinggiran.Makanan sudah tersaji di depan mereka.Ikan goreng gurami besar dengan sambel terasi beserta lalapannya telah berada di depan Dava.Makanannya sangat mengiurkan lidah dan perutnya namun Dava masih bimbang untuk memakannya.
"Dav,kok gak di makan.Enak kok"seru Raeviga sembari mencium aroma ikan gurami yang masih hangat itu.
"Iyaa" jawab Dava singkat sambil melirik ke arah Raeviga yang sudah memakannya dengan lahap.
"Aaakh.."seru Raeviga yang akan menyuapi makanan ke mulut suaminya.
"Kamu aja.." tolak Dava.
Raeviga mendengus kesal dan memaksa kembali Dava untuk membuka mulutnya.
Terpaksa Dava membuka mulutnya menerima suapan dari istrinya dengan ekspresi wajah yang terlihat ragu.Namun ketika makanan itu telah masuk ke dalam mulutnya rasa ragu itu seolah terkikis dengan kenikmatan makanannya.
"Enakkan,tuh makan sendiri punya kamu.."ucap Raeviga tersenyum menatap Dava yang mulai menikmati makanannya.
Dava tersenyum kecil menatap Raeviga yang sangat menikmati makanannya.
Gadis ini perlahan telah merubah gaya hidupku.
-
- pengen di suapin juga :(
__ADS_1
BERSAMBUNG
( Jempolnya jangan lupa Like dan Vote sebanyak-banyaknya ya temen-temen.Thanks )