
".....Kondisi bayinya berkembang sangat baik.Kamu jangan terlalu kelelahan karena usia kandungan kamu sudah mulai berusia 9 bulan.Asupan gizi yang di makan juga di perhatikan ya.."jelas Jerome memberikan beberapa panduan dan nasihat kepada Raeviga.Gadis itu kini bersama Dava sedang memeriksakan kondisi kehamilannya.
"Dan untuk jenis kelamin.." Ucapan Jerome terputus oleh perkataan Raeviga tiba-tiba.
"Akkhh,tidak perlu kamu katakan jenis kelaminnya.Biar saja menjadi kejutan.."seru Raeviga memotong perkataan Dokter kandungannya sekaligus teman lama Dava itu.
"Kamu yakin sayang? padahal aku ingin tau.."timpal Dava yang duduk di sampingnya.
Raeviga mengangguk dan tersenyum.
"Aku ingin jadi kejutan saja.."pekik Raeviga sembari mengalungkan tangannya di lengan Suaminya.
"Jika ada keluhan seperti nyeri di perut atau kontraksi kamu segera bersiap ke rumah sakit.."pinta Jerome lagi.Usia kandungan yang sudah pada tahap akhir membuatnya untuk lebih menjaga pasiennya apa lagi pasiennya sekarang adalah istri dari teman baiknya.
"Ok thanks ya bro.Gue pamit pulang dulu kalau gitu.."seru Dava sambil mengandeng tangan Istrinya.
"Take care ya Rae.." ucap Jerome sebelum Pasangan itu berjalan pergi.
_____________________
"Kita mau pulang aja atau gimana yang?"tanya Dava pada Raeviga yang sedang memasang sabuk pengaman.Mereka sudah berada di dalam mobil dan bersiap keluar dari parkiran mobil rumah sakit.
"Kita belum beli apapun untuk persiapan kelahiran bayi kita.."keluh Raeviga mengingat dirinya bahkan belum memiliki pakaian bayi atau persiapan apapun.
"Tenang aja,nanti mama sama yang lainnya yang urus.."jawab Dava menenangkan istrinya.
"Aku ingin beli sendiri..."rengek Raeviga pada suaminya.
"Yaudah kita beli sendiri.Mau beli kapan?"tanya Dava menoleh kepada istrinya.
"Sekarang..." jawab Raeviga sambil tersenyum kecil.
"Ayo beli sekarang.."timpal Raeviga lagi.
"Yaudah,tapi kamu harus nurut kalo capek harus istirahat dulu nanti saat di mall.."pinta Dava sebelum menjalankan mobilnya.
Raeviga mengangguk mengiyakan dan mengenggam telapak tangan Dava.
"Kenapa sayang?"tanya Dava melihat Raeviga yang menyender di bahunya.Dava hanya melirik istrinya sekilas dan kembali fokus di jalanan Jakarta yang saat itu terlihat padat.
"Gak apa pengen meluk tangan kamu aja.."ucapnya manja dengan senyum yang tercetak kecil di bibirnya.
"Dav.."panggil Raeviga sambil memeluk erat jemari suaminya itu.
"Hmm?"
__ADS_1
"Aku takut saat melahirkan nanti.."seru Raeviga lirih sambil melihat ke arah jalanan lewat kaca mobil di samping Dava.
1Dava mengerutkan keningnya.Dia seakan bisa.merasakan kecemasan istrinya sekarang.Masih dalam kondisi menyetir,dia melepaskan tangan yang di genggam oleh Raeviga sedari tadi dan kini dirinya yang meraih telapak tangan Raeviga mengelusnya lembut.
"Kamu jangan takut seperti ini sayang.Semua akan baik-baik aja.."ungkap Dava sambil meraih puncak kepala Istrinya dan menciumnya.
Pasangan itu kini sudah berada di dalam mall,mereka akan naik ke lantai 2 untuk membeli peralatan untuk bayi mereka.
Dava memeluk jemari Raeviga,gadis itu terkadang menyenderkan kepalanya di bahu Dava.Raeviga masih terlihat cemas,namun dia berusaha untuk tidak menunjukkannya di depan Dava.Gadis itu hanya merasa takut jika akan terjadi sesuatu dengan bayi ataupun dirinya saat proses melahirkan nanti.
Untuk Reader yang udah pada punya anak,juga cemas kayak gini gak sih kalo udah mau melahirkan? Author.
"Sayang,kita masuk kesini ya.."Ajak Dava menunjuk pada toko yang berlabel Baby & Kids itu.
Raeviga mengiyakan dan masuk ke dalam toko itu.
"Selamat siang tuan,apa ada yang bisa saya bantu?"sapa pelayan yang berada di samping mereka.
"Saya cari pakaian untuk bayi.."jawab Raeviga pada gadis itu.
"Sebelah sini Nyonya.."Gadis itu menunjukkan kepada Dava-Raeviga sederetan pakaian untuk bayi yang baru lahir dan perlengkapan lainnya.
"Sayang,kok bajunya ngambil yang warna merah muda? kalau bayinya cowok gimana.."tanya Dava melihat Raeviga yang sudah memilih pakaian untuk bayi mereka.
_________________________
Setelah puas mengelilingi mall untuk belanja perlengkapan bayi mereka,kini mereka sudah berada di dalam mobil untuk pergi ke rumah Laili,ibu mertua Raeviga.Satu jam yang lalu,Laili menelpon Dava untuk membawa menantunya ke rumahnya.
Jarak antara mall dan rumah Laili tidak seberapa jauh,hanya butuh beberapa menit mobil Dava sudah berada di depan gerbang rumah mewah milik Laili.
Dava membunyikan klanson mobilnya sekali hingga seorang pelayan yang sudah setengah tua itu membuka pintu gerbang itu.
"Hai,sayang.."sapa Laili yang sudah menunggu di depan pintu.Raeviga yang sudah keluar dari mobil lebih dulu berjalan menuju Laili dan memeluknya.
"Sehatkan ma?"tanya Raeviga menanyakan kondisi ibu mertuanya.
Laili mengangguk mengiyakan dan membawa menantunya itu untuk segera masuk ke dalam di susul oleh Dava di belakang mereka.
"Ada Siska sama Arga juga di dalam.."ungkap Laili memberitahu pada Raeviga.
"Benarkah?" wajah Raeviga sumringah mendengarnya.
"Hai,dek.."sapa Siska yang baru saja dari dapur.
"Loh kok ada Arga juga?"tanya Dava pada mamanya yang melihat Arga sedang duduk bermain dengan Angela.
__ADS_1
Arga mendongak melihat keduanya.
"Kenapa? gak suka kalau ada aku?"tanya Arga cekikikan.
"Bosen banget liat muka kamu kak.."ejek Dava bergurau.Dia mendampingi Raeviga yang sudah duduk di atas sofa.
"Om tante.."sapa Angela dan berlari menuju Raeviga dan mengelus lembut bayi di dalam perut Raeviga itu.
"Kok gak keluar-keluar tante.."tanya Angela sambil mencium perut Raeviga.
"Kapan prediksi kata dokter?"tanya Siska pada iparnya itu.
"Katanya semingguan Sis.."jawab Raeviga sambil memeluk lengan Dava.
"Jadi manja ya sekarang?"ungkap Siska lagi melihat Raeviga yang tengah merangkul lengan suaminya.
Raeviga hanya tersenyum kecil menanggapi gurauan Siska.
Laili datang dengan berbagai cemilan di bantu oleh Siska dan Angela yang membawa setoples makanan ringan.
"Aku pengen kue itu.."tunjuk Raeviga ketika setoples makanan telah di sajikan di atas meja.
"Mama kok tumben nyuruh kita ngumpul disini?"tanya Dava setelah Laili duduk di samping Angela.
"Gak apa.Mama cuma kangen aja.Kalian itu emang gak ada yang kangen Mama apa?"gerutu Laili kecil sambil membuka toples makanan.
"Angela kangen oma kok.."sahut Angela cepat.Gadis itu memeluk neneknya erat.
Raeviga tersenyum melihatnya begitu pula dengan Dava dan yang lainnya.Raeviga akan mengambil air minum di dapur namun perutnya merasa kram ketika akan berdiri.Rasa sakit si perut semakin melilitnya.
"Dav.."seru Raeviga sambil menahan sakit di perutnya.Dava menoleh melihat istrinya begitu pula dengan Siska dan Laili yang melihat Raeviga seakan menahan sakit.
"Yang,kamu kenapa?"tanya Dava khawatir.
"Perut aku sakit.."jawab Raeviga pelan.Tak lama setelah mengatakan hal itu air ketuban sudah menetes membasahi paha dan kaki Raeviga.
"itu air ketubannya udah pecah.."seru Laili sambil meminta Arga untuk menyiapkan mobil untuk ke rumah sakit.
Dalam perjalanan ke rumah sakit,Raeviga di temani oleh Dava yang duduk di sampingnya.Dan Arga serta Laili yang berada di kursi depan.Raeviga menahan sakit di perutnya sembari memeluk jemari Dava dengan erat.
"Akkkhhh!!!"erang Raeviga yang merasakan bagian intimnya terasa sakit.Dava mencium telapak tangan Raeviga menguatkannya.
BERSAMBUNG
[ Entah kenapa nulis ini sambil nangis,susah buat nerusin cerita di bab iniðŸ˜Nulis cerita tentang proses melahirkan Raeviga jadi inget kakakku yang meninggal saat 2 minggu setelah melahirkan bayi perempuannya.Ya tuhan...😖 Begitu jelas pengorbanan seorang wanita untuk anaknya agar bisa lahir di dunia.Astagfirullah..]
__ADS_1