CINTA MALAM PERTAMA

CINTA MALAM PERTAMA
S3- RENCANA WANITA ULAR


__ADS_3

Dava menyingkirkan tangan Raeviga yang menyentuh wajahnya.


"Kamu siapa? apa kita pernah bertemu? Kalian apa keluargaku? Aku siapa?" tanya Dava Linglung. Seolah ia telah melupakan semua kenangan yang pernah ia lewati sebelumnya.


[EPISODE SEBELUMNYA]


****


Raeviga dan yang lainnya tertegun dengan ucapan Dava. Dokter Rayhan yang masih berada di ruangan itu segera mengecek kembali kondisi Dava.


"Tuan Dava apa anda tidak bisa mengingat nama anda sendiri? dan wanita ini apa anda tidak mengingatnya?" ucap Dokter Rayhan sambil menunjuk kearah Raeviga.


Dava menggelengkan kepalanya. Ia menatap lama kearah Raeviga. Sedangkan wanita itu melihat kecewa pada Dava.


"Apa dia tidak mengingat apapun tentangku? Kita sudah bersama selama 26 tahun. Apa semua ini ia bisa melupakan begitu saja?" ungkap Raeviga dalam hati.


"Apa aku mengenal wanita ini dokter?" tanya Dava pada Dokter Rayhan dengan tatapannya yang masih melihat kearah Raeviga.


"Dia adalah istri anda.. dan orang-orang yang ada di depan anda ini adalah keluarga Tuan Dava.." jelas Dokter Rayhan.


"Sebentar..aku telah mengingatnya. Dia adalah Kakakku dan istrinya..dan gadis itu adalah putrinya Angela.." tunjuk Dava pada keluarga kecil Arga.


"...dan disana ada Anak-anakku. Sashi dan Arka. Dia gadis kecil Arsha dan istrinya.."


"Anda benar sekali Tuan. Lalu apakah sekarang Anda sudah bisa mengingat Nyonya ini?" tanya Dokter Rayhan lagi tentang Raeviga.


"Tidak..aku sama sekali tidak mengingatnya. Aku tidak mengenalnya. Oh ya dokter. Dimana istriku? apa dia tidak menemaniku selama operasi?" tanya Dava mencari seseorang di antara keluarganya.


Dokter Rayhan mengerutkan keningnya. "Tuan Dava, wanita yang berdiri di samping anda ini adalah Nyonya Raeviga. Istri Anda.."


"Tidak mungkin. Aku tidak mengenalnya." Elak Dava keras.


"Papa kok ngomong gitu. Ini mama Rae..bagaimana papa bisa melupakan Mama Rae.." keluh Sashi pada Papanya.


"Tapi Papa merasa dia hanya orang asing.." mendengar kalimat Dava itu membuat Raeviga sakit hati. Ia pergi begitu saja meninggalkan ruangan Dava. Tangisnya akan pecah. Untuk pertama kalinya Dava telah melupakannya seorang diri.


Kenangan mereka bersama bertahun-tahun lamanya seolah telah hilang begitu saja.


"Kenapa Dava hanya melupakanku saja. Ini tidak mungkin. Apa aku akan kehilangan dia.." rutuk Raeviga sendiri yang duduk di kursi ruang tunggu sendirian. Beberapa orang yang melewatinya nampak iba melihat Raeviga yang menangis seorang diri.


Tak berselang lama, seseorang datang dengan duduk memakai kursi roda. Ia menghampiri Raeviga yang terdiam sendiri. Tangannya membawa sebuah buket bunga mawar penuh warna.


"Dava telah melupakanmu kan? kalo begitu kembali saja denganku.." ucapnya sambil memberikan bunga itu kepada Raeviga yang duduk membelakanginya.


Raeviga melihat kearah buket bunga yang ada di depannya dan menoleh kearah sumber suara.


"Kamu? bukannya tadi ada di.." tanpa menunggu kalimat Raeviga selesai. Pria itu memeluk Raeviga erat.

__ADS_1


"Aku sangat menyayangimu, Rae. Bagaimana bisa aku melupakanmu.." ungkapnya. Yah, dia adalah Dava. Pria dengan kursi rodanya. Tak jauh dari tempat Raeviga dan Dava terlihat dokter Rayhan dan yang lainnya mengawasi dari jauh.


Raeviga Memukul pelan bahu Dava berkali-kali. Sesekali air matanya masih jatuh menetes membasahi wajahnya. "kenapa kamu tega membohongiku? apa kamu tau perasaanku saat itu? sangat sedih menyadari jika suamiku sendiri tak mengingatku"


"Maafkan aku. Aku hanya ingin mengodamu. Ku kira kamu akan marah. Tapi kamu terlihat sangat sedih sekarang" Dava membelai lembut wajah istrinya dan memeluknya kembali.


Sashi dan Arka yang melihat kemesraan kedua orangtuanya terlihat sangat senang. Arka melihat kearah Marsha yang menggendong putri kecilnya. Arka menghampiri Marsha dan merangkulnya.


"Aku ingin kelak kita juga bisa seperti mereka" pinta Marsha pada Arka.


Arka mencium puncak kepala Marsha dan menggenggam tangannya erat.


****


Reni bersama dengan beberapa orang pria. Dia memberikan beberapa lembar uang dan membisikkan sesuatu ke salah satu pria itu.


"laksanakan ini dengan baik. Aku akan memberikan sisa pembayarannya jika kalian telah melakukannya dengan baik"


Setelah beberapa pria bertato itu pergi, Reni mencoba menelpon Arka yang saat itu masih berada di Rumah Sakit.


Arka nampak duduk santai bersama keluarga kecilnya melihat Arsha yang terlihat senang bermain dengan Dava.


"Kakek Kakek.. sekarang kakek gak punyak rambut. Kayak tuyul.." celetuk Arsha sambil menunjuk kepala plontos Dava. Raeviga dan yang lainnya tertawa mendengar ucapan polos Arsha.


"kok kakeknya sendiri di bilang tuyul.."


"Iyaa, soalnya.. tuyul juga engak punya rambut. Kayak kakek.."


"Kemana Arka pergi?" gumam Marsha sendiri.


"Halo, Ada apa Ren?" tanya Arka saat panggilan telepon itu terhubung.


"Pak Arka..pak Arkaa..tolong saya... Ada beberapa pria preman yang ingin memperkosa saya. Tolong saya pak.." rintihnya ketakutan.


"Reni, tenanglah. katakan dengan tenang. Apa yang terjadi? saya akan membantumu. Tenanglah"


"Saya..sayaa.. ada di Losmen Pak. Tolong saya. Preman-preman ini akan memperkosa saya."


"Apa kamu sudah menghubungi polisi? apa kata mereka.."


"sudah pak..aku sudah menghubunginya"


"Kirimkan lokasimu padaku.."


Setelah mengatakan hal itu. Panggilan telepon terputus. Arka akan masuk kembali ke ruangan Dava untuk berpamitan namun ia mengurungkan niatnya dan segera berjalan keluar dari rumah sakit. Arka mengendarai mobilnya menuju Losmen tempat tinggal Reni.


Arka mengecek kembali ponselnya. Ia telah berada di tempat yang sesuai. Namun keadaan Losmen itu nampak sepi. Tanpa pikir panjang Arka masuk ke dalam Losmen dan mendapati tiga pria bertato yang tiba-tiba menyerangnya. Dari kejauhan Reni tersenyum senang melihat kejadian di depannya.

__ADS_1


Arka mencoba menangkis setiap pukulan tiga preman itu. Namun sia-sia, Arka telah di kalahkan oleh mereka. Salah satu preman memukul belakang leher Arka hingga pria itu jatuh tak sadarkan diri.


"Apa yang kalian lakukan padanya? dia tidak mati kan?" tanya Reni khawatir.


"Dia hanya pingsan. Lelaki ini akan bangun kembali nanti.." ungkap preman-preman itu.


"Baiklah, bawa dia segera di dalam kamar.."


Arka terbaring tak sadarkan di atas tempat tidur Reni. Reni memberikan beberapa lembar uang kepada tiga preman itu.


"Ini upah dari pekerjaan kalian. Setelah ini pergi jauh dan jangan mencariku.."


Wanita itu mengunci kamarnya dan mendekati Arka yang sudah terbaring di atas tempat tidurnya. Reni mengambil sebuah kamera dan membidik kamera itu kearah tempat tidurnya.


"Kita lihat Arka, Apa setelah ini kamu akan tetap menjauh dariku.." gumam Reni sendiri sambil melirik kearah Arka.


Reni membuka pakaiannya hingga terlihat pakaian mini yang dikenakannya. Wanita itu akan membuka kancing pakaian Arka namun suara ketukan keras dari pintu kamarnya membuat Reni mengambil sebuah cardigan panjangnya dan memakainya.


"Siapa sih yang menganggu waktuku saat ini" keluh Reni sambil membuka pintu kamarnya.


Seorang wanita tua dan beberapa bodyguard berdiri di belakang wanita itu.


"Siapa kamu? ada perlu apa kemari?" tanya Reni yang merasa asing dengan sosok di depannya.


Wanita tua itu tersenyum menyeringai kearah Reni. "Amankan dia baik-baik!" perintahnya.


"Hey, siapa kalian! kenapa masuk begitu saja ke dalam kamarku!"


Wanita itu membalikkan tubuhnya sekilas kearah Reni. "Aku adalah nenek dari pria yang ingin kamu jebak sekarang. Dasar wanita ular!"


Wanita tua itu adalah Laili. Nenek dari Arka dan Sashi. Laili nampak khawatir melihat cucunya terbaring lemas. "Apa yang di perbuat oleh wanita itu?"


Ia menepuk beberapa kali dan aroma terapi yang di dekatkan di hidung Arka.


"Jika sampai beberapa menit ini Arka tidak sadar cepat telepon dokter pribadi untuk segera kesini" pinta Laili pada salah satu bodyguardnya.


"Baik Nyonya"


"Lalu bawa wanita murahan itu untuk masuk ke dalam tahanan. Hukum dia seberat mungkin karena berani bermain-main dengan keluarga Dewantara"


"Baik Nyonya, perintah Anda akan segera saya laksanakan"


"Omaa? kenapa Oma disini? dan kenapa Arka bisa ada disini?" ucap Arka yang terbangun setelah beberapa menit.


BERSAMBUNG


Hai Readers.

__ADS_1


[ MAU KASIH INFO AJA KALO NOVEL INI BAKAL SEGERA SAMPAI PADA TITIK AKHIR. JADI JANGAN SAMPAI KETINGGALAN BUAT BACA. VOTE SEBANYAK MUNGKIN BIAR AKU BISA UPDATE GILA]


Buat pembaca yang baik hati bak bidadari DUKUNG NOVEL INI YUK AGAR BISA MASUK DI RANKING JUMLAH VOTE. (VOTE VOTE VOTE NOVEL INI YA


__ADS_2