
[FOLLOW AKUN CARAMELLOW YA DAN TUNGGU KEJUTAN MENARIK DARI AUTHOR]
Sashi membuka pintu kamar Dava setelah dua kali ia mengetuk pintu tidak ada sahutan dari dalam kamar.
"Apa papa tidur?" pikirnya.
Sashi membuka pintu lebih lebar. Raut wajah tiba-tiba berubah. Ia terlihat takut. Sashi masuk ke dalam kamarnya menghampiri Dava.
"Pa..Papa..bangun" teriaknya.
Raeviga yang berada di dapur bisa mendengar jelas teriakan Sashi.
"Apa yang terjadi?"
[episode sebelumnya]
Raeviga berlari kearah sumber suara. Jantungnya berdetak tak beraturan. Ia merasa cemas dan khawatir. Raeviga masuk ke dalam kamarnya. Ia melihat Dava tergeletak di bawah tempat tidur. Tubuhnya tampak lemas. Sashi duduk di samping Dava sembari memegang tangan Papanya.
"Sashi apa yang terjadi?" tanya Raeviga yang sudah terduduk di lantai. Ia beberapa kali mengguncang tubuh Dava agar pria itu bisa membuka kedua matanya lagi. Namun sia-sia. tubuh Dava terlihat lemas. Raeviga bangkit dari duduknya dan meraih telepon rumah yang berada di samping tempat tidurnya.
Raeviga menanti dengan gelisah panggilan telepon itu tersambung.
"halo" seru seseorang saat telepon itu telah tersambung.
"halo dokter Rayhan. Saya Raeviga, istri Dava Hermawan. Bisakah anda ke rumah sekarang? Dava.. dava tiba-tiba terjatuh dari tempat tidur dan pingaan..tolong Dava dokter"
"Baiklah, 10 menit aku akan segera sampai di sana. Tolong bawa dia ke atas tempat tidur terlebih dahulu." pinta Dokter Rayhan sigap.
Raeviga berseru mengiyakan.
"akan ada ambulan juga yang akan datang ke rumahmu. Biarkan dia membawa Dava terlebih dahulu jika saya belum sampai disana" pinta dokter Rayhan lagi sebelum panggilan telepon itu terputus.
"Sashi, panggil pak aryo, tukang kebun untuk membantu kita mengangkat tubuh Dava keatas tempat tidur" pinta Raeviga.
Sashi mengangguk mengiyakan. Ia menghapus air mata yang membasahi wajahnya. Namun air mata itu seolah menetes tak berhenti. Ia takut jika terjadi sesuatu dengan Papanya.
"Aku bodoh, seharusnya aku menyadari jika papa sedang sakit saat itu." Sashi merutuki dirinya sendiri.
Langkah Sashi telah sampai di depan halaman rumahnya. Ia mengedarkan pandangannya mencari sosok pria parubaya yang telah bekerja lama dengan keluarga.
Sashi meyerukan namanya ketika melihat sosok pria itu telihat sibuk dengan tanaman di ujung rumahnya.
__ADS_1
"Ada apa non" tanya Pak Aryo
"Pak, bantu Saya membawa Papa ke tempat tidur"
"Tuan Dava? ada apa dengannya?" Pak Aryo menautkan kedua alisnya bingung. Satu jam yang lalu tuannya itu masih baik-baik saja. Bahkan beberapa kali mereka sempat berbicara di halaman rumah.
"Papa sakit. Dia jatuh dari tempat tidur" ucap Sashi dengan kedua matanya yang berlinang air mata. Air mata itu tak bisa ia bendung.
"Mari non, saya bantu"
***
tubuh Dava telah pindah ke atas tempat tidur. Di sampingnya Raeviga, Sashi dan dua pembantu rumahnya. Mereka terlihat mengkhawatirkan kondisi Dava yang terbaring lemas.
Suara bel rumah membuat salah satu pembantu berjalan menuju pintu depan. Dokter Rayhan datang dengan sebuah tas medis yang telah di siapkan. Tangannya dengan cekatan memeriksa kondisi Dava.
"kondisinya sudah sangat mengkhawatirkan. Jika di biarkan terus menerus ini akan membuatnya kehilangan nyawa"
sontak jawaban itu membuat Raeviga semakin lemas. Ia seolah tak kuat menyangga tubuhnya. Kepalanya terasa sakit. Dadanya terasa sangat sesak. Ini adalah hal yang sangat menyakitkan untuk ia dengar.
Sashi menguatkan Raeviga. Ia berdiri di belakang Mamanya yang duduk di ujung tempat tidur Dava.
"Semuanya ada di kuasa Allah. Saya hanya salah satu perantara disini. Semua keputusan tetap berada di tangan sang pencipta. Berdoalah semoga semuanya baik-baik saja"
Tak berselang lama suara sirine ambulan mendekat kearah rumahnya.
"Ambulan telah datang, aku akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut di rumah sakit"
Raeviga mengiyakan semua keputusan yang terbaik untuk suaminya. Raeviga ikut masuk ke dalam ambulan yang membawa suaminya. Wanita itu tak ingin jauh dengan suaminya.
"Bertahanlah, semuanya akan baik-baik saja. Ku mohon bertahan" ucap Raeviga sembari meraih telapak tangan Dava dan mengenggamnya.
Sashi masih berada di dalam rumahnya. Ia menunggu panggilan teleponnya terhubung dengan seseorang.
"halo Arka," ucap Sashi terisak.
"Halo Sas, apa yang terjadi. Kamu menangis? Are you okay?" tanya Arka yang merasa khawatir.
"Papa sakit, Ka. Sekarang...sudah perjalanan ke rumah sakit" Suara isak tangis Sashi semakin keras.
"Tenanglah. semuanya akan baik. Dokter telah menangganinya. Aku akan segera kesana" ucap Arka menenangkan.
__ADS_1
Dari seberang teleponnya Sashi mengiyakan ucapan Arka. Panggilan itu terputus dan gadis itu terduduk lemas di kaki sofa ruang tamunya. Langkah kakinya terasa berat. Tangisnya pecah. Ia meringkuk di samping sofa dan menenggelamkan wajahnya.
Papa tidak akan kenapa-napa. Arka sudah mengatakan jika semuanya akan baik.
Seseorang datang dan memeluk Sashi dari belakang dengan erat. Dia adalah Andreas. Sebelum menelpon Arka, Sashi telah menghubungi Andreas dan mengatakan semuanya.
"Jangan menangis. Om Dava akan segera sembuh"
Sashi mengenali bau parfum dan suaranya. Gadis itu mendonggakkan kepalanya dan menatap Andreas dengan tatapan pilu. Andreas mendekapnya erat. Untuk pertama kalinya ia melihat Sashi lemah. Gadis yang mudah tersenyum dan tangguh itu kini menjadi rapuh.
"Papa kak.. papa pingsan. Sashi takut kalau.."
"Shtttt! gak boleh berpikir seperti itu. Om Dava akan baik" Andreas menghapus air mata dari wajah kekasihnya. Kedua matanya nampak merah dan wajah sembabnya membuat Andreas sedih.
"kita akan ke rumah sakit sekarang. Kamu sudah memberitahu keluarga yang lain kan?" tanya Andreas
"Aku hanya memberitahu Arka dan Kamu. Aku belum menelpon yang lainnya"
"Biar aku yang lakukan. Kita ke mobil sekarang. Atau kamu ingin istirahat sebentar?" tanya Andreas cemas.
"Gak perlu kak. Aku ingin liat Papa.." Sashi mencoba berdiri di bantu dengan Andreas. Kedua kakinya masih terasa lemas.
Andreas mengecup kening Sashi singkat.
"Om Dava akan segera baik-baik saja"
Sashi mengangguk menguatkan dirinya. Telah banyak orang yang menyemangatinya. Arka juga telah mengatakan Jika Dava akan sembuh. Sashi tahu bahwa Papanya bukan orang lemah. Dava akan segera sembuh. Semua akan tetap seperti dulu. Tidak akan ada yang pergi atau meninggalkan.
"Sashi tau papa kuat. Papa akan baik-baik saja"
BERSAMBUNG
Hai Readers,
[jangan tanya kenapa saya baru bisa update sekarang ]
maaf ya udah buat kalian menunggu lama.
Terima kasih buat kalian yang sudah setia menunggu cerita ini. Saya menyadari banyak kekurangan dari novel ini tapi saya berharap bisa menikmati cerita ini dengan baik.
Buat pembaca yang baik hati bak bidadari dan pangeran keong DUKUNG NOVEL INI YUK AGAR BISA MASUK DI RANKING JUMLAH VOTE. (VOTE VOTE VOTE NOVEL INI YA)
__ADS_1