
[UDAH FOLLOW? MAKASIH YA. YANG UDAH FOLLOW TUNGGU KEJUTAN MENARIK DARI AUTHOR]
"Sayang sekali sepertinya malam ini aku tidak bisa. Kak Marsha akan datang dengan Arsha jadi mama memintaku untuk makan malam bersama.." jawab Sashi menolak ajakan Andreas. Pria itu nampak kecewa karena rencana dinner-nya dengan Sashi telah gagal.
"Minggu depan bagaimana?" ajak Andreas lagi.
"Baiklah setuju.."
"I Miss u.."
"me too.." jawab Sashi sebelum panggilan telepon itu berakhir.
Episode sebelumnya
Di dalam rumah Raeviga, wanita itu nampak sibuk dengan peralatan dapur dan berbagai jenis makanan di bantu oleh pelayannya. Sashi yang baru saja selesai streaming film menghampiri mamanya yang di dalam dapur.
"Ma,mama mau buka cathering atau gimana? banyak banget masakannya.." serunya sambil melihat beberapa menu makanan lokal hingga menu makanan Jepang.
"Dasar gadis cerewet, lebih baik kamu sekarang hubungi Marsha dan Arsha untuk jangan lupa datang makan malam disini. Ajak Andreas,Angela dan pacarnya juga.." ucap Raeviga mengingatkan.
"Kok tumben mama ajak yang lainnya? ada acara apa?" Sashi berjalan mendekat dan berdiri di samping Mamanya.
"Tidak ada, mama hanya ingin keluarga kita lebih dekat saja." Raeviga menatap Sashi dan memegang bahu putrinya.
"tidak ada salahnya kan?" Sashi menyetujui perkataan Raeviga.
"jadi sekarang kalian telepon mereka ya.." pinta Raeviga lagi.
"Siap laksanakan.." Sashi mengambil ponselnya dan berjalan kearah ruang tamu.
Dava yang baru saja dari halaman rumahnya berjalan kearah ruang tamu bersamaan dengan Sashi.
"Pa, papa sakit ya?" tanya Sashi ketika melihat Dava melangkah kearah sofa dengan memijat keningnya.
Dava tersenyum kecil menanggapi perkataan Sashi.
"Papa baik-baik saja. Hanya kelelahan aja.." jawab Dava sembari duduk di sofa.
"Gak mau pergi ke dokter,Pa? Nanti Sashi anter deh.." Sashi terlihat mencemaskan keadaan Dava.
"Tidak sayang, papa baik.."
Sashi menghela napas kecil melihat sikap keras kepala Dava. Sashi duduk di sebelah Dava sambil menghubungi Andreas.
"telpon siapa?" tanya Dava basa-basi
"Andreas. Mama suruh Sashi telepon Angela dan William juga"
__ADS_1
Dava hanya mengangguk kepalanya mendengar jawaban Sashi. Raeviga memang terbiasa makan malam dengan keluarga besar Hermawan. Ia ingin hubungan mereka tetap terjaga.
Dava mengerutkan dahinya. Tangannya mengepal erat menahan rasa sakit di kepalanya yang tiba-tiba menyerang. Dava bangkit perlahan untuk pergi ke dalam kamarnya. Jika dia masih tetap disini, semua anggotanya akan tahu jika dia sedang sakit. Tidak, Dava tak menginginkan hal itu. Ia masih harus merahasiakannya.
Tangan Dava memengangi ujung Sofa. Terdengar rintihan sakit yang menyerangnya. Sashi mendengar suara itu, Ia menoleh kearah Dava.
"Pa, papa kenapa?" tanya Sashi khawatir.
"Tidak, antar papa ke kamar papa saja. Papa hanya kelelahan"
"Papa yakin?" raut wajah Sashi dua kali lebih cemas dari sebelumnya.
"Sashi telpon Dokter saja ya? Sashi khawatir"
"tidak perlu Sas. Papa hanya perlu minum pereda nyeri. Nanti akan baik-baik saja."
Dava telah terbaring lemah di kamar tidurnya. Sashi meyelimuti tubuh Dava dan duduk di samping tempat tidur.
"Pa, kalo masih sakit. Papa harus cek ke dokter"
Dava menggelengkan kepalanya menolak ucapan Sashi.
"Papa baik-baik saja. Cepat bantu mama kamu. Biar masakannya segera selesai. Bukannya tadi kamu di suruh telepon anggota keluarga yang lainnya juga?"
Sashi mengiyakan ucapan Dava. Ia berjalan eergi meninggalkan Dava di dalam kamar. Setelah Sashi pergi, Dava mengambil obat yang berada di dalam lacinya dan meminumnya. Tubuhnya terasa lemah dan Rasa sakit di kepala yang terus saja menyakitinya.
***
"halo" ucap seseorang di balik telepon Sashi.
"Halo kak, ini Sashi"
"Ada apa?" ucap Angela yang masih menahan amarah. Hubungannya dengan William masih belum membaik dan Sashi lah yang bertanggung jawab atas masalah itu.
"Mama ajak Kak Angela dan William buat makan malam di rumah"
"Kamu tak perlu mengajakku. Ajak saja William. Tujuanmu pada William kan? tak perlu basi-basi" setelah mengatakan hal itu Angela mengakhiri panggilan teleponnya.
"Hah? kak Angela kenapa?" Sashi menautkan kedua alisnya bingung.
William, cowok itu pasti tahu alasannya.
Sashi menghubungi William.
"Halo william" ucap Sashi saat panggilan itu terhubung.
"Ada apa sas?"
__ADS_1
"Kenapa dengan Angela? kalian berantem? tadi aku menelponnya dan dia marah-marah gak jelas"
"entahlah aku juga bingung. Setelah pulang dari restoran tadi dia marah-marah tanpa sebab"
"Pantas saja dia jadi pendiam tadi"
"Kalian bertengkar masalah apa?"
"Aku belum tau. Angela.. terlihat marah denganku dan terus saja membawa namamu"
"Aku? apa kak Angela juga cemburu seperti Andreas?"
"Cemburu? Andreas marah padaku?" Kali ini William semakin terlihat bingung. Apa yang ia lakukan hingga membuat kedua orang ini marah padanya.
"Tidak, dia hanya tidak suka aku dekat denganmu. Tapi sekarang.. semua baik-baik saja. Andreas sudah memahamiku" ucap Sashi menenangkan.
"Baiklah, tapi kurasa Angela masih belum bisa mengerti denganku. Dia masih marah" di seberang telepon Sashi, William terlihat khawatir dengan hubungan. Apakah ini akan berakhir secepat ini?
"Aku baru saja menelponnya dan yah.. dia terlihat marah. Kurasa kamu perlu mencobanya lagi. Jelaskan lagi padanya" pinta Sashi memohon. Ia tak ingin hubungan persaudaraannya rusak hanya karena sebuah kesalapahaman.
"Aku akan mencobanya"
setelah ucapan terakhir William itu panggilan telepon mereka berakhir. Sashi menghela napas panjang. Sashi kembali melangkah menuju kamar Dava. Ia ingin melihat kondisi Papanya. Gadis itu sangat khawatir. Beberapa hari ini Dava terlihat pucat namun Papanya itu selalu mengatakan baik-baik saja.
Sashi membuka pintu kamar Dava setelah dua kali ia mengetuk pintu tidak ada sahutan dari dalam kamar.
"Apa papa tidur?" pikirnya.
Sashi membuka pintu lebih lebar. Raut wajah tiba-tiba berubah. Ia terlihat takut. Sashi masuk ke dalam kamarnya menghampiri Dava.
"Pa..Papa..bangun" teriaknya.
Raeviga yang berada di dapur bisa mendengar jelas teriakan Sashi.
"Apa yang terjadi?"
BERSAMBUNG
Hai Readers,
[jangan tanya kenapa saya baru bisa update sekarang ]
maaf ya udah buat kalian menunggu lama.
Terima kasih buat kalian yang sudah setia menunggu cerita ini. Saya menyadari banyak kekurangan dari novel ini tapi saya berharap bisa menikmati cerita ini dengan baik.
Buat pembaca yang baik hati bak bidadari dan pangeran keong DUKUNG NOVEL INI YUK AGAR BISA MASUK DI RANKING JUMLAH VOTE. (VOTE VOTE VOTE NOVEL INI YA)
__ADS_1
Terima kasih,
Happy Reading Gaes