CINTA MALAM PERTAMA

CINTA MALAM PERTAMA
S3 - RENCANA SANG PELAKOR


__ADS_3

"Iyaa dokter, saya siap.." setelah menjawab pertanyaan itu. Semenit kemudian Dava kedua mata Dava nampak berat. Dia terlihat mengantuk dan perlahan mulai kehilangan kesadaran penuh dan beberapa menit setelahnya tangan-tangan medis memulai operasi Pengangkatan kanker otak Dava.


[EPISODE SEBELUMNYA]


Arka telah sampai di Kantor utama Perusahaannya. Kantornya masih nampak sepi hanya petugas kebersihan dan satpam penjaga yang telah bertugas pagi itu. Reni telah menunggu Arka di Lobi perusahaan. Karena ruang kerja baru terbuka ketika 15 menit sebelum jam kerja di mulai.


"Kamu yang bernama Reni?" ucap Arka saat melihat seorang wanita duduk sendiri dan membawa beberapa berkas di tangannya.


"Iya pak saya.."


"Baiklah ikut saya.." Arka berjalan lebih dulu dan masuk ke dalam lift berdua bersama pegawai wanita itu.


"Apa di Jakarta kamu ada tempat tinggal? kenapa kamu berani jauh-jauh datang kemari.." ucap Arka di sela langkah kakinya menuju ruang kerjanya.


"Saya sudah pernah mengatakan ke Pak Arka jika saya melakukan ini sebagai bukti profesionalitas kerja saya.."


Arka hanya mengangguk pelan. Keadaan kembali hening hingga sampai di depan ruang kerja Arka. Saat Reni ikut melangkah masuk ke dalam ruangan. Ia mulai menjalankan rencananya yang telah ia susun dengan sangat matang.


Arka duduk di meja kerjanya. Reni berjalan menghampirinya berdiri tepat di meja kerja Arka.


"Laporan apa yang ingin kamu sampaikan langsung kepadaku?" tanya Arka tanpa basa-basi.


Reni memberikan sebuah berkas bersampul merah pada Arka. Pria itu mulai memperhatikan catatan-catatan penting yang ada di setiap lembar kertas.


"Di lihat dari grafik penurunan penjualan sejak dua bulan yang lalu ternyata banyak customer dan pelanggan memberikan review buruk terhadap makanan olahan Junk Food kita Pak. Namun setelah saya lihat kembali beberapa customer itu bukanlah pelanggan tetap Junk Food Indonesia. Ini seperti seseorang sedang merekayasa sehingga penjualan kita menurun" jelas Reni panjang lebar. Arka membaca komentar pelanggan yang telah di cantumkan di dalam berkas itu.


"Baiklah, terima kasih atas kerja kerasmu. Aku akan menginvestigasi ulang permasalahan ini dengan tim penjualan"


"Baik pak"


"Apa yang ingin kamu sampaikan hanya ini saja?" tanya Arka lagi.


Reni nampak terdiam sejenak. Ia memperhatikan keadaan ruangan kerja di belakangnya. Beberapa pegawai telah banyak berdatangan. Beberapa dari mereka juga memperhatikan Reni dan Arka yang telah berada di dalam ruangan sejak tadi.

__ADS_1


"Apa dia pegawai baru?" tanya pegawai Arka yang baru saja datang dan melihat kehadiran yang tidak pernah mereka kenal sebelumnya.


"Entahlah. Aneh sekali. Pagi-pagi mereka telah berada dalam satu ruangan. Sejak kapan Pak Arka bersama wanita itu" ungkap salah satu pegawai lagi. Mereka nampak bergosip ria memperhatikan atasannya.


Reni menyunggingkan bibirnya tipis. Ia berjalan menghampiri Arka. "Ehhmm, sebenarnya masih ada yang ingin saya bahas tetapi..." Saat mengatakan hal itu Reni berpura-pura terjatuh saat berjalan menghampiri Arka.


"Awww!!" pekiknya yang membuat dirinya menjadi bahan tontonan oleh pegawai lainnya. Tangan Arka dengan spontan menopang tubuh Reni yang terjatuh kearahnya.


"Kamu tidak apa?" tanya Arka pada wanita itu.


"Tidak apa pak. Maaf pak saya telah.."


"Tidak apa.." potong Arka. Arka membantu Reni kembali berdiri tegak namun wanita itu nampak kesakitan. "Aduh, kaki saya susah untuk di gerakkan pak. Sepertinya keseleo.."


Tanpa merasa aneh dengan situasinya saat ini. Arka akan menggendong Reni ala bridal style untuk membantunya duduk di salah satu sofa di ruangannya. "Aku akan membantumu untuk duduk disana.."


Reni mengangguk. "Maaf pak telah merepotkan" ungkapnya dengan rasa bersalah. Kejadian itu tak lepas dari perhatian pegawai Arka lainnya. Reni memanfaatkan kejadian itu seolah Arka sedang menggendongnya dengan romantis. Reni menyandarkan kepalanya di dada Arka.


"Wah gila. Tuh cewek beneran jatuh apa pura-pura?" ungkap salah satu pegawai wanita dan mengabadikan kejadian itu dengan ponselnya.


"Gak apa. Liat tuh cewek sok romantis. Kalau Bu Marsha tau bakal jadi perang gerilya gak sih.." timpalnya lagi.


"Udah-udah sana kerja. Kalian mau Pak Arka pecat kalian!" seorang Pria membuyarkan kumpulan penggosip itu. Pria itu memperhatikan Arka yang bersama dengan Reni. Ia membidikkan kamera ponselnya kearah Arka dan wanita itu dan mengirimkannya ke seseorang yang bernama Nyonya X.


"Aku akan meminta salah satu pegawai untuk memanggil dokter untukmu" ucap Arka yang akan berjalan keluar namun tangan Reni menyentuh tangannya dan menahannya untuk pergi.


"Apakah bisa jika Pak Arka saja yang membantuku untuk berobat. Aku tidak mengenal pegawai anda. Aku takut jika mereka melukai saya.." ucapnya degan nada memelas dan masih memegangi tangan Arka.


Arka tersenyum kecil kearah Reni. Ia melepaskan genggaman tangan Reni di telapak tangannya. "Tenang saja, kalian sama-sama pegawai ku. Mereka tidak akan melukaimu"


Arka berjalan pergi meninggalkan ruangannya dan memanggil Sekretarisnya untuk menelpon layanan rumah sakit langganan perusahaan mereka.


"Baik pak saya akan menelponnya segera"

__ADS_1


Setelah mendengar jawaban itu Arka melangkah pergi untuk menuju rumah sakit Dava. Di ruangan Arka, Reni nampak kesal karena Arka mengabaikannya.


"Liat saja tuan Arka. Jika cara ini tidak berhasil membuatmu menyukaiku. Aku memiliki seribu cara lagi untuk mendapatkanmu" ucapnya tersenyum menyeringai.


****


Raeviga dan yang lainnya masih berada di ruang tunggu. Sudah satu setengah jam lebih Operasi pengangkatan kanker itu masih belum selesai. Raeviga mengepalkan kedua tangannya berharap Suaminya akan baik-baik saja. Marsha dan putrinya juga telah menunggu bersama Angela, Siska dan Arga. Sebagian keluarga besar Hermawan berharap cemas dengan keberhasilan operasinya saat ini.


"Mas, kenapa Operasinya lama sekali?" tanya Siska pada Arga.


"Butuh tiga jam lebih untuk Operasi besar seperti ini sayang.."


Angela melihat kearah Sashi yang menatap lurus kearah ruang operasi dengan tatapan kosong. Andreas berpamitan pergi satu jam yang lalu karena beberapa urusan kantor yang harus ia selesaikan. Angela menghampiri Sashi dan menepuk pelan bahunya.


"Tenanglah, Om Dava pasti akan bisa bertahan"


Sashi mengangguk dan memeluk Angela. "Aku juga berharap seperti itu".


Di lain tempat, Seorang wanita menerima pesan misterius yang di kirimkan seseorang. Wanita itu mengerutkan dahinya saat menerima sebuah foto Arka bersama seorang wanita.


"Siapa wanita ini?"


"Apa yang Arka lakukan dengannya?"


Wanita itu nampak menelpon nomor yang telah mengirimkan pesan itu.


"Selidik siapa sebenarnya wanita itu dan laporkan secepatnya kepadaku".


BERSAMBUNG


Hai Readers,


[ MAU KASIH INFO AJA KALO NOVEL INI BAKAL SEGERA SAMPAI PADA TITIK AKHIR. JADI JANGAN SAMPAI KETINGGALAN BUAT BACA. VOTE SEBANYAK MUNGKIN BIAR AKU BISA UPDATE GILA]

__ADS_1


Buat pembaca yang baik hati bak bidadari DUKUNG NOVEL INI YUK AGAR BISA MASUK DI RANKING JUMLAH VOTE. (VOTE VOTE VOTE NOVEL INI YA)


__ADS_2