CINTA MALAM PERTAMA

CINTA MALAM PERTAMA
S3 - MENUNGGU KEPASTIAN


__ADS_3

Andreas mengacak rambut Sashi gemas. Memiliki Sashi seolah dunianya telah sempurna. Wanita di sampingnya itu mampu membuatnya bahagia tiap kali ada di dekatnya.


"Jadi gimana kalo kita Nikah aja? Setidaknya bisa mengurangi 50% persen cewek yang deketin aku" Pernyataan itu serentak membuat keluarga Dewantara melihat kearah Andreas. Sashi terdiam, terkejut dengan ucapan yang di lontarkan Andreas tiba-tiba.


[EPISODE SEBELUMNYA]


Pernyataan Andreas sukses membuat Sashi diam membisu. Wajahnya tersipu malu, walaupun ini kedua kalinya Andreas menyatakan lamaran pernikahan untuknya.


"Jadi ini sebuah lamaran atau hanya membual?" goda Arka sambil menyenggol lengan Sashi untuk menggoda saudara kembarnya itu.


Sashi menoleh kearah Arka dan memberi isyarat pada pria itu untuk diam. Sashi mengalihkan tatapannya dan melihat pada Andreas yang menunggu jawaban kekasihnya.


"Kenapa tiba-tiba seperti ini?"


"Aku hanya minta pendapatmu tentang kita. Lihatlah Arka, dia bahkan sudah menikah. Aku hanya ingin menyuarakan keinginanku tentang hubungan kita"


Sashi terdiam. Ada beberapa hal yang masih ia harus pikirkan baik-baik. Bukan tentang perasaan Andreas, karena Sashi yakin Andreas akan selalu mencintainya. Namun tentang kompetisi yang akan ia ikuti nanti. Sashi sangat berharap jika ia bisa menang dalam kompetisi ini agar bisa memperoleh beasiswa pendidikan desainer secara khusus di sebuah kelas desainer profesional di Italia. Namun ada satu syarat yang harus di penuhi oleh setiap peserta, ia harus berstatus lajang saat menjalani pendidikan itu selama beberapa bulan.


"Bisakah aku menjawabnya setelah kompetisi desainer nanti?"


"Kenapa? apa kamu merasa ragu denganku?" tanya Andreas yang merasa kecewa dengan jawaban Sashi. Untuk kedua kalinya Sashi telah menolak lamarannya.


"Aku tidak ragu sama sekali sama kamu. Tapi ada beberapa hal yang harus aku lakukan beberapa bulan ini. Aku perlu menunggu keputusan setelah perlombaan ini selesai"


"Apa terjadi sesuatu Sas?" tanya Raeviga menimpali. Seperti Andreas, Raeviga juga tak mengerti "sesuatu hal" yang di maksud oleh Sashi. Raeviga sangat yakin jika Sashi sangat mencintai Andreas, seharusnya ia akan sangat senang dengan lamaran yang di katakan Andreas saat ini. Pernyataan Andreas adalah sebuah pembuktian yang di lakukan oleh pria itu untuk Sashi.


"Tidak ada Ma. Hanya saja Sashi perlu waktu untuk menjawab semua ini. Tapi Sashi sama sekali tidak meragukan cinta Andreas. Aku hanya ingin meminta Andreas untuk memberiku sedikit waktu" ucapnya sembari kedua matanya yang menatap Andreas untuk meminta persetujuan kekasihnya.


"Baiklah aku setuju. Aku akan menunggu hingga kompetisi kamu selesai"

__ADS_1


Sashi menatap Andreas lama. Ia sedikit kecewa menolak lamaran Andreas padanya. Namun hal itu perlu ia lakukan sehingga tidak akan memberikan harapan palsu pada Andreas. Ia akan menjawabnya setelah pengumuman pemenang kompetisi itu.


Sashi mendekatkan tubuhnya dan memeluk Andreas. "Maaf, aku berharap kamu bisa mengerti aku. Aku juga sangat ingin menikah dengan kamu. Memberiku status sebagai Nyonya Andreas"


Andreas membelai lembut pangkal rambut Sashi. "Aku akan selalu menunggu jawaban kamu"


Raeviga dan Laili memandangi moment keduanya dengan senyuman kecil di sudut bibirnya. Begitu pula dengan Arka yang menggenggam tangan Marsha erat. Pria itu berharap tak akan ada lagi orang ketiga yang akan berusaha memisahkan ikatan hubungannya dengan Marsha.


****


"Bagian pinggang ini terlalu lebar. Kita perlu mengecilkannya lagi, dan tambahkan aksen mutiara di bagian gaun ini. Aku ingin gaun merah ini akan terkesan mewah dan elegan" pinta Sashi pada kedua pegawai butiknya.


Sashi telah memulai untuk melanjutkan kekurangan dari hasil rancangan kompetisi yang akan dia ikuti. Andreas terlihat menemani Sashi bahkan pria itu juga membantu kekasihnya yang terlihat kerepotan. Begitu pula Marsha yang sedikit memiliki pengetahuan tentang mode fashion membantu pekerjaan Sashi untuk segera menyelesaikan rancangannya dalam dua hari.


"Apa gaun ini sudah terlihat bagus? aku sedikit menambahkan ornamen lain di bawah dada" Marsha menunjuk ke sebuah gaun yang terlihat sangat anggun dengan menambahkan beberapa potong kain batik.


"Ini cantik. Aku merasa puas melihatnya" ungkap Sashi dengan wajah sumringah. Ia berjalan memutari patung manekin yang telah berbalut busana panjang dengan sebagian lengan terbuka.


"Kalian istirahatlah sebentar. Aku membawakan ini untuk semuanya" Andreas membawa dua kantong tas karton yang berisi banyak makanan siap saji yang telah ia pesan.


"Terima kasih Pak Andreas" jawab pegawai butik Sashi sembari menikmati makanan yang di berikan oleh Andreas.


"Terima kasih untuk makanannya" jawab Sashi dan Marsha serentak.


Malam semakin larut. Andreas masih setia menunggu Sashi yang masih sibuk di ruang kerjanya. Pegawai butik dan juga Marsha telah pulang sejak beberapa jam yang lalu. Andreas menghampiri Sashi yang masih menggambar desain gaun terakhir yang akan dia lombakan.


Andreas sudah berdiri tepat di belakang Sashi. Gadis itu sama sekali tidak menyadari kehadiran Andreas di belakangnya.


"Istirahat dulu sayang. Ini sudah malam loh"

__ADS_1


Sashi menoleh ke belakang mendengar Suara Andreas yang terdengar hangat di telinganya.


"Sebentar lagi, aku masih perlu memperhalus hasil gambar ini"


Andreas tak mengatakan apapun. Dia memilih untuk duduk di sofa tak jauh dari meja kerja Sashi. Ia memandangi Sashi lama hingga dia tanpa sadar tertidur begitu saja.


Sashi merenggangkan otot tubuhnya yang terasa kaku. Kedua tangannya ia gerak-gerakkan ke udara untuk melemaskan otot-otot tangannya. Sashi menoleh kesamping dan melihat kekasihnya tertidur pulas di atas sofa. Sashi mengambil sebuah selimut dari sebuah laci kecil di sudut ruangannya dan meletakkan selimut hangat itu di tubuh Andreas.


"Maaf, sudah membuat kamu menjadi kelelahan seperti ini," ucapnya sambil menyentuh garis wajah Andreas yang tertidur. Sashi akan menarik tangannya dari wajah Andreas, namun lelaki itu justru meraih tangan Sashi dan menggenggamnya erat.


"Biarkan seperti ini hingga beberapa menit," pintanya dengan kedua matanya yang masih terpejam.


****


"Apa kamu ingin sesuatu?" tanya Raeviga pada Dava yang terbaring di ranjang rumah sakit. Dava menggelengkan kepalanya memberi isyarat jika dia tak menginginkan apapun.


"Temani aku tidur disini" ucap Dava sambil menepuk pelan ranjang tempatnya tidur. Dava menggeser tubuhnya kesamping agar Raeviga memiliki ruang untuk tidur di sampingnya.


Raeviga naik ke atas tempat tidur Dava dan membaringkan tubuhnya di sebelah Dava. Pria itu memandangi lama wajah Raeviga yang tak terlihat sama sekali kerutan di wajahnya walaupun usianya tak lagi muda seperti dulu


"Kenapa melihatku seperti ini?"


"tidak ada, hanya saja wajah ini seperti candu untukku. Terima kasih sudah mengizinkanku menjadi bagian penting di hidup kamu, sayang"


"terima kasih kembali untuk kasih sayang kamu yang tak pernah hilang di makan waktu"


Dava membelai lembut wajah Raeviga dan memeluknya dalam tidur.


BERSAMBUNG

__ADS_1


Hai Readers.


Buat pembaca yang baik hati bak bidadari DUKUNG NOVEL INI YUK AGAR BISA MASUK DI RANKING JUMLAH VOTE. (VOTE VOTE VOTE NOVEL INI YA


__ADS_2