
[ JANGAN LUPA BUAT FOLLOW AUTHOR]
Sashi bernapas lega. Ia memeluk Angela dan tersenyum kecil kearahnya.
"Jangan terlalu lelah.oke?" Sashi tersenyum menyemangi kakak sepupunya.
"Iya. Ayo makan, benar kata andreas. Rasa makanannya akan berbeda nanti jika sudah dingin.." ucap Angela lagi.
Andreas dan Sashi kembali menikmati makanan mereka dengan tenang. Namun berbeda dengan William. Sejenak ia menatap Angela lama dan memikirkan sesuatu.
"Ada apa dengan Angela. Dia menjadi sensitif. Bukankah selama di perjalanan baik-baik saja.." pikirnya sendiri sambil menikmati makanannya.
...Episode Sebelumnya...
Sashi masih bersama Andreas, William dan juga Angela. Mereka membicarakan berbagai hal di temani berbagai makanan penutup yang tersaji di meja mereka.
"Jadi kamu akan ikut Kompetisi Desainer itu?" tanya William yang tak menyangka jika Sashi akan menjadi calon peserta di sebuah acara yang juga bekerja dengannya.
"Iyaa. Apa kamu juga mengikuti kompetisi itu? jangan bilang nanti kita akan bersaing disana.." tebak Sashi yang melihat respon terkejut William.
"Tidak, aku salah satu investor di kompetisi sekaligus menjadi mentor kalian selama berada disana.." jelas Pria yang duduk di samping Sashi itu.
Berbeda dengan respon Sashi yang terlihat senang, Andreas nampak menatap tajam kearah Sashi yang menikmati percakapannya dengan William.
Di Sisi Andreas, Angela menghela napas kesal dan mengambil ponsel dari dalam tas miliknya.
"Aku harus pulang.." Angela tiba-tiba berdiri dari tempat duduknya.
"Pulang? secepat itu? bagaimana kalau pulang bersama saja. Sekalian aku ingin menyapa Tante Siska dan Om Arga.." jawab Sashi pada Angela.
"tidak"
"gaboleh"
jawab Andreas dan Angela bersamaan. Sashi memandangi keduanya dan tertawa kecil melihatnya.
"Kalian kenapa? kompak sekali.." tanya Sashi yang masih menahan tawa di bibirnya.
"Apa ada masalah?" tanya William pada Angela dan berjalan menghadiri ke arah gadis itu.
"Papa mau membicarakan hal penting perusahaan sekarang. Jika kamu tidak bisa mengantarku pulang aku.." ucapan Angela terpotong dengan jawaban William.
"Aku akan mengantarmu.." jawab William memotong pembicaraan Angela.
"Baiklah.." Angela berjalan lebih dulu tanpa berpamitan pada Sashi dan Andreas.
"Sashi, terima kasih buat waktu kalian. Terima kasih juga telah di izinkan bergabung disini.." ucap William sambil mengangkat tangannya sedikit ke atas untuk memanggil pelayan.
"Tak masalah. Ayo kita lakukan double date seperti ini lagi. Bukankah menyenangkan.."
"Tentu, aku akan memberitahu Angela juga.."
"Bisa kamu bawakan tagihan makanannya." pinta William pada seorang pelayan yang telah berdiri di samping mereka.
"Baik tuan. Ini adalah tagihan makanannya.." Pria pelayan restoran itu memberikan struk yang baru saja di cetaknya dari mini portable printer yang ada di tangannya.
"Biar aku saja yang membayarnya. Aku berterima kasih pada kalian.." William mengambil dompet dari saku celananya..Namun tangan Andreas menghalanginya.
"Biar aku saja yang membayarnya. Karena aku telah mengundang kalian satu meja.." ucapnya dan memberikan black card nya pada pelayan.
"Untuk pembayaran debit bisa menuju meja kasir tuan.." tunjuk pelayan itu kearah meja kasir yang terdapat mesin EDC.
__ADS_1
"Sudahlah tak apa Andreas. Aku saja.." William memberikan beberapa lembar uang kepada pelayan.
Andreas memberikan black card nya lagi pada pelayan dengan raut wajahnya yang terlihat kesal.
"Kamu pilihlah pakai kartu atau uang?" pertanyaan itu membuat pelayan restoran bingung dan sedikit takut pada Andreas.
"Kamu kenapa sih? Apa salahnya jika William yang membayarnya" Lerai Sashi dan mengambil kartu debit Andreas dari pelayan itu.
"Baik saya terima uangnya. Terima kasih tuan dan nona.." ucap pelayan itu sebelum pergi.
"Baiklah Sashi. Aku pergi dulu. Angela sudah menunggu lama di luar. Jika ada kendala terkait kompetisi kamu bisa hubungi aku kapanpun.." katanya sebelum pergi meninggalkan Sashi dan Andreas.
"awas saja jika Sashi menghubungimu.." keluhnya dalam hati.
"Baiklah terima kasih" jawab Sashi dan melambaikan tangannya pada Angela yang berdiri di luar restoran.
Angela tersenyum kecil membalas lambaian tangan Sashi.
"Angela sedikit aneh hari ini. Dia jadi pendiam dan terlihat tak acuh padaku sejak tadi"
"Apa dia sedang PMS?" tanya Sashi pada Andreas.
"PMS?" tanya Andreas mengerutkan keningnya.
"Iya, seperti tamu bulanan wanita.." jelas Sashi lebih rinci.
"Kamu yang tidak peka.." keluh Andreas dan berjalan mendahului. Ia beberapa kali menghela napas dan mengepalkan tangannya kesal.
"Kenapa juga dengan Andreas? tidak mungkin kan jika dia PMS. Aneh" gumamnya dan berlari mengikuti Andreas.
Sashi melihat raut wajah kesal pada Andreas. Gadis itu tak mengerti kenapa pria di sampingnya berwajah kesal seperti sekarang.
"Kamu kenapa sih kok tiba-tiba cemberut gitu?" ucapnya sambil memperhatikan wajah Andreas lekat.
"Kamu tuh.."
"Hmm? bentar ada telepon masuk.." potong Sashi sambil menerima panggilan teleponnya.
"Halo William, ada apa?" serunya pada seseorang di seberang teleponnya.
"benarkah? ini sungguh berita yang bagus. Baiklah aku akan datang.." lanjut Sashi yang masih sibuk dengan panggilan telepon William.
"lanjutkan saja nanti.." tangan Andreas mengambil ponsel Sashi dan mematikan panggilan teleponnya dengan William.
"Apa yang kamu lakukan?" pekik Sashi kesal. Ia menatap tajam kearah Andreas yang juga melihat kearahnya.
"Memusnahkan penganggu!" jawab Andreas dingin dan segera menyalakan mesin mobilnya meninggalkan restoran itu.
Sashi diam tak bersuara namun alisnya terangkat sebelah mendengar perkataan Andreas.
"Apa sih yang sedang ia keluhkan? kenapa marah-marah tiba.." pikirnya.
Selama di perjalanan keduanya tak bersuara sama sekali. Sashi memalingkan wajahnya menatap kaca mobil di sampingnya. Andreas sesekali mencuri tatap wajah Sashi yang terlihat murung dari kaca spion mobilnya.
"Hmmm.." deham Andreas dan memutar sebuah lagu dari mobilnya. Melodi lagu yang lembut dan menenangkan.
Namun Sashi tak mengacuhkan hal itu. Ia tetap tak memalingkan wajahnya.
"Cuacanya sangat bagus, sangat cocok untuk pergi berlibur..." serunya sendiri memancing Sashi untuk bersuara.
Sashi hanya menatap sekilas kearah Andreas namun tak mengatakan apapun.
__ADS_1
"Sashi.." seru lelaki itu lagi.
"Kembalikan ponselku.." Pintanya, Sashi menengadahkan tangannya kearah Andreas.
Andreas melihat raut wajah Sashi yang masih kesal.
"kenapa kamu hanya memperdulikan ponselmu. Sashi aku juga kesal. Apa kamu juga menyadarinya juga?" tanya Andreas yang mulai terpancing emosinya.
"Lalu apa hubungannya denganku? aku tak melakukan hal yang salah sejak tadi. Kembalikan ponselku.." jawabnya tanpa melihat kearah Andreas.
"Kamu tidak menyadarinya?"
"menyadari apa?katakan dengan jelas?" keluh Sashi yang tak bisa lagi menahan amarahnya.
"Sikapmu pada William.."
"kenapa dengan william? kami tidak melakukan apapun.."
Andreas mendengus kesal dan menepikan mobilnya disisi jalan.
"Kenapa? kenapa hanya diam? dasae aneh.." Sashi akan turun dari mobil Andreas namun tangan kekar Andreas menghalanginya.
"Mau kemana?"
"pulang sendiri" jawab gadis itu ketus.
"Sashi, aku hanya tak suka melihat caramu berbicara santai pada William.."
Sashi menoleh pada Andreas.
"Apa salahnya dengan itu? dia adalah sahabatku. Dia juga yang.."
cup
Andreas mengecup lembut bibir Sashi walaupun gadis itu sempat mencoba melepaskan sentuhan itu. Ciuman Andreas semakin lama melekat di bibir ranum Sashi. Sashi melingkarkan tangannya pada bahu Andreas yang tegap. Mengalirkan setiap perasaan cinta dan ketulusan mereka.
"Aku hanya tak ingin tatapan akrab itu untuk pria lain.." ungkap Andreas setelah melepaskan tautan bibir mereka.
Sashi tersenyum tipis dan merapikan tatanan rambut Andreas yang sedikit berantakan.
"Dia hanya teman baikku.." tangan Sashi beralih ke wajah Andreas dan membelainya lembut.
"Aku tak ingin kehilanganmu.."
"Aku tau. Lagipula William telah bersama dengan Kak Angela. Kenapa kamu masih saja cemburu.." Sashi tersenyum kecil menyadari kemarahan Andreas karena merasa cemburu dengan William.
"Tapi tatapan William padamu masih seperti dulu. Kedua matanya yang terlihat kagum dan menginginkanmu. Ingin rasanya aku menghajarnya.." keluhnya kesal.
Sashi menyunggingnya bibirnya dan menenggelamkan kepalanya pada dada bidang Andreas.
"Dasar Bodoh. Kenapa kamu memperdulikannya. Tak bisakah kamu hanya memperhatikanku saja. Bukankah kedua mataku hanya mengagumi pesonamu saja.." goda Sashi dalam pelukan Andreas.
"Shit!"
BERSAMBUNG
Hai readers, maaf ya kalau sering terlambat update. Karena jujur untuk dapat waktu luang untuk menulis aku masih susah untuk mengaturnya. Waktuku banyak terbuang dengan jam kuliah, kerja dan hal-hal kecil seperti urusan keluarga. Jadi kalau mau nulis aku pasti tengah malem atau jam selesai subuh :(
Mohon dimaklumi ya :) terima kasih
Happy reading~
__ADS_1
Caramellow