
"Kenapa kamu mengingatkanku tentang ini, Kak Andreas?"gumam Sashi dalam hati sembari menatap pemandangan dari kaca pesawat.
Episode sebelumnya
___________________________________
Di dalam kabin pesawat Sashi masih memandangi foto lama yang di berikan Andreas itu. Sedangkan di sebelahnya Arka memperhatikan Sashi yang terlihat lesu.
"Lo kenapa sih Sas? Ntar kesambet di dalam pesawat gak ada pawangnya loh.."ucap Arka sembari sedikit bergurau agar suasana yang sejak tadi hening itu kembali bernyawa.
Sashi tidak membalas gurauan Arka kepadanya.Gadis itu mendongakkan kepalanya yang sejak tadi menunduk.Ia menatap kearah Arka yang duduk di sampingnya.
Beberapa detik kemudian gadis itu baru membuka mulutnya untuk berbicara.
"Aku mencintainya Ka,tapi aku tidak ingin serakah..."keluh Sashi ketika ia sudah mengarahkan wajah sendunya pada saudara kembarnya itu.Kini Arka bisa melihat kesedihan yanh begitu dalam sedang di alami oleh Sashi.Saudara perempuannya itu terlihat sangat dilema dengan keputusan yang baru di buatnya.
Keputusan yang sangat sulit untuk dirinya untuk tidak lagi bergantung kepada Andreas.Kisah cinta yang katanya akan selalu indah adalah sebuah kenyataan yang sebenarnya terasa pahit untuk di lalui oleh Sashi atau Arka.
Cinta tak sepenuhnya indah seperti yang di katakan banyak orang.Dia hanya membawa sedetik kebahagiaan dan segudang kesedihan.
Arka memeluk tubuh saudara itu,mencoba memberinya sedikit energi untuk tetap hidup dengan keputusan yang telah ia buat.Melihat kesedihan Sashi seolah kesedihan itu juga di peruntukan kepadanya.Arka juga merasa kacau saat ini,Namun ia masih bisa mengendalikannya karena tak ingin Sashi ikut terbebani oleh masalahnya.
Cukup dirinya yang mengatasinya sendiri.
Dalam pelukan Arka,Sashi meluapkan semua kesedihannya yang masih ia tahan.Wajahnya terlihat pucat dan sembab,namun air mata itu masih tak terbendung.
Tuhan,kapan kisah menyedihkan ini akan berakhir.Mampukah aku bertahan tanpanya? bisakah aku melupakan dia seolah aku tak mengenalnya? bisakah kisah ini tak membekas terlalu lama di hatiku?
Arka menepuk pelan punggung Sashi yang masih dalam pelukannya.
"Andreas juga mencintaimu,Sas.Kalian hanya terlambat menyadari..."
"Tapi kak Angela..."Sashi kembali mengingat saat Angela menyatakan perasaannya juga di depan umum saat di pesta Andreas saat itu.
"Tidak..aku tidak ingin mementingkan keinginanku sendiri Arka.."ungkap Sashi sembari menggelengkan kepalanya,tak ingin pikiran bodoh itu merasukinya.
__ADS_1
"Kamu terlalu keras kepala Sas.Dengarkan perkataan Andreas baik-baik.Mereka tidak pernah memiliki perasaan yang sama satu sama lain..." kali ini Arka menatap kedua manik mata Sashi yang sendu.Arka melirik ke sebuah foto lama yang di pegang oleh Sashi.
Arka mengambil foto itu dari tangan Sashi.
"Lihatlah ini,bahkan Andreas telah memandang kamu seperti gadis yang sangat spesial dalam hidupnya.Bukankah saat aneh jika sejak kecil kak Andreas selalu bersedia berjalan di sampingmu jika ia tidak memiliki perasaan sama kamu Sas.." Arka menghela napasnya ringan dan mengusap air mata Sashi yang masih menetes setiap detiknya.
"Tapi beberapa tahun terakhir Kak Andreas selalu bersikap dingin Arka.Dia hanya mengasihaniku bukan mencintaiku.Itu sebuah perbedaan yang besar.."jawab Sashi setelah sejak tadi diam mendengarkan apa yang di katakan Arka kepadanya.
Arka mengembalikan foto yang di pegang olehnya kepada Sashi.Gadis itu masih terisak dan bergelut dengan hatinya.
"Sas,kadang kamu perlu melihat dengan jelas perasaan Kak Andreas sebelum kamu menilainya dan menjauh darinya.Karena saat itu benar-benar terjadi kamu tidak akan pernah bisa memilikinya lagi.."ucap Arka lagi sebelum dirinya mengembalikan foto itu ke tangan Sashi.
Mendengar hal itu,kata-kata Andreas saat di pantai tadi sore kembali terngiang di otaknya.Pernyataan Andreas,ungkapan hatinya dan rasa sakit yang timbul bersamaan tentang pernyataan Angela di pesta Andreas melebur menjadi satu di kepalanya sekarang.Dadanya terasa sesak,wajah yang pucat itu semakin terlihat lemah.Isak tangisnya tak bisa berhenti
.Beberapa penumpang di penerbangan kelas bisnis itu juga sesekali terdengar isak tangis Sashi yang tertahan.
Sesekali mereka mengintip ke kursi yang di duduki Arka dan Sashi.Mereka seolah ingin mengetahui apa yang sedang terjadi dengan keduanya.
Arka menepuk punggung Sashi pelan mencoba menyemangati gadis itu,setidaknya membuat gadis itu sedikit tenang.
Arka mengangguk mengiyakan apa yang di katakan oleh Sashi.Setidaknya gadis itu menjadi sedikit lebih tenang dari sebelumnya walaupun kesedihan masih menyelimutinya.
Arka memandangi Sashi sekilas yang telah meringkuk dan membelakanginya.
Aku berharap kisahmu berakhir indah seperti yang di katakan banyak orang tentang cinta.
Lelaki itu menatap kearah kaca pesawat di sampingnya.Awan yang bergerak di sekitar pesawat menjadi penghibur kesedihannya juga saat ini.
______________________________
Andreas menenggelamkan wajahnya di kedua tangan kekarnya.Ia duduk sendiri di kursi taman di halaman belakang rumahnya.Malam telah semakin larut,bahkan nyamuk-nyamuk yang terbang mengelilingi Andreas semakin banyak.Namun lelaki itu seolah telah mati rasa,sengatan nyamuk itu tidak terasa di tubuhnya.
Kesedihannya dan keresahan hatinya terlalu banyak mengendalikan tubuhnya.Maura,ibu dari Andreas menatap putra tunggalnya sedang merenung sendirian.Ia memandangi punggung kekar Andreas,wanita itu berdiri di samping pintu.
Maura kembali masuk ke dalam rumah,beberapa menit kemudian ia kembali keluar dengan selimut tipis yang di pegangnya.Ia berjalan menghampiri Andreas dan menyampirkan selimut itu di tubuh anaknya dari belakang.
__ADS_1
"Tuh nyamuk di sekitarmu sedang berpesta sekarang karena mendapat santapan gratis.."ucap Maura yang masih berdiri di belakang Andreas.
Lelaki itu membalikkan tubuhnya ke belakang ketika mendengar suara Maura dan senyum kecil kepada wanita itu.
"Mama kok belum tidur?"tanya Andreas melihat kedatangan wanita yang telah melahirkannya itu.
"Bagaimana Mama bisa tidur kalau anak sendiri terlihat sedih..."balas Maura sembari duduk di samping Andreas.
"Kenapa sayang? tidak ingin cerita ke mama?"tanya Maura sambil menepuk pelan bahu Andreas.
Andreas menggeser tempat duduknya agar Maura dapat duduk di sampingnya.
"dulu mama bertemu papa gimana?apa mama sudah tau kalo papa adalah lelaki duda beranak satu?"pertanyaan Andreas tentu membuat Maura mengingat masa lalunya.
Saat itu,Axel tidak sengaja bertemu dengan Maura di sebuah pertemuan bisnis.Bagi wanita itu,Axel selalu membuatnya nyaman saat ia berada di sampingnya.Merasa kehilangan,jatuh cinta,Kebahagian semua mengisi kehidupan cintanya.
Maura meraih tangan Andreas dan mengenggamnya.
"Papamu menjelaskan terang-terangan kisah hidupnya sebelum sama mama sayang.Semuanya ia ceritakan seolah mama adalah kotak surat curhat baginya.Cinta memang seperti itu,dia tidak akan menyeleksi tentang duda ataubjanda,miskin atau kaya,jelek atau tampan,bahkan lebih parahnya tidak bisa menyeleksi jatuh cinta dengan pria atau wanita.."Maura tersenyum kecil dan menatap kearah wajah Andreas yang masih tenggelam dengan kesedihannya.
"Cinta adalah perantara hati untuk saling menyatukan.."lanjut Maura lagi.
"Papa beruntung bertemu Mama.."seru Andreas dengan senyum kecil yang ia paksakan.
"Wanita yang akan memiliki hatimu jauh lebih beruntung,sayang..."ungkap Maura memuji putranya yang telah dewasa itu.
"Andreas tidak sehebat Papa..."keluh lelaki itu sambil menundukkan kepalanya seolah merasa dirinya tak mampu untuk mempertahankan Sashi untuk menjadi bagian dari hidupnya.
"Aku tidak bisa mencegah kepergiannya.."lanjutnya lagi.
"Kalian hanya perlu menyadari perasaan masing-masing.Semua masih belum terlambat Andreas..kisah kalian belum berakhir.."ungkap Maura sambil berdiri dari duduknya.
"Masuklah ini sudah sangat larut malam."Maura. melangkahkan kakinya masuk kembali ke dalam rumah.Namun sesaat setelah bebrrapa detik,wanita itu kembali membalikkan tubuhnya dan melihat kearah Andreas yang masih duduk di sana.
"Apa gadis yang kamu bicarakan itu Sashi?"
__ADS_1
BERSAMBUNG