CINTA MALAM PERTAMA

CINTA MALAM PERTAMA
S3 - ROMANSA KAKEK NENEK


__ADS_3

[JANGAN LUPA BUAT FOLLOW AUTHOR]


"Alamatnya dimana non?" tanya supir taksi itu lagi. Jawaban Angela membingungkannya.


"Udah jalan aja nanti saya kasih tau!"


Tanpa mengatakan apapun lagi supir taksi itu menyalakan mesin mobilnya dan melaju mengikuti arus jalan di depannya.


Sial, Kenapa harus mendapat penumpang seperti ini!


Episode sebelumnya


Angela menahan isak tangisnya di dalam taksi. Pengemudi taksi itu nampak iba dengan kondisi Angela dan memberinya beberapa lembar tisu pada gadis itu.


"Ini non ada tisu.."


Angela mengambil tisu itu dan mengucapkan terima kasih kepadanya.


"Alamat saya, Perumahan Sunkiss xxxx" sebutnya setelah melihat arah jalanan di depannya bertentangan dengan arah rumahnya.


"Kenapa gak dari tadi non.. kan jalannya kelewat.." supir taksi itu mencari jalan untuk memutar arah.


"Saya baru ingat. Udah bapak jalan aja.." pinta Angela sambil mengusap air matanya yang masih mengenang di ujung matanya.


"Alamat rumah sendiri kok baru ingat.." gumam supir taksi itu dalam hati.


"Non, habis putus ya? Gak apa non. Gausah nangis berlebihan. Stok pria lajang masih banyak. Waktu saya muda, saya juga pernah seperti nona. Setelah putus besok dapet wanita lain lagi.." ungkap supir taksi itu yang mencoba menenangkan Angela dengan beberapa kalimatnya.


Namun seolah berbeda pemahaman, Angela nampak kesal dengan ucapan supir taksi itu.


"Bapak bisa diem gak? kenapa sih pria itu mudah sekali berpaling hati. Apa karena mereka tak menggunakan perasaan mereka dan hanya mempermainkannya saja.." gerutu Angela yang terlihat semakin kesal.


"Maaf non..maaf.."


waduh salah ngomong nih barusan!


******


Setelah kepergian Arka untuk melakukan bisnis perusahaannya di Surabaya membuat Marsha sedikit jenuh berada di dalam rumahnya. Walaupun waktunya banyak di habiskan dengan Arsha, putri kecilnya namun tetap saja perasaannya terasa kosong tanpa kehadiran Arka di sampingnya. Ponsel miliknya berdering saat Marsha tengah bermain dengan Arsha.


"Mama mertua?" seru Marsha sambil menerima panggilan telepon itu.


"Halo Marsha.."


"Iya mama Rae.." jawab Marsha ketika panggilan itu terhubung.

__ADS_1


"Apa kamu tidak bosan berdua saja dengan Arsha? Mainlah ke rumah bawa Arsha kemari, dia pasti senang bertemu dengan Kakek dan neneknya.." pinta Raeviga dari seberang telepon.


Marsha tersenyum kecil dan mengiyakan permintaan Raeviga itu.


"Apa Arka sudah mengabarimu?" tanya Raeviga lagi.


"Belum Ma, kurasa Arka sedang sibuk disana. Aku tak ingin menganggunya.." nampak jelas wajah Marsha yang terlihat sedih. Sejak 2 kepergian Arka, pria itu sama sekali belum mengabari kondisinya disana. Ataupun sekedar memberi kabar pada Marsha.


"Dasar anak itu. Biar Mama nanti yang memberitahukannya. Nanti malam bisakan ke rumah?"


"Iya Ma bisa.." jawab Marsha sebelum panggilan itu terputus.


"GrandMa.." seru Arsha kecil saat Marsha mematikan panggilan teleponnya.


"Iya sayang ini yang telfon GrandMa. Nanti kita kesana ya.." Marsha memeluk tubuh mungil Arsha dan menciumnya.


"Nene..Keke.." ucap Arsha lagi yang terlihat senang.


"Kakek..bukan keke sayang.." Marsha terlihat gemas melihat perkembangan Arsha.


*****


Di Kota lain Arka nampak di sibukkan dengan berbagai urusanan perusahaan cabang yang berada di Surabaya. Selama 2 hari ini beberapa karyawan melakukan tambahan jam kerja (lembur) untuk segera menyelesaikan beberapa masalah perusahaan.


"Beberapa masyarakat mengatakan jika ada pesaing produk yang sama seperti kita dan menawarkan harga yang lebih rendah.." balas salah satu pegawai di rapat itu.


"Disinilah permasalahannya. Produk kita tidak memiliki keunggulan yang bisa membuatnya berbeda dengan yang lain.." Keluhnya lagi sambil menunjukkan beberapa gambar dari layar ponselnya yang terhubung dengan layar LCD di depan mereka.


"Apa tidak ada yang memiliki masukan?" tanya Arka frustasi. Ia terlihat lelah dengan urusan perusahaannya.


Ponsel Arka berdering, panggilan itu dari Raeviga,Mamanya. Ia mengakhiri rapat perusahaannya dan menerima panggilan telepon itu.


"Halo Ma.." Arka memulai pembicaraan.


"Arka kamu nih gimana sih. Sesibuk apapun kamu, kamu harus ngabarin istri dan anak kamu. Kamu gak khawatir dengan keadaan mereka!" gertak Raeviga saat mendengar suara Arka dari balik ponselnya.


"Astaga Ma, Lupa. Dua hari ini Arka memikirkan agar perusahaan di surabaya bisa normal kembali. Arka jadi melupakan Marsha dan Arsha.." pekiknya yang menyesali kesalahannya.


"Gini yaa kamu.."


"Yaudah Ma, Arka matiin telepon dulu ya. Arka mau ngabarin Marsha.." Arka memotong pembicaraannya dengan Raeviga dan juga mengakhiri panggilan mereka tanpa mendengarkan jawaban Mamanya.


"Dasar, anak ini!" gerutu Raeviga pada ponselnya yang tadi terhubung dengan panggilan Arka.


"Kenapa sih sayang?" tanya Dava pada istrinya. Ia duduk di samping Raeviga dengan secangkir teh di tangannya.

__ADS_1


"Anak kamu tuh sayang, udah 2 hari pergi tapi sama sekali tidak mengabari keluarga.." keluh wanita yang sudah sedikit beruban itu.


"Anak yang mana sayang?" tanya Dava sambil merentangkan tangannya di belakang punggung Raeviga.


"Si Arka. Anak itu. Tadi juga tidak ada sopan-sopannya sama orang tua. Main putus telepon gitu aja. Kan aku masih mau memarahinya.."


Dava menghela napas dan menepuk punggung Raeviga pelan.


"Udah, Jangan terlalu memarahi mereka. Mereka sudah dewasa sayang. Arka sudah menjadi kepala keluarga pasti dia bisa memutuskan mana yang baik atau tidak.." jelas Dava yang juga mencoba meredakan emosi istrinya.


"Iya, itu karena kamu sering manjain dia dulu.."


Raeviga menyandarkan kepalanya di bahu Dava dan memengang tangannya erat.


"Sayang, tangan kamu dingin. Kamu juga semakin kurus. Kamu sakit?" tanya Raeviga menatap wajah Dava khawatir.


"Kamu jangan aneh-aneh deh. Suami sehat seperti ini di bilang sakit. Tadi habis ambil air dingin di kulkas. Tubuh yang sudah menua sepertiku ini sudah biasa dengan berat badan segini. Itu wajar sayang.." Dava mencium kening istrinya dan menatapnya lembut.


"Tapi tetap saja berat badan kamu tidak seperti biasanya.." Raeviga meletakkan kedua telepak tangannya di wajah Dava dan memandangnya lama.


"Kamu yakin tidak sakit?" ulangnya.


Dava tersenyum kecil melihat kekhawatiran istrinya.


"sayang tubuh tuaku ini sudah tidak melakukan apapun yang membuat lelah


Jadi sangat wajar jika nafsu makanku sedikit berkurang."


"Kecuali jika sebelum makan.." Dava tersenyum menyeringai pada Raeviga.


"Dicium sama kamu.." lanjut Dava dan mendekatkan wajahnya mencium bibir Raeviga.


"Dasar otak mesum.." Raeviga mencubit pinggang Dava kecil membuat pria yang sudah menjadi kakek itu merintih kesakitan.


BERSAMBUNG


Hai readers, maaf ya kalau sering terlambat update. Karena jujur untuk dapat waktu luang untuk menulis aku masih susah untuk mengaturnya. Waktuku banyak terbuang dengan jam kuliah, kerja dan hal-hal kecil seperti urusan keluarga. Jadi kalau mau nulis aku pasti tengah malem atau jam selesai subuh :(


Mohon dimaklumi ya :) terima kasih


Happy reading~


Caramellow


Instagram : @ilyuaml1

__ADS_1


__ADS_2