
Nania meraih daster dari lemari pakaian itu, daster berwarna pink dan itu terlihat sangat feminim sekali.
"Cocok itu bunda, karena pakaian ayah sudah basah." ujar Brian.
Nania mengangkat jempolnya pada Bria dan kemudian mereka berdua keluar dari kamar dan menemui Dewa di ruang tamu.
Dewa tersenyum karena Nania dan Brian sudah menemuinya.
"Ayah pulang saja, karena pakaian ayah sudah basah itu." ucap Brian dengan ketus.
"Ngak masalah basah, asal ayah bersama kalian berdua malam ini dan kalau bisa seterusnya." sanggah Dewa yang tidak mau menyerah untuk mendapatkan hati anaknya.
Lalu Brian meminta daster berwarna pink itu dari bundanya kemudian diberikannya pada ayahnya.
"Ayah pakai pakaian ini." pinta Brian.
Tanpa bicara Dewa mengambil pakaian itu, dan kemudian beranjak ke kamar untuk mengganti pakaiannya.
Beberapa saat kemudian Dewa sudah keluar dari kamar mandi dengan mengenakan daster berwarna pink tersebut.
Brian dan bundanya hanya tertawa melihatnya memakai daster pink tersebut.
"Kenapa ayah mau memakainya?" Brian bertanya pada ayahnya.
"Berhubung ayah sudah kedinginan dan disini ayah ngak punya pakaian ganti, ayah ngak perduli memakai pakaian apapun asal bisa bersama kalian berdua." ujar Dewa yang kemudian duduk dihadapan Brian dan bundanya.
Sejenak Brian dan bundanya hanya terdiam, lalu Brian beranjak ke arah kamarnya lagi.
Beberapa saat kemudian, Brian sudah tiba di ruang tamu dengan membawa pakaian dan bungkus plastik yang rapi.
Lalu pakaian itu diberikannya pada sang bunda.
"Waktu pernikahan Susi dan Indra, aku membawa pakaian mu ke rumah Susi. kali saja mas Dewa ikut ke rumah Susi waktu jadi ada pakaian yang akan dikenakan."
"Iya, mas tahu itu. karena mama memberitahu ku." sanggah Dewa.
Terpancar kebahagiaan dari raut wajahnya Dewa, ketika Nania memanggilnya dengan mas.
"Mas sudah sangat lama tidak mendengar panggilan itu dari mu, terimakasih karena memanggil dengan seperti itu lagi." kata Dewa dan kemudian tersenyum.
Ayah tidur di ruang kamar saja, dan jangan coba-coba masuk ke dalam kamar kami.
Untuk bunda...! jangan coba-coba keluar dari kamar, nanti Brian marah sama bunda." ujar Brian.
Kemudian menarik tangan bundanya dan berjalan ke arah kamar mereka.
Dewa hanya mengelus dadanya, dan tetap duduk di sofa dengan mengenakan daster berwarna pink tersebut.
"Iya Tuhanku...! kirain banci dari mana, rupanya pak Dewa."
__ADS_1
Beliau adalah mama Wadeh, ibu paru baya yang selalu bersama Nania waktu di Ternate.
"Ibu kenal sama saya?" Dewa bertanya karena mama Wadeh mengetahui namanya.
"Cuman tahu dari foto saja, pernah pak Dadang menunjukkan foto waktu peluncuran produk di rumah sakit Jawara.
Jadi kamu Dewa, pria bajingan yang psikopat itu?"
Dewa hanya tersenyum mendengarnya dan memang itulah yang tepat menggambarkan Dewa kala itu.
"Bisa kita ngobrol bu? karena ada hal...!"
"Bisa...! ganti dulu pakaian mu, sangat tidak nyaman melihat mu seperti itu."
Kata mama Wadeh seraya memberikan pakaian di dalam plastik.
Dewa langsung memakainya di kamar mandi tamu dan kemudian menemui mama Wadeh yang duduk di sofa.
"Sudah pada makan apa belum, Iya! sebentar iya." ucap mama Wadeh.
Kemudian berjalan ke arah kamar Brian, lalu mengetuk pintu kamar tersebut.
"Brian sama bunda, sudah makan apa belum?"
"Belum Oma Wadeh," jawab Brian pada mama Wadeh.
Brian mengajak bundanya untuk makan dan mereka bertiga berjalan dan berhenti ketika melihat Dewa yang duduk di sofa.
"Boleh nggak Brian mengajak ayah malam bersama kita?" tanya Brian pada mama Wadeh.
"Kalau Oma sih yes, coba tanya bunda." jawab mama Wadeh.
Sang bunda juga mengijinkan Dewa untuk ikut malam bersama mereka di meja makan.
Dewa tersenyum bahagia karena pada akhirnya bisa makan bersama dengan kedua orang yang dicintainya.
Mungkin karena kelelahan dan Dewa tidak sempat bicara empat mata dengan mama Wadeh.
Dewa istrihat di kamar tamu, dan hal itu yang membuatnya tidak sempat bicara dengan mama Wadeh.**
Seperti biasanya Nania sudah bangun jam setengah lima pagi, untuk membantu mama Wadeh memasak di dapur.
"Apa mas Dewa pulang?" tanya Nania pada mama Wadeh.
"Ngak...! masih tidur di kamar tamu." ucap mama Wadeh.
Sejenak mereka berdua terdiam karena sibuk memotong sayur-sayuran.
"Sepertinya laki-laki itu memang orang baik, cuman hanya gengsi dan sedikit egois."
__ADS_1
"Iya...! mama Wadeh benar. saya terlalu gengsi dan sangat egois dan bodoh.
Aku membiarkan istriku yang aku cintai pergi dari hidupku, hanya karena aku tidak ingin di kalahkan oleh istriku sendiri.
Aku benar-benar menyesal dan saat ini aku melakukan apapun untuk mendapatkan istri dan anakku kembali.
Akan kulakukan apapun, selama tidak melanggar hukum dan menyakiti hati orang lain." sanggah Dewa yang tiba-tiba muncul di dapur.
Mama Wadeh hanya terdiam karena Dewa menyela ucapannya, demikian juga dengan Nania.
"Mas Dewa...! pantang menyela ucapan emak-emak. lebih baik bangunkan Brian di kamar dan suruh segera siap-siap untuk pergi ke sekolah." ucap Nania.
Dewa mengangguk setuju dan kemudian berjalan ke arah kamar Brian.
"Baaaa...!" Brian mengejutkan ayahnya.
ahhhhhh..... ' Dewa berteriak kaget.'
Suara teriakan Dewa membuat Nania dan mama Wadeh menghampiri mereka berdua, wajah Dewa yang terlihat kaget tapi lucu dan membuat mereka tertawa.
"Ini namanya karma, dulu ayah sering kali membuat seperti ini pada Opa mu. sekarang ayah kena batunya." ujar Dewa.
hahahaha... hahahaha... hahahaha... ' mereka tertawa lagi.
Layaknya keluarga yang bahagia dan itu tergambarkan jelas dari raut wajahnya Dewa yang ikut tertawa juga.
"Kalian bertiga siap-siap saja deh, biar mama Wadeh yang menyiapkan makanan kita." kata mama Wadeh.
Lalu meninggalkan mereka bertiga, sementara Dewa masih terlihat sangat bahagia.
"Mudah-mudahan pakaian mas itu masih muat, mas mandi saja biar Nania yang mengurus Brian." pinta Nania.
Dewa berlalu ke arah kamar tamu dan Nania mengajak Brian untuk masuk ke kamar.
Beberapa saat telah berlalu, mama Wadeh berteriak memanggil mereka bertiga untuk sarapan bersama.
Rumah terasa sangat ramai padahal cuman empat orang dalam rumah tersebut.
"Ayah duduk di kursi kepala keluarga saja." pinta Brian.
Dewa mengucapkan terimakasih pada Brian dan kemudian duduk, lalu seperti biasa disaat dulu.
Nania menyiapkan makanan untuk Dewa dan kemudian untuk Brian dan terakhir untuk mama Wadeh lalu dirinya.
"Masih bisa di pakai pakaiannya?" Nania bertanya disela-sela makan mereka.
"Masih muat, cuman sedikit tidak nyaman di paha. mungkin mas sudah sedikit kegemukan." Jawab Dewa.
Lalu melanjutkan acara makan seperti layaknya sebuah keluarga yang bahagia yang sedang menikmati sarapan pagi bersama.
__ADS_1