
Nania melangkahkan kakinya menuju pintu masuk lobi hotel dan terlihat seorang pemuda tampan menghampiri Nania.
"Ners, Nania...!" sapa pemuda tampan itu.
"Dokter Fahri," ucap Nania.
Nania tidak jadi pulang dan memilih ngobrol dengan dokter Fahri, dulunya dokter Fahri mengenal Nania disaat pendidikan koas di rumah sakit tempat Nania bekerja.
Nania dan dokter Fahri, memilih untuk duduk kembali di restoran mewah itu dan tidak jauh dari meja Dewa yang berama Geisya.
"Dokter Fahri, ngapain disini? kencan ya?" tanya Nania yang memulai obrolan.
Dokter Fahri tersenyum seraya menggelengkan kepalanya, hal itu untuk menjawab pertanyaan dari Nania.
"Ada seminar di hall utama hotel ini, seminar tentang bedah torak dari profesor Luxio Facelift.
Rencananya Fahri, akan mengambil spesialis bedah torak. sekarang lagi mengumpulkan sertifikat seminar." jawab Fahri.
"Ohhhhh...! pantas rapi, ngak kyak dulu urakan." Nania meledeknya, seraya mengingatkan masa-masa koas dari dokter Fahri.
hahahaha...haha... hahahaha... ' Nania dan dokter Fahri tertawa lepas.'
"Jujur ya, Ners. hanya Ners, Nania yang menganggap Fahri, manusia selama koas. bukan hanya aku menganggap demikian, tapi teman-teman yang lain juga.
Sempat kala itu, Fahri salah menafsirkan akan perhatian Ners Nania. mengira kalau perhatian itu antara perasaan seorang gadis cantik kepada laki-laki yang benar-benar butuh perhatian.
Tapi setelah pengakuan teman-teman seangkatan koas, memang Ners Nania, orang yang perhatian dan penuh kelembutan dan kesabaran." sanggah dokter Fahri.
Ucapan itu jujur, karena di dukung oleh sorot matanya yang mengatakan kebenaran akan keadaan di masa lalu.
"Biasa aja kali!" ujar Nania dan mereka berdua tertawa lagi.
Sempat mereka berdua saling bertatapan, seakan-akan ada hati dari dokter Fahri untuk Nania.
"Bukan tanpa alasan aku, melakukannya tapi karena pernah berada di posisi kalian. sehingga aku bisa merasakan apa yang kalian rasakan.
Anak-anak koas masih lebih dari kami, hanya tamatan diploma tiga keperawatan. akan tetapi perlu disiplin yang ketat yang dibarengi dengan pengajaran." jelas Nania dengan tegas.
Tanpa mereka sadari, ternyata Dewa sudah menghampiri mereka berdua yang sedang asyik ngobrol.
"Hanya karena laki-laki muda, sehingga kau meminta cerai dariku?" tanya Dewa dengan raut wajahnya yang menahan emosi.
"Ngak ada urusannya samamu Dewa, seperti yang kamu katakan, bahwa saya adalah pelac*r.
__ADS_1
Pelac*r mah bebas, dan tidak terikat dengan apapun. Kamu hanya perlu kepuasan sek* dan aku sebagai pelac*r, siap melayani dengan senang hati." ucap Nania.
Lalu Nania bangkit dari duduknya, lalu menatap dokter Fahri.
"Dokter Fahri, terimakasih ya. karena sudah bersedia ngobrol dengan ku.
bye... tampan..!" ujar Nania, seraya meraba dada bidang dokter Fahri.
Terlihat dokter Fahri, seperti terkena aliran listrik. karena tiba-tiba saja wajahnya merah padam setelah Nania meraba dada bidangnya.
Dewa terlihat cemburu saat Nania meraba dada laki-laki dewasa tepat dihadapannya dan tatapan tajamnya mengarah ke dokter Fahri.
"Dengar Ya, kamu. Nania itu istriku, jangan pernah coba-coba untuk mendekati istriku. karena kamu akan berhadapan langsung dengan ku." ucap Dewa.
Dewa mengancam dokter Fahri, akan tetapi dokter muda itu, terlihat begitu santai menanggapi ancaman dari Dewa.
"Santai saja, dan kamu harus ingat. kalau aku tetap menunggu Nania, sekalipun Ners Nania sudah menjadi janda." kata dokter Fahri.
Lalu tersenyum sinis dan kemudian meninggalkan Dewa yang masih terdiam.**
Nania dan pak Sanusi, melanjutkan perjalanan menuju perpustakaan kota. seperti rencananya sebelumnya.
Setelah tiba di parkiran mobil, dan Nania. meminta pak Sanusi untuk pulang, nantinya Nania akan naik taksi online untuk pulang.
Setelah pak Sanusi sudah pulang, dan Nania langsung bergegas menuju arah belakang gedung perpustakaan tersebut.
Ternyata dibelakang gedung ada sebuah kafe, dan Nania duduk di pojok kafe yang bersifat privat.
"Nania..!" seseorang memanggil namanya.
Profesor Dadang, memanggil namanya dan Nania langsung tersenyum kepada pria paru baya yang mendapat julukan profesor gila.
"Apa kabar kamu?" tanya profesor Dadang.
"Alhamdulillah sehat prof," jawab Nania.
Kemudian mereka berpindah tempat, dan tempat tersebut begitu privat yang berada dalam suatu ruangan.
"Sapri...! makin jelek saja kamu, Ya." ucap Nania seraya terkekeh.
Sepertinya pertemuan itu memang sudah direncanakan, dan hanya Sapri yang sudah lama menunggu disana.
Terlihat dari beberapa minuman serta makanan yang sudah habis, dan hanya bisa tersenyum setelah bertemu dengan Nania dan profesor Dadang.
__ADS_1
"Sepertinya Geisya, sudah melancarkan fitnahnya prof. selanjutnya gimana ini?" tanya Sapri.
"Ngak usah mengambil pusing, kalau benar itu adanya, bapak bahagia kok. karena punya dua anak yang sangat berbakat seperti kalian berdua.
Emangnya kalian berdua merasa risih, kalau punya bapak seperti ku?" tanya profesor Dadang dengan tatapannya lirih.
"Kalau Sapri, tidak sama sekali. berhubung juga profesor memiliki properti yang banyak dan nantinya bisa aku nikmati."
"Setuju mas broo." ucap Nania, yang menyanggah ucapan Sapri.
"Kampret...!" keluh profesor Dadang.
Tapi keluh itu disambut tawa oleh Nania dan Sapri, terlihat Nania seperti tidak ada beban saat ini.
"Sebenarnya Nania, sudah menemukan kedua orangtua kandung ku. tidak ada kabar baik dan hanya kabar duka yang ada." ucap Nania.
Tatapannya begitu lirih, dan nada suaranya merendah saat mulai membahas tentang kedua orang tua kandungnya.
"Maksudnya gimana?" tanya Sapri yang begitu penasaran.
Begitu juga dengan profesor Dadang, sangat penasaran akan cerita Nania tentang kedua orang tua kandungnya.
"Nania, melakukan pencarian dengan cara menyebarkan informasi melalui kantor polisi. dimana Nania ditemukan di pinggir jalan.
Lalu mendaftarkan DNA, kemudian polisi berhasil menemukan keberadaan kedua orang tua ku.
Hanya ibu kandung Nania, sempat berada di rumah sakit jiwa tapi pada akhirnya meninggal dunia.
Menurut riyawat pasien, ibu kandung Nania menjadi pasien di rumah sakit jiwa itu, karena kehilangan Nania.
Menurut informasinya, Nania sengaja dibuang oleh pihak keluarga ibu, agar ayah kandung bisa beralasan untuk menceraikan ibu kandung ku.
Menurut informasi yang Nania, peroleh. bahwasanya ayah kandung ku meninggal tanpa anak.
Ayah kandung ku, memiliki kebun plawija dan tiga rumah tinggal.
Berhubung hanya Nania, anak kandungnya dan akhirnya jatuh ke tangan ku. semuanya sudah ku jual dan akan siap berkelana dengan uang hasil penjualan kebun serta rumah tersebut." ungkap Nania.
Kemudian Nania tersenyum, lalu mengambil buku catatannya dan kemudian duduk manis.
Karena sikap Nania tersebut, lantas membuat Sapri dan profesor Dadang tertawa dan tawa itu menular sehingga mereka tertawa bersama-sama.
Mungkin itulah salah satunya alasan, kenapa profesor Dadang mendapatkan gelar sebagai profesor gila.
__ADS_1