CINTA SANG PERAWAT

CINTA SANG PERAWAT
Indra Melamar Susi.


__ADS_3

Nania sudah selesai mandi dan telah mengenakan pakaiannya, kemudian duduk di meja rias.


"Ganti pakaian mu, aku ingin kita berdua pergi ke suatu tempat."


"Ngak bisa mas Dewa, karena sebentar lagi kita akan pergi ke acara lamaran Indra. kita harus mendampingi Indra untuk melamar Susi."


"Dewa... Nania..."


Nania berhenti bicara karena terdengar suara mamanya Dewa memanggil mereka berdua, lalu Nania beranjak lalu membuka pintu.


"Kalian siap-siap ya, karena sebentar lagi kita harus pergi ke rumah Susi untuk melamarnya menjadi istri Indra. "


"Baik bu."


Jawab Nania, lalu mengunci pintu kembali. kemudian berjalan ke ara lemari dan mengambil stelan jas untuk suaminya.


"Mas Dewa mandi ya."


Pinta Nania dan tanpa bicara Dewa langsung ke kamar mandi.


Beberapa saat kemudian Dewa sudah keluar dari kamar dan hanya mengenakan handuk di pinggangnya.


Tapi Dewa tertegun melihat kecantikan istrinya dengan balutan gaun berwarna pink yang dikenakannya.


"Bagiamana dengan penampilan Nania mas? ngak norak kan?"


Dewa hanya mengganguk dan kemudian meraih pakaian yang sudah di siapkan oleh istirnya.


Tiba-tiba Dewa terdiam hal itu karena kemeja yang berwarna senada dengan gaun istrinya, berwarna pink.


"Kamu berharap kalau aku mau memakai kemeja pink ini?"


Nania tersenyum menanggapi pertanyaan itu atau sindiran dari semuanya, tentunya berharap kalau Dewa mau memakainya.


Ternyata kemeja pink itu dibuangnya ke tong sampah dan seketika Nania langsung cemberut dan membiarkan Dewa mengambil kemeja untuk dirinya sendiri.


Selesai mengenakan pakaiannya, lengan kiri Dewa langsung di rangkul oleh istrinya tapi di tepis olehnya.


"Kok kemeja mu berwarna biru tua? kamu ngak kompak deh."


Ucap mama Dewa, karena dirinya berpakaian yang beda.


Kedua orangtuanya Dewa sudah menunggu di ruang tamu bersama Indra, terlihat jelas kekecewaan dari raut wajahnya Indra.

__ADS_1


Mamanya Dewa mengenakan gaun pink yang senada dengan Nania, lalu papa nya Dewa serta Indra mengenakan kemeja yang berwarna pink juga.


Demikian juga dengan mbak Yuni serta pak Sanusi, karena mereka telah menyepakati warna pink untuk acara lamaran ini.


"Warnanya norak." ungkap Dewa.


"Bukan warnanya yang norak, tapi mas Dewa yang tidak pernah bisa menerima apapun dari mbak Nania."


"Sudah cukup."


Sanggah papa nya Dewa, untuk menyudahi pertikaian tersebut.


Akhirnya mereka berangkat juga, cukup satu mobil untuk mereka.


"Acara ini hanya masih lamaran, jadi cukup anggota keluarga inti saja dulu. karena kita masih mau mendengar jawaban dari calon istrinya Indra.


Kita harus tenang dan jangan menimbulkan kegaduhan."


Ucap papanya Dewa, dan pak Sanusi mengambil kemudi. mobil sudah melaju dengan kecepatan sedang dan terlihat Indra sedikit gugup.


"Nak Indra...! maaf ya kalau istri bapak ngak bisa ikut.


Anak dari adik sepupu istri bapak juga mau melamar calon istrinya malam ini, jadi kami berbagi, sebab keduanya juga penting."


"Hal itu biasa itu pak Sanusi, kami berdua juga begitu.


Keduanya Keluarga dan sama-sama penting, akhirnya kami bagi dua aja.


Lagipula ini masih lamaran, belum tau pastinya kalau Indra di terima oleh Susi."


hahahaha haha hahahaha hahahaha haha hahahaha haha....


Mereka semua tertawa kecuali Dewa yang asyik berselancar di handphonenya, sepertinya banyak masalah yang dihadapi oleh Dewa.


Pada akhirnya mereka tiba di rumah Susi, segera mbak Yuni dan pak Sanusi serta Nania mengambil barang-barang seserahan untuk calon istri Indra.


Hanya empat bungkusan yang di persiapkan oleh Indra, dua bingkisan di pegang oleh mbak Yuni dan dua bingkisan dipegang oleh Nania.


Sementara pak Sanusi memegang makanan, dan kedua orangtuanya Dewa telah menggandeng Indra di tengah-tengah mereka.


Keluarga calon mempelai pria disambut oleh Susi dan keluarganya di depan rumah dan kemudian mempersilahkan keluarga calon mempelai keluarga laki-laki masuk ke dalam rumah.


"Sebelumnya saya mau memperkenalkan diri terlebih dahulu, nama saya Didi. adik kandung dari almarhum ayah Susi.

__ADS_1


Saat ini saya di dampingi oleh istriku, namanya Raya, lalu ada pak RT dan pak RW serta pak ustad.


Saya diminta oleh anak kami yaitu Nando dan Arjun untuk mendampinginya menerima lamaran dari nak Indra.


Disini hanya pihak keluarga inti yang kami undang, dan saksi yaitu pak RT dan pak RW serta pak ustad kami yang tercinta."


"Terimakasih kasih pak Didit atas sambutan yang hangat dan baik ini."


Jawab papa nya Dewa yang menyambut ucapan pak Didit yaitu om dari Susi, lalu tibalah giliran Indra untuk menyampaikan niatnya.


Indra kembali melamar Susi dihadapan keluarganya sebagaimana yang diinginkan oleh calon istrinya dan Susi menunggu persetujuan dari adik-adiknya.


"Kak Susi...! terimakasih telah menyayangi kami setelah kedua orang tua kita pergi untuk selamanya.


kakak adalah ibu sekaligus ayah dan kakak bagi kami, sudah saatnya kakak berbahagia dengan laki-laki yang tepat mendampingi kakak dalam suka maupun duka.


Kami bertiga adik-adik kakak, sudah sepakat dan menyetujui pilihan kakak, karena kami mengetahui kalau kakak tidak pernah salah memilih.


Mas Indra, tolong bahagiakan kak Susi. cintai dan sayangilah kak Susi.


Walaupun cerewet tapi cinta dan kasih sayangnya sangat melimpah."


Seketika semuanya tersenyum dan menahan tawa, tapi Indra langsung memeluk Nando dan kemudian Arjun.


Lalu Nania dan mbak Yuni meletakkan empat bingkisan tersebut di hadapan Susi.


Indra maju ke arah depan Susi, terlihat dirinya menyeka air matanya.


"Di dalam bingkisan yang berwarna merah, adalah sertifikat rumah yang mas tempati saat ini, berikut dengan buku tabungan yang aku kumpulkan selama untuk biaya hidup kelak setelah menikah.


Lalu ada deposito serta beberapa lembar saham Jaguar group dan beberapa perhiasan.


Kelak kamu yang menyimpan nya dan pergunakan lah sesuai keperluan hidup keluarga kita kelak nantinya.


Saat ini mas hanya menyimpan biaya kehidupan ku sehari-hari dan biaya untuk kita menikah nanti.


Sisanya adalah keperluan mu sehari-hari dan itu pilihan ku sesuai selera mu yang telah aku kumpulkan informasinya dari ketiga adik-adik dan mbak Nania.


Mas tidak akan keberatan jika kelak kamu masih terus bekerja, asal kamu bisa membagi waktu untuk ku dan keluarga kita serta untuk dirimu sendiri.


Jikalau kamu berhenti kerja, aku akan menafkahi mu lahir batin, itulah janji ku kepadamu.


Kebaikan, kesederhanaan, kecantikan mu dan cerewet nya dirimu mampu meluluhkan hatiku ini."

__ADS_1


Haha haha hahahaha haha hahahaha hahahaha hahahaha haha....


Semua tertawa kecuali Dewa yang sibuk dengan handphonenya, seketika ucapan Indra berhenti karena ucapan barusan.


__ADS_2