CINTA SANG PERAWAT

CINTA SANG PERAWAT
Mengeluh.


__ADS_3

POV Dewa.*


Dari kantor pusat Jaguar group, Dewa terlihat sibuk mencari-cari keberadaan istrinya yang sudah pergi dari kantor.


"Indra! kau melihat Nania?" tanya Dewa.


Indra hanya menggelengkan kepalanya dan hendak meninggalkan Dewa yang sedang kebingungan.


"Hancur semua, profesor gila itu membatalkan proyek milyaran.


semua ini pasti gara-gara Nania, dasar perempuan egois."


"Bukan karena Nania, tapi karena perempuan yang selalu bersamamu itu mas Dewa.


Kualifikasi ngak jelas, bahkan tidak tamat SMP dan harus menjadi kepala administrasi proyek.


ngaco namanya mas Dewa, seandainya aku jadi profesor Dadang. jelas-jelas aku batalkan, masa disandingkan dengan perempuan yang ngak jelas kualifikasinya."


"Maksud apa?" tanya Dewa yang masih kebingungan.


"Pikir aja sendiri."


Jawab Indra dengan santai, lalu pergi meninggalkan Dewa yang masih kebingungan.


"Gimana ini mas Dewa? dah ketemu sama kak Nania?"


Dewa menoleh Geisya yang datang menemuinya, dan hanya menggelengkan kepalanya.


"Mungkin kak Nania ke butik itu kali ya?"


Ujar Geisya lalu masuk kembali ke arah ruangan Dewa, tidak berapa kemudian Geisya datang dengan membawa Ira.


Ira adalah sekretaris yang mengurus ruangan CEO Jaguar group, Ira yang terlihat kebingungan karena tangannya di tarik oleh Geisya dengan kasar.


"Dimana alamat butik tempat kak Nania membeli dress itu." tanya Geisya yang berlagak sombong.


"Butik Melati, tidak jauh dari lapangan yang ada pusat kota."


Mendengar jawaban dari Ira, seketika itu juga Dewa dan Geisya langsung beranjak pergi untuk menyusul Nania ke butik Melati.


Untuk mengambil hati dan perhatian Dewa, dengan sengaja Geisya menawarkan jasanya untuk menyetir.


Dewa pun menyetujuinya dan berapa lama kemudian mereka tiba di butik Melati.


Tapi alangkah terkejutnya Dewa, karena Nania tidak berada disana dan hanya menemui mama dan papanya yang sedang asyik ngobrol dengan Susi dan juga adiknya.


"Mama sama papa kok ada disini?" Tanya Dewa.


Kedua orangtuanya Dewa langsung menghampiri anaknya yang terlihat kebingungan.


"Menemani mama mu untuk memilih gaun yang tepat untuk acara lamaran Indra, terus kamu ngapain kemari?"

__ADS_1


Jawab papa nya Dewa, lantas anaknya itu terlihat kebingungan.


"Kok bingung...! ada apa Dewa?" Tanya mamaknya.


Dewa yang hendak bicara langsung disetop oleh papa nya, karena menerima panggilan telepon dari seseorang.


Wajahnya papa nya langsung berubah seketika, dari yang terlihat bahagia kini menjadi marah.


plak...


Dewa di tampar oleh papa nya setelah selesai menerima panggilan telepon tersebut.


Mereka yang berada di dalam butik, begitu juga dengan para pengunjung lainnya langsung menatap ke arah Dewa yang baru saja di tampar.


"Pak...! kita ke ruangan Melati aja yuk, ngak enak dilihat yang lainnya."


Pinta Melati, dan mamanya Dewa membawa anaknya ke ruangan Melati mengikuti papa nya Dewa yang terlihat penuh amarah.


Sementara Melati dan kakaknya yaitu Susi, hanya duduk di kursi kasir.


"Kamu apa-apaan sih Dewa...! Kamu puas mengacaukan semuanya?


Proyek itu bernilai milyaran rupiah, dan kamu mengacaukannya dengan seenak jidat mu."


Mamanya Dewa berusaha menenangkan suaminya, agar tidak menampar Dewa lagi.


"Apa yang terjadi pah?" Tanya mama nya Dewa karena penasaran.


"Profesor Dadang membatalkan proyeknya dan akhirnya mengundurkan diri dari rumah sakit Jawara.


Ujar papanya yang terlihat sangat kecewa terhadap anaknya.


"Nania yang terlalu egois, pasti Nania yang memprovokasi profesor Dadang untuk melarang Geisya menjadi kepala proyek administrasi nya."


Haaaaa...


Papanya Dewa menghela napasnya, lalu memegang batang lehernya. ucapan Dewa barusan membuatnya semakin marah.


"Siapa yang menyuruhmu untuk memasukkan perempuan itu? apa klasifikasinya?


dengar kamu ya Dewa...! istrimu itu tidak ada sangkut pautnya disana, Nania hanya sebagai asisten profesor Dadang.


Nania tidak berhak masuk kedalam pengelompokan staf administrasi dan Nania tidak berhak mengeluarkan atau memasukkan anggota administrasi.


Nania hanya membantu profesor Dadang di bidang penelitiannya, semuanya di pilih oleh jajaran direksi rumah sakit atas persetujuan profesor Dadang.


sekarang kau mau apa?"


Susana hening dan papanya Dewa sudah duduk karena di minta oleh istrinya, lalu Susi menghampiri mereka di ruangan tersebut dengan membawa minuman.


"Nania sudah kabur pah?"

__ADS_1


"Apa..?" Ujar papanya Dewa dan mama nya.


Akan tetapi Susi masih terlihat tenang dan tetap menyajikan minuman itu di meja sofa.


"Nak Susi...! Apa kamu tau Nania berada dimana sekarang?" Tanya papa nya Dewa.


"Sebentar ya pak...! Biar Susi hubungi tempat biasa Nania nongkrong."


Lalu Susi meraih handphonenya dari saku celananya dan terlihat menghubungi seseorang.


Tidak berapa lama kemudian, Susi sudah selesai menelpon dan menatap kedua orangtuanya Dewa.


"Nania ada di perpustakaan kota, kalau sahabat ku itu ada masalah di saat siang hari seperti ini, palingan kabur ke perpustakaan kota itu.


Kalau ngak kesana ya ke rumah Susi, biasanya kami masak makanan atau karaokean di kamar Susi."


"Syukurlah kalau begitu." Ujar papa nya Dewa.


Susi yang masih berdiri, lalu didekati oleh mamanya Dewa dan mengajaknya untuk duduk disampingnya.


"Apakah profesor Dadang pernah membatalkan suatu proyek penelitian dengan rumah sakit atau lembaga lainnya?"


"Pernah bu, profesor Dadang melakukan riset pengembangan vaksin dengan pemerintah. penelitian gagal karena pihak pemerintah melakukan intervensi dalam hal penentuan tim anggota.


Waktu itu profesor sudah menentukan timnya, dan sudah disetujui di awal, akan tetapi berubah ketika evaluasi anggaran.


Sebagian tim yang sudah dibentuk dan kemudian di acak-acak dan ada yang dikeluarkan.


Proyek itu gagal dan sampai sekarang tidak pernah terjadi, sebab profesor Dadang sudah kabur dari Indonesia."


"Menurut Susi, apakah profesor Dadang masih ada di Indonesia saat ini?"


"Kurang tau ibu, biasanya profesor Dadang membuat perjanjian akan proyeknya, jika gagal maka tidak akan menjadi tanggungjawabnya dan akan terus berusaha semaksimal mungkin.


Sebenarnya profesor Dadang tidak punya alasan untuk kabur, tapi malas saja kalau dirinya terlalu di ekspos nantinya."


"Apakah Nania bisa membujuknya lagi?"


"Dulu juga Nania menjadi asistennya, tapi Nania tidak melakukannya dan memilih diam lalu menghindar.


Susi tidak mengetahui penyebabnya karena tidak pernah bertanya. jika Nania sedang bermasalah, dia tidak pernah cerita dan memendamnya sendiri.


Nania dan profesor Dadang, sama saja anehnya. sulit untuk diprediksi dan sulit untuk dipahami."


haaaa....


Susi dan mamanya Dewa sama-sama menghela napasnya, dan kemudian saling menoleh lalu sama-sama tersenyum.


"Jika proyek itu gagal, maka akan rugi milyaran rupiah.


apa yang harus kami lakukan Susi...! apakah ibu harus memohon kepada Nania atau profesor gila itu?"

__ADS_1


"Entahlah bu, kita sebaiknya bertanya kepada pawangnya dulu."


Mamanya Dewa hanya bisa tersenyum kecut menanggapi ucapan dari Susi, lalu mereka berdua sama-sama tertawa.


__ADS_2