CINTA SANG PERAWAT

CINTA SANG PERAWAT
Brata Ankarbaya Meninggal.


__ADS_3

Nania langsung memegang tangan kanan Papa nya dan kemudian mencium punggung tangan Papanya


Lalu Papa nya lantas mencium kening Nania, dan hanya air mata dan tangisan yang terdengar di ruangan itu.


"Papa kok sampai gini?"


Hanya senyuman yang menanggapi pertanyaan dari Nania, dan mereka berdua sama-sama tersenyum.


"Papa hanya stres berat, karena sisa aset Ankarbaya group tidak mencukupi untuk membayar hutang.


Papa bingung harus bagaimana Nania, karena merasa gagal mengelola Ankarbaya group.


Harta yang ditinggal nenek dan kakek buyut, dan harus hancur di tangan Papa.


Tidak akan tersisa sedikitpun, dan nantinya hanya tinggal rumah yang akan tersisa.


Papa menyesal karena tidak mengikuti saran kamu Nania, seandainya Papa...."


"sudah Pa...."


Nania menyala ucapan Papa nya, lalu menghapus air mata dari pipi papanya yang masih mengalir.


"Nania sudah mengetahui kondisi Papa yang sebenarnya dari dokter Sandro dan juga Susi, papa mengalami kebocoran lambung.


Kebocoran lambung karena infeksi, dikarenakan tidak teraturnya papa makan.


tapi kenapa Papa merahasiakannya dari mama dan Geisya?"


"mau gimana lagi Nania, hanya kamu yang perduli sama Papa.


Bahkan si mbak sudah jarang belanja di pasar karena kami tidak punya uang lagi, minggu depan mbak akan pulang kampung.


Mama mu dan Geisya hanya memperdulikan diri mereka sendiri.


Papa ingin bertemu dengan mu, hanya untuk mintak tolong.


Pertama karena kamu sudah terdaftar sebagai anak Papa, dan karena itu kamu harus membuat penolakan waris.


Agar Nania tidak mewarisi hutang Papa, dan tolong Nania urus penjualan aset untuk membayar hutang-hutang Papa."


Nania menghela napasnya, sepertinya permintaan sangatlah berat baginya. tapi Nania hanya bisa mengelus dadanya.


"Nania sudah sejak awal membuat penolakan waris pah...


Karena disuruh oleh mama dan juga Geisya, tapi satu hal yang sulit Nania percaya.


Kenapa Papa ngak tau kalau semua aset Papa itu sudah ada kuasanya pada mama.

__ADS_1


Berdasarkan kuasa dari Papa, sehingga mama dan Geisya memintaku untuk membuat penolakan waris di hadapan notaris dan itu sudah terdaftar di pengadilan.


Nania tidak akan bisa melakukannya pah, karena papa sudah terlebih dahulu memberikan kuasa global akan seluruh aset Papa.


Bapak mertua Nania sebenarnya ingin merger dengan Ankarbaya group, tapi karena sebagian asetnya sudah terjual dan itu menyebabkan Jaguar group gagal merger."


"apa......"


Brata Ankarbaya begitu terkejut mendengar penjelasan Nania, sepertinya dia tidak keadaan yang sebenarnya.


"sebenarnya pembelian saham startup itu adalah rekayasa, itu hanya sebagai alihan dari penjualan aset dengan kedok pembelian saham startup.


Tapi Papa ngak pernah memberiku kesempatan untuk menjelaskan hal tersebut, mungkin karena Nania hanya lulusan keperawatan yang tidak paham akan bisnis."


"maafkan Papa sayang, papa hanya terpengaruh akan ucapan mama mu.


Papa pernah mendeklarasikan bahwa kamu yang akan menggantikan Papa dan sejak saat mama mu jadi berubah.


Sebenarnya Papa lebih percaya kepada mu Nania, tapi papa tidak berdaya melawan Geisya dan mama mu."


Sejenak Papa nya berhenti bicara, dan Nania hanya menatapnya dengan lirih.


Ternyata banyak hal yang tidak diketahui oleh Papa nya, karena selalu disembunyikan oleh istri dan putri kandungnya terhadap nya.


Tit.....tit.....tiiiiiittttttttttt...............


Tapi hasilnya nihil, dan itulah terakhir Nania bertemu dengan ayah angkatnya dan seketika itu dokter langsung mengumumkan kematian Brata Ankarbaya.


Nania yang menangis dan terus berusaha menghubungi mama nya dan Geisya, tapi tidak pernah tersambung.


Kemudian Nania menghubungi bapak ibu mertuanya dan juga Dewa.


Petugas medis sudah mempersiapkan jenazah Brata Ankarbaya untuk di pulang ke kediaman.


Nania dan asisten rumah tangga itu, hanya bisa berpelukan dan menangis.


Tidak berapa lama kemudian Dewa bersama kedua orangtuanya sudah tiba di rumah sakit, dan langsung berusaha menenangkan Nania.


"kamu yang tabah ya Nania, ikhlas ya."


Ibu mertuanya berusaha menenangkan Nania, yang masih menangis dan berpelukan dengan asisten rumah tangga keluarga Ankarbaya.


"nenek sudah meninggal Nania, sekarang Papa yang pergi."


Ujar Nania disela-sela tangisannya, dan sampai saat ini mamanya Nania serta adiknya yaitu Geisya tidak kunjung bisa bisa dihubungi.


Jenazah Ankarbaya sudah siap pulangkan, dan hanya Nania bersama asisten rumah itu yang berada di dalam ambulan untuk mendampingi almarhum.

__ADS_1


Dirumah kediaman Brata Ankarbaya, tidak mendapati seorang pun, baik Geisya maupun Mamanya.*


Matahari sudah keluar dari perpaduannya, jenazah Brata Ankarbaya sudah dibaluti kain kapan.


Nania dan asisten rumah tangganya, masih menunggu Geisya dan mama nya.


Sudah jam sepuluh pagi, tapi yang ditunggu-tunggu belum juga datang dan akhirnya diputuskan untuk segera memakamkan jenazah Brata Ankarbaya.


Jenazah Brata Ankarbaya sudah masuk ke liang kubur, dan doa terkahir sudah dilaksanakan.


Satu persatu dari tamu sudah mulai pulang setelah mengucapkan belasungkawa kepada Nania.


"Papa......."


Geisya dan mama nya datang setelah mendiang Brata Ankarbaya di makamkan, mereka berdua berteriak memanggil Brata dan tentunya itu tidak akan berpengaruh.


"kenapa kau ngak memberitahu kalau Papa sudah meninggal, keterlaluan kamu ya."


Ucap Geisya dan Nania hanya menunjukkan panggilan keluar dari handphonenya dan juga pesan yang dikirimkan olehnya kepada Geisya.


Tapi susana masih berduka dan Geisya sudah sibuk melirik Dewa.


Selesai pemakaman dan Geisya serta mama meminta Nania untuk pulang ke rumah mereka karena hal yang harus di bicarakan.


Mereka juga melarang Dewa dan keluarganya untuk ikut.


Karena ini masalah keluarga dan orang luar tidak berhak untuk mengetahuinya.


Singkat cerita Nania bersama asisten rumah tangga keluarga Ankarbaya itu, sudah berada di rumah mewah yang sepi itu.


Nania duduk persis di samping asisten rumah tangganya dimana barang-barang sang asisten rumah sudah berada di depannya.


"mbak kurang benar ya, beraninya tidak memberitahu keadaan papa yang sebenarnya.


Mulai hari ini mbak di pecat, sekarang pergi dari rumah ini, karena aku muak melihat wajah jelek mu itu."


Sang asisten hanya bisa diam, dan setelah berpamitan dengan Nania, lalu melangkah keluar dari rumah tersebut.


Kini tinggallah Nania yang duduk di sofa, masih jelas terlihat kalau dirinya masih belum pulih.


Wajahnya yang masih pucat dan lemas, mungkin karena ditambah begadang semalaman untuk berjaga-jaga di depan jenazah ayah angkatnya.


"kamu tunggu ya Nania, sebentar lagi pengacara Ankarbaya group akan datang untuk membacakan wasiat papa.


Aku harap kau tidak dapat apapun, karena seharusnya seperti itu.


Kau anak yang jelas asal usulnya, mana mungkin dapat harta kekayaan dari keluarga Ankarbaya."

__ADS_1


Ujar Geisya dengan nada tinggi dan posisi tubuhnya yang menggambarkan keangkuhan dan kesombongan.


__ADS_2