CINTA SANG PERAWAT

CINTA SANG PERAWAT
Fikri Bisa Diatasi.


__ADS_3

Setelah berhasil mengakses email di handphone keluaran terbaru itu, dan kemudian mendownload file yang dikirim oleh Nania.


Wajah Fikri seketika berubah menjadi merah padam, dan terlihat sangat emosi.


"Video pertama itu, adalah om anda sendiri dan video kedua adalah dirimu sendiri bersama perempuan yang sama." ucap Nania yang terlihat begitu tenang.


"Apa mau mu?" tanya Fikri yang terlihat panik.


Nania tersenyum menanggapi pernyataan dari Fikri, lalu meneguk minuman yang tersedia di depannya.


"Ngak masalah jika anda memecat ku dari panti jompo, asal kita sepakat jangan saling menggangu.


Biarkan saya dengan kehidupan sendiri, dan anda harus menjalani hidup anda sendiri.


Saya tidak tertarik kepada anda, jika berkata kalau anda sudah mendapatkan keuntungan dari kemolekan tubuh Geisya dan itu tidak hubungannya dengan ku.


Saya dan Geisya berbeda, sama sekali aku tidak tertarik dengan anda dan juga harta kekayaan anda." ungkap Nania yang terlihat begitu tenang.


"Tapi tetap saja Nania, video asusila ini tidak berpengaruh bagiku. aku akan melakukan apapun untuk mendapatkan mu.


Tidak bisa menjadikan mu sebagai istriku, maka kehancuran mu dan juga kehancuran keluarga yang akan menghampiri kehidupan mu dan juga keluarga mu." kata Fikri dengan nada kesombongannya.


"Tuan Fikri, saya sudah terbiasa dengan kehancuran, dan sudah siap akan hal itu semua. saya berasal dari jalanan, pahitnya hidup dan serta kehancuran keluarga.


Semua itu sudah pernah aku rasakan, sampai saat tidak pernah aku merasakan apa itu keluarga.


Keluarga mana yang akan kamu hancurkan dan siapa yang akan kamu hancurkan?


Sepertinya kamu sudah mengetahuinya dari Geisya, kalau saya adalah anak pungut yang tidak pernah dianggap ada.


Tapi anda, sedari kecil sudah makan dengan memakai peralatan makan yang terbuat dari emas, apakah siap dengan kehancuran?


Coba baca berita hari ini, sepertinya itu menarik untuk kita bahas saat ini." ujar Nania yang kemudian meneguk minumannya.


Fikri langsung mengecek berita terbaru melalui handphonenya dan belum sempat melihat handphonenya.


Seorang pria yang masih muda dan berpakaian rapi dengan setelan jas, menghampirinya dengan ekspresi wajah yang ketakutan.


Lalu pria itu membisikkan sesuatu kepada Fikri dan memberikan notebook kepada Fikri.


Berita tersebut memuat tentang Fikri, yang sedang kencan dengan perempuan yang pernah dilabrak perempuan lain karena perselingkuhan.


Perempuan yang dimaksud dalam berita itu adalah Geisya, karena beberapa kali Fikri jalan dengan perempuan yang dimaksud.

__ADS_1


"Masih berupa berita online, dengan kekayaan mu serta koneksi mu. bisa saja berita itu di hapus." ungkap Nania yang masih begitu santainya.


Fikri langsung sibuk menelpon sana sini, begitu juga dengan pria yang mendatanginya itu sementara Nania, dengan santainya makan.


Beberapa saat kemudian Fikri, menghampiri Nania yang sedang meneguk air minumnya.


"Pak Fikri dan perempuan itu, berada di tempat privasi tapi kenapa bisa beredar seperti itu?" tanya pria yang berpakaian rapi itu.


"Pikir aja sendiri," jawab Nania dengan begitu cueknya.


Fikri kembali duduk dan menatap tajam ke arah Nania.


"Jangan main-main dengan ku, sepertinya kamu belum tahu siapa saya." ucap Fikri dengan nada suara yang sudah meninggi.


"Tenang tuan Fikri, dari dulu aku sudah siap untuk mati, tapi Tuhanku masih menyayangiku." sanggah Nania yang masih tenang.


"Apa mau mu?" tanya Fikri lagi yang mencoba untuk tenang.


"Kok nanya lagi." ujar Nania seraya memainkan kukunya.


Fikri menghela napasnya dan terus berusaha untuk tetap tenang.


"Jangan lama-lama mikirnya, aku juga punya kesibukan sebagai pengangguran baru. kamu harus ingat kalau tadi itu masih berupa berita." ucap Nania lagi.


"Geisya...!" ucap Fikri yang terlihat kaget melihat kehadiran Geisya.


Dengan genitnya Geisya, mencoba merayu Fikri yang duduk berhadapan dengan Nania.


"Aku yang mengundangnya datang kemari, kali saja tertarik dengan Geisya." kata Nania yang masih memainkan kukunya.


"Kalian mau menjebak ku?" pertanyaan itu tertuju kepada Nania dan Geisya.


"Buat apa menjebak mu, sayang! setelah kamu puas memakai ku dan kamu mau menikah dengan Nania?


Ngak adil itu, Geisya ngak bisa terima. saya mintak ganti rugi." ucap Geisya dengan nada yang genit.


"Mau apa kau?" Fikri bertanya dengan cetus.


"Kita berdua berbulan madu di Eropa dan juga shopping di Paris." jawab Geisya seraya meraba dada bidang Fikri.


"Okey...! tapi hapus video itu." pinta Fikri.


"Bisa di atur, tapi untuk anak pungut ini gimana?" kata Geisya yang terdengar sinis.

__ADS_1


"Gampang kok Geisya, jangan ganggu aku dan pekerjaan ku. biarkanlah semua berjalan dengan sendirinya tanpa gangguan dari siapapun.


Terserah kalian mau ngapain, asal jangan mengganggu ku." Ungkap Nania yang menyudahi memainkan kukunya.


Nania hanya meminta untuk tidak diganggu, baik itu gangguan untuk dirinya sendiri secara pribadi dan juga karirnya.


Permintaan Nania disetujui oleh Fikri, begitu juga dengan Geisya.


Setalah mendapatkan yang dikehendakinya, lalu Nania beranjak pergi di restoran naratama hotel.


Nania langsung pulang ke rumah dengan naik taksi, sesampainya di rumah lalu mengemasi barang-barangnya.


Tok...tok...tok... ' pintu kamar Nania di ketuk seseorang.'


"Nania...! Papa mau ngomong, keluar dong." suara papanya dari pintu kamarnya.


"Bentar ya, Pah." jawab Nania.


Suara itu tidak ada lagi dan Nania segera merapikan pakaiannya dan kemudian keluar kamarnya.


Nania dan papanya biasa ngobrol di samping rumah yang terdapat ada taman kecil, sebelum ke samping rumah. terlebih dahulu Nania ke dapur.


Untuk membuat teh herbal untuk dirinya dan juga papanya.


Berkat papanya sehingga Nania masih berada di rumah itu, karena papanya itu sangat menyayangi Nania.


"Teh herbal untuk Papa, di minum ya," ujar Nania seraya menyajikan teh tersebut kepada papanya.


"Papa sudah sangat pusing." ungkap papa nya dan kemudian meneguk teh herbal yang sudah hangat kuku.


"Kenapa lagi, Pah!" sanggah Nania dan kemudian meneguk teh nya.


"Mama mu dan juga adik mu, tagihan kartu kredit mereka berdua gila-gilaan. hampir lima milyar. kalau begini terus, bisa bangkrut semuanya." ungkap papa nya yang terlihat kesal.


"Batasin saja kartu kreditnya, bila perlu blokir dulu dan terutama untuk Geisya.


Kapan Geisya tamat SMA kalau seperti ini, terus bagaimana dengan hidupnya nanti?"


Papanya hanya geleng-geleng kepala menanggapi ucapan Nania, karena sudah be berbagai cara di lakukan agar Geisya bisa tamat SMA.


Tapi sampai detik ini Geisya, tidak pernah sekolah dan tidak mau home schooling agar bisa tamat SMA.


Shopping, ke salon dan clubbing serta berpesta ria. itulah kegiatan Geisya dan mamanya.

__ADS_1


__ADS_2