CINTA SANG PERAWAT

CINTA SANG PERAWAT
Nania Masih Bingung Akan Sifat Dewa.


__ADS_3

Ternyata Dewa sudah menunggu kehadiran Nania di kamar mereka dan tatapan itu sangatlah aneh.


"Darimana kau?" tanya Dewa dengan nada suara yang tinggi.


"Bukan urusanmu." jawab Nania dengan cetus, lalu meraih handuk.


"Urus dirimu sendiri, aku...! ngak akan perduli lagi dengan mu." ucap Nania dengan tatapannya yang tajam.


Kemudian Nania melangkahkan kakinya ke kamar mandi dan terdengar suara air dari shower yang mengalir.


Sementara Dewa terlihat gelisah menunggu Nania di meja rias itu, kadang berdiri dan kadang duduk.


Setelah menunggu beberapa saat dan akhirnya Nania keluar dari kamar dan sudah mengenakan pakaian rumahan.


"Nania, mas mau bicara." ucap Dewa yang membuat Nania berhenti sejenak.


Selama menjadi istrinya Dewa, tidak sekalipun pria egois memanggil dirinya demikian.


Lalu Nania duduk di sofa dan menunggu Dewa untuk bicara.


"Mas sudah mendapatkan kabar, kalau profesor gila itu akan melanjutkan proyeknya. tapi kenapa nama mu tidak ada lagi?" Dewa bertanya dengan suara yang bergetar.


"Mungkin takut kali ancaman Geisya!" jawab Nania dengan santai.


"Kamu bohong Nania, karena Geisya sudah mengurungkan niatnya untuk membuka aib profesor gila itu.


Apa sebenarnya rencananya mu dan apa mau mu yang sebenarnya?" tanya Dewa lagi yang kini sudah duduk berhadapan dengan Nania.


"Besok aku tanyakan ke profesor, menelpon malam-malam seperti ini. sangat tidak etis.


Aku hanya berusaha untuk membujuk profesor Dadang agar melanjutkan proyeknya dan membentuk timnya adalah profesor dengan jajaran rumah sakit.


Sudah jelas mau ku apa, yaitu untuk bercerai dari mu." jawab Nania dengan tegas.


"Mas tidak akan pernah melepaskan mu Nania, tidak akan pernah. jangan pernah berharap lepas dariku.


Sampai ke ujung dunia pun, aku akan mencari mu. apa yang sudah aku miliki, tidak akan pernah aku lepas." sanggah Dewa dengan penuh keyakinan.


"Terserah." ucap Nania dengan kemudian berdiri dan beranjak ke arah meja riasnya.


Nania dengan santainya mengeringkan rambutnya, sementara Dewa keluar dari kamar.


Selesai mengeringkan rambutnya, Nania meraih selimut dari lemari dan kemudian rebahan di sofa.**


Pagi harinya Nania, terbangun dan sudah berada di ranjang bersama suaminya.


Dengan pelan-pelan Nania, turun dari ranjang dan menuju kamar mandi, lalu pergi ke arah dapur.

__ADS_1


Selesai menyiapkan sarapan untuk keluarga, Nania masuk kembali ke kamarnya dengan niat untuk membangunkan Dewa.


Tapi nyata Dewa sudah bangun dan sedang bertelepon dengan seseorang.


Selesai menelpon dan Dewa meletakkan handphone dan terlihat seperti buru-buru hendak ke suatu tempat.


"Geisya di rampok orang tadi malam, sekarang masih dirawat di rumah sakit." kata Dewa kepada istrinya.


Tidak respon dari Nania, tapi malah beres-beres untuk menyiapkan keperluan Dewa.


"Kamu ngak simpatik pada adikmu, masa kamu ngak kwatir dan bisa tenang seperti ini." ungkap Dewa yang terlihat kesal.


"Kenapa kamu harus perduli sekali? ada kok mamaknya. ngapain pula harus kamu yang mengurusnya?" Sanggah Nania yang terlihat tenang.


"Kamu benar-benar keterlaluan, Geisya itu..!"


"Apa? hamil anak mu? kalau kau perduli, silahkan pergi ke sana. ngak usah heboh." ujar Nania yang mulai kesal.


Dewa mengganti pakaiannya tanpa mandi, dan kemudian keluar dari kamar sambil membanting pintu.


Setelah Dewa pergi dari kamar, lalu Nania beres-beres dan menyusun barang-barangnya kedalam koper.


Sepertinya semua sudah rapi, lalu Nania mandi.


Semuanya sudah beres dan Nania keluar dari kamar seraya membawa kopernya.


"Iya, Bu. soalnya mau nginep di rumah susi, di dalam koper ada juga hadiah untuk pernikahan Susi nanti." jawab Nania dan kemudian tersenyum.


Setelah mendengar jawaban dari Nania, bapak dan ibu mertuanya baru mengerti dan mereka makan bersama.


"Bu... pak...! Susi itu sudah seperti saudaraku...!"


"Ibu paham, kok Nania. besok, Kan sudah harinya. wajibnya kamu sebagai sahabat sekaligus saudaranya untuk menemaninya disana." ucap ini mertuanya yang memotong pembicaraan Nania.


"Disini juga sudah ada pakaian mas Dewa, dan di kamar juga sudah Nania siapkan.


Jika mas Dewa, menyusul Nania di rumah Susi, sudah tersedia pakaiannya. jika mas Dewa tidak menyusul Nania di rumah Susi, pakaiannya sudah tersedia di kamar.


Tadi mas Dewa buru-buru perginya, tanpa mandi. nanti Nania akan menghubungi mas Dewa, Kok." sanggah Nania disela-sela makannya.


Bapak ibu mertuanya hanya mengganguk mengerti, dan kemudian melanjutkan makan.


Selesai makan dan mereka langsung berangkat kerja, lalu Nania numpang ke mobil bapak ibu mertuanya untuk pergi ke rumah Nania.


Selama di perjalanan menuju rumah Susi, mereka bertiga terlihat begitu bahagia. menceritakan kisah tentang Susi.


"Pak Sanusi, disini saja turunnya. lebih dari dari sini ke rumah Susi." pinta Nania.

__ADS_1


Nania turun di sebuah gang kecil yang bisa mengakses ke rumah Susi.


Setelah mobil yang di tumpangi Nania pergi, dan Nania berjalan tapi beda arah.


Akhirnya Nania berhenti di sebuah kecil dan kemudian menukar kopernya.


Kopernya sama tapi nampaknya koper yang di bawa Nania sebelumnya jauh lebih berat daripada koper yang di ambilnya.


Kemudian Nania jalan lagi dan berselang beberapa waktu kemudian Nania, sudah tiba di rumah Susi yang sambut oleh Susi dan juga adik-adiknya.


"Mas Dewa kerja?" tanya Melati, yaitu adik Susi.


Nania hanya mengganguk dan kemudian masuk ke kamar Susi.


"Eh, mbak bro. sudah pernah bergelut sama Indra?" tanya Nania yang terlihat tersenyum genit.


"Apaan, Sih!" jawab Susi dengan malu-malu.


"Jujur saja, kita sahabat loh." desak Nania.


Akhirnya Susi buka suara, Susi mengaku bahwa belum pernah melakukannya dengan Indra.


Memang pernah Susi memintanya tapi Indra menahannya sampai malam pertama nanti.


Indra menginginkannya saat bulan madu nantinya, ngak usah jauh-jauh. cukup di rumah baru yang sudah disiapkan oleh Indra.


Nania langsung memeluk Susi, mereka berdua hanyut dalam keharuan.


"Ikut ah...!" ujar Melati yang ikut berpelukan dengan Susi dan Nania.


Mereka bertiga berpelukan dalam keharuan, karena Susi akan mengakhiri masa lajangnya.


"Terimakasih ya, Kak. kakak telah memberikan yang terbaik untuk kami bertiga. tanpa kakak, kami ngak ada apa-apanya."


"Iya, kak Melati benar. Terimakasih juga untuk kak Nania, kedua kakakku ini memang yang terbaik.


Kedua kakakku ini, memang yang terbaik dari yang sangat terbaik.


Aku sangat bersyukur karena memiliki tiga kakak yang sangat luar biasa, kak Nania, kak Susi dan juga kak Melati.


Kalian bertiga adalah kakak ku yang sangat luar biasa, love you full." ucap Nando.


Nando melanjutkan ucapan Melati yang berterimakasih kepada Susi.


Lalu mereka berpelukan lagi, kemudian di susul oleh Arjun yang masih memakai seragam polisi karena baru pulang.


Mereka terlihat seperti keluarga yang sangat bahagia, hanya keharuan yang tercipta akan keluarga yang akan merayakan pernikahan.

__ADS_1


__ADS_2