CINTA SANG PERAWAT

CINTA SANG PERAWAT
Bertemu Lagi Dengan Geisya.


__ADS_3

Akan tetapi Nania malah melotot ke ayah si bayi dan hal membuat ayah si bayi merasa tidak nyaman dan merasa bersalah.


"Kata dokter nya, minggu depan baru lahiran. makanya aku kaget sekaligus panik ketika ketuban istri ku pecah.


aku teringat pak Basil yang begitu bangganya memiliki menantu kepala perawat dari rumah sakit pemerintah.


kebetulan mbak dan mas nya lewat, makanya aku langsung menarik mbak ke kemari untuk menolong istriku."


"Ngak usah bacot, nih kubur ari-ari anak mu. sebelum mengubur ari-ari itu, buka plastiknya dan kemudian kubur yang rapi."


Perintah dari bu bidan, yang menyudahi pembicaraan ayah si bayi dan ayah si bayi menarik tangan Dewa untuk pergi ke belakang rumah untuk mengubur ari-ari bayi.


Sementara Nania dan bu bidan, kembali memeriksa vagi*a ibu bayi.**


Dari arah samping belakang terdengar obralan Dewa bersama ayah si bayi yang mengucapkan terimakasih berkali-kali kepada Dewa.


"Dari tadi kita ngobrol, tapi aku yakin kalau mas Dewa tidak mengetahui namaku.


kenalkan, nama ku Darius dan istriku namanya Fitri."


Dewa bersalaman dengan Darius, ayah dari bayi laki-laki yang baru lahir.


"Tau dari mana namaku?"


"Dari om Basil, ayahnya mas Dewa sendiri. dulu ayah kita adalah rekan bisnis lalu di turunkan ke saya.


Om Basil juga yang memberitahukan kalau disini ada rumah siap huni yang sedang di jual.


Karena rumah lama kami terpaksa dijadikan kantor cabang, sementara kedua orangtuaku sudah almarhum.


saat memulai bisnis dengan om Basil, dan tidak ada henti-hentinya memuji mbak Nania. menantunya yang luar biasa hebatnya dan super cerewet.


terbukti memang saat menolong istriku barusan, dan sorot matanya yang membuatku gemetaran.


salut saja liatnya, tenang dalam menyelesaikan masalah tapi semua selesai dengan selamat dan aman.


pantas saja om Basil memujinya, pertahankan apa yang sudah kamu miliki."


Ujar Darius dan pada akhirnya selesai juga menguburkan ari-ari bayi nya dan kemudian mereka berdua kembali ke dalam rumah.


"Untung peralatan medis Nania lengkap, semua aman terkendali dan besok tolong bawa istri mu ke dokter ya.


hanya untuk berjaga-jaga saja, rumah sakit pemerintah itu juga bagus dan dekat lagi."


"Iya bu bidan, terimakasih ya bu bidan dan terimakasih mbak Nania."


"Uhmmm...


jangan kau pakai dulu istri mu selama satu bulan ini ya."


"Lama amat bu bidan, terus gimana kalau sudah panas?"


"Buang aja dulu di kamar mandi, dengan bantuan sabun yang berlubang."

__ADS_1


Haha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha haha hahahaha haha haha haha....


Bukan Darius yang bertanya tapi Nania, candaan dari kedua tenaga medis itu ternyata garing tapi sedikit lucu karena berbau delapan belas plus-plus.


"Bu bidan dan istriku saling kenal ya?"


"Iya...


kami itu alumni di yayasan yang sama dan istrimu ini adalah murid ku.


saya juga dosen di yayasan itu, dan mengajar juga di kelas Nania, cuman dua mata kuliah untuk keperawatan.


Nania murid ku yang paling pintar dan tentunya cantik."


"Terimakasih..."


Mereka tertawa lagi karena tingkah sok imut dari Nania, sang suami hanya tersenyum akan tingkah istrinya itu.


"Saya tulis resep nya dulu ya, nanti tebus di obatnya di apotik.


Oh iya Nania, ASI ibu bayi keluar ngak?"


"Lancar bu bidan, mungkin karena bapaknya si bayi aktif."


Haha hahahaha haha hahahaha hahahaha haha hahahaha haha...


Hanya bu bidan dan Nania yang tertawa, sementara yang Dewa dan Darius hanya tersenyum karena merasa malu.


Setelah asisten rumah tangga itu pulang dan bidan langsung memberikan obat terhadap istri Darius.


Semuanya sudah aman terkendali, barulah Dewa bersama istrinya begitu juga bu bidan meninggalkan Darius serta istrinya.


"Mas Dewa....


lapar nih, cari tempat makan yuk."


Dewa hanya mengangguk dan Nania yang memilih tempat makan. diseberang jalan ada sebuah kafe dan mereka langsung menuju ke sana.


Sial sungguh sial, baru saja memesan makanan dan minuman, Nania harus bertemu dengan Geisya lagi, dan sepertinya Geisya bersama seorang laki-laki.


Mereka yang baru datang dan Geisya langsung menyapa Dewa dengan kegenitannya, sementara pria itu berusaha melihat dan memperhatikan Nania.


"Ners Nania kan? ini aku Govin."


Pria yang datang bersama Geisya, ternyata Govin, tapi bukan itu diinginkan oleh Nania.


Geisya langsung duduk disebelah kanan Dewa dan demikian juga pria yang bernama Govin tersebut duduk di samping kanan Nania.


"Maaf saya ngak kenal sama mu, saya juga tidak mengenal mu apa lagi kenalan dengan mu."


Ujar Nania dan kemudian bangkit berdiri, lalu menatap Dewa.


"Aku mau pulang, mas masih mau disini atau ikut Nania pulang."

__ADS_1


"Kamu pulang aja duluan."


Nania langsung pergi dari kafe tersebut, dan kemudian di ikuti oleh Govin.


Beruntungnya ada taksi yang lewat dan Nania langsung masuk ke dalam taksi tersebut.


"Jalan aja dulu pak, nanti saya kasih tau mau berhenti dimana."


Pinta Nania kepada supir taksi, lalu taksi melaju dengan kecepatan sedang.


Pada akhirnya Nania berhenti disebuah taman kota yang besar, dan kemudian duduk disalah satu kursi yang berada di taman tersebut.


Nania berhenti menangis karena melihat ada butik, dan langsung bergegas menuju butik tersebut.


Sepertinya Nania mengetahui tentang butik itu, dan benar saja kalau butik yang cukup besar itu adalah milik Melati adik dari Susi sahabatnya.


"Kak Nania..."


Pemilik butik yang tidak lain adalah adik dari Susi, dan namanya adalah Melati.


Melati langsung memeluk Nania, sampai-sampai mereka berdua menjadi pusat perhatian pengunjung butik karena berisik.


"Setelah sekian purnama, akhirnya kak Nania berkunjung ke butik Melati.


terimakasih kakak ku sayang, I love You much..."


Ucap Melati dan mereka masih saja berpelukan dan kemudian melompat-lompat seperti anak kecil.


"Maaf ya kakak-kakak berisik tau, ngobrol di dalam aja deh."


"Enak aja, aku ke sini mau belanja."


Sanggah Nania kepada pegawai butik tersebut, dan Melati sendiri yang melayani Nania.


Candaan dan tawa mereka berdua, sejenak bisa melupakan kejadian yang mengiris hati Nania.


Tanpa dia sadari sudah banyak dress yang dipilihnya.


"Dah cukup kayaknya deh, kakak mau coba satu persatu ya."


"Keruangan Melati aja yuk, ntar kita ditegur lagi deh."


haha hahahaha haha hahahaha hahahaha haha hahahaha haha....


Nania dan Melati tertawa, dan bersama-sama mereka berjalan beriringan menuju ruangan Melati.


Nania sudah mencoba satu dress nya, lalu memarkan nya ke Melati.


"Apapun yang kakak pakai, dan itu sudah cantik dan cocok di badan kakak."


Lagi-lagi mereka tertawa bersama, lalu bercanda ria.


Tanpa terasa waktu berlalu begitu cepat, dan akhirnya Nania pamit pulang setelah membayar belanjaannya.

__ADS_1


__ADS_2