CINTA SANG PERAWAT

CINTA SANG PERAWAT
Geisya Lagi.


__ADS_3

Dewa sudah mulai bekerja, tapi masih di kontrol oleh istrinya dalam jangka waktu satu bulan.


Artinya bahwa Nania harus selalu bersama Dewa, hal itu disetujuinya dan begitu juga dengan kedua orangtuanya Dewa.


Dewa bersama istrinya duduk di belakang kemudi, dan mereka berdua hanya terdiam. jika situasi seperti ini, pak Sanusi ikut diam.


"Mas Dewa, kenapa sih kak Nania selalu ikut ke kantor?"


Ujar Geisya yang sudah tiba di depan kantor menyambut Dewa.


Akan tetapi Nania tidak perduli dengan Geisya, dan seperti Geisya menjadi pegawai di kantor pusat Jaguar group.


Terlihat dari kartu namanya yang bergantung di lehernya.


"Mulai hari ini Geisya, akan kerja disini sebagai analisis proyek dari rumah sakit Jawara."


Ucapan dari Geisya tidak ditanggapi olehnya dan langsung masuk kedalam kantor dengan membawa tas medisnya.


Staf analisis atau administrasi kepengurusan rumah sakit Jawara, satu lantai dengan ruangan CEO.


Sementara Nania akan duduk di kursi sekretaris atau asisten seperti Indra, untuk melayani kebutuhan suaminya.


"Mas Dewa ada?"


Nania yang duduk bersama dua pegawai perempuan lainnya tidak menjawab pertanyaan Geisya.


"Kalian semua tuli ya?"


Lagi-lagi pertanyaan itu tidak ditanggapi, dan Geisya yang terlihat kesal langsung masuk ke ruangan Dewa.


Tidak berapa lama kemudian, Dewa keluar ruangan bersama Geisya dengan wajahnya yang terlihat marah.


"Kenapa kalian tidak menanggapi Geisya?"


"Buat apa pak Dewa? mentang-mentang dia titipan dan sesukanya masuk keluar ruangan CEO.


Jika dia itu lulusan terbaik luar negeri, tentunya punya etika dan sopan santun."


Dewa terdiam dengan ucapan karyawannya, karena biar bagaimanapun Dewa masih tahap percobaan untuk menjadi CEO pengganti papa nya.


Para pegawai yang ada disana masih pegawai pilihan papa nya, dan Dewa tidak memecatnya dengan sesuka hatinya.


"Mbak Nania, selamat ya. karena proyek mbak bersama profesor Dadang di terima oleh jajaran rumah sakit Jawara.


Sepertinya mbak Nania harus menghadap profesor Dadang, tapi rapat diadakan di aula kantor ini kok.


Karena akan penguji langsung dari pihak manajemen dan juga kementerian kesehatan nantinya.


Fila semua disini dan silahkan mbak Nania pelajari."

__ADS_1


Ungkap pegawai perempuan yang masih muda itu, lalu menyerahkan file yang agak tebal ke Nania.


"Terimakasih...


Sebenarnya aku dah punya datanya, ngak apa-apa deh, ntar biar Nania pelajari yang belum ada di referensi yang aku miliki."


Pegawai itu hanya tersenyum dan mereka berdua tidak menanggapi Dewa dan Geisya yang masih berdiri menatap mereka.


"Nania, masuk keruangan ku."


Perintah Dewa, dan Nania langsung mengikuti Dewa untuk masuk ke ruangan sang CEO.


Nania dan Geisya duduk bersebelahan yang menghadap ke Dewa.


"Nania, kamu akan dibantu oleh Geisya untuk menangani proyek bersama profesor Dadang."


"Ngak perlu, karena profesor Dadang tidak akan menerima orang baru yang tidak dikenalnya."


Sanggah Nania dengan begitu tegasnya saat menolak perintah dari Dewa, hal itu membuat Dewa terlihat marah.


"Itu gunanya kau membujuk profesor gila itu untuk menerima Geisya."


"Kalau begitu aku mundur." Ujar Nania.


Geisya langsung berdiri dengan raut wajahnya yang kesal, demikian juga dengan Dewa yang sangat kesal terhadap Nania.


"Kakak kenapa sih? kakak cemburu kalau Geisya dekat-dekat dengan mas Dewa."


"Kalau ngak ada lagi yang mau dibahas, Nania mau keluar ya, karena ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan."


Nania langsung beranjak dari tempat duduknya, dan Dewa langsung berdiri lalu mencegah Nania agar tidak meninggalkannya di ruangan tersebut.


"Jangan egois gitu Nania, adik mu ini lulusan terbaik dari luar negeri.


pastinya bisa membantu untuk mengerjakan proyek itu..."


"Saya juga ngak berhak menolak atau menerima seseorang di dalam team proyek ini, tapi yang jelas harus persetujuan dari dewan rumah sakit dan juga profesor Dadang.


perlu Nania tekankan sekali lagi, saya hanya asisten profesor Dadang.


mungkin saja mas Dewa bisa bicara kepada bapak dan ibu atau langsung bicara dengan dewan rumah sakit Jawara."


Lalu Nania menepis tangan Dewa, kemudian pergi dari ruangan suami dan kemudian kembali ke tempat duduknya.


Nania membuka lembaran file yang diterima dari pegawai dan kemudian mempelajarinya dengan seksama.


"Mbak Nania, serius benar dah."


"Uhmmm..."

__ADS_1


Nania hanya menanggapi demikian, ocehan dari Indra, asisten pribadi suaminya.


"Besok malam mbak dan mas Dewa harus ikut Indra untuk melamar Susi."


Seketika Nania langsung menoleh Indra, terlihat senyuman Nania yang sumiringah karena kabar bahagia tersebut.


"Iya mbak Nania, om dan tante sudah mempersiapkan lamarannya dan besok malam kita akan ke rumah Susi."


"Bagus kalau begitu, sebentar biar aku hubungi Melati untuk menyiapkan gaun yang sudah aku pesan."


Jawab Nania, lalu meraih handphonenya dan kemudian menghubungi Melati.


Percakapan mereka terdengar sangat akrab, ternyata gaun pesanan Nania sudah selesai di buat oleh Melati dan akan diantarkan saat makan siang nanti.


"Mbak Nania kenal dengan Melati ya?"


Pegawai yang duduk sejajar dengan bertanya, karena mendengar suara Melati melalui percakapan mereka.


"Tentu dong, Melati itu seperti adikku. itu karena kakak adalah sahabat ku, emangnya kenapa?"


"Ngak kenapa-kenapa mbak, Ira juga sahabat Melati kok. hari ini kami janjian makan sama di kantin kantor ini, sekaligus nanti si Melati mau membawa pesanan Ira."


"Begitu rupanya, tapi ngomong-ngomong istirahatnya jam berapa?"


Ira yang ditanya oleh Nania, tapi Indra menjawab. lantas membuat Nania dan Indra hanya tersenyum menanggapi jawaban dari Indra.


Karena sudah merasa garing dan mereka kembali bekerja, akan tetapi Geisya tidak kunjung keluar dari ruangan Dewa.


"Lama benar deh perempuan iblis itu keluar dari ruangan mas Dewa."


"Masuk aja kali, ngapain harus takut sama perempuan itu."


Ira menyanggah ucapan Indra, tapi Indra memasang raut wajahnya yang cemburut.


"Jijik aku melihat perempuan itu, aku memang suka sama perempuan tapi tidak dengan perempuan seperti yang ada di ruangan mas Dewa, menjijikkan."


Nania dan Ira hanya menanggapinya dengan sinis dan mereka kembali bekerja.


"Mbak Nania, tolong Indra dong. tolong bawa file ini ke mas Indra sekaligus minta tandatangannya."


"Eh cecenguk, aku bukan pegawai disini. aku hanya asisten profesor Dadang.


Keberadaan ku disini sebagai perawat untuk mas Dewa, dan bukan untuk kamu suruh-suruh.


Jangan kurang ajar ya sama kakak ipar, nanti kamu aku adukkan sama bapak dan ibu."


Indra hanya lemas mendengar penolakan dari kakak iparnya itu, sementara Ira hanya tersenyum dan lantas di dekati oleh Indra.


"Ira, tolong dong."

__ADS_1


"Maaf ya pak Indra, itu job desk bapak dan tidak urusannya dengan ku."


Lagi-lagi Indra harus lemas karena dua kali di tolak, demikian dua pegawai lainnya yang menolak permintaan Indra.


__ADS_2