
Sesampainya di rumah Dewa langsung masuk ke kamarnya yang dibantu oleh pak Sanusi.
Lalu pak Sanusi membagi kue yang dibelinya untuk dibawa mbak Yuni ke mamanya Dewa di rumah sakit.
Di dalam kamar terlihat kalau Dewa sedang bicara dengan seseorang melalui handphonenya.
"pak Sanusi.....pak ......."
Dewa berteriak memanggil supir pribadi itu untuk menghadap nya ke kamar.
"iya tuan muda, apa yang bisa aku bantu?"
"ngak usah lebay, dorong kursi roda ini ke ruang tamu."
Tanpa bicara dan pak Sanusi langsung mendorong kursi roda itu ke ruang tamu, begitu sampai di ruang tamu Dewa memerintah pak Sanusi untuk membuat minuman.
"ngak tau cara buatnya tuan muda, tunggu mbak Yuni aja ya."
Dewa kecewa dengan jawaban dari pak Sanusi, dan pria paru baya itu langsung meninggalkan Dewa dan menuju ke arah pintu masuk.
Pak Sanusi menuju pintu masuk, karena ada tamu yang menekan bel.
"syukurlah kalau nak Indra datang, bosan benar menghadapi tuan muda yang keras kepala itu.
Sabar benar ya non Nania menghadapi nya, kalau bapak seperti itu di rumah, pastilah di lemparkan istri ke kandang buaya."
Indra tertawa mendengar ocehan dari pak Sanusi dan mereka terus berjalan hingga ke ruang tamu.
Lalu Indra duduk di sofa dan berhadapan langsung dengan Dewa. kemudian meraih notepad dari tas sandang nya.
"Ranum dan Papa nya sudah menjadi tersangka.
Ranum di dakwa dengan percobaan pembunuhan, sementara Papa nya di dakwa pembunuhan berencana terhadap almarhum pak Latif.
Kemudian kasus korupsi serta kasus suap, almarhum adalah ayah dari Sapri.
Sapri adalah wartawan yang waktu itu berada di konferensi pers di kantor.
Sapri adalah teman masa kecil dari mbak Nania, lebih tepatnya sama-sama anak jalanan.
Sapri dan mbak Nania sempat di adopsi oleh keluarga Ankarbaya, itu hanya setahun dan kemudian keluarga Ankarbaya mengembalikan Sapri ke panti asuhan melalui dinas sosial.
Keluarga Ankarbaya mengaku tidak sanggup mengadopsi Sapri, dikarenakan terlalu aktif.
Almarhum pak Latif yang pada akhirnya mengadopsi Sapri.
Sapri itu bukan wartawan sembarangan, beliau lah yang membongkar kasus korupsi papa nya Ranum.
Video yang viral itu, mengenai kejadian yang menimpa mas Dewa di jalan tol itu.
Merupakan ulah dari papa nya Ranum, bekerjasama dengan Ranum dan juga pak Manro kepala bagian keuangan Jaguar group.
Sapri yang membongkar itu semua, tujuan utamanya adalah untuk mengungkap pelaku pembunuh ayah angkatnya.
Sapri dibantu oleh mbak Nania, dan mbak Nania dibantu oleh Omar, yaitu orang yang diceritakan oleh Susi kemarin itu.
__ADS_1
Istri Omar dan anaknya pernah di bantu oleh mbak Nania.
Omar merasa berhutang budi kepada mbak Nania, sebagai ucapan terimakasihnya Omar akan membantu mbak Nania dan akan selalu ada jika mbak ada masalah.
Istri mu mas Dewa, bukan perempuan biasa. mungkin agak lucu kedengarannya.
Mas Dewa tau kan sinetron lawas yaitu Wiro sableng, yang punya guru sakti mandra guna tapi gurunya rada-rada gila.
Karena didik oleh guru yang sableng alias gila, maka muridnya juga rada-rada gila.
Sama seperti profesor Dadang yang dianggap orang banyak gila, dan murid kesayangannya adalah mbak Nania.
Artinya guru dan muridnya sama-sama sableng, tapi berjiwa malaikat.
Akhirnya punya banyak sahabat dan juga koneksi."
Indra terlihat mengagumi Nania, setelah mendapatkan sejumlah informasi tentangnya dan hanya bisa tersenyum di hadapan Dewa.
Lalu Indra terlihat menghela napasnya, dan napas itu terdengar berat.
"jika kecewa maka mbak Nania akan pergi sejauh mungkin, lebih baik pergi menjauhi masalah hidup dari harus menghadapinya.
Bukan berarti pesimis tapi keadaan yang selalu memaksanya untuk mengalah."
"maksud mu apa?"
Indra tersenyum kecut kepada Dewa, dan kemudian menyimpan kembali notepad miliknya ke dalam tas sandang kecil itu.
"Cepat atau lambat, mbak Nania akan meninggalkan mu mas Dewa.
Harga selagi masih ada, sebelum mbak Nania merasa hampa."
Dewa hanya bengong setelah ditinggalkan oleh Indra.
"hahahaha....haha haha haha haha....."
Dewa tertawa sendiri, dan terus tertawa dan kemudian tersenyum lalu menangis.
"aku tidak akan membiarkan mu pergi dari sisi ku Nania, kamu itu hanya menjadi milikku selamanya."
Dewa tersenyum lagi, lalu terlihat seperti melamun.
"tuan..... tuan muda.... tuan muda......"
Pak Sanusi berlari dari arah samping rumah untuk menemui Dewa sembari memegang handphone nya.
Entah apa yang membuat pria paru baya begitu bahagia, tapi belum bisa menyampaikan kabar bahagia itu kepada Dewa karena masih ngos-ngosan.
"ndok.....
non......."
"bicara yang jelas pak Sanusi, kenapa dengan istriku."
"bacot......."
__ADS_1
Pak Sanusi hanya mengucapkan kata bacot dan langsung mendorong kursi Dewa ke arah luar dan kemudian memasukkan Dewa ke dalam mobil.
Dewa yang tidak berdaya dan hanya bisa menerima kelakuan pak Sanusi terhadapnya.
Mobil sudah jalan, dan Dewa memperhatikan sikap aneh pak Sanusi dari kaca spion yang ada diatasnya.
"ada apa pak Sanusi?"
"itu anu...uhmm.....
Non Nania sudah siuman."
Dewa langsung tersenyum menanggapinya dan kemudian tertawa lalu tiba-tiba mobil berhenti.
"kok berhenti pak, cepat jalan."
"maaf tuan muda, profesor Dadang melarang tuan muda untuk bertemu dengan non Nania. hal dikarenakan non Nania yang baru siuman."
"haaaaaaaa........."
Dewa berteriak sekuat mungkin dan pak Sanusi hanya bisa menutup telinganya dengan kedua tangannya.
Terlihat Dewa hendak melakukan panggilan telepon, tapi sepertinya dia lupa membawa handphonenya.
Lalu Dewa meminjam handphone jadul milik pak Sanusi.
Hanya beberapa saat kemudian, handphone jadul tersebut di banting oleh Dewa.
Terlihat jelas kemarahan dari raut wajahnya, sementara handphone jadul milik pak Sanusi sudah terbagi dua karena dibanting oleh Dewa.
Pak Sanusi kemudian melajukan mobil dan pada akhirnya membawa Dewa masuk ke rumah karena mereka belum jauh dari rumah.
Dewa sudah berada di sofa ruang tamu dan ditemani oleh pak Sanusi.
"tuan muda mau teh."
"diammmmm."
Dewa membentak pak Sanusi, lalu menatapnya dengan tatapannya yang tajam.
"tadi pak Sanusi berkata tidak bisa membuat teh, tapi kenapa tiba-tiba menawariku teh?"
"karena tuan muda dah ngamuk seperti itu."
haaaaaaaa..... haaaaaaaa........ haaaa.......
Dewa yang berteriak keras membuat pria paru baya itu berlari meninggalkan ruang tamu.
"mau kemana?"
"mau kebelakang tuan muda, sakit kupingku mendengar teriakan tuan muda."
Jawab pak Sanusi dan dirinya diperintahkan Dewa untuk duduk di ruang tamu, karena sang tuan muda itu masih kesal terhadapnya.
"kenapa profesor gila itu melarang ku untuk bertemu dengan istriku?"
__ADS_1
"ngak tau tuan, tanya langsung aja ke profesornya."
Dewa kembali berteriak dan pak Sanusi hanya bisa menutup kedua telinganya.