
Pukul delapan pagi waktu setempat, pak Sanusi sudah memandikan Dewa dan tampaknya sang tuan muda itu merasa tidak nyaman.
"pak Sanusi keluar aja, biar aku mandi sendiri. dasar pria kasar."
"maaf ya tuan muda, saya itu bukan non Nania yang berhati lembut.
Ya sudahlah, nanti kalau sudah selesai panggil aja ya."
Pak Sanusi terlihat kesal karena kelakuan Dewa yang kasar, dan meninggal Dewa di kamar mandi.
Beberapa saat kemudian, Dewa berteriak dari arah kamar mandi dan memanggil pak Sanusi.
Dewa sudah mengenakan baju serta celana pendek dari kamar mandi, dan pak Sanusi mendorong kursi roda itu dari kamar mandi.
Lalu pak Sanusi hendak mengoleskan minyak herbal itu ke paha Dewa, tapi langsung di tepis oleh Dewa.
"minyak itu untuk malam hari, bukan di pakai sekarang."
Pak Sanusi hanya terdiam dan kemudian merapikan minyak herbal lalu menaruhnya ke tempatnya.
"mbak Yuni.....mbak......"
Dewa berteriak memanggil asisten rumah tangganya dan seketika itu juga asisten rumah tangga sudah tiba di kamar itu dengan membawa nampan berisi makanan dan juga minum.
"tuan muda bisa makan sendiri kan?"
Mbak Yuni bertanya kepada Dewa tapi tatapan mata yang tajam malah mengarah ke dirinya.
"apa susahnya menyuapi aku makan?"
"tuan muda yang terhormat, saya itu bukan non Nania yang sangat-sangat sabar.
Lagian ya, yang sakit itu kaki bukan tangan tuan muda.
Makan sendiri aja, cengeng benar.....
habis makan, langsung minum obat nya. jangan nunggu lama-lama ntar keburu dingin.
Mbak Yuni dan pak Sanusi meninggal Dewa di kamar itu, sementara Dewa hanya bengong diperlakukan demikian.
Akhirnya Dewa maka sendiri dan kemudian minum obat herbal tersebut.
brak.....bram.....prak......
Piring bekas makanya, dilemparkan oleh Dewa hingga berserakan di lantai dan segera mbak Yuni dan pak Sanusi menghampiri nya.
"aku yakin sekali deh pak, kalau non Nania itu adalah malaikat berwujud manusia."
"kok ngomong gitu?"
__ADS_1
"iya.....
Karena sangat sabar menghadapi suaminya yang super tempramental, hanya malaikat yang melakukannya."
Mbak Yuni dan pak Sanusi berhenti berbisik-bisik setelah di tatap oleh Dewa yang terlihat emosi.
Mbak Yuni dan pak Sanusi langsung mengutip piring-piring dan alat makan yang berserakan di lantai dan kemudian membersihkannya.
Dewa sendirian di kamar mewah itu, karena pak Sanusi dan mbak Yuni sudah meninggalkan dirinya karena sifatnya yang tidak bisa terkontrol.
"Nania....
Apa yang kau tuduhkan kepada ku mengenai Ranum, itu salah total."
Ujar Dewa dan kemudian mendorong kursi roda ke arah meja rias Nania dan membuka laci meja tersebut.
Lalu Dewa menemukan buku yang biasa di baca oleh istrinya, dan waktu berkata kalau buku itu adalah jurnal medisnya sebagai perawat.
"dasar perempuan pembohong."
Ujarnya lagi, karena buku tersebut bukan jurnal medis seperti yang di sampaikan oleh Nania kepadanya.
Kemudian Dewa memeriksa isi dari laci tersebut, lalu menemukan beberapa dokumen yang membuatnya syok dan seketika itu juga langsung menghubungi Papa nya.
Papa nya meminta Dewa untuk menemui di kantor jam sebelas, sebab Papa nya Dewa masih berada di rumah sakit.*
Sudah jam sepuluh dan Dewa sudah bersiap-siap untuk menemui Papa nya di kantor.
Dewa menunggu Papa nya di depan pintu masuk ruangan, dan tidak berapa lama kemudian. Papa nya sudah tiba dan kemudian mendorong kursi roda Dewa untuk masuk ke dalam ruangan.
"kenapa Dewa?"
Papanya bertanya lalu Dewa menyodorkan dokumen yang diambilnya dari laci meja rias istrinya.
"Dewa tidak melakukan korupsi dana pajak, tapi mengungkapkan kejadian yang sebenarnya.
Pak Manro, kepala bagian keuangan yang bekerjasama dengan salah satu petugas perpajakan untuk bagi dua dana pajak perusahaan.
Lalu Dewa melaporkan hal itu, dan kemudian Papa nya Ranum malah nego ulang dan Dewa menolaknya.
Dewa memang pernah pacaran dengan kembaran Ranum dan namanya Ratih, tapi Dewa tidak pernah berhubungan suami-istri dengan-nya apalagi menghamilinya.
Ratih yang selingkuh dengan pria lain hingga hamil, dan meminta Dewa untuk tanggung jawab.
Jelas Dewa ngak mau, dan papa nya saat itu mengancam Dewa akan melakukan pemeriksaan di kantor kita ini.
Tim kita tentunya gerak dong, dan alhasil bisa memenangkan pertarungan dan papanya Ranum lah yang melakukan negosiasi dengan kepala keuangan kita.
Tapi anehnya Papa nya Ranum ngak ketangkap dan malah bawahan nya yang tertangkap dan dituduh menerima suap serta korupsi.
__ADS_1
Sementara Ratih sudah bunuh diri, karena selingkuh nya tidak mau bertanggungjawab.
Jadinya Dewa yang kena imbasnya dan sudah saatnya membersihkan semua ini.
Nania mendapatkan semua dokumen itu dari wartawan kala itu pah.
Semua ini rekayasa pa....."
"iya Dewa....
Papa tau, karena Indra sudah menjelaskannya berikut dengan bukti-buktinya.
Nanti perlahan-lahan kita jelaskan ke mama mu dan kelak kamu sendiri yang menjelaskan ke Nania.
Papa akan bantu, tapi papa mohon sama kamu Dewa. tolong hargai sedikit aja Nania sebagai istri mu."
Papanya menyanggah ucapannya dan kemudian meninggalkan ruangan tersebut dan hanya Dewa yang berada disana.
Kemudian Dewa berteriak memanggil pak Sanusi, setelah supir pribadi itu datang barulah mereka berdua keluar dari ruangan kerja papa nya.
"apa kita langsung pulang aja tuan muda?"
Pak Sanusi bertanya kepada Dewa, setelah sang tuan muda berhasil duduk di belakang kemudi.
"rumah sakit, jangan membantah."
Dewa menjawabnya dengan begitu angkuhnya dan pak Sanusi langsung melajukan mobilnya.
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, mereka berdua hanya terdiam dan hanya suara mesin mobil yang terdengar.
"banyak wartawan tuan, sebaiknya kita dari belakang rumah sakit aja."
"atur ajalah."
Lagi-lagi Dewa menjawab begitu singkat dan nadanya yang sedikit angkuh.
Mobil sudah berbelok ke arah belakang rumah sakit, dan kemudian masuk melalui pintu belakang.
Pintu yang biasa untuk menerima kebutuhan rumah sakit, dan ternyata itu bisa mengelabuhi para wartawan yang berada di depan pintu masuk rumah sakit.
Setelah menurunkan Dewa dari mobil dan telah duduk di kursi roda, lalu pak Sanusi mendorong kursi roda itu ke arah lift.
Dokter penanggung jawab dan tim langsung menyambut Dewa, lalu membawanya ke ruang rawat istrinya yang belum siuman.
Dewa sendirian di ruangan itu, karena tuan muda yang angkuh itu telah mengusir dokter dan petugas medis lainnya.
"katanya kamu orang jenius, tapi kamu ngak bisa membedakan mana berita rekayasa dan mana berita yang benar.
Kamu hanya membual Nania, ayo cepat bangun dan tunjukkan kalau dirimu tidak membual."
__ADS_1
Ujar Dewa yang berbicara istri nya yang masih berbaring lemah di kasur itu.