
Dewa dibawa ke kantor security dan para security itu sempat mengintrogasi Dewa, tapi ketika atasan mereka tiba di tempat.
Para security langsung meminta maaf kepada Dewa, karena pusat perbelanjaan tersebut adalah milik dari Jaguar group.
"Maafkan kami pak Dewa, anggota saya tidak mengetahui kalau yang mereka tangkap adalah pak Dewa." ucap kepala security itu.
"Ngak apa-apa dan sebagai gantinya, cari tahu siapa pemilik Fahri barbershop itu." kara Dewa yang masih terduduk lemas.
"Fahri barbershop itu baru setahun yang lalu buka disini," ujar kepala security itu.
Tapi kepala security itu tidak bisa memberikan informasi yang lebih detail lagi, karena itu adalah wewenang menajemen gedung.
Dewa langsung meraih handphonenya dan menghubungi seseorang.
"Indra...! bocah yang bernama Brian adalah anak ku, tadi kami bertemu disini. Brian berkata kalau mama nya bernama Nania.
Sekarang hubungan menajemen gedung, cari tahu alamat Fahri barbershop. karena pemilik barbershop mengaku sebagai Om dari Brian." ungkap Dewa.
Setelah memberi perintah kepada Indra melalui panggilan telepon, lalu Dewa langsung pulang ke rumahnya.
"Kami sudah mengerahkan orang-orang kita untuk menelusuri tempat tinggal dari pemilik Fahri barbershop.
Tapi itu tidak ada kaitannya dengan mbak Nania dan juga anaknya."
"Tentunya dong mas Indra, karena sahabat itu paling ahli dalam hal merahasiakan identitas hidupnya dan juga perasaannya." ucap Susi yang menyanggah ucapan suaminya.
Susi yang baru datang bersama Keyla, dan kemudian mbak Yuni membawa Keyla ke arah dapur untuk di suapi makan.
Sementara Dewa hanya bengong dan kemudian mamanya menyuruhnya untuk duduk di sampingnya.
"Maksudnya apa sayang?" Indra bertanya pada suaminya.
"Nania adalah orang yang paling jago menyimpan rahasia dan jago membuat strategi agar tidak mudah terlacak, makanya profesor Dadang merekrutnya menjadi anggotanya.
Profesor Dadang sangat mempercayai Nania, bahkan sudah menganggap Nania sebagai anaknya." jawab Susi dengan sangat pasti.
"Terus ini bagaimana sayang?" tanya Indra lagi yang sudah duduk disampingnya.
"Aku telah mengumpulkan sejumlah informasi dan berhasil memecahkan teka-teki yang dulu pernah di ucapkan Nania.
Kemarin itu mas Indra berkata kalau Nania memiliki Dania group, kepanjangan Dania adalah Dadang dan Nania.
Bukan Dewa dan Nania, dulu aku pernah dibawa Nania ke suatu tempat yang sangat cocok untuk membuat pabrik pengolahan obat-obatan.
__ADS_1
Nania juga pernah bercita-cita ingin mendirikan rumah singgah, bagaimana kalau kita kesana sekarang.
Mudah-mudahan bisa bertemu dengan Nania disana, Karena rumah singgah itu sangat itu adalah impian Nania." jelas Susi dengan keyakinannya.
"Ayo gerak sekarang." sanggah Dewa yang tidak sabar.
"Sabarlah, anakku gimana?" ucap Susi yang terlihat kesal.
"Serahkan sama ibu, kalian pergi saja sekarang, Keyla itu cucu ibu." sanggah mamanya Dewa.
Dewa dan papanya serta Indra dan istrinya, mereka berangkat dan pak Sanusi menjadi supirnya.
Pak Sanusi juga ingin bertemu dengan Nania, karena sudah sangat merindukan Nania yang sudah di anggapnya sebagai putrinya.
Hari sudah sore dan jalanan agak macet, sehingga mereka terjebak di kemacetan lalu lintas itu.
"Kenapa kamu membantu mas Dewa untuk menemukan Nania? padahal kamu sangat membenci saudara ini?"
Pertanyaan dari Indra untuk istrinya, tapi sang istri malah tersenyum.
"Susi ngak benci saudara mu itu, tapi hanya kesal saja.
Aku ikut serta mencari Nania, karena dia adalah sahabat ku dan saudara ku. aku ingin bertemu dengannya dan kemudian memeluknya.
Susi tidak akan ikut campur mengenai pilihannya kelak nanti, dan akan mendukung apapun yang menjadi keputusan Nania."
Jawaban dari Susi membuat mereka terdiam, dan kesunyian dalam mobil tanpa suara manusia.
"Demikian juga dengan bapak, kelak nantinya akan mendukung apapun yang menjadi keputusan Nania.
Bapak hanya ingin bertemu Nania dan juga cucuku itu, bapak akan mendukung apapun yang menjadi keputusan Nania." sanggah bapaknya yang mendukung ucapan Susi.
Susi yang duduk bersebelahan dengan istrinya dan kemudian meraih tangan istrinya dan menciumnya.
"Aku bangga punya istri seperti mu, terimakasih atas segalanya yang telah kamu berikan untukku.
Sejujurnya mas berharap kalau mbak Nania bisa menerima mas Dewa lagi, tapi seperti yang kamu ucapkan barusan.
Urusan pernikahan mas Dewa dan mbak Nania adalah privasi atau urusan mereka, mas hanya ingin bertemu dengan mbak Nania.
Mengucapkan terimakasih padanya karena memiliki sahabat yang sekarang ini menjadi Istriku yang tercinta." ujar Indra dan kemudian mencium tangan istrinya lagi.
Berbeda dengan Dewa, sedari tadi sudah meneteskan air matanya dan berharap bisa bertemu dengan Nania.
__ADS_1
Akhirnya mobil bisa melaju dengan lancar dan beberapa kemudian mereka telah tiba disebuah rumah yang sangat besar.
"Selamat sore ibu, apakah kami bisa bertemu dengan Nania?
Saya adalah adik Nania, ini suamiku dan yang memakai kemeja biru adalah bapak mertuaku dan yang disampingnya adalah ipar ku." ucap Susi pada seorang ibu-ibu yang menjaga rumah singgah itu.
"Ayo silahkan masuk." wanita paru baya itu mempersilahkan mereka untuk masuk.
Perempuan paru baya itu membawa mereka ke ruang tamu yang cukup besar dan setelah mempersilahkan Susi dan rombongannya untuk duduk.
Perempuan paru baya pamit masuk kedalam suatu ruangan yang berbeda.
Kaki Dewa terlihat gemetar dan kedua bola matanya berbinar-binar serta Dewa berusaha sekuat tenaganya untuk tetap tenang.
Beberapa saat kemudian Nania serta Brian dan juga Gerol datang menghampiri mereka dan Brian di tengahnya mereka berdua seraya bergandengan tangan.
"Nania...!" ujar Susi dan langsung berlari dan memeluk Nania.
Susi hanya menangis hingga sesenggukan karena baru bisa bertemu dengan Nania yang merupakan sahabat terbaik yang sudah seperti saudaranya sendiri.
"Ayah...! om itu yang mengaku sebagai ayah kandungnya Brian." kata Brian seraya menunjuk ke arah Dewa yang sudah meneteskan air matanya.
"Ngak usah diambil hati, mungkin Om mengigau." Gerol menjawabnya dengan sindiran.
"Tapi masa siang-siang mengigau? berarti om itu...!"
"Om itu sudah pikun." sanggah Gerol dengan tersenyum sinis ke arah Dewa.
"Kasian benar, Iya. masih terlihat muda tapi sudah pikun." ujar Brian.
Gerol tersenyum puas, sementara Dewa menangis yang sudah berulangkali menghapus air matanya.
Terlihat Nania sudah selesai berpelukan dengan Susi dan kemudian bersalaman dengan papanya Dewa dan terakhir pada Indra.
Nania sudah duduk dan anaknya serta Gerol juga sudah duduk disampingnya.
"Apakah Brian ini anak Nania?"
Papanya Dewa bertanya dan Nania menjawab dengan menggelengkan kepalanya.
"Brian sini, Nak." pinta Nania dan Brian langsung mendekatinya.
Nania memperkenalkan papanya Dewa sebagai opa atau kakeknya Brian dan memperkenalkan Susi sebagai aunty dan Indra sebagai pamannya.
__ADS_1