CINTA SANG PERAWAT

CINTA SANG PERAWAT
Pernyataan Dewa.


__ADS_3

Mereka akhirnya berangkat untuk menuju rumah Dewa, karena harus menyelesaikan permasalahan.


"Kita mau kemana bunda? rumah kita bukan arah sini." ujar Brian yang memperhatikan jalanan.


"Kita akan pergi ke rumah Opa dan Oma,"


"Begitu iya bunda! apakah papa Dewa asmara itu tinggal serumah dengan Opa dan Oma?"


Hanya pak Sanusi yang tertawa mendengar pertanyaan dari Brian.


"Dewa asmara! emangnya siapa itu Dewa asmara?" tanya Oma nya.


"Saat di rumah kemarin sore, Brian bertanya. siapa nama ayah kandungnya Brian.


Terus om Gerol berkata kalau ayah kandungnya Brian bernama Dewa asmara yang sedang di mabuk rindu."


hahahaha... hahahaha... hahahaha... ' akhirnya Oma nya tertawa.'


"Panjang juga namanya, pasti bingung tuh menulis namanya di buku catatan. kalau disingkat pasti lebih susah." ujar Brian lagi.


"Iya pastinya akan kebingungan, teman-teman Om sudah selesai menulis nama dan mulai mengeja huruf, tapi Om Dewa asmara yang sedang di mabuk rindu, masih sibuk menulis namanya." kata Keyla yang ikut menyambut ucapan Brian.


Mendengar celotehan Brian dan Keyla, akan nama panjang Dewa yang aneh, mereka tertawa dan kemudian menahan tawa.


"Keyla...! kampung Opa sangatlah indah, nanti kalau libur sekolah kita kesana, Iya."


"Opa yang mana Brian?"


"Opa profesor Dadang." jawab Brian pada Keyla.


"Oh... Opa profesor Dadang, ini kalung pemberian Opa." sanggah Keyla yang menunjukkan kalung yang terbuat dari kayu.


Lalu ada permata sebagai mainan dari kalung tersebut dan itu terlihat sangat bagus.


"Keyla juga dapat, Iya. Brian juga punya, Kok." ungkap Brian yang menunjukkan kalungnya pada Keyla.


"Iya-iya punya kita sama." ujar Keyla.


Seketika itu juga Susi dan mamanya langsung melihat ke arah Nania dan itu untuk mendengar penjelasan Nania.


"Profesor sendiri yang membuat kalung itu, katanya untuk kedua cucunya yang tersayang. bukan kayu dan tali sembarang itu.


Tapi sebuah kayu dan tali yang dipercaya oleh masyarakat pulau seram bisa membuat tubuh kita tidak mudah terjangkit penyakit.


Karena kayu dan juga talinya mengandung senyawa kimia alami yang menyangkal virus dan bakteri.

__ADS_1


Permata itu asli sebagai hiasan agar kedua kalung itu terlihat jauh lebih cantik dan menarik.


Nania ngak memintak dari profesor, tapi profesor Dadang sendiri yang punya inisiatif dan itu dibuat tiga kalung.


Nantinya untuk anak Gerol yang belum lahir sampai sekarang, karena belum punya istri."


Perkataan Nania disambut tawa oleh mamanya Dewa dan Susi.


"Kamu ngak berubah, tetap asyik dan apa adanya." sanggah mamanya Dewa dan kemudian tersenyum.


Tanpa terasa mereka sudah tiba di rumah Dewa, dan ternyata Dewa bersama Papa nya sudah menunggu kehadiran mereka di rumah tersebut.


"Opa...! Papa masih kerja, Iya?" Keyla bertanya papanya yang tidak ada di rumah opanya.


"Iya, Keyla." jawab papanya Dewa.


Keyla hanya tersenyum menanggapi jawaban itu dan kemudian meraih tangan Brian dengan lembut.


"Halo ayah Dewa asmara yang sedang di mabuk rindu!" ujar Brian yang kemudian mencium tangan ayahnya.


Awalnya Dewa tersenyum tapi kemudian meneteskan air matanya tanpa perkataan.


Seketika itu juga mbak Yuni langsung memeluk Nania yang baru tiba, dengan berderai air matanya.


Selepas memeluk Nania dan asisten rumah tangga itu langsung jongkok di hadapan Brian.


"Ayok...!" Brian dan Keyla menyahutnya dan kemudian mereka berdua langsung memegang tangan mbak Yuni.


"Susi mau ngurus anak-anak dulu."


"Ngak Susi, mbak Yuni saja. kamu juga harus mendengarkan penjelasan mengenai semua ini, karena Susi juga menantuku." sanggah pak Basil.


Istri pak Basil juga mengatakan demikian, dan Susi tetap duduk di samping Nania.


Lalu Susi pamit ke dapur untuk membuat minuman dan hal itu di ijinkan oleh pak Basil, dan tidak berapa lama, Susi sudah tiba dengan membawa teh herbal.


Setelah selesai menyajikan minuman tersebut, lalu Susi kembali duduk disamping Nania.


"Bapak ingin mendengar alasan Nania meninggal Dewa." ujar pak Basil dengan suaranya yang lembut.


"Semestinya bukan ini yang harus bapak pertanyaankan, karena bapak sudah jelas mengetahui bagaimana perlakuan Dewa terhadap ku."


"Itulah yang bapak sesalkan, Dewa melakukan itu untuk melindungi keluarga kita dan juga usaha kita.


Tapi Dewa tidak mampu bicara terus terang kepada mu, sehingga membuat mu sakit hati. semua itu hanya karena ulah perempuan itu." sanggah papa nya Dewa atas ucapan dari Nania.

__ADS_1


Lalu Dewa mendekati Nania dan kemudian jongkok di hadapannya, dengan air matanya yang berurai.


"Aku minta maaf Nania, aku salah dan sangat-sangat egois. ternyata aku sangat mencintai dari awal.


Tapi karena keegoisan ku, karena kamu unggul dalam segala dariku. aku mintak maaf atas keegoisan ku.


Berikan aku sekali lagi kesempatan, aku berubah menjadi yang terbaik sebagai suamimu dan anak kita serta untuk keluarga kita.


Aku mencintaimu Nania, hanya kamu yang ada dalam hatiku.


Aku mohon berikan aku kesempatan untuk kedua kalinya." pinta Dewa.


Matanya yang selalu mengeluarkan air mata dan juga itu terlihat penyesalan yang teramat dalam dan permintaan yang tulus.


Nania menatap bola mata Dewa, dan tatapan itu berbalas dari Dewa.


"Sebenarnya Nania sudah sempat jatuh hati padamu, tapi seketika itu hancur karena sifat mu yang susah berubah.


Aku benci saat kau bersama Geisya, atau perempuan lainnya.


Apakah kamu meragukan kalau Brian Satria adalah anak kandung mu?"


Dewa tidak langsung menanggapi perkataan atau pertanyaan dari Nania, malah pergi ke arah kamarnya.


Beberapa saat kemudian Dewa sudah datang dari kamar dengan membawa album foto dan kemudian duduk di hadapan Nania.


Lalu Dewa membuka album foto itu, dimana album foto itu adalah foto dari masa kecilnya.


"Brian sangat mirip dengan ku ketika masa kecil, Brian hanya mewarisi rambut mu yang sangat bagus dan juga sorot matanya yang tajam.


Tidak ada keraguan bagiku, jika seandainya kamu berbohong kalau Brian bukan anakku, itu langsung ketahuan.


Sebelum Nania kabur dari hidup ku, kita berulangkali melakukannya.


Kamu adalah menantu pilihan mama ku dan juga mendiang nenek ku, aku hanya gengsi mengatakan kalau aku mencintaimu sejak pandangan pertama.


Aku mempercepat pernikahan kita, hanya karena aku takut kalau Nania kabur waktu itu.


Jujur aku sudah menyelidiki latarbelakang mu dan begitu membuat ku langsung jatuh cinta, hanya saja aku takut tidak bisa membahagiakan kan mu karena kelumpuhan yang aku alami."


Dewa berhenti bicara karena suaranya tertutupi oleh tangisannya, kamudian Dewa berusaha tenang dan menyeka air matanya.


"Aku takut kalau Nania merendahkan ku, karena aku lumpuh.


Aku bukan pria yang sempurna, tapi kedua orang tua ku dan mendiang nenek ku. memilih gadis yang sempurna untukku."

__ADS_1


Ujar Dewa setelah Ia terlihat tenang, lalu Nania menuntunnya untuk duduk disampingnya.


__ADS_2