CINTA SANG PERAWAT

CINTA SANG PERAWAT
Pembacaan Wasiat.


__ADS_3

Tidak lama kemudian, terdengar suara mobil yang datang ke arah rumah mewah itu.


Seorang pria yang tidak terlalu muda, sudah masuk ke rumah tersebut dan langsung dipersilahkan duduk oleh mama nya Geisya.


"kita langsung aja ya bu."


Geisya dan mamanya langsung menyetujuinya dan mereka berdua sudah bersiap mendengarkan.


"seperti yang kita ketahui bersama, kalau saudari Nania sudah membuat surat penolakan waris terhadap semua harta kekayaan dari almarhum Brata Ankarbaya.


Untuk itu di jelaskan bahwa Nania tidak ada hak atas harta peninggalan dari mendiang Brata Ankarbaya.


Demikian bahwa saudari Nania tidak berkewajiban untuk membayar kewajiban berupa hutang yang di wariskan oleh almarhum Brata Ankarbaya.


Saat ini Ankarbaya group dinyatakan failed atau bangkrut.


Gedung utama kantor pusat Ankarbaya group sudah dilelang pemerintah, untuk keperluan membayar pajak dan juga kekurangan bayar pajak terdahulunya.


Sementara untuk pesangon karyawan dan juga untuk membayar hutang-hutang di perbankan.


Seluruh aset Ankarbaya group akan di jual dan saat ini masih dikelola oleh pihak pemerintah untuk menjamin pesangon karyawan.


Uang cash dan deposit atas nama Brata Ankarbaya, dan juga sisa kas Ankarbaya group akan di cairkan untuk menutupi hutang di bank.


Jadi yang tersisa hanya rumah ini, dan satu unit mobil yang di pakai oleh Geisya."


"sebentar...... sebentar......."


Mama nya Geisya menghentikan pengacara itu untuk melanjutkan pembacaan wasiat tersebut.


"Rumah mewah yang berada di dekat kantor pusat gimana? terus mobil ku kemana dan juga mobil kantor?"


"kan sudah ibu jual, karena ibu sudah mendapatkan....."


Pengacara itu menerima panggilan telepon, dan beberapa saat kemudian wajahnya terlihat agak lain.


Selama menerima telepon, pengajaran itu menatap tajam ke arah mamanya Geisya.


"Ternyata kurang bayar pajak, karena kelakuan ibu dan itu di audit ulang.


Ternyata lebih dari dugaan kami, hampir tiga puluh persen kekurangannya.


Untuk itu, rumah ini akan di lelang nantinya dan sisanya untuk ibu dan Geisya.


Sekian pembacaannya dan di harapkan ibu dan Geisya segera mencari rumah tinggal."


Pengacara itu langsung pergi, Geisya dan mama nya terlihat sangat marah, kecewa dan kemudian berteriak.


"sudah selesai ndok?"


Pak Sanusi bertanya kepada Nania, karena pria paruh baya itu mengikuti Nania ke rumah mewah itu.

__ADS_1


Nania hanya mengganguk dan kemudian pak Sanusi menuntut Nania untuk duduk di kursi roda tapi Nania menolaknya karena masih sanggup untuk berjalan.


"ehh........


Tunggu dulu, jangan main pergi begitu saja. gimana dengan nasib kami.


Apa tanggungjawab mu? setelah kau menerima kebaikan papa selama ini, lantas kau melupakan kami berdua."


Nania menoleh Geisya, tatapan Nania yang dalam kepada adik angkatnya itu akan ucapannya barusan.


"kamu lupa perjanjian kita?"


Geisya terdiam dan tidak berkutik setelah mendengar pernyataan dari Nania.


Lalu Nania dan pak Sanusi keluar dari rumah itu dan terdengar teriakan dari Geisya dan mama nya..


"ndok....


Bapak antar kemana nih? rumah sakit atau ke rumah?"


"rumah sakit aja pak, karena dokter belum mengijinkan Nania untuk pulang saat ini."


Pak Sanusi langsung melajukan mobilnya dan menuju rumah sakit Jawara, tempatnya di rawat.


Sepanjang perjalanan Nania, selalu menangis dan berulangkali pak Sanusi memberikan wejangan dan juga pelipur lara.


Terlihat Nania sudah mulai tenang, dan pak Sanusi baru terlihat tersenyum setelah Nania jauh lebih tenang.


Tidak berapa lama kemudian Dewa, datang bersama kedua orangtuanya.


Sungguh lihai benar Nania menyembunyikan kesedihannya, dirinya terlihat tegar saat berhadapan dengan suami dan mertuanya.


Setelah mengetahui menantunya sudah tegar, lalu bercengkrama beberapa saat dan akhirnya kedua orang tua Dewa pergi dan meninggalkan Dewa bersama Nania di ruangan tersebut.


"kamu sengaja menyuruh profesor gila, untuk melarang ku bertemu dengan mu?"


"ngomong apa sih mas, sudah jelas-jelas mas Dewa melihat ku terkapar lemah di ranjang ini dan bagaimana bisa Nania ngomong sama profesor Dadang."


"kamu benar-benar munafik Nania, semua yang kamu ketahui tentang Ranum itu hanya rekayasa mu bersama wartawan gila itu kan?"


Nania menatap tajam ke arah suaminya, tapi matanya sudah berkaca-kaca.


"Sapri bukan wartawan gila, dan aku tidak perduli apapun yang terjadi dengan mas Dewa dan perempuan itu.


Oh ya mas gimana keadaan kaki mu? apakah sudah bisa berjalan?"


"jangan mengalihkan pembicaraan Nania, kamu sengaja kan melakukan ini semua padaku.


Kau sengaja memburuk keadaan, sehingga semuanya kacau."


"terserah mas Dewa aja, mungkin besok Nania sudah keluar dari rumah sakit ini dan kita bisa memulai pengobatan mas Dewa lagi. karena Nania sudah berhasil membujuk profesor Dadang.

__ADS_1


Mudah-mudahan besok pagi obat-obat herbal itu sudah di kirim ke rumah kita."


Dewa hanya tersenyum kecut menanggapi ucapan Nania, tapi istirnya membalasnya dengan senyuman manisnya.


"apa sebenarnya tujuan mu Nania?"


"kepulihan mu mas Dewa."


"setelah itu apa?"


"kita lihat aja nanti, manusia yang berencana tapi Tuhan yang menentukan.


Berusaha untuk melakukan yang terbaik, sisanya di jalani aja.


Semua pertanyaan dari mas Dewa barusan, hanya waktu dan keadaan yang bisa menjawabnya."


Setelah mengucapkan hal itu, lalu Nania memalingkan wajahnya dari Dewa dan menatap ke arah pemandangan luar melalui jendela.


"Nania....


Saya belum bicara, kamu egois benar ya. apa kamu ngak pernah diajarkan sopan santun?"


Nania tidak bergeming dan hanya mengarahkan pandangan ke arah jendela kamar.


"bangsat....."


Ucap Dewa dan kemudian......


brak.....bram.....pras......


Dewa menghancurkan apa yang bisa di raihnya, dan Nania tetap tidak bergeming. karena sudah terlalu banyak barang-barang yang hancur karena ulah suaminya, lalu Nania menekan bel yang sedari tadi sudah di pegang olehnya.


Beberapa saat kemudian ruangan itu didatangi oleh dokter dan juga dua perawat.


"dokter....


tolong bawa orang itu dari ruangan ini, aku mau istrihat karena semalam begadang."


Dewa semakin marah dan memaki istrinya, lalu perawat itu memanggil petugas kebersihan dan kemudian membawa Dewa keluar dari ruangan tersebut.


"apakah mbak Nania ada terluka?"


"ngak ada dokter, hanya ngantuk aja karena semalam begadang menjaga jenazah Papa ku di rumah."


"baiklah lah kalau begitu, kami akan membiarkan mbak untuk istrihat selama tiga jam, nantinya kami akan datang untuk mengganti infus serta memberikan obat."


Nania tersenyum menanggapi penjelasan dari dokter, lalu dokter tersebut membantu Nania untuk menurunkan ranjangnya.


Setelah ruangan rapi dan bersih, lalu dokter dan perawat itu pergi meninggalkan ruang rawat Nania.


Seketika itu air matanya tumpah di kedua pipinya, hingga Nania tertidur karena sudah lelah menangis.

__ADS_1


Suara tangisan itu sudah hilang dan ternyata Nania sudah tertidur dan berada di alam mimpinya.


__ADS_2