
Bu Melda berkata bahwa produk dari Nania sangat luar biasa dan mengingkan lagi, tapi Nania sudah di hubungi dan akhirnya mengadu ke papa nya Nania.
Kemudian papa nya Nania, memberitahukan kalau Nania sudah bertugas di rumah sakit pemerintah ini.
Permasalahan dengan bu Melda dan suaminya sudah selesai, kini saatnya berhadapan dengan dokter Pras dan dokter Ahmad.
Kedua dokter itu, langsung membawa Nania keruangan dokter Iman, direktur rumah sakit yang dihormati.
"Nania...!" ucap dokter Imam ketika Nania masuk ke ruangan bersama dokter Pras dan dokter Ahmad.
"Iya, Dok. sekarang Nania berada disini sekarang dan sudah menjadi pegawai negeri sipil." ucap Nania dengan bangga.
"Dokter kenal sama putri profesor Dadang ini?" tanya dokter Ahmad yang terlihat penasaran.
"Kenal..! perawat terbaik di panti jompo bertaraf hotel bintang lima yang di pimpin oleh sepupuku.
Sepupuku juga dokter, namanya dokter Abraham. tapi...!" ucap dokter Imam yang terlihat penasaran.
"Profesor Dadang itu, mengangkat ku menjadi putrinya. karena Nania, menjadi asistennya yang paling berbakat dan cantik." ucap Nania dan kemudian tersenyum.
Karena senyuman Nania yang merekah dan akhirnya mereka tertawa bersama.
"Jadi begini Ners Nania, tim dokter bedah bersama ahli laboratorium mendapatkan mendapatkan mandat untuk melakukan penelitian akan satu serum yang nantinya akan digunakan paska operasi.
Tapi harus dengan pengobatan herbal yang paling efektif dan profesor Dadang adalah profesor yang terkenal menguasai obat herbal.
Tolong bujuk profesor Dadang, agar bisa bekerjasama dengan tim kami.
Berhubung Ners Nania adalah asisten profesor misterius itu, aku memasukkan ke daftar anggota khusus yaitu sebagai asisten profesor Dadang." ucap dokter Pras.
Pernyataan dokter Pras di dukung oleh dokter Ahmad dan juga dokter Imam.
Dokter Imam menambah akan ada instensif yang sangat dahsyat jika berhasil membuat serum tersebut dan ini demi kemajuan dunia medis Indonesia.
Intensif yang ditawarkan bukan main-main, setidaknya bisa membeli rumah yang cukup nyaman untuk ditinggali.
Bukan hanya itu, Nania bisa berpeluang besar menjadi kepala perawat.
Nania sudah mendapatkan gelar Ners dan menyelesaikan pendidikan profesinya serta menjadi sarjana.
Hal tersebut sebagai peluang itu semakin besar, berhubung juga kepala perawat yang sekarang sebentar lagi akan pensiun.
Nania segera mengeluarkan handphonenya dan terlihat menghubungi profesor Dadang.
"Halo pak, E!" sapa Nania yang sangat akrab dengan profesor Dadang.
__ADS_1
Setelah Nania mengutarakan niatnya, dan kemudian profesor Dadang akan pulang besok demi Nania dan juga penelitian tersebut.
Tiga dokter yang ada di ruangan tersebut, langsung bersorak gembira. karena akhirnya mereka berhasil mendapatkan informasi yang akurat tentang sang profesor yang misterius.
Berhubung pembicaraan sudah selesai, maka Nania kembali bekerja.
"Nenek...! tolong lah jangan ngomel-ngomel seperti ini. nanti Nania salah suntik." pinta Nania yang berhadapan dengan pasien yang seorang nenek.
Nenek yang bawel tapi berhasil di tenangkan oleh Nania.
Dokter Pras dan juga dokter Ahmad memperhatikan kinerja Nania dari counter perawat.
"Ners Nania, master of nenek-nenek." kata dokter Pras dengan nada suara yang kuat.
"Beginilah bedanya dengan perawat yang sudah berpengalaman dan ahli.
Rekan-rekan ku sekalian, perkenalkan Ners Nania. sudah berpengalaman mengurus nenek-nenek dan juga kakek-kakek yang bawel.
Karena Ners Nania, sudah berpengalaman di bidangnya. karena gadis cantik, sudah empat tahun bekerja di panti jompo.
Mulai hari ini, Ners Nania. akan selalu berhadapan dengan nenek-nenek dan juga kakek-kakek yang bawel." Sanggah dokter Ahmad.
Dokter Ahmad adalah dokter penanggung jawab di bangsal umum.
"Jangan gitu, Dok. sekali-kali bisalah Nania merawat pria genteng nan muda. masa nenek-nenek dan kakek-kakek yang Nania rawat.
Ingat ya, Dok. kita tidak boleh membeda-bedakan pasien, kita siap melayani tanpa memandang bulu."
"Benar Ners Nania, tapi Ners Nania adalah master of nenek-nenek dan kakek-kakek.
Kami mengandalkan mu Ners Nania, dan kami yakin kalau Ners Nania sanggup melakukannya." kata dokter Ahmad dengan tegas.
Lalu dokter Ahmad dan dokter Pras meninggalkan Nania yang masih bengong setelah deklarasi tersebut.
Seorang perawat yang sudah senior mendatangi Nania seraya menepuk pundaknya.
"Bangsal umum ini, adalah bangsal langganan nenek-nenek serta kakek-kakek yang bawel.
Terkadang aku kasihan melihat rekan-rekan kita yang menangis karena perlakuan dari pasien yang tidak punya hati.
Tapi baru kali ini, aku melihat seorang perawat yang sebentar bisa menenangkan pasien yang bawel.
Ners Nania memang luar biasa, nanti sore aku traktir makan." ucap perawat senior tersebut.
Perawat senior itu adalah kepala perawat yang masih menjabat dan dua tahun lagi akan pensiun.
__ADS_1
Nania hanya bengong dan Susi langsung menyadarkan sahabat nya itu.
"Itu artinya kamu yang akan menjadi penerus dari Ners Lince sebagai kepala perawat berikutnya." kata Susi yang terlihat bahagia.
Memang benar adanya, kalau bangsal umum itu selalu mendapatkan pasien lansia yang bawel dan lagi-lagi Nania bisa menenangkannya.
"Ners Nania, terimakasih." ucap seorang perawat yang masih muda.
"Terimakasih untuk apa?" tanya Nania yang masih terlihat bingung.
"Pasien yang baru ditangani Ners Nania, terkenal dengan mulut sadisnya. tapi Ners Nania mampu menundukkan si mulut sadis itu." jawab perawat muda itu.
Nania hanya tersenyum menanggapi pernyataan tersebut, dan itu membuat Nania merasa bersyukur pernah bekerja di panti jompo.
Pengalamannya merawat orang tua yang lansia, dengan background keluarga yang kaya raya.
Tentunya melatih mental dan juga menambahkan pengalaman bagi Nania sendiri untuk melayani pasien yang lansia.**
Esok harinya Nania, datang ke rumah sakit untuk bekerja dan ditemani oleh profesor Dadang.
Nania yang merangkul tangan profesor Dadang, hal itu membuat perhatian para petugas medis tertuju kepada Nania.
"Profesor Dadang...!" sapa dokter Ahmad yang menyambutnya.
"Siapa, Ya! maaf aku tidak mengenal anda." sanggah profesor Dadang.
Dokter Ahmad tidak berkecil hati, dan berusaha mengenalkan dirinya kepada sang profesor.
Lalu membawa profesor Dadang dan juga Nania ke ruangan direktur rumah sakit.
Ternyata di ruangan tersebut sudah menunggu dokter Imam yang didampingi oleh dokter Pras.
Mereka berdua menyambut kedatangan profesor Dadang dengan kehangatan yang tulus.
"Akhirnya aku bisa bertemu dengan profesor Dadang, terimakasih karena telah bersedia datang ke ruangan saya." ujar dokter Imam.
"Iya, kalau bukan karena putriku. Ogah datang kemari, mendingan ke rumah sakit di Amerika." sanggah profesor Dadang dengan angkuhnya.
Dokter Imam mengedipkan matanya ke Nania, untuk segera bertindak. karena dugaan mereka benar.
Dugaan kalau profesor Dadang adalah makhluk yang paling menyebalkan yang di muka bumi ini.
Sepertinya harapan ketiga dokter itu, jatuh ke tangan Nania. berharap Nania bisa menjinakkan profesor Dadang.
Sebagaimana Nania mampu menghadapi pasien lansia yang super bawel.
__ADS_1