CINTA SANG PERAWAT

CINTA SANG PERAWAT
Kejadian yang Tak Terduga.


__ADS_3

Pagi hari seperti biasa dan Nania mempersiapkan obat untuk suaminya, dan begitu tiba di kamar dengan membawa obat serta makanan untuk Dewa.


Akan tetapi Dewa terlihat menghubungi seseorang dan terdengar sangat intim pembicaraan tersebut.


Nania menunggu suaminya hingga selesai bicara dan kemudian meminta Dewa untuk segera sarapan.


Dewa tersenyum kecut dan kemudian makan, selesai makan lalu minum obat herbal dari Nania.


Lalu Nania mengoleskan minyak ke paha dan kaki Dewa.


"Geisya akan datang kemari."


Ucapan suaminya tidak ditanggapi oleh Nania, dan tetap fokus mengoleskan minyak tersebut hingga selesai.


Kemudian Nania meraih celana dan kemeja dari lemari, lalu memberikannya kepada Dewa dan membantu suaminya memakaikan pakaian tersebut.


"Aku mengundang Geisya datang kemari."


Nania tersenyum setelah selesai merapikan pakaian suaminya lalu menatapnya.


"Makanya mas Dewa harus rapi, biar Geisya senang."


Ucap Nania dan kemudian mengambil laptop dan buku catatan serta handphone miliknya lalu menoleh suaminya.


"Nania disamping ya, karena ada yang harus aku kerjakan, tugas dari profesor Dadang.


kalau perlu sesuatu, panggilan Nania aja. aku datang tepat waktu. karena kamu yang paling utama."


Ujarnya lalu pergi meninggalkan Dewa di dalam kamar.


Sudah seperti paket ekspres, karena Geisya sudah berada ruang tamu dan memanggil nama Dewa.


Tapi Nania tidak memperdulikan kehadiran Geisya di rumah itu dan melanjutkan langkah kakinya.


"Buatkan kami minuman."


Perintah Dewa kepadanya, karena suaminya sudah berada di ruang tamu menyambut kedatangan Geisya.


"Iya mas."


Jawab Nania dan berlalu ke dapur, Nania meletakkan barang-barangnya di meja dapur dan menyiapkan minuman serta cemilan.


Dengan ekspresi wajah yang biasa, dan seolah-olah tidak ada sesuatu yang mengganjal hatinya.


Nania menyajikan teh dan cemilan di meja, sementara Geisya terlihat menggoda Dewa dengan tubuhnya yang seksi.


"Mau kemana?"


Sang suami bertanya lagi kepada Nania, tapi ekspresi wajah Dewa sudah berbeda karena Nania bersikap tenang dan sepertinya tidak ada rasa cemburu.


"Nania di meja dapur kok, ngak jadi kesamping, kalau butuh tinggal panggil aja."


Jawab Nania seraya tersenyum, lalu meninggalkan Dewa dan Geisya di ruang tamu.


Dari ruang tamu, bisa melihat ke dapur dan juga meja dapur.


Dewa mencuri-curi pandang ke arah istrinya yang serius bekerja di depan laptop nya. padahal Dewa dan Geisya terlihat begitu intim saat bicara.


Akan tetapi Nania seperti tidak perduli dan lebih fokus ke pekerjaannya.

__ADS_1


Sampai Dewa hendak keluar rumah bersama Geisya, dan istirnya tetap tidak perduli dan terlihat menerima telepon dari seseorang.


Dewa sudah pergi bersama Geisya, tapi Nania malah sibuk menelepon.


Tapi beberapa saat kemudian, Dewa sudah tiba di rumah dan langsung menghampiri istrinya di meja makan.


"Kamu nelpon sama siapa?"


"Sama ibu mas, katanya ibu sudah bertemu dengan Nando adiknya Susi.


nantinya mereka akan pulang bareng ke Indonesia, dan itu artinya Susi akan segera menikah dengan Indra."


"Kapan mama dan papa pulang?"


"Lusa, karena masih urusan bisnis dan juga ada beberapa dokumen yang harus di urus oleh Nando sebelum ke Indonesia."


Sejenak hening dan Nania kembali mengerjakan pekerjaannya tanpa memperdulikan suaminya yang melotot ke arahnya.


"Kok melotot gitu mas? mas lapar atau bosan di rumah terus?"


"Aku bosan, temani aku jalan-jalan ke taman dekat komplek itu."


"Pas sekali, sekaligus melatih syaraf kaki mas Dewa. tunggu sebentar ya mas, ini file tinggal di kirim ke email profesor.


selesai....."


Nania langsung menutup laptopnya dan kemudian menatap suaminya.


"Nania ke kamar sebentar, mau ambil tas dan menyimpan laptop ini."


Nania beranjak dari tempat duduknya dan kemudian melangkahkan kakinya ke arah kamar.


Tidak berapa lama kemudian, Nania sudah siap pergi bersama Dewa dan tasnya sudah dipegang oleh Nania.


"Mbak Yuni...


bapak..."


Dewa terlihat kaget, karena suara Nania yang memanggil asisten rumah tangga dan pak Sanusi.


"Pak...mbak...


Kami jalan-jalan ke taman ya."


"Okey......."


Suara teriakan Nania disambut oleh pak Sanusi dan juga mbak Yuni dan tidak kalah kuat suara itu.


Dewa tersenyum dan ketika Nania menolehnya, dan kembali ke mode cuek dan Nania menggendong tangan Dewa untuk segera pergi ke taman.


Baru saja keluar dari rumah, tetangga mereka langsung menarik tangan Nania.


"Tolong istri ku mbak, sepertinya istriku hendak melahirkan."


Seketika itu juga Nania langsung berlari menuju rumah nya dan tidak berapa lama kemudian sudah datang dengan membawa tas dan kemudian berlari menuju rumah tetangganya.


Benar saja kalau istri tetangga itu sudah mau melahirkan, karena sudah pecah ketuban.


Nania langsung menolongnya hingga akhirnya berhasil dengan selamat melahirkan anak laki-laki yang sehat dan tanpa kekurangan apapun.

__ADS_1


Lalu menggunting ari-ari dan menjepit nya dengan peralatan medis miliknya.


"Alhamdulillah...


anak bapak dan ibu laki-laki, sehat dan tapi..." Ungkap Nania keheranan.


Bayi itu tidak menangis dan Nania melakukan prosedur untuk menyelematkan bayi tersebut.


"Sedot mulut bayi, seperti ini nih..."


Nania mencium mulut suami menyedot mulut Dewa.


"Seperti itu pak, buruan..."


Ujar Nania setelah selesai mencontohkan ke sang suami, lalu ayah bayi tersebut langsung melakukan perintah Nania.


uhuummm......uhu......


ue......ue.....eu......eu..... ue......


Ayah bayi itu tersedak dan di iringi tangisan dari bayinya tersebut, terlihat senyuman sumiringah dari Nania dan senyuman tangisan dari ibu bayi nya.


"Gimana rasanya pak, pahit atau asin?"


"Entahlah, ngak tau mengatakan."


Dengan polos nya ayah si bayi menjawabnya, dan bingung untuk menjelaskan rasa dari air ketuban yang terminum oleh si bayi.


Bayi tersebut langsung dibersihkan oleh Nania, dengan handuk yang sudah direndam ke air hangat.


Kemudian bayi tersebut di berikan kepada ibunya, tangisan bahagia meliputi keluarga tersebut.


"Ijin sebentar ya bu, aku mau mengecek ASI ibu."


Uhmmm.......


Nania bergumam dan tersenyum, lalu tangannya berpindah haluan ke dada kiri ibu tersebut.


"Good...


Ibu kasih ASI untuk pertama kalinya ke pangeran ibu, sembari menunggu ari-ari bayi keluar."


Lalu Nania membantu ibu bayi itu untuk dikasih ASI oleh ibunya dan kemudian Nania kembali memperhatikan bagian bawah.


"Ibu...


dorong sedikit seperti mau beol ya."


pinta Nania dan kemudian......


"Keluar sudah..."


Lalu Nania membersihkan semua dan meletakkan ari-ari bayi ke dalam kain kemudian dibungkus plastik.


Kemudian Nania meraih handphonenya, dan ternyata menghubungi bidan yang melakukan praktek mandiri yang tidak jauh dari komplek tersebut.


Tidak berapa lama kemudian bidan yang sudah berumur paruh baya mendatangi rumah tersebut.


Lalu memuji pekerjaan Nania yang rapi dan juga bersih.

__ADS_1


"Sepertinya semuanya sudah beres dan hanya perlu pengecekan berkala."


Ucap bidan tersebut, dan karena pujian serta ucapan terima dari kedua orang tua bayi tersebut, membuat Dewa tersenyum bangga kepada istirnya.


__ADS_2