
POV Geisya.
Geisya sedang antri untuk membayar belanjaannya, berupa pakaian yang bermerek. memang dirinya adalah pelanggan dari brand tersebut.
Akan tetapi kartu kreditnya tidak bisa digunakan, alasannya over limit. lalu Geisya memberikan kartu kredit yang lain dan sama saja.
Sudah lima kartu kredit dan semua dinyatakan over limit, terkahir adalah kartu debitnya dan ternyata saldonya sudah kosong.
"orang miskin tapi belagu, buruan dong...."
Begitulah ocehan yang ada dibelakangnya, orang lain yang sedang mengantri.
Akhirnya Geisya minggir dari barisan dan kemudian meraih handphonenya.
Beberapa saat kemudian, Geisya sudah selesai menelepon dan langsung menuju kasir dengan wajahnya yang menahan rasa malu.
"maaf ya mbak, saya tidak jadi beli. ada sedikit masalah dari pihak perbankannya."
"iya mbak...."
Geisya langsung buru-buru keluar dari toko itu dan kemudian langsung menuju parkiran lalu naik ke mobil dan langsung melajukan mobilnya.
Sesampainya di rumah dan Geisya langsung melemparkan tas nya, dan kemudian membanting segala sesuatu yang bisa diraihnya.
"kamu kenapa sih Geisya?"
Geisya yang ditegur mama nya dan langsung terduduk di sofa dan sorot mata menggambarkan amarahnya.
"Geisya malu ma....
Semua kartu kredit Geisya tidak bisa dipakai, bahkan kartu debit itu kosong saldo nya
Apa papa lupa membayar tagihan kartu kredit Geisya?"
"bukan lupa Geisya, tapi papa ngak punya uang untuk membayarnya."
"apa......?"
Kemarahan itu jelas terlihat dari raut wajahnya Geisya, karena papa nya yang berkata demikian.
Lalu Papa nya melemparkan tagihan kartu kredit itu kepada Geisya.
"kamu benar-benar gila Geisya, tagihan kartu kredit mu mencapai dua milyar rupiah.
pakai apa bayar nya Geisya? rumah kita di jual tidak cukup untuk membayarnya.
Lain lagi dengan tagihan kartu kredit mama mu, bisa-bisa gila dibuatnya."
"santai aja dong pah...."
Brata Ankarbaya menatap istrinya karena sanggahannya yang tidak tersebut.
Lalu Brata Ankarbaya melemparkan tagihan kartu kredit kepada istrinya, dan itu jauh lebih besar dari tagihan kartu kredit Geisya putrinya.
__ADS_1
"ini semua gara-gara kalian berdua, coba aja dulu Geisya yang menikah dengan Dewa, lalu papa bisa merger perusahaan.
Setidaknya perusahaan kita tertolong, seluruh utang perusahaan akan di akuisisi, dengan jumlah saham kita dan itu bisa menjadi sumber penghasilan yang sangat-sangat layak untuk kita.
Dengan Geisya yang menjadi istri Dewa, makan tentunya akan mendapatkan bagian saham dari Jaguar group.
Kalian berdua memang benar-benar egois dan hanya mengetahui belanja dan belanja."
Brata Ankarbaya terduduk lemas di sofa, dan kemarahannya itu masih jelas terlihat dari raut wajahnya.
Sepertinya Geisya memiliki ide, dan kemudian mendekati Papa nya.
"mama nya Dewa itu sedang di rawat di rumah sakit, jadi Papa dan mama ke sana aja untuk berkunjung.
Nantinya biar Geisya yang mempengaruhi Dewa, agar bisa menikah dengannya.
Dewa itu ngak cacat lagi pah, karena sudah di rawat oleh Nania."
"emangnya apa rencana mu."
Papa nya bertanya lagi, dan Geisya hanya tersenyum licik. sepertinya ada rencana besar yang akan dilaksanakan.
"Papa sama mama tenang aja, apapun yang menjadi milik Nania, dan itu merupakan milikku pada akhirnya.
Perempuan bodoh itu akan menyerahkan apapun kepada ku jika aku menginginkannya.
Nania tidak pernah bisa menolak ku, Geisya akan memaksanya untuk cerai dari Dewa."
Seketika itu mamanya langsung mendekati Geisya dan seolah-olah ada harapan yang dari putrinya itu.
Depak aja Nania untuk mendapatkan suaminya yang kaya raya itu, setelah Geisya mendapatkan Dewa, mama akan bertindak untuk mengambil alih Jaguar group itu.
Jika kita sudah dapat, kita depak juga si cacat itu. kan beres urusannya."
Mama nya Geisya sangat begitu yakin dengan rencana putrinya, dan mereka berdua tersenyum.
Sementara Brata Ankarbaya hanya bisa menunduk dan mengacak-acak rambutnya, sepertinya beban hidupnya begitu berat.
"tapi mama ngak melihat Nania waktu di pemakaman neneknya Dewa, kemana perempuan itu ya?"
Mama nya Geisya bertanya kepada sang putri, lalu Geisya melirik mamaknya.
"sakit kayaknya ma, karena waktu papa nya Dewa berkata akan memberikan yang terbaik untuk Nania sampai siuman.
Ntar Geisya korek informasi nya dari Susi, rekan kerjanya yang bego itu.
Sekarang ini, Geisya harus mencari tau kenapa perginya Nania.
Mama bertugas untuk mencari informasi sebanyak-banyaknya dari mama nya Dewa."
Mamanya Geisya begitu antusias, akan tetapi berbeda dengan Brata Ankarbaya yang masih terlihat lemas.
"papa kenapa sih?"
__ADS_1
Tegur istrinya, lalu Brata Ankarbaya menoleh istrinya dengan tatapannya yang sayu.
"coba aja papa mendengarkan nasihat dari Nania, pasti semuanya masih baik-baik aja."
"apaan sih pah, kok Nania lagi?"
Haaaa......
Napas dari Brata Ankarbaya terdengar berat, dan tatapan sayu itu menggambarkan penyesalan yang tidak berguna.
"dulu Nania berkata, lebih baik berinvestasi di pabrik farmasi karena progres jauh lebih menguntungkan dari pada perusahaan startup itu.
Nania juga menjelaskan kalau perusahaan startup itu adalah perusahaan musiman, yang belum tentu memberikan profit yang jelas.
Karena memiliki saingan berat, yaitu jasa perbankan yang saat ini sudah menyediakan berbagai layanan terbaik kepada nasabahnya.
Prediksi Nania mengenai layanan jasa keuangan dari startup itu, sudah banyak di lakukan di perbankan dan juga lebih baik.
Jika di bandingkan dengan farmasi rekomendasi dari Nania, perusahaan yang selalu memproduksi kebutuhan manusia dan siklus keuangan yang sehat.
Tapi kalian berdua sungguh menantangnya, dan sekarang semuanya hancur.
Perusahaan keluarga yang sudah dibangun oleh kedua orang tuaku, dan akan dinyatakan bangkrut.
Pajak yang harus dibayarkan dan juga pesangon karyawan yang mengharuskan menjual beberapa aset."
"ngak usah drama pah..
Aku hanya benci melihat Nania, tidak mau mengikuti apapun yang dikatakannya.
Seolah-olah dia paling mengetahui segalanya, anak yang tidak tau diri."
"cukup......
Papa ngak akan ikut dengan rencana kalian berdua, karena rencana kalian berdua selalu menjerumuskan ke neraka.
Semua harapan Papa sudah lenyap, papa hanya mencoba untuk menebus segala kesalahanku.
Lebih hidup miskin daripada menghancurkan kehidupan orang lain.
Terserah kalian berdua mau melakukan apapun, papa ngak mendukung dan juga tidak berharap banyak."
"ngak masalah kalau papa ngak ikut andil, karena Geisya dan mamak sudah lebih dari cukup.
Geisya hanya perlu menyingkirkan Nania dan mendapatkan Dewa.
Geisya ngak mau hidup melarat, Papa urus perusahaan ya."
Ujar Geisya kepada Papa nya dan kemudian mengajak mamanya untuk ke kamarnya, karena ada hal penting yang mereka ingin bicarakan.
Brata Ankarbaya hanya terduduk di sofa, lalu meraih handphonenya dan menghubungi seseorang.
Nampaknya gagal, karena beberapa kali mencoba dan tidak terjawab.
__ADS_1
Alhasil Brata Ankarbaya berdiri dan kemudian beranjak dari ruang tamu itu menuju ruang kerjanya di samping kamar pribadinya bersama sang istri.