CINTA SANG PERAWAT

CINTA SANG PERAWAT
Memulai Pengobatan.


__ADS_3

Ternyata Papa nya tidak bisa menahan tawanya lagi dan tertawa dengan kuat lalu menangis lagi.


Kemudian hening, lalu Papa nya menatap Nania dan berakhir ke arah Dewa.


"Mendiang nenek mu itu, dengan berapi-api mengatakan akan menjodohkan kau dengan kepala perawat di rumah sakit tempat Nania kerja.


baru kami ketahui kalau kepala perawat itu adalah Nania yang sudah menjadi istrimu.


nenek mu itu, tidak pernah salah menilai dan memilih orang. termasuk mama mu ini, karena nenek mu yang memperkenalkan papa dengan mama mu.


walaupun pada akhirnya mama menjadi cerewet seperti nenek mu dan juga istrimu.


tapi itulah perempuan, karena hati mereka yang lembut dan tidak mampu untuk berbuat kasar sehingga hanya bisa ngomel untuk meluapkan kekesalannya.


istrimu membawa kehangatan dalam keluarga ini, lalu membawa sahabat nya yang luar biasa untuk menjadi calon istri sepupu mu.


istilahnya beli satu dapat dua, dan itu adalah anugerah di keluarga kita ini.


papa ngak perduli tentang latar belakang Nania dan juga Susi, karena papa melihat secara langsung akan kualifikasi mereka berdua.


Dewa anakku, terima dan sayangi serta cintailah Nania.


kamu tidak akan mendapatkan perempuan lain sehebat Nania.


Nania sudah sangat tepat untuk mu, dan kamu Indra, jangan pernah kau permainkan Susi, karena kau akan berhadapan dengan om dan juga pak polisi itu.


paham kamu kan?"


"Siap .....


Indra paham om."


Jawaban yang tegas dari Indra, membuat mereka tertawa, dan suasana yang semakin membuat mereka semakin bahagia.


Akan tetapi Susi harus berangkat kerja, sehingga mengakhiri pertemuan mereka untuk saat ini.


"Mas Indra, antar ya."


"Boleh, tapi Arjun harus ikut."


Indra berusaha akrab dengan Arjun, dan akhirnya Indra berhasil mendekati adik calon suaminya.


Mereka bertiga sudah keluar dari rumah mewah kediaman keluarga Adidaya tersebut, lalu Nania pamit ke kamar untuk melakukan pengobatan kepada Dewa.


Obat sudah disediakan oleh Nania dan segera membawanya ke kamar.


"Kali ini mas Dewa harus telanjang ya, karena pengobatan akan dimulai dari pinggang sampai ke kaki.


karena mas Dewa sudah mandi, dan sekarang mas Dewa harus telungkup terlebih dahulu.

__ADS_1


bentar ya, di pasang dulu sprei yang tipis sebagai alas, biar jangan langsung mengenai bed cover."


Ujar Nania dan kemudian memasang sprei diatas bed cover, setelah terpasang dengan sempurna dan kemudian membantu Dewa agar membuka seluruh pakaiannya.


Dewa benar-benar telanjang dan Nania membantunya untuk telungkup.


Ternyata Nania mengusap obat herbal dari bahu hingga ujung kakinya, Nania melakukan dengan begitu telaten.


"Mas s Dewa sekarang telentang ya."


Dewa meraih handuk kecil yang ada didekatnya dan kemudian menutup anu nya dengan handuk kecil tersebut.


"Ngak usah di tutup, kan Nania istrimu. ngapain harus malu."


Dengan tersenyum Nania mengambil handuk kecil penutup anu nya Dewa dan menaruh handuk kecil itu ke bahunya.


Mulai dari pinggang hingga area paha, tidak luput di oleskan dan berakhir ke kaki.


Nania tersenyum ketika melihat anu suaminya yang sudah tegak, tapi Dewa malah memalingkan wajahnya.


Setelah selesai mengoleskan obat herbal tersebut, lalu Nania menutup tubuh suami dengan selimut yang agak tebal.


Lalu mematikan pendingin ruangan, dan terlihat Dewa hendak komplain.


"Sssstttt......


Pasien ngak boleh komplain, ini bagian dari pengobatan dan aku tetap disini bersama mu."


beberapa saat kemudian sudah tiba di dalam kamar, lalu Nania duduk di kursi dan berhadapan kaca yang ada di meja riasnya.


"Kamu sudah merasa berjasa setelah berhasil membuat profesor gila itu untuk praktek di rumah sakit Jawara."


"Dosis obat nya sudah ditambah ya mas, mungkin agak lebih panas dari yang biasanya."


Dewa terlihat kecewa karena ucapannya ditanggapi dengan berbeda.


Sang suami membahas profesor tapi istrinya membahas tentang dosis obatnya.


"Kamu benar-benar berhasil meluluhkan hati Papa dan mama, selamat ya. karena kamu bisa bermuka dua."


"Setelah tiga jam, baru mas Dewa bisa ke kamar mandi ya.


Kalau mau buang air, silahkan aja di tempat tidur, karena sudah Nania beri alas dibawah seprei itu."


Lagi-lagi Nania menanggapinya dengan berbeda, lantas hal itu membuat Dewa marah dan itu terlihat dari raut wajahnya.


"Dasar perempuan munafik, dasar pelac*r."


Tapi Nania tidak menanggapinya dan hanya meraih obat lalu meminum obat tersebut, kemudian meraih sprei dari lemari dan kemudian menaruhnya sebagai alas di lantai.

__ADS_1


Nania rebahan dilantai dengan beralaskan sprei, karena sang suami terus mengomel dan akhirnya Nania meraih handset dan menaruhnya di telinga lalu rebahan lagi.


Beberapa saat kemudian, Dewa seperti merasa panas. dikarenakan pengaruh dari obat dan juga pendingin ruangan yang telah dimatikan oleh Nania.


"Bangsat.....


Nania......


panas ini, kau mau menyiksaku ya. dasar perempuan Iblis. kurang ajar, dasar pelac*r."


Lagi-lagi Dewa memakinya tapi tidak respon dari Nania, hingga akhirnya alarm berbunyi dan barulah Nania bangkit lalu menghidupkan pendingin ruangan tersebut.


Kemudian Nania berjalan ke arah Dewa, lalu membuka selimut yang menutupi tubuh suaminya.


"Sudah berkeringat, tunggu dua jam lagi ya mas, habis itu mas Dewa mandi."


Dewa tidak menanggapinya dan hanya menatap tajam ke arah Nania dengan menahan segala amarahnya karena sudah di cuekin oleh Nania.


Sudah dua jam berlalu, dan kamar sudah rapi kembali di tata oleh Nania.


Kemudian Nania membuka selimut yang menutupi tubuh suaminya dan kemudian tersenyum.


"Mas Dewa mandi ya."


Tangan Nania di tepis olehnya, ketika hendak membantunya untuk duduk.


"Mas Dewa ngak mau mandi? itu obat akan panas lagi loh.


emangnya betah seperti itu? mau mandi ngak?"


Dewa tidak menanggapi perkataan istirnya dan berusaha untuk bangkit, seketika itu senyuman sumiringah dari sang istri karena dirinya bisa bangkit sendiri.


"Paten juga resep baru profesor ini ya, ya udah mas mandi sendiri ya."


Dewa mencoba keluar dari ranjang, dan ternyata dirinya sudah bisa melangkah kakinya walaupun masih agak kaku.


Nania tetap memperhatikan langkah demi langkah sang suaminya hingga ke kamar mandi.


Kursi sudah dipersiapkan oleh Nania tapi di campakkan oleh Dewa.


"Jangan dipaksakan, nanti jauh lebih fatal loh. mau lumpuh seumur hidup?"


Dewa tidak bergeming dan akhirnya duduk di kursi tersebut dan sang istri mulai membersihkan tubuhnya.


Selesai memandikan Dewa, lalu Nania juga mandi di depan suaminya itu.


"Kamu benar-benar pelac*r."


"Jika Nania pelac*r, berarti mas Dewa pria hidung belang yang menyewa pelac*r."

__ADS_1


Dewa akhirnya terdiam, seperti mati kutu di hadapan istrinya, begitu santainya Nania mandi di depan suaminya.


Selesai mandi dan hanya mengenakan handuk, Nania membawa suaminya ke kamar.


__ADS_2