
Terlihat pak Sanusi menarik kursi plastik dan lebih mendekat ke arah Susi, mungkin beliau sangat penasaran tentang kisah profesor Dadang.
"bapak kok ngak mudeng ya ndok, bukannya seorang dokter tidak bisa menolak pasien, tapi..."
"makanya profesor Dadang dapat gelar profesor gila bapak.....
Itu semua karena masa lalunya yang berat, beberapa kali dikecewakan oleh orang-orang yang dia sayangi.
Profesor Dadang bukanlah profesor biasa, bahkan beliau menjadi dosen tamu di luar negeri dan menjadi juru bicara di pengobatan herbal.
Susi bisa mengenal profesor itu dan bisa membeli obat herbal darinya, karena bantuan dari Nania.
Sahabatku itu beberapa kali membantunya untuk menerbitkan jurnal-jurnal ilmiah mengenai pengobatan herbal.
Karena Nania pernah mengabdi di pedalaman kalimantan, notabenenya masih menggunakan pengobatan tradisional.
Nania mulai belajar dari sana, dan mengenalkan beberapa tumbuhan liar maupun yang di tanam masyarakat setempat untuk si teliti oleh profesor Dadang.
Nania mengumpulkan semua data sebisanya, akan perkembangan kesehatan masyarakat setelah menggunakan obat-obatan tradisional tersebut.
menurut cerita dari Nania, masyakarat di pedalaman itu rata-rata memiliki kekebalan daya tahan tubuh yang luar biasa.
Termasuk kesehatan ibu hamil dan menyusui, alhasil Nania melakukan penelitian akan hal itu semua.
Lalu mendiskusikannya dengan profesor Dadang.
Profesor Dadang mengikuti Nania ke pedalaman Kalimantan itu, bersama tim profesor Dadang mereka melakukan penelitian.
Hasilnya sangat memuaskan, dan itu menjadi bahan jurnal ilmiah untuk sang profesor bersama Nania.
Oleh karena itulah Nania di tarik ke rumah sakit besar itu, dan menjadi kepala perawat.
Bahkan Nania menjadi tempat diskusi mulai dari dokter umum sampai profesor di rumah sakit.
Is the best memang dah sahabat ku itu, tiada lawan baginya.
Sikap ramah, kelembutannya dan juga ulet nya, yang menjadikan sahabat ku menjadi gadis yang sempurna.
Sebenarnya banyak sekali pria yang menyukainya, tapi Nania takut untuk jatuh cinta.
Karena pada akhirnya dia tidak bisa memiliki apa yang di inginkan.
Mengalah merupakan salah satu keahlian Nania, dan itu sudah lakoni olehnya selama bertahun-tahun.
Nania hanya menjadi pilihan terakhir atau alternatif.
Sehingga sahabat ku selalu pesimis mengenai alur cerita hidupnya dan memilih fokus bekerja dan melupakan urusan asmara."
"maaf ya ndok....
__ADS_1
Terlepas dari itu semua, dan kata si Omar itu. hanya ada dua perawat dan salah satunya itu ndok sendiri.
Bantulah ndok....."
"aduh bapak.....
Susi bukan nya ngak mau bantu, tapi percuma bapak.
Karena Susi pun harus melalui Nania, hanya sahabat itu yang menjadi pawang profesor gila itu.
Saking gilanya itu profesor ya, si beliau itu bisa berpindah-pindah klinik kalau sudah banyak di ketahui oleh orang.
Kita harus berupaya untuk membuat Nania dan ibu mertua nya segera siuman."
"kenapa harus ikut ibu mertuanya ndok, bukannya non Nania itu pawang nya?"
"memang betul, tapi karena pasien Nania, yaitu tuan muda bapak itu sudah menyakiti sahabat ku, yang merupakan murid terbaiknya.
Jadi.......
Ibu mertua Nania itu, harus ikut untuk membujuknya.
Nania dan ibu mertuanya harus mendatangi profesor untuk mintak maaf agar bisa melanjutkan pengobatan nya."
"ribet benar itu profesor ya."
"begitulah pak, makanya dapat gelar profesor gila."
"tapi obat herbal ini masih kurang, seharusnya paha dan kakinya pak Dewa harus di balut dengan obat herbal.
Apakah Nania melakukan nya?"
Dewa mengganguk dan seketika itu Susi menghela napasnya.
"jika sudah seperti ini, seharusnya pak Dewa di bawa ke klinik profesor Dadang dan melakukan ronsen terhadap sarat.
Nantinya profesor Dadang akan menambah beberapa bagian obat herbal tersebut, demi mempercepat pemulihan paska penghentian obat dan jalan yang di paksakan oleh pasien.
Butuh perawatan ekstra, sebagai pengobatan di awal. karena pak Dewa memaksakan diri untuk berjalan.
Obat yang tersedia sekarang pun hanya bisa untuk empat hari ke depan, dan minyak herbal masih cukup tiga atau empat hari ke depannya."
Lalu Susi mendekati Papa nya Dewa dan bersujud di hadapannya sambil mengepel kedua tangannya.
"Susi mohon pak, tolong berikan yang terbaik untuk Nania dan ibu mertuanya.
Nania itu orang baik, hanya karena Nania anak adopsi sehingga anak bapak memperlakukannya demikian.
Kalau memang anak bapak sudah tidak mau menerima Nania lagi sebagai istrinya, tolong kembalikan Nania dalam keadaan utuh kepada Susi, sahabat itu bukan sekedar sahabat bagiku, Nania adalah kakak, guru dan sekaligus rekan kerja ku yang terbaik."
__ADS_1
Papa nya Dewa meraih kedua bahunya Susi, dan menuntunnya untuk bangkit berdiri.
Terlihat pria yang berwibawa itu meneteskan air matanya di hadapan Susi, lalu menyeka air mata yang mengalir di pipinya.
"bapak janji akan memberikan yang terbaik untuk sahabat mu itu, dan nanti jika Nania sudah siuman.
Akan segera bapak membantunya untuk bercerai dari Dewa.
Bapak juga ngak tega melihatnya, perempuan sebaik Nania harus mendapatkan kekerasan dari anakku yang egois."
"baiklah kalau begitu, karena sudah sangat malam dan adik-adikku sedang menunggu ku di rumah.
Susi mohon pamit ya pak, tadi Susi sudah menjelaskan sama mbak Yuni untuk menangani obat herbal itu."
"biar saya antar."
"ngak perlu, saya punya kaki dan punya uang untuk membayar taksi."
Susi menolak bantuan dari Indra, dan langsung pergi begitu saja setelah berpamitan dan tentunya Indra begitu terlihat kecewa akan penolakan tersebut.
"baru kali ini seorang playboy di tolak cewek, kasihan deh lo."
Papa nya Dewa malah meledek Indra, karena ledekan tersebut membuat pak Sanusi dan mbak Yuni tertawa.
Lalu mbak Yuni berjalan ke arah dapur, untuk memeriksa obat herbal yang sedang di rebus.
"Papa bingung mau ngurus yang mana, mengurus mu di rumah ini atau mengurus mama dan istri mu di rumah sakit.
kalian begitu berharga bagi Papa, dan sulit untuk memilih."
"kita bagi tugas aja tuan, biar saya dan mbak Yuni yang mengurus tuan muda disini.
Tuan dan mas Indra bisa fokus mengurus non Nania dan nyonya serta pekerjaan."
"Indra setuju dengan ide pak Sanusi, kita pasti bisa melewati semua ini.
Biar Indra yang menghandle perempuan itu dan juga pekerjaan kita di kantor, kelak jika perlu sesuatu, Indra yang akan menemui Om di rumah sakit dan sesekali melihat mas Dewa ke sini."
Indra mendukung ide dari pak Sanusi, dan kemudian tersenyum menanggapi ide tersebut.
"nice.....
Om suka ide nya, terimakasih ya semuanya. karena sudah sangat membantu."
"sama-sama Om, lagian kita keluarga. sudah seharusnya saling tolong menolong dan demi kelancaran semuanya.
Semoga saja Tante dan mbak Nania lekas sembuh."
Hanya Dewa yang terdiam, sementara yang lainnya mengamini doa tersebut.
__ADS_1
Lalu Dewa memintak pak Sanusi untuk mengantarkannya ke kamar dan pak Sanusi pun melakukannya.