CINTA SANG PERAWAT

CINTA SANG PERAWAT
Perempuan Yang Dibeli.


__ADS_3

Nania juga tidak lupa memakai dress pilihan adik sahabat nya itu, Nania pulang ke rumah menggunakan taksi online dengan belanjaan yang sangat banyak dari butik Melati.


Begitu Nania tiba di rumahnya dan hanya disambut oleh mbak Yuni dan mengagumi kecantikan Nania.


"Ya ampun....


Nania lupa mbak mengambil perlengkapan medis dari tetangga sebelah."


Ujar Nania yang sedikit panik, lalu mbak Yuni menemani Nania untuk pergi ke rumah tetangga untuk mengambil peralatan medis nya yang tertinggal.


Nania dan mbak Yuni sudah tiba di depan rumah pak Darius, dan kemudian menekan bel yang terdapat tepat di samping pintunya.


"Nama saya Nania bu, tadi pagi saya dan bu bidan yang menolong mbak Fitri."


"Masuk lah masuk...."


Seorang perempuan paru baya, membuka pintu untuk Nania, dan langsung meminta Nania dan mbak Yuni untuk masuk ke rumah.


"Gimana mbak Fitri, apakah ada yang kurang atau merasa sakit di bagian tertentu?"


"Alhamdulillah ngak ada mbak Nania, kesini mau mengambil tas peralatan medis mbak ya."


Nania hanya mengganguk seraya tersenyum, dan kemudian Fitri mempersilahkan Nania dan mbak Yuni untuk duduk.


"Govin..... Govin......."


"Iya mbak....."


Ekspresi wajah Nania langsung berubah ketika mendengar nama Govin, dan perasaan tak menentu menyelimutinya akhirnya terjadi.


Pria yang dipanggil itu Govin itu datang membawa tas peralatan Nania dan pria itu adalah Govin yang ditemuinya di kafe.


"Ners Nania."


Ujar pria yang bernama Govin tersebut, dan terlihat Fitri tersenyum karena keduanya seperti sudah saling kenal.


"Kalian saling kenal ya?" ucap Fitri


"Ngak mbak, kalau begitu kami pamit pulang."


Jawab Nania dengan ketus, dan kemudian mengambil tas peralatan medisnya dengan paksa dari Govin.


Nania langsung menarik tangan mbak Yuni untuk segera pergi dari rumah tersebut, dan Govin mengejar Nania hingga akhirnya berhasil meraih tangan Nania.


Nania yang sudah berada di depan pintu bersama mbak Yuni, tapi Govin masih memegang tangan Nania dengan erat.


"Lepas...."


plak....prak........


Dewa yang tiba-tiba datang dan meninju tepat di wajah Govin.

__ADS_1


Karena keributan itu, penghuni rumah langsung mendatangi mereka yang berada di pintu masuk.


Darius dan bapak-ibu mertuanya menghampiri mereka, dan terlihat mereka sangat kaget melihat hidung Govin yang berdarah.


"Apa yang terjadi mas Dewa?"


Daris bertanya karena sangat penasaran, dan kemudian menarik tangan Govin agar melepaskan genggamannya di tangan Nania.


"Bangsat ini memegang tangan istriku, kurang aja benar."


Mendengar jawaban dari Dewa, lalu kedua mertua mertua Darius langsung menarik tangan Govin.


"Apa-apaan sih kau Govin? makanya cari istri kau, jangan memegang tangan istri orang lain sembarangan.


Katanya dokter, tapi kok nihil etika. heran mama melihat tingkah mu ini."


Kedua bola mata Govin yang berkaca-kaca dan seketika langsung meneteskan air matanya.


Tatapannya ke Nania begitu lirih dan sayu, berulangkali Govin menyeka air matanya.


"Ners Nania adalah calon istriku yang hendak Govin kenalin ke mama dan Papa.


tapi Nania memutuskan hubungan kami secara sepihak, Govin belum bisa melupakan Nania.


aku sangat mencintaimu Nania, selama ini aku belajar keras dan bekerja keras, agar cepat menjadi dokter spesialis.


Itu permintaan mu Nania, dan aku melaksanakannya tapi kamu memutuskannya secara sepihak tanpa alasan yang jelas.


Nania......


kembalilah padaku Nania, karena sebentar lagi aku menjadi dokter spesialis dan itu sudah bisa mencukupi kebutuhan keluarga kita kelak nantinya."


Dewa yang hendak menghajar Govin, karena pernyataannya dan Nania menghalanginya.


"Aku nyuruh kau untuk belajar agar segera lulus koas. tapi kau malah tidur dengan perempuan lain, kau bilang kau sayang dan cinta.


omongan kosong dengan cintamu itu, memang aku ngak ada hak melarang mu tidur dengan perempuan lain.


tapi bukan berarti aku harus menampung laki-laki sampah seperti kau di dalam hidupku."


Setelah berkata demikian, lalu hendak pergi dan langsung dicegah oleh Govin.


"Fitnah Nania, percaya samaku."


"Biji mata mu fitnah, jika memang fitnah dan kenapa kau harus dikeluarkan dari rumah sakit?


Itu karena kau meniduri pasien dan Geisya adikku di gudang rumah sakit. laki-laki sama aja, sama-sama brengsek."


Nania menepis tangan Govin dan pergi yang disusul oleh mbak Yuni, sementara Dewa masih berada disana.


"Urusan kita belum selesai."

__ADS_1


Ucap Dewa dan kemudian menyusul Nania ke rumahnya.


Nania sudah berada di dalam kamarnya dan seperti sudah melupakan kejadian yang barusan dan terlihat Nania baik-baik saja.


Lalu sang suami menyusul Nania ke kamar, sesamanya si kamar dan Dewa hanya menolah istirnya yang duduk di kursi.


"Kamu benar-benar perempuan jala*g, bisa-bisanya kau menggoda semua pria agar hidup mu berkelimpahan harta."


"Nania mendapatkan kabar dari profesor Dadang, kalau mas Dewa sudah dinyatakan pulih dan perlu medical cek sekali lagi.


Kalau bisa lusa ya, tolong mas Dewa kondisikan waktu dan tenaganya agar kelak tidak menghalangi jadwal yang di buat oleh profesor Dadang."


Dewa melempar pot bunga dari atas meja rias, tapi sepertinya Nania tidak memperdulikan hal itu.


"Kamu kenapa selalu mengalihkan pembicaraan, apa yang saya sampaikan dan kamu menjawabnya berbeda."


"Terserah mas Dewa aja." Jawabnya


Lalu Nania pergi dari kamar dan tangannya di raih oleh Dewa.


"Mau kemana? saya belum selesai bicara."


Nania menoleh suaminya, tapi matanya sudah berkaca-kaca dan pada akhirnya mengeluarkan air mata.


"Nania harus gimana mas Dewa, apakah mas Dewa pernah melihat ku menjadi pelac*r?"


Dewa terdiam karena tidak menjawab pertanyaan istrinya.


"Jawab mas Dewa, atau begini. apa maunya mas Dewa sekarang?"


Lagi-lagi Dewa hanya terdiam, karena tidak bisa menjawab pertanyaan dari istrinya. lantas membuat Nania hanya bisa duduk dipinggir ranjang.


Dewa menghampirinya lalu membuka pakaian istrinya dengan paksa, karena hal itu Nania langsung membuka seluruh pakaiannya hingga tidak tersisa satupun di tubuhnya.


Lalu telentang di ranjang dengan air matanya yang masih berlinang.


Kemudian Dewa menggagahinya seraya memakai istrinya dengan kata-kata yang tidak pantas yang merendahkan harkat dan martabat perempuan.


"Dasar pelac*r, perempuan bangsat..."


Nania tidak memperdulikan kata makian itu, dan hanya bisa pasrah digagahi sang suami dengan segala makian yang mengarah kepadanya.


Sepertinya Dewa sudah mencapai puncaknya dan langsung duduk, kemudian berlalu dari kasus dan menatap istrinya dengan tatapan yang tajam.


"Kenapa sih kamu ngak meronta-ronta atau menolak ku?"


"Saya hanya pelac*r bagimu, pelac*r yang sudah kamu bayar mahal.


tidak mungkin seorang pelac*r menolak tamunya untuk bercinta."


Jawab Nania dengan lirih, tapi air matanya terus mengalir di pipinya. lalu beranjak dari tempat tidur dan mengarah ke kamar mandi.

__ADS_1


__ADS_2