
Di dalam kantin rumah sakit kalista dan dua sahabatnya sedang makan siang sambil saling menggoda kalista yang sedang bingung dengan situasi saat ini.
" kalian malah godain aku terus , mending kalian kasih saran aku gimana ngambil keputusan biar gak ada penyesalan."
" ya gimana dong lis kalau aku sih mending pak satria, lebih jelas bebet bobotnya." jawab dinda dengan entengnya.
" iya sih din tapi hati gak bisa bohong aku masih mencintai hanan." jawab kalista.
" memangnya bagai mana dengan tanggapan pak satria setelah kamu kasih jawaban seperti itu lis." tanya risha
" dis sih setuju aja dengan jawaban yang aku kasih ris, aku masih bingung ris harus bagai mana."
" ya udah kamu coba lebih dekat dulu sama pak satria, kalau kamu merasa cocok kamu terusin aja."
"bukan itu masalahnya ris tapi aku masih berharap kepada hanan, aku harap dia yang menjadi pendamping hidup ku."
" kamu kasih waktu 2 bulan kalau hanan masih belum ada kabar kamu pilih pak satria kan beres." saran dinda
" aku setuju saran dinda lis, kamu coba dulu aja lis."
" ok aku akan kasih waktu dua bulan."
"suut" ucap dinda setelah melihat pak satria dari kejauhan.
" pak satria mau makan siang pak" tanya rara kepada satria dia menghadang jalan pak satria karena dia tau kalau pak satria ingin menemu kalista.
"iya aku mau ke kantin" jawab pak satria.
" satu tujuan kita pak, kita bareng ya pak."
" ya terserah ini kan jalanan umum." satria tidak menghiraukan ocehan rara di berjalan pergi meninggalkan rara
" cuek banget sih sama gue" batin rara dia pun berjalan mengimbangi langkah satria yang sangat cepat berjalan.
" selamat siang semua, apa kalian udah makan siang." tanya satria setelah dia sampai di meja yang kalista dan teman temannya tempati.
"belum sempet pak , masih mau pesan." jawab dinda.
"aku boleh pinjam kalista sebentar."
__ADS_1
"silahkan pak gak usah pinjam ambil aja pak."
"apa sih din"
satria tertawa mendengar jawaban dinda
" ya udah aku ajak pergi sebentar, ayo lis."
" tapi bagai mana dengan pekerjaan aku kak."
"udah itu gampang."
"udah sana pergi, dia kan bos semua bisa di atur " jawab dinda
" ya udah aku pergi dulu ya."
" da da . Kalista."
"ada yang panas ni" ucap dinda setelah rara berjalan di sebelah tempat duduknya.
namun rara hanya pergi dengan mulut manyun tanpa membalas ucapan dinda.
"udah lah din gak usah buat masalah, mungkin lagi males bicara."
" kamu menapa sih ris kok lemes, kamu sakit"
"enggak, ya udah kita ke ruangan kita yuk aku mau istirahat "
" kamu beneran gak sakit kan ris."
"enggak" jawab risha sambil berjalan ke dalam.
"kita mau kemana sih kak"
"kita makan berdua , setelah itu kita jalan."
"kamu tutup mata dulu kalista."
"kenapa harus di tutup kak aku kan jadi gak bisa lihat."
__ADS_1
" ya memang agar kamu gak bisa kamu lihat, aku mau kasih surprise sama kamu."
" ya udah aku nurut sama kakak."
" hati hati nanti kamu tersandung biar kakak pegangin ya."
hanya di balas anggukan oleh kalista.
" udah sampai belum kak "
"sebentar lagi sampai."
" udah sampai aku buka ya."
"iya "
pelan pelan satria membuka penutup mata yang di pakai kalista.
" surprise"
di depan kalista ada meja makan yang tersaji makan mewah, terdapat bunga mawar merah yang cantik dan juga lilin lilin indah yang menambah kesan romantis.
kalista tak bisa berkata kata dia merasa terharu karna perlakuan satria terhadap dia.
"ayo lis kita duduk" ucap satria sambil menarik kan kursi yang ingin di duduki kalista.
"kamu yang menyiapkan ini semua."
"kalau gak aku terus siapa, aku yang menyiapkan ini semua, tadinya aku mau ajak kamu nanti malam tapi nanti malam aku mau ajak kamu jalan jalan."
"kenapa kamu gak bilang sama aku, kan aku bisa menyiapkan pakaian yang sedikit bagus."
"kamu mau pakai baju bagus atau tidak kamu tetap cantik."
pipi kalista bersemu merah setelah mendapat pujian dari satria.
" ya udah kita makan,keburu dingin makanannya."
mereka makan dengan hikmat ya karna satria tidak suka jika sedang makan sambil bicara.
__ADS_1