CINTA SANG PERAWAT

CINTA SANG PERAWAT
Memberi Pengertian.


__ADS_3

Begitu tiba di rumah, Susi langsung menuju kamarnya dan Indra di cegah oleh kedua adik laki-lakinya Susi.


"Mas Indra, tunggu disini sebentar, Iya. Nando janji akan membuat kakakku cantik itu langsung mengajak mas Indra untuk pulang." ucap Nando.


Indra hanya bisa turut, sementara Melati sudah masuk duluan ke kamar kakaknya.


"Yuk, minum teh herbal dari profesor Dadang." Arjun mengajak Indra ke ruang tamu.


Sesampainya di ruang tamu, Indra menuangkan teh dan sedikit madu ke gelas Indra.


"Paket A5 komplit hadiah dari profesor Dadang untuk mas Indra dan kakak kami tercinta." ujar Arjun dan menyerahkan hadiah dari profesor tersebut.


Paket itu dalam kemasan kardus yang lumayan besar dan Indra menaruhnya di sampingnya.


"Profesor itu punya banyak uang, tapi kenapa kakak mu malah meminta obat-obatan ini sebagai hadiahnya?" Indra bertanya karena masih penasaran dengan hadiah itu.


"Jangan salah menilai, Mas. jika obat-obatan ini di jual, harganya senilai satu milyar lebih.


Mas Indra tahu sendiri, Lah. kak Susi tenaga medis, pasti lebih mengutamakan kesehatan daripada uang.


Kak Susi punya suami yang mapan, tentunya sudah memikirkan hal itu. Untuk mendapatkan obat herbal lengkap ini, butuh proses yang panjang dan rumit." jelas Arjun.


Indra hanya bisa bengong mendengar penjelasan dari Arjun.


"Begitu rupanya, semenjak mbak Nania memberi teh herbal untukku, rasanya fit selalu.


Jadi ini rahasia nya, Iya. beruntungnya aku punya istri yang hebat.


Rasanya beruntung banget dapat istri yang hebat dan juga punya tiga adik ipar yang hebat." sanggah Indra dan matanya berbinar-binar.


"Mas Indra...! Tolong mengerti keadaan kak Susi. mungkin mas Indra kesal karena bulan madu yang gagal."


"Siapa bilang gagal, kami berdua sudah cukup menikmati malam pertama kami.


Mas paham, Kok. persahabatan kakakmu itu dengan mbak Nania, bukan persahabatan kaleng-kaleng.


Mereka berdua ikhlas bersahabat, persahabatan yang indah rasa saudara.


Banyangkan saja, Lah. mbak Nania pasti sudah merencanakan untuk kabur tapi masih sempat-sempatnya untuk mencarikan tempat bulan madu yang sangat indah." ungkap Indra yang terlihat mengagumi sosok persahabatan istrinya.


Mereka berhenti bicara karena Melati dan juga Nando sudah membawa Susi ke hadapannya.


Susi duduk sujud dihadapan suaminya dan dengan segera Indra menuntunnya untuk berdiri dan kemudian Indra memeluk istrinya.

__ADS_1


"Mas paham apa yang kamu rasakan, pastilah akan melukai hati dan perasaan kita jika saudara kita disakiti oleh pasangannya.


Mas bersyukur bisa menikah dan punya istri seperti mu, wanita hebat dan luar biasa serta punya tiga adik yang luar biasa." ujar Indra yang masih memeluk istrinya dihadapan ketiga adik iparnya.


Susi melepaskan pelukannya dan menatap suaminya yang tersenyum.


"Kita pulang, Yuk." Susi mengajak suaminya untuk pulang.


Ketiga adik-adiknya Susi yang duduk dalam satu sofa panjang, hanya bisa mengangguk untuk menyetujui permintaan sang kakak.


"Kami bertiga sudah dewasa, sudah saatnya kakak kami berbahagia dengan suami tercintanya." kata Melati.


Dukungan juga datang dari Nando dan Arjun, agar Indra membawa istrinya pulang ke rumahnya.


Sebab sang kakak sudah punya suami, sudah selayaknya tinggal bersama suaminya.


"Kalau ada ada apa-apa atau perlu sesuatu, telpon mas atau telpon kakak kalian saja." ujar Indra.


Ketiga adik-adiknya hanya bisa mengangguk dan membantu untuk mengangkat barang-barang sang kakak.**


Sesampainya di rumah yang sudah dipersiapkan oleh Indra, sang istri terlihat mengaguminya.


Indra membuka laci meja yang terletak di sudut ruang tamu dan meraih sertifikat rumah tersebut.


Tapi mas ingin membelinya ketika sudah menemukan calon istri yang tepat nantinya.


Ketika melihat mu dirumah sakit waktu itu, dan mbak Nania mengenal mu dengan sangat baik.


Sehingga mas langsung memboking rumah ini untuk mu.


Tinggal mintak foto copy identitas mu saja dari mbak Nania.


Lalu membeli rumah ini dan membuatnya untuk atas nama mu." kata Indra kepada istrinya seraya menyerahkan sertifikat rumah tersebut.


"Kok bisa berpikir seperti itu? emangnya mas sudah yakin kalau kita berjodoh?" Susi bertanya karena penasaran.


"Entahlah, tapi yang jelas seluruh hatiku bergetar saat melihat mu pertama kali. ketika mas mengetahui kalau mbak Nania bersahabat dengan mu.


Mas sangat yakin kalau kita berjodoh, tanpa memikirkan resiko apapun dan hanya niat untuk membelikan rumah atas nama mu sayang."


Indra berhenti bicara karena istrinya mencium bibirnya dengan lembut.


"Dari kemarin mas Indra, tidak pernah membela si kampret itu. boleh Susi tahu alasannya?"

__ADS_1


"Buat apa membelanya, itu karena kebodohannya. mas sudah berulangkali menasihati Dewa.


Tapi nasihat itu seperti angin lalu, pada akhirnya penyesalan yang datang dan sibuk mencari istrinya.


Sekarang mas sudah punya istri, tentunya perhatian ku akan fokus kepada mu.


Mas tidak akan pernah melakukan kebodohan yang sama seperti sepupuku itu, karena mas tidak kehilangan istri cantik dan luar biasa serta tiga adik ipar yang hebat.


Melati pengusaha butik, Nando dokter spesialis bedah dan Arjun seorang polisi yang luar biasa.


Istriku sendiri asisten profesor Dadang yang aneh bin ajaib, semuanya sempurna sayang." jawab Indra dan kemudian mencium kening istrinya.


Mereka sudah berpelukan dengan erat dan saling tersenyum.


"Bagiamana dengan anak?" tanya Susi.


"Mbak Nania pernah keguguran lalu berkata, selama seorang perempuan masih punya rahim dan belum menopause.


Masih ada kesempatan untuk bisa melahirkan seorang anak.


Mas jelas mengetahui kalau istriku masih fresh, karena setiap bulannya awal atau pertengahan dan paling lama akhir bulan.


Terlalu sensitif dan mudah marah ngak jelas, itu artinya tamu bulanan.


Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, jika belum ada tahun sampai tiga tahun mendatang, kita memakai bantuan medis. Jika belum beruntung kita mengadopsi anak.


Anak bukan alat pengukur kebahagiaan, karena kita berdua yang akan terus-menerus menghadapi kehidupan ini.


Jikapun kita punya anak nantinya, setelah dewasa pastilah akan meninggalkan kita untuk memulai keluarga yang baru.


Kita berdua yang menjalani kehidupan kita, bukan berarti mas menolak untuk memiliki anak.


Jika kita di percaya sang Pencipta untuk memiliki anak tahun ini, tentunya mas akan menyambutnya dengan penuh kebahagiaan.


Tapi kalau belum, Iya. bersabar. sampai saatnya kita di karuniai anak." ucap Indra dengan tegas.


Lalu Susi mencium bibir suaminya lagi dan kemudian tersenyum.


"Kalau begitu, Yuk. kita buat anak." ucap Susi yang terdengar nakal.


Seketika itu juga Indra langsung menggonggong istrinya untuk masuk ke kamar pribadi yang sudah disiapkan oleh Indra.


"Waouu...!" Susi mengagumi kamar tersebut.

__ADS_1


Indra hanya tersenyum melihat istrinya, dan saat itu Susi langsung mengajak gulat sang suaminya.


__ADS_2