CINTA SANG PERAWAT

CINTA SANG PERAWAT
Nania sudah Pulih.


__ADS_3

Jam sembilan pagi dan Nania sudah diperbolehkan pulang oleh dokter, Dewa dan orangtuanya sudah bersiap pulang ke rumah.


Sesampainya di rumah dan Nania langsung menangis dan hal membuat kedua orangtuanya Dewa ikut menangis juga.


"bapak sama ibu kenapa menangis? non Nania juga kenapa menangis?"


Mbak Yuni yang menyambut mereka bertanya kepada kedua orangtuanya Dewa dan juga Nania.


"gimana ngak mbak Yuni, biasanya langsung disambut omelan dari nenek."


"iyaa....."


Kedua orangtuanya Dewa dengan serentak menjawab iya.


Untuk sesaat mereka bersedih karena mengenang kenangan bersama mendiang nenek yang sudah meninggalkan mereka.


"mas Dewa....


Yuk kita ziarah ke makam Nenek."


"jangan dulu ya, pamali ya. karena non baru keguguran."


Nania terdiam tatapan terlihat sayu, karena tidak bisa ziarah ke makam neneknya Dewa.


"Non...


Obat-obatan herbal yang non pesan sudah di dapur ya."


Nania langsung gerak cepat dan langsung di cegah oleh mbak Yuni.


"mau ngapain non?"


"menyiapkan obat nya."


"non Nania tenang ya, biar mbak Yuni yang mengerjakannya, nanti non Nania cukup memberitahu mbak."


Lalu Nania merangkul tangan mbak Yuni dan mereka berdua langsung menuju dapur, kemudian di susul oleh mama nya Dewa.


Mbak Yuni langsung membuka satu persatu obat-obat herbal dan dibantu oleh mama nya Dewa.


Nania yang duduk di kursi dan hanya memberi instruksi dan mbak Yuni yang melaksanakannya dan lagi-lagi di bantu oleh mama nya Dewa.


"tinggal nunggu mendidih."


Ujar Nania seraya tersenyum, demikian juga dengan ibu mertuanya dan juga mbak Yuni.


"Nania......."


Susi berteriak memanggil nama Nania, sahabatnya itu datang bersama Indra.


Kedua sahabat itu langsung berpelukan dan kemudian mereka menangis.


"sudah dulu ya acara menangis nya, sembari menunggu obat herbal mendidih. yuk kita makan."


Ujar mbak Yuni, lalu mereka semua menuju meja makan karena semua makan sudah tersaji di meja makan.

__ADS_1


Mereka semua makan bersama tanpa terkecuali, hal terjadi sejak Nania menjadi menantu di rumah tersebut.


Selesai makan bersama lalu mereka pindah ke ruang tamu, dan mbak Yuni menyajikan teh herbal untuk mereka semua.


"gimana kabar adik-adik ya?"


Susi tersenyum dan kemudian memeluk sahabatnya nya.


"terimakasih ya sahabat ku, berkat pertolongan mu, ketiga adik-adik kita sudah dikatakan sukses.


Nando sudah menjadi dokter spesialis bedah di rumah Singapura.


Arjun sedang menempuh pendidikan kepolisian, dan mudah-mudahan bulan depan sudah selesai.


Sementara Melati sudah buka butik, dan lumayan laris lah."


"Nando bukan ingin praktek di Indonesia?"


Susi menghela napasnya, dan kemudian menatap Nania dengan tatapannya yang sayu.


"setelah selesai menempuh pendidikan spesialis bedah plastik di Inggris, dan kemudian menyelesaikan PPDS (program pendidikan dokter spesialis).


Seharusnya Nando sudah bisa praktek langsung, namun di negara kita tercinta ini berbeda sayang ku.


Jika mau mendapatkan ijin praktek speaslis atau dokter umumnya, Nando harus mengulang nya di Indonesia dan sangat mahal.


Pada akhirnya Nando di rekrut oleh rumah sakit di Singapura itu, rumah sakit yang sering menjadi tujuan penduduk Indonesia untuk berobat."


uhmmm...uhmm.......


"kenapa ngak melamar di rumah sakit Jawara aja?"


Susi dan Nania sama-sama menatap papa nya Dewa, lalu secara bersama-sama mereka tersenyum.


"mungkin rumah sakit Jawara bisa menerima Nando, tapi bagaimana dengan ijin nya? sementara kepengurusan ijin harus beginilah dan harus begitu yang akhirnya membuat pusing tujuh keliling."


Susi berkata demikian, harapannya barusan langsung pupus ketika mengingat kepengurusan izin praktek.


"bapak dengar ya, kalau rumah sakit yang Susi maksud itu. bahwa dokter-dokter disana kebanyakan lulusan dari fakultas kedokteran Oxford."


"benar sekali pak, dan Nando adikku itu lulusan Oxford.


Mulai dari S1 hingga pendidikan spesialis dan langsung berada dibawah bimbingan profesor hingga menyelesaikan PPDS nya disana.


Semua itu berkat bantuan Nania, menantu bapak yang luar biasa ini."


"bawa aja seluruh dokumen yang ada, dan lamar lah ke rumah sakit Jawara.


Manejemen rumah Jawara tidak terlalu mempedulikan izin dari Indonesia, di rumah sakit Jawara juga ada beberapa dokter spesialis seperti yang di alami Nando adik mu itu.


Kebetulan nih, rumah sakit Jawara sedang membutuhkan dokter spesialis bedah plastik."


haaaaaaaa.......haaaaa.......


Susi dan Nania begitu kompaknya berteriak karena bahagia, seketika itu juga Susi meraih handphonenya dan menghubungi adiknya.

__ADS_1


Panggilan pertama tidak tersambung dan beberapa saat kemudian Susi menerima telepon dari adiknya itu.


Begitu bahagianya Susi memberikan kabar tersebut, dan langsung disambut bahagia oleh adiknya.


Sambungan telepon yang sudah di loudspeaker aktif, dan terdengar Nando berteriak memanggil Nania dan berulangkali mengucapkan terimakasih.


Terkahir nya Nando menitipkan salam kepada profesor Dadang.


Terlihat raut wajah yang tidak bersahabat dari Dewa, apakah dia cemburu saat Nania bicara dengan Nando?


"adik Susi kenal juga dengan profesor gila itu?"


"kenal dong mas Dewa, karena Nando mendapatkan rekomendasi dari profesor Dadang.


Profesor Dadang itu adalah guru besar di fakultas kedokteran Oxford dan juga kedokteran universitas Indonesia."


Nania yang menjawabnya, dan terlihat wajah sang suami masih terlihat cemburut.


"benar sekali, Nania lah yang merekomendasikan Nando ke profesor Dadang."


Kedua orangtuanya Dewa terlihat mengganguk dan mengagumi Nania, begitu juga dengan pak Sanusi, mbak Yuni serta Indra.


"emangnya mbak Nania sudah lama kenal dengan profesor kampret itu?"


Nania dan Susi tidak mengerti maksud perkataan Indra, dan siapa profesor kampret yang maksud oleh Indra.


"profesor Dadang."


"profesor Dadang....


Aku dah lama kenal dengannya, itu berawal ketika sedang lomba di fakultas kedokteran universitas Indonesia.


Saat profesor Dadang menjadi dewan jurinya dan menjadi patokannya.


Lalu tibalah ke pertanyaan atau sesi pengobatan alternatif yaitu obat herbal.


mungkin karena kecantikan ku, profesor Dadang menyukai jawaban dariku.


Terlihat sinis dan angkuh, tapi ada kejadian aneh.


Pas mau pulang setelah selesai lomba, dan saat itu tim ku menjadi juara satu.


Teman-teman lain dah pada pulang nih, tinggallah aku sendirian karena kebelet pipis.


Baru sadar kalau dompet ku ngak ada, akhirnya aku menemui profesor gila itu dan memberikan diri untuk meminjam uang untuk ongkos pulang.


Nania dapat uang nya, dan juga buku yang sangat tebal.


Terus profesor itu berkata. ' pelajari dan buat kesimpulan, setelah selesai baru temui aku'


bingung saat itu harus bagaimana dan profesor Dadang langsung pergi.


Sungguh aku benar-benar jantungan, tapi aku terima aja tanpa berkata apapun.


Ternyata buku yang sangat tebal itu adalah tentang pengobatan alternatif dan dibelakang buku tersebut ada alamat profesor Dadang."

__ADS_1


Cerita dari Nania disambut tawa dari mereka semua, terkecuali Dewa.


__ADS_2