CINTA SANG PERAWAT

CINTA SANG PERAWAT
Indra Melamar Susi


__ADS_3

Mereka hanya tertawa karena cerita lucu dan menegangkan dari Nania.


"kak Nania..... kak Susi....."


Seorang laki-laki tampan, berbadan tegap dan berpakaian polisi berlari menemui Susi dan juga Nania.


"Arjun....."


Nania langsung memeluk pria yang berseragam polisi tersebut dan itu hanya sebentar karena Dewa memisahkan mereka berdua.


Suasana terlihat sedikit tegang, karena Nania memeluk pria yang bernama Arjun dihadapan mereka semua, lalu Susi menarik tangan Arjun.


"namanya Arjun adikku yang nomor dua."


Arjuna yang berbadan tegap, tinggi dan juga tampan.


Lalu anak muda itu, bersalaman dengan kedua orangtuanya Dewa dan juga yang lainnya.


Ketika berhadapan dengan Dewa, tangan Arjun di tepisnya.


Akan tetapi Arjun malah di tarik Nania untuk duduk disampingnya.


"emangnya di ijinkan pulang?"


"Arjun sudah Sarjana loh kak."


Lagi-lagi Nania memeluknya begitu juga dengan Susi, mereka bertiga sudah seperti Teletubbies yang hobi berpelukan.


"bisa ngak sih ngak berpelukan?"


Akhirnya pelukan itu berakhir karena di tegur oleh Dewa.


"kemarin itu Arjun menelpon Melati, karena ngak bisa menghubungi kak Susi dan kak Nania.


Melati berkata kalau kak Nania sakit, dan setelah selesai sidang skripsi dan dinyatakan lulus, Arjun mintak ijin untuk pulang karena kakak pertama ku sedang sakit.


Arjun bahagia melihat kakak sudah pulih seperti ini.


Terimakasih ya kak Nania, terimakasih juga kak Susi.


Kalian berdua adalah kakak ku yang sangat luar biasa, Arjun tidak pernah melupakan jasa kedua kakakku yang cantik ini."


Wajah Dewa terlihat sangat cemburu, karena Arjun memeluk Nania dan juga Susi dihadapannya.


Lalu Dewa dan Indra secara bersamaan melepaskan pelukan itu, dan hal itu mengundang tawa gelak diantara mereka.


"ini mas Dewa, suami kakak. kalau yang itu tuh namanya Indra dan ngak jelas kabarnya dan juga ngak jelas apa maunya."


Ujar Nania yang memperkenalkan Dewa dan juga Indra.


Hal itu karena Arjun ingin mengetahui kenapa kedua pria itu selalu memisahkan mereka saat berpelukan.


Hal yang terduga terjadi karena Indra, mengeluarkan kotak kecil berwarna merah dari saku jasnya.


Ternyata itu cincin yang sangat indah dan kemudian Indra berlutut di hadapan Susi.


"dihadapan keluarga ku ini, dan juga dihadapan adik mu yang merupakan perwakilan keluarga mu.


Aku menginginkan engkau menjadi istriku...

__ADS_1


Susi.....


Maukah kau menikah dengan ku?


Dengan gagahnya Indra melamar Susi untuk menjadi istrinya, sementara yang dilamar hanya bengong.


"sebentar ya."


Setelah bengong beberapa saat, lalu Susi menarik tangan Nania dan juga tangan Arjun ke arah dapur, sementara Indra masih berlutut.


Nania, Susi dan Arjun terlihat berdiskusi di jalan arah mau ke dapur, diskusi mereka terlihat sangat intens.


Beberapa saat kemudian diskusi itu sudah selesai, lalu mereka bertiga menghadap Indra yang masih berlutut dan Nania mengambil alih.


"eh cecenguk...."


"apa itu cecenguk kak?"


Arjun bertanya kepada Nania, dan Nania mengangkat bahunya karena dia sendiri tidak mengetahui apa itu arti cecenguk.


"dengar ya.....


Kami sudah seperti keluarga, dan harus mendapatkan kesepakatan dan persetujuan dari yang lainnya.


Pertama, aku masih kurang yakin terhadap mu, karena mata mu itu suka jelalatan.


Kedua, Nando sebagai walinya nanti harus mendapatkan ijin darinya."


"Arjun setuju dengan persyaratan dari kakak."


crak.....


"jika kau menyakiti kakakku, pecah ku buat kepala mu ini."


Ujar Arjun dan terlihat Indra memejamkan matanya lalu Nania menyuruh Arjun untuk menyimpan kembali pistol nya tersebut.


Kemudian Nania menarik tangan Susi dan mengulurkan tangan sahabatnya ke arah Indra yang berlutut.


"aku bersedia menjadi istrimu, karena aku menyukai mu.


Tapi kita harus menunggu sampai Nando tiba di Indonesia."


Indra membuka matanya dan kemudian tersenyum, lalu melingkarkan cincin tersebut ke jari manis Susi.


"mas bersedia menunggu dan sekaligus membuktikan kepada keluarga mu, kalau cintaku murni dan tulus kepada mu."


prok.....prok.....prok........


Tepuk tangan yang meriah dari keluarga, terkecuali Dewa.


Ketika Indra hendak memeluk Susi, seketika itu langsung di todong senjata oleh Arjun dan kemudian Papa nya Dewa langsung menarik tangan Indra dan di dudukkan di sampingnya.


"main peluk aja, belum muhrim tau...."


Haha haha hahahaha hahahaha haha haha haha haha hahahaha haha haha haha haha...


Mereka tertawa dan kali ini Dewa sudah ikut tertawa berama mereka.


Gelak tawa itu menggelegar di ruang tamu, kemudian hening dan tertawa lagi.

__ADS_1


"terimakasih ya Nania, berkat mu. rumah menjadi bermakna lagi.


Ibu harap kamu selalu bersama Dewa, sampai akhir hayat."


Ucapan dari ibu mertuanya Nania membuat hening lagi, dan Nania hanya tersenyum menanggapinya.


"tapi nih iya, bapak benar-benar kesal dengan ulah dan sikap profesor Dadang itu.


Bapak bersama direktur dan jajaran rumah sakit sudah memohon agar profesor Dadang mau praktek di rumah sakit Jawara.


Tapi di tolak mentah-mentah olehnya, dan begitu Nania memintanya langsung setuju.


Benar-benar itu profesor ya, bikin pusing dan mumet kepala bapak."


Haha hahahaha hahahaha haha hahahaha haha haha hahahaha.....


"pawang di lawan."


Haha hahahaha hahahaha hahahaha haha hahahaha hahahaha haha.....


Susi yang tiba-tiba menyela pembicaraan, disela-sela tawa dan itu juga mengundang gelak tawa.


"Susi....


Hanya kami yang menjadi keluarga Indra, dan disini ibu menegaskan kalau Indra bukanlah pria brengsek.


Hanya saja suka jelalatan matanya liat cewek cantik.


Tapi setelah bertemu dengan mu, Indra berubah menjadi lebih baik.


Terimakasih ya sudah merubah Indra menjadi lebih baik, dan ibu sudah ngak sabar untuk melihat pernikahan kalian.


Sejujurnya ibu juga menyukai mu, walaupun Nania jauh lebih baik darimu."


Haha hahahaha haha haha hahahaha hahahaha hahahaha haha hahahaha haha....


Mereka tertawa lagi, karena ucapan dari mamanya Dewa.


Sudah di puji dan kemudian disandingkan lagi dengan Nania menantunya, lalu mamanya Dewa berdiri dan kemudian duduk diantara Nania dan juga Susi.


"kalian berdua adalah wanita yang hebat, dan ibu bersyukur karena memiliki menantu yang hebat dan sebentar lagi akan memiliki menantu yang hebat juga."


Nania dan Susi memeluk mamanya Dewa, rasa haru menyelimuti seluruh ruangan itu dan memancarkan kehangatan.


"Dewa......."


Dewa menatap mama nya, karena namanya di panggil, dengan berlinang air mata. mama nya Dewa menatap putranya.


"mama harap kamu bisa menghargai Nania istrimu ini.


Cintai dan sayangilah Nania, dari semua perempuan yang pernah kamu bawa, hanya Nania yang paling sempurna menurut mama.


Mama sangat menyukai Nania, dia begitu lembut dan penyayang.


Jujur mama akui, kalau istri mu hampir sama cerewet nya dengan mendiang nenek mu."


Papa nya tertawa dan itu si tahan olehnya, karena mimik wajah istrinya yang serius.


Alhasil papa nya Dewa berusaha sekuatnya untuk menahan tawa, karena menyamakan kecerewetan Nania dengan nenek Dewa.

__ADS_1


__ADS_2