
Susi terlihat bahagia tapi malu-malu ngak jelas karena dirinya dikatai cerewet oleh calon suaminya.
"Terimalah cinta dan kasih sayang ku, dan berharap kita bahagia sampai akhir hayat kita berdua."
"Susi menerima cinta dan kasih sayang mu mas Indra.
Berhubung ke-tiga adik-adik ku sudah pada bekerja dan bisa dikatakan mapan dan mandiri serta hutang di bank sudah lunas.
Rencananya Susi jadi ibu rumah tangga saja ya, Susi mau fokus mengurus mu dan keluarga kita kelak nantinya."
"Yesssss......"
hahahaha haha hahahaha hahahaha hahahaha haha...
Mereka tertawa lagi karena tingkah Indra saat mengatakan yes, sudah seperti anak kecil yang mendapatkan keinginannya.
"Nak Indra kok senang benar?" tanya pak Didi.
"Karena bahagia sebab calon istriku memilih menjadi ibu rumah tangga, bagiku seorang suami yang harus kerja banting tulang dan kemudian bersama-sama dengan istrinya untuk mengurus keluarga.
Karena sejatinya seorang istri itu dinafkahi dan tentunya di cintai dan disayangi.
menjadi ibu rumah tangga adalah profesi yang sangat berat, jika masih masih bekerja untuk membantu suami, tentunya itu membutuhkan ektra tenaga.
Secara pribadi aku melihat Susi adalah sosok perempuan yang hebat dan itu sudah terbukti karena telah berhasil mengantarkan adik-adiknya hingga berhasil.
Aku melihat jiwa keibuan dari Susi, dan itu benar-benar aku butuhkan.
Terkadang aku cemburu melihat om ku ini dan juga mas Dewa, karena istrinya memiliki hal yang aku inginkan."
"Tapi tante cerewet..!" ujar mama nya Dewa.
Seketika mereka tertawa lagi, karena sanggahan dari mamanya Dewa yang tiba-tiba.
"Iya...! Tante dan mbak Nania memang cerewet, demikian juga mendiang nenek.
Tapi Tante dan mbak Nania menjadi cerewet karena ada sebabnya, dan pada hakikatnya perempuan memang cerewet.
Indra jelas ingat kala itu, disaat Indra sakit dan tidak mau minum obat. lalu tante ngomel-ngomel dan akhirnya Indra mau minum obatnya.
Ketika Indra tidak mau minum teh herbal buatan mbak Nania, dan langsung diomelin.
apa susahnya hanya minum teh herbal, emangnya rasa nya jauh dari kata enak tapi setelah rutin mengonsumsinya, badan menjadi sehat dan bugar.
Intinya Tante dan mbak Nania cerewet demi kebaikan.
__ADS_1
Demikian juga ketika Susi ngomel karena aku suka minum kopi dengan kadar gula yang tinggi.
Itu semua demi kebaikan ku sendiri, jauh lebih sehat dan bugar.
Aku hanya ingin mencontoh teladan om, yang menjadi kepala keluarga yang menafkahi istri dan anaknya.
Lalu bersama-sama membina rumah tangga yang bahagia dan harmonis."
"Upssss...! ucap Nania.
Susi yang hendak memeluk Indra, tapi dilerai oleh Nania dan juga adik-adiknya.
"Sabar, sabar sahabat ku. semuanya ada tanggal mainnya." Ungkap Nania.
Akhirnya Susi hanya memeluk Nania sahabatnya itu, terlihat kedua bola matanya berkunang-kunang.
Selesai berpelukan lalu Nando memeluk Nania, berikut Arjun dan Melati.
"Terimakasih ya kak Nania, terimakasih atas semuanya. kalian berdua adalah kakak kami yang sangat cantik dan luar biasa.
Sebenarnya Nando agak sedikit kwatir, kalau kedua kakakku yang cantik ini lupa untuk menikah karena terlalu serius mencari uang."
Ucap Nando kepada Nania, dan hal itu membuat Nania melepaskan pelukannya dan tersenyum sinis ke Nando.
"Dengar ya Nando...! kami berdua hanya menunggu waktu yang tepat saja, karena kami berdua percaya bahwa perempuan yang baik dan spektakuler akan mendapatkan pria pendamping hidup yang spektakuler."
"Kalau begitu tolong kakak carikan pria yang spektakuler untuk Melati."
Haha hahahaha hahahaha haha hahahaha hahahaha haha...
Mereka kembali tertawa bersama dan kemudian menjadi hening karena Geisya dan mama nya tiba di rumah ini.
Hanya Dewa yang menyambut kedatangan Geisya dan mamanya, hal itu membuat susana menjadi kaku.
Sedari tadi haru dan juga bahagia tapi setelah kedatangan Geisya dan mamanya menjadikan suasana menjadi kaku.
"Nania adalah keluarga Geisya dan mamanya, jadi aku mengundang Geisya dan mamanya di acara lamaran ini." Ujar Dewa.
Nania menoleh suaminya dan fokus ke handphonenya, ternyata sedari tadi Dewa sibuk dengan handphonenya karena mengundang Geisya dan mamanya.
"Nania kok gitu...! sahabatnya sedang lamaran tapi mama kok ngak di undang?"
Ujar mamanya Geisya, yang menyatakan sebagai mama bagi Nania, tapi pertanyaan itu tidak di gubris oleh Nania dan hanya fokus ke handphone milik suaminya.
"Jawab Nania...! itu mama mu nanyain loh." ucap Dewa.
__ADS_1
Lalu Nania memalingkan pandangannya dari handphone Dewa.
"Tamu mas Dewa kan...! sambut sendiri aja."
Jawab Nania dengan cetusnya, lalu berdiri dari duduknya.
"Melati, yuk temani kakak menyiapkan makanan."
Pinta Nania, lalu menjulurkan tangannya kepada Melati untuk membantunya berdiri dan mereka berdua sama-sama beranjak ke arah dapur dan disusul oleh mbak Yuni.
Ketika Nania ke dapur bersama Melati, dan Geisya langsung mendekati Dewa. lantas membuat keadaan semakin kaku.
Beberapa saat kemudian Nania dan Melati sudah tiba di ruang tamu dan menyajikan makanan serta minuman yang dibantu oleh istri pak Didi.
Sebelum menyantap makanan dan minuman yang tersedia, pak ustad membacakan doa. selesai berdoa mereka bersama-sama menyantap makanan yang tersedia.
"Indra yang merupakan anak dari adik sepupu ku dan sudah kami anggap sebagai anak kandung kami.
Indra sudah sangat mantap dengan pilihan hatinya kepada Susi.
Kami sekeluarga sudah berdiskusi, apapun permintaan pihak keluarga mempelai perempuan atau Susi dan keluarganya dan kami bersedia untuk memenuhinya.
kapan kira-kira kita melaksanakan ijab kabul dan resepsi pernikahan nya?"
"Baiklah pak Basil, terimakasih atas kemurahan hatinya.
Kami sekeluarga juga sudah berdiskusi, dengan mengajukan untuk minggu depan dan tepatnya hari sabtu karena hari itu bertepatan dengan ulang tahun Susi.
Susi adalah anak yang pertama didalam keluarga kami yang akan segera menikah, kami memohon untuk akad nikahnya dan juga resepsi di kediaman kami ini.
Sebelah rumah ini masih tanah lapangan yang bisa di sewa, demikianlah kami sampaikan keinginan dan permohonan kami, kurang lebihnya bisa kita diskusikan sekarang."
Ungkap pak Didi yang menyampaikan keinginan keluarganya, papa nya Dewa terlihat melirik Indra dan dibalas dengan anggukan.
Demikian juga dengan mama nya Dewa serta Nania, sementara Dewa masih asyik ngobrol dengan Geisya dan mamanya.
"Baiklah kalau begitu, kami sekeluarga tidak bermasalah dengan tempatnya serta waktu yang ditentukan.
Kami siap dengan semuanya dan saat ini juga, Indra anak kami akan menyerahkan bagiannya untuk biaya akad nikah dan juga resepsinya.
Saya ingin bertanya pak, bagaimana dengan keamanan dan sebagainya?"
"Seperti tradisi kami disini, jika ijab kabul dan resepsinya di pihak keluarga mempelai perempuan, maka semua itu urusan kami sekeluarga."
"Sing penting duitnya pak, minimal untuk panjar."
__ADS_1
Sanggah pak RT yang menyambung ucapan pak Didi.