
Beberapa diantaranya adalah dokter satu angkatan dengan Fahri dan merupakan anak koas dibawah bimbingan Ners Nania saat dulu.
"Ners Nania, semakin cantik." rekan dokter Fahri memuji kecantikan Nania.
"Biasa saja memujinya, ntar suami marah." ucap dokter Fahri yang melihat Dewa duduk di kursi.
"Santai saja, sebentar lagi jadi mantan, Kok!" sanggah Nania dengan nada yang tegas.
Dewa terlihat sangat emosi dan juga marah tapi di pendam olehnya.
"Waouu...! Ners Nania cantik, Fahri menunggu janda mu." kata Fahri yang berusaha terlihat kren.
Hanya rekan-rekan dokter Fahri yang tertawa sementara dokter senior itu menahan tawa demi wibawa yang terjaga.
"Dokter...!" suara teriakan dari Susi yang meninggalkan suaminya di pelaminan demi bertemu dengan para dokter tampan yang datang.
"Pengantinnya aneh, masa kabur dari pelaminannya." Fahri menyindir Susi.
"Kurang ajar, Ya." ucap Susi seraya mencubit dokter Fahri.
"Tolong...!" Susi berteriak karena suaminya menggendongnya agar kembali ke pelaminan untuk menemaninya.
hahahaha... hahahaha... hahahaha... ' suara gelak tawa dari tamu undangan.'
Suara tawa itu menggelegar karena tingkah pengantin yang berbahagia itu.
Susi dan suaminya tertawa di pelaminan dan kemudian terdiam karena tamu yang tidak undang hadir memberikan selamat untuk mereka berdua.
Geisya dan juga mamanya bersalaman dengan pengantin seraya mengucapkan selamat.
Terlihat Dewa langsung menghampiri Geisya dan berusaha sok mesra.
Tapi Nania terlanjur asyik dengan kelompok dokter yang sangat tampan. walaupun para dokter senior sudah menua, tapi masih terlihat tampan dan kekar.
Tidak kalah dengan para dokter muda, sehingga menjadi kolaborasi pria-pria tampan yang akan melakukan show.
Nania begitu menikmati saat bersama para dokter yang tampan itu dan benar-benar melupakan Dewa yang sedang bersama Geisya.
Bahkan Nania menari bersama para dokter muda, dimana Fahri yang terlihat sangat dekat dengan Nania.
Api cemburu seperti membakar amarah sang Dewa, dan akhirnya pria itu menghampiri Nania yang sedang menari.
"Hargai suami disini, jangan terlalu vulgar seperti pelac*r yang hendak di sawer orang." ucap Dewa yang terlihat sangat emosi.
"Kamu lupa, Iya. bukannya kau berkata kalau aku adalah pelac*r. untuk apa kau ingat kan lagi.
Tuh ada pelac*r juga, lagi pula kau sudah biasa tidur dengan pelac*r yang itu." sanggah Nania.
"Ah... ahhhhhh...." Dewa menjerit kesakitan.
__ADS_1
Tangannya yang hendak menampar Nania, tapi di tanggap mantan perawat itu dan di pelintir kuat oleh Nania.
"Cukup Nania, ini pernikahan sahabat mu yang sudah kamu anggap sebagai keluarga mu.
Tolong jangan buat keributan, lepaskan tangan pengecut ini." pinta mama nya Dewa yang menghampiri Dewa.
Nania melepaskan tangan suaminya yang di pelintir olehnya, tatapan Nania begitu tajam ke arah Dewa.
"Jangan macam-macam sama ku, berani kau memperlakukan resepsi pernikahan sahabat ku ini.
Akan ku patahkan paha mu itu, agar cacat seumur hidup mu." kata Nania kepada suaminya dengan tatapannya yang tajam.
"Apa-apaan sih kamu, dasar..."
plak...plak...plak...plak... ' suara tamparan Nania di pipi Geisya.'
Geisya datang untuk membela Dewa, malah ditampar oleh Nania dan kemudian...
prak... bram...
Geisya di banting oleh hingga jatuh ke tanah dan...
Plak...plak...plak...plak.... ' kali ini suara tamparan di pipi mama nya Geisya.'
brak... bram..
"ahhhhhh...." mama nya Geisya berteriak kesakitan.
"Apa...! mau ku buat cacat seumur hidup? asal kau Dewa, sekali lagi kau terjatuh dengan mengenai area pinggul mu.
Kau akan cacat seumur hidup dan selamanya memakai kursi roda." ucap Nania kepada Dewa.
Karena Dewa hendak menampar nya, dan langsung di peringatkan oleh Nania.
Pelan-pelan Dewa mundur, tapi tatapannya begitu tajam ke arah Nania.
"Security... security..." Nania berteriak memanggil security.
"Seret kedua pelakor ini, karena mereka berdua adalah penyusup di sini. tidak ada yang mengundang mereka datang kemari." Nania memberikan perintah.
Tiga security itu langsung mengeluarkan Geisya dan mamanya keluar.
Setelah Nania pamit ke rombongan para dokter untuk pergi ke kamar mandi, tapi Nania malah di ikuti oleh ibu mertuanya.
Baru beberapa langkah keluar dari kerumunan, Nania langsung menarik tangan ibu mertuanya.
Nania memeluk ibu mertuanya, terlihat Nania meneteskan air matanya. dengan sigap, air mata langsung dihapusnya.
"Nania sudah menganggap ibu dan bapak sebagai orang tua kandung.
__ADS_1
Nania sayang sama ibu, jaga kesehatan dan harus makan teratur.
Nanti ada paket obat herbal yang Nania beli, mbak Yuni sudah paham kok cara buatnya. Jangan lupa minum dan tetap jaga kesehatan." ucap Nania kepada ibu mertuanya.
Lalu memeluknya lagi dan terakhir salin ke tangan ibu mertuanya dan mencium kening ibu mertuanya.
Sang ibu mertua hanya bisa bengong dan tidak paham akan apa maksud dari perkataan Nania.
Tapi jelas terlihat dari raut wajahnya, ada gambaran takut kehilangan.
Nania melangkahkan kakinya menuju pelaminan, dan langsung memeluk Susi, tapi air mata Nania tidak mengalir.
"Selamat berbahagia sahabatku yang merangkap jadi saudara ku, Nania sudah tenang setelah melihat mu di lamar pria yang baik." Susi terlihat bingung mendengar ucapan Nania.
Tapi Nania melangkahkan kakinya ke arah Indra dan menatapnya dengan tatapan yang tajam.
"Aku harap, kau tidak seperti sepupu mu itu." hanya itu di ucapkan oleh Nania.
Lalu menoleh ke arah ketiga adik-adiknya Susi, lalu memeluknya satu persatu.
"Aduh...! sakit kali perut kakak. bentar ke kamar mandi." kata Nania yang membungkuk dan memegang perutnya.
Lalu Nania melangkah kakinya dengan setengah berlari ke arah toilet yang sudah disediakan.
Nania terus melangkahkan kakinya, sementara ketiga adik-adiknya Susi masih kebingungan melihat sikap Nania.
"Kak, Nania seperti mau pergi jauh." ujar Melati tanpa sadar.
"Iya, Kak." jawab Arjun.
"Haaa...." Ucap mereka bertiga serentak.
Mereka baru sadar ada sesuatu yang salah atau ada yang aneh dari Nania.
"Ayo kita susul ke toilet." Ucap Arjun.
Lalu mereka bertiga menyusul Nania ke toilet, dan berhubung toilet itu khusus untuk perempuan.
Maka Melati yang masuk ke dalam, begitu masuk ke dalam dan Melati langsung memeriksa setiap bilik toilet.
"Kak.. kak... kak Nania!" Melati memanggil Nania.
Tapi tidak respon, lalu Melati mencarinya lagi untuk memastikannya.
"Kak...kak Nania...!" ucap Melati tapi dia sudah menangis.
Nania keluar dari kamar toilet dengan matanya yang merah karena menangis.
"Kak Nania, sudah kabur." ucap Nania kepada Arjuna dan Nando.
__ADS_1
"Kakak tunggu di depan saja, takutnya kak Susi kwatir karena tidak melihat kita. biar kami berdua yang mencari kak Nania." ucap Arjun dengan tegas.
Melati berjalan ke arah tempatnya sementara kedua adiknya akan mencari keberadaan Nania yang menghilang.