
Mereka yang ada di sana terlihat serius mendengarkan percakapan itu, beda halnya dengan Dewa yang asyik ngobrol dengan Geisya.
Kemudian Indra menyerahkan kartu debitnya kepada calon istrinya serta menuliskan nomor pin.
"Pak Didi dan keluarga, Indra sudah menyerahkan kepada calon istrinya untuk biaya yang diperlukan.
Kata Indra, isi atau saldo rekeningnya itu sebesar dua ratus juta lebih, dan itu di luar mahar yang akan kita sepakati malam ini.
Karena kami sebagai orang tuanya Indra, sudah berjanji akan memberikan maharnya secara khusus, lalu biaya pernikahan lainnya adalah urusan Indra."
Terlihat Susi dan keluarganya berdiskusi, dan tidak berapa lama kemudian mereka sudah selesai berdiskusi lalu Susi menatap calon suaminya.
"Untuk maharnya dan karena mahar dari bapak dan ibu.
hendaklah berupa emas perhiasan, sebagai pengingat dan sekaligus persyaratan dalam hal pernikahan.
Cukup satu cincin dan kalung perhiasan, tidak perlu mahal-mahal yang penting dari bapak dan ibu." ucap Susi.
"Baiklah kalau begitu dan kami sebagai orang tua Indra, dengan ini menyatakan untuk menyanggupi permintaan calon menantu kami yaitu Susi.
Untuk biaya pernikahan dan juga resepsinya, kelak jika ada kekurangannya dan kami bersedia untuk membayar kekurangan tersebut."
"Mohon ijin pak Basil, dengan uang sebanyak itu, tentunya itu tidak akan kurang. jikapun ada kekurangannya itu menjadi tanggung jawab keluarga mempelai perempuan.
karena keluarga kami yang meminta kepada keluarga calon mempelai pria nya untuk acara akad nikah dan resepsinya diadakan disini."
"Benar seperti itu bapak, jika kelak nanti ada amplop dari para tamu dan akan di hitung, kemudian akan dilimpahkan untuk menalangi kekurangan jika ada.
selebihnya akan diberikan kepada pengantin, untuk dipergunakan sebagai bekal hidup.
Terimakasih bapak dan ibu, terutama untuk nak Indra, terimakasih atas cinta dan kasih sayang mu terhadap putri kami.
Sebenarnya Susi, yaitu calon istri nak Indra. menyerahkan semuanya kepada nak Indra tentang ijab kabul dan resepsinya.
Tapi kami memohon kepada Susi dan adik-adiknya agar dilaksanakan di tempat kami ini.
Berharap kelak nantinya adik-adik dari Susi ini, segera menyusul. sekaligus menjadi motivasi bagi adik-adiknya.
Susi merupakan kakak panutan bagi adik-adiknya karena keuletannya dan juga kegigihannya.
Susi merupakan sosok kakak perempuan yang hebat dan luar biasa, dan menjadikannya sebagai contoh atau panutan yang tepat."
Ucap istri pak Didi, yang mendukung perkataan suaminya.
__ADS_1
Kedua bola matanya terlihat berkaca-kaca dan pada akhirnya air mata itu menetes di pipinya.
"Udah dong bude, jangan mewek gitu. ini acaranya bahagia Susi loh, kok bude malah mewek gitu?"
"Gimana ngak mewek, karena kakak kebanggaan dari adik-adik mu akan menikah dengan pria yang luar biasa."
Sanggah bude nya Susi, dan hal itu membuat mereka tertawa.
Menangis karena bahagia, dan itulah yang tepat untuk saat ini. tapi berbeda dengan Nania yang hanya terdiam melihat suaminya sangat akrab dengan Geisya.
Semua sudah disepakati dan pernikahan akan di urus oleh keluarga Susi, sang calon suaminya hanya perlu mempersiapkan dirinya.
Selanjutnya mereka mendengar tausiyah singkat dari pak ustad mengenai pernikahan, tapi tingkat Geisya yang sok manja kepada Dewa terlihat sangat menjijikkan.
Tausiyah singkat telah berakhir dan pak ustad pamit untuk pulang, demikian juga dengan yang lainnya setelah mengakhiri acara lamaran.
Geisya dan mamanya masih tetap berada di tempatnya, tatapan mata papa nya Dewa begitu tajam ke arah Dewa.
Jelas terlihat dari raut wajahnya penuh dengan amarah dan emosi yang dipendam.
"Nania...! ayo pulang."
Pinta ibu mertuanya dan mereka sama-sama berdiri dan kemudian berpamitan dengan Susi dan juga adik-adiknya.
Sepanjang perjalanan menuju rumah, mereka hanya terdiam, hanya suara mesin mobil yang terdengar.
Hingga akhirnya mereka tiba di rumah, lalu Indra pamit untuk pulang ke rumah tapi di cegah oleh Nania.
"Apapun yang terjadi di keluarga ini, kamu harus tetap menikahi Susi.
Tolong tepati janjimu, janji yang telah kau ucapkan kepada Susi di hadapan kami dan tolong bahagiakan sahabat ku itu."
Indra menatap wajah Nania, lalu tangan Nania lepas dari lengan Indra.
"Terimakasih ya mbak karena telah memperkenalkan gadis yang sempurna untuk Indra.
Selama jantung ini masih berdetak, dan selama itu juga Indra akan membahagiakan Susi."
Lalu papanya Dewa berjalan ke arah Indra dan memeluknya dengan erat.
"Jangan kamu ulangi kebodohan mas itu, sepertinya Ia siap kehilangan istrinya yang paling sempurna.
Sayangi dan cintai apa yang sudah menjadi milik mu, jangan buat dirimu menyesali kebodohan mu sendiri."
__ADS_1
Ujarnya papa nya tepat di telinga Indra, lalu melepaskan pelukannya dan kemudian beranjak ke arah kamarnya.
Beberapa saat kemudian papa nya Dewa menoleh Nania, dengan berurai air matanya mengalir di pipinya yang sudah mulai keriput.
"Nania...! papa bahagia punya menantu seperti mu.
Papa akan mendukung mu, apapun yang kamu kehendaki termasuk jika harus bercerai dengan Dewa."
Ujar papanya Dewa, dan sang ibu mertua menangis hingga sesenggukan.
Basil yaitu papa nya Dewa, mendekati istrinya lalu memeluknya. kemudian menuntunnya masuk ke kamar.
"Ibu juga bahagia punya menantu seperti mu, tapi belum ikhlas jikalau Nania bercerai dengan Dewa."
Timpalnya dan bersama suaminya beranjak ke arah kamarnya.
Nania meninggalkan Indra yang berdiri mematung di ruang tamu itu, dan pada akhirnya meninggal ruang tamu.
Sesampainya di kamar, Nania langsung menuju kamar mandi dan menyalakan shower.
Tanpa membuka pakaiannya, Nania berdiri di bawah pancuran air shower dan air matanya yang menyatu dengan air shower.
Entah berapa lama Nania berada dibawah pancuran shower, dan tersadar dari kegelisahannya setelah mendengar pintu kamar terbuka.
Nania segera menyudahi kegiatannya, dan kemudian mengeringkan tubuhnya lalu mengenakan pakaian rumah.
"Mas Dewa mau mandi?"
Tanya Nania kepada suaminya, tapi pernyataannya tidak dijawab dan Dewa memilih untuk tidur.
Nania berjalan ke arah meja riasnya, dan mengeringkan rambutnya yang basah.
Setelah melihat suaminya tertidur, lalu Nania beranjak ke sofa dan memilih untuk tidur di sana.
Nania menggigit selimutnya agar tidak mengeluarkan suara tangisnya, dan dirinya berusaha agar tidak mengeluarkan suara tangis agar tidak menggangu suaminya.
Tangisan itu tidak kunjung reda, dan terlihat Nania semakin kuat mengigit selimut nya agar tidak mengeluarkan suara tangisnya.
Menahan tangisan itu sungguh berat, sangat nyesek di dada dan hampir kesulitan untuk bernapas.
Sebagai tenaga medis yang profesional, Nania berusaha tenang dan berusaha untuk tidak menangis lagi.
Karena tangisan itu akan membuatnya menderita dan kesakitan.
__ADS_1
Napas yang tersendat dan dadanya sesak, itu bisa membahayakan dirinya seketika, karena itulah Nania berusaha untuk tidak menangis.