
Dewa bersama istrinya mengunjungi profesor Dadang di ruang praktek, profesor Dadang langsung memeriksa keadaan Dewa.
Dewa seperti tidak dianggap, karena profesor Dadang hanya mau bicara dengan Nania. beberapa Dewa bertanya kepada sang profesor dan selalu tidak jawab oleh profesor.
"Nania, suami mu sudah pulih. selamat anakku, suamimu tidak cacat lagi."
Nania hanya tersenyum menanggapi perkataan dari profesor Dadang.
Selesai medical cek up, mereka berdua langsung meninggalkan ruangan profesor tersebut, terlihat wajah Dewa masih kesal karena di cuekin oleh profesor Dadang.
"Mas Dewa, gimana hasil medical cek up nya?"
Geisya bertanya kepada Dewa, dan entah dari mana perempuan itu mengetahui kalau Dewa hari ini medical cek up.
"Sudah pulih total, dan aku sudah bisa bekerja lagi di perusahaan papa."
"Bagus dong kalau begitu, hari ini mas Dewa mau kemana?"
"Ngak kemana-mana, jalan yuk."
Ujar Dewa tanpa memperdulikan istrinya yang bersamanya saat ini, Nania hanya mematung menatap menatap mereka berdua.
"Kak Nania mau ikut kami?"
"Ngak perlu Geisya, aku mau menjemput bapak ibu mertuaku ke bandara, adi kalian bebas mau kemanapun.
Bentar lagi pak Sanusi akan tiba disini, biar kami saja yang menjemput bapak dan ibu.
Mas Dewa bisa menemani Geisya kemanapun, dan nanti jika ibu bertanya. Nania akan memberitahu kalau mas Dewa pergi bersama Indra."
"Baiklah kalau begitu."
Sanggah Dewa, lalu pergi bersama Geisya dan meninggalkan istrinya di dropship rumah sakit Jawara.
Tidak berapa lama pak Sanusi tiba di dropship rumah sakit, jika Nania sudah duduk dibelakang supir, itu artinya mantan perawat itu sedang tidak baik-baik saja.
Pak Sanusi tidak berani untuk mengajaknya ngobrol, mereka berdua hanya terdiam hingga tiba di bandara.
"Kak Nania..."
Sandro namanya, adik dari Susi sahabatnya yang sudah menjadi dokter spesialis bedah plastik.
Sandro langsung memeluk Nania setelah melihatnya, dan begitu juga ibu mertuanya tapi sesaat kemudian melihat sekelilingnya karena hanya pak Sanusi yang menemani Nania.
"Suami mu kemana?" Tanya ibu mertua nya
Nania harus berbohong kalau Dewa ada urusan dengan Indra asistennya, tapi bapak ibu mertua nya seperti ngak percaya.
__ADS_1
"Kalian berantam lagi?"
"ngak loh bu, tadi setelah menemui profesor Dadang. mas Dewa ditelpon oleh Indra, katanya hal penting yang mau disampaikan."
Mendengar penjelasan dari Nania, akhirnya bapak ibu mertuanya mempercayai ucapan Nania dan mereka langsung bergerak menuju rumah sakit.
Tujuannya adalah untuk memperkenalkan Sandro ke pihak rumah sakit Jawara.
Berhubung masih siang, dan jalanan agak renggang sehingga tiba dirumah sakit lebih awal dari perkiraan waktu.
Begitu sampai di dropship rumah sakit dan langsung disambut oleh direktur rumah sakit dan jajarannya.
Lalu berbincang dan memperkenalkan Sandro, untuk menjadi dokter spesialis bedah plastik.
Dokter Sandro adalah lulusan kedokteran universitas Oxford, dan sudah bekerja selama tiga tahun di rumah sakit terkenal di Singapura.
Alhasil Sandro langsung diterima oleh direktur rumah sakit Jawara, karena kualifikasi yang dimilikinya.
Sandro akan mulai kerja besok pagi, dan saatnya dokter yang tampan itu akan istrihat, begitu juga Nania dan bapak ibu mertuanya.**
Begitu tiba di rumah, kedua mertuanya Nania sangat terkejut ketika melihat Dewa yang duduk bersampingan dengan Geisya.
"Indra mana? kok Dewa sama perempuan ini?"
Dewa tidak menjawab pertanyaan mamanya dan hanya mengangkat kedua alisnya, hal itu membuat kedua orangtuanya bingung.
Ujar Dewa, tapi istirnya itu tidak bergeming dan menundukkan kepalanya ketika bapak ibu mertuanya menolehnya.
"Namaku Geisya loh tante, masa tante lupa samaku?"
Geisya dengan sok akrabnya kepada mama nya Dewa, tapi dicuekin dan kemudian beranjak ke kamarnya yang disusul oleh papa nya Dewa.
"Nania, buatkan kami minuman. oh iya, tadi mantan pacar mu nyariin kamu tuh."
Nania tidak menggubris perkataan suaminya dan kemudian melangkahkan ke dapur. lalu membuatkan minuman untuk suaminya serta tamu itu.
Nania menyajikan minuman itu, dan seolah-olah tidak ada sesuatu yang terjadi, lalu pamit setelah selesai menyajikan minuman.
Tidak berapa lama kemudian, Dewa menemui istrinya yang duduk di meja rias seraya membaca buku.
"Buku apaan yang kamu baca?"
Dewa bertanya seraya mengambil buku yang dibaca oleh istirnya.
"Untuk apa kau membantuku profesor gila itu? masih kurang uang belanja mu?"
Nania hanya tersenyum menanggapi pertanyaan dari sang suami, lalu berusaha meminta kembali buku yang disita oleh Dewa.
__ADS_1
"Nania membantu profesor Dadang, sekaligus belajar. karena pengobatan herbal sangat mempuni.
jarang loh punya kesempatan untuk belajar dengan profesor Dadang.
Menurut bapak, rumah sakit Jawara akan membeli peralatan canggih untuk mendukung pengobatan terapi yang di rancang oleh profesor Dadang.
Serta teknologi canggih di farmasi Jaguar, untuk proses pembuatan obat-obatan herbal.
Nania bersama profesor Dadang, akan terus melakukan penelitian di bidang terapi dan juga obat herbal.
Istrimu ini ngak harus ke rumah sakit Jawara, cukup hanya pertemuan seperlunya untuk diskusi.
Jadi masih banyak waktu bagi Nania, untuk mengurus keluarga sekaligus bekerja.
Nania bosan di rumah terus, maklumlah istrimu inikan mantan wanita karier.
Lagian ada mbak Yuni yang mengurus rumah, tukang cuci gosok dan juga pekerja kebun.
Nania hanya bengong di rumah, bosan tau mas."
Suaminya tidak bergeming dan hanya melangkahkan kakinya ke kamar mandi, setelah keluar dari kamar dan sang istri sudah menyediakan pakaiannya.
"Saya bisa memakai pakaian ku sendiri, aku ngak berhak melarang kamu untuk kerja. asal kamu bisa membagi waktu untuk keluarga."
"Terimakasih ya mas Dewa, tapi memang ini salah satu kewajiban seorang istri yang harus melayani suaminya."
Sang suami menanggapinya dengan sinis, dan beranggapan kalau Nania takut di ceraikan olehnya.
"Kamu takut kalau aku memilih Geisya pada akhirnya?"
"Ngak, karena sesuatu yang digariskan untuk kita miliki, tidak akan berbelok menjadi milik orang lain.
Begitu juga dengan sebaliknya, sesuatu yang ditakdirkan untuk orang lain dan itu tidak akan pernah bisa kita miliki, sekencang apapun kita mengejarnya dan itu akan berbelok ke pemiliknya."
"Omong kosong."
Nania hanya tersenyum menanggapi sanggahan dari sang suami, yang mempercayai ucapannya.
"Makan malam yuk, karena mas Dewa harus tetap mengonsumsi obat herbal sampai sebulan kedepannya.
Agar bisa lebih optimal dan itu sekaligus sebagai daya tahan tubuh.
Bukan hanya mas Dewa yang meminum ramuan herbal, tapi semua seisi rumah ini. karena semuanya keluarga Nania.
Semuanya, tanpa terkecuali. apalagi mas Dewa yang masih tahap pemulihan seutuhnya demi kesehatan yang baik."
Lagi-lagi Dewa hanya tersenyum sinis, tapi hanya ditanggapi oleh Nania dengan senyuman.
__ADS_1