
Selesai menikmati makanan dan minuman yang tersaji, lalu Nania dan teman-temannya pergi ke sungai untuk mandi.
Semuanya sudah siap, lalu bersiap-siap untuk memisahkan rempah-rempah yang mereka dapatkan dari hutan.
Nania dan timnya sibuk sekali menulis ulang akan apa yang di ucapkan oleh pemandu mereka tadi siang.
Lalu mengambil beberapa sampel untuk diteliti dan kemudian menata rempah-rempah untuk di keringkan berdasarkan kegunaannya.
"Buset dah, kami satu harian ngak dapat apa-apa. tapi kalian bisa mendapatkan hal hebat seperti ini." ujar seorang dokter umum yang bernama Dedi
Nania dan timnya hanya tersenyum menanggapinya lalu meminta bantuan untuk membuat klasifikasi rempah-rempah untuk di ambil sampelnya.
Mereka begitu sibuk dan terlihat sangat menikmati kegiatan mereka.
"Mbak Nania, kenapa bisa begitu akrab dengan warga disini?." tanya dokter Dedi yang terlihat penasaran dengan pribadi Nania.
"Sebelum kesini, terlebih dahulu aku meneliti tentang warga sekitar.
Dokter pasti sudah tahu, kalau Nania sebagai perawat di panti jompo. jadi banyak karekteristik orang-orang yang sudah aku ketahui dan bagiamana car untuk bisa berbaur dan diterima." jawab Nania dengan jelas.
"Makanya Nania, bapak masukkan ke tim kita. karena bapak tahu akan kualitas Nania yang luar biasa." sanggah profesor Dadang yang tiba-tiba hadir di tempat tersebut.
Sejenak hening dan mereka kembali ngobrol sama sama lainnya dan tentunya membahas tentang rempah-rempah.
Proposal Nania, benar-benar berguna bagi mereka dan menjadi salah satu pedoman untuk mereka.
Sebenarnya proposal itu hanyalah pengenalan tumbuhan liar yang di percaya sebagai obat.
Kandungan berbagai zat dalam tumbuhan liar yang terlampir di profesor, dan hal itu memudahkan mereka untuk membuat klasifikasi tumbuhan liar.
Perkembangan akan penelitian berjalan sesuai harapan, dan Nania harus memberikan laporan kepada kampus dan juga profesor Dadang.
Semuanya terangkum dengan sempurna, dan telah mendapatkan stok bahan pembuatan obat-obatan herbal yang berkualitas.
Hal itu membuat mata pencaharian terbaru untuk warga sekitar, yaitu mencari tumbuhan liar untuk dijadikan obat herbal.
Sudah tujuh bulan berlalu, dan tinggal profesor Dadang di desa tersebut untuk melanjutkan penelitian.
Sementara Nania dan timnya yang lain harus kembali untuk melanjutkan studi masing-masing.
Khusus untuk Nania, telah mendapatkan gelar Ners dan sudah menjadi sarjana.
__ADS_1
Kebetulan sekali pendaftaran CPNS atau calon pegawai negeri sipil telah di buka, farmasi untuk keperawatan lumayan banyak.
Nania mendaftarkan diri sebagai peserta CPNS dan sudah selesai mendaftarkan dirinya.
Lulus pemberkasan dan kemudian ujian, untuk kedua kalinya Nania lulus.
Saat wawancara berlangsung, Nania. menceritakan semua pengalamannya seperti yang ditulisnya di curriculum vitae atau daftar riwayat hidupnya.*
Betapa bahagianya Nania, sangat mengetahui dirinya lulus menjadi seorang pegawai negeri sipil untuk bidang yang di kuasainya.
Nania di tempatkan di rumah daerah khusus ibukota Jakarta, rumah sakit yang besar dan merupakan rumah sakit rujukan.
Nania sudah resmi menjadi perawat di rumah sakit tersebut, dan hari pertama bekerja sangat asing baginya.
"Nania...!" sapa seorang perawat.
Ternyata itu adalah Susi, sahabatnya itu lulus sebagai pegawai negeri sipil dan ditempatkan di rumah sakit tersebut.
Mereka berdua bergandengan tangan menuju konter perawat, dan melihat pemandangan yang aneh.
Seorang dokter spesialis bedah umum, sedang ngomel-ngomel di depan counter perawat.
"Dokter...! kenapa memegang gambar profesor gila itu?" tanya Nania kepada dokter Ahmad, karena beliau memegang foto profesor Dadang.
"Ners Nania, kenal dengan profesor ini?" tanya dokter Ahmad dengan raut wajahnya yang penuh harap.
"Kenal, Dok. ini permen jahe buatan profesor Dadang. enak banget dan cocok buat dokter yang sepertinya lagi pusing." jawab Nania dengan santai.
Dokter Ahmad langsung menyambar permen jahe dari Nania dan langsung memasukkannya ke mulutnya.
Dokter Ahmad, sepertinya menikmati permen jahe dari Nania.
"Segar banget di tenggorokan ku ini, mintak lagi, dong!" ujar dokter Ahmad yang menyodorkan tangannya untuk meminta permen itu lagi.
"Enak saja, beli dong biar tahu harga." sanggah Nania dengan bermaksud bercanda.
Tapi dokter Ahmad serius menanggapinya dan langsung memberikan uang empat lembar uang pecahan lima puluh ribu rupiah sebanyak lima lembar.
"Nania, bercanda loh. Dok!" ungkap Nania, ketika melihat uang ada di depannya.
"Jangan bilang Ners Nania, bercanda dan tidak mengenal profesor Dadang." ucap dokter Ahmad.
__ADS_1
"Waktu istirahat Nania sebenarnya belum habis, jadi kita manfaatkan untuk menghubungi profesor Dadang." ungkap Nania dengan jelas.
Lalu Nania meraih handphonenya, lalu menghubungi profesor Dadang.
Nania bermaksud mengaktifkan loudspeaker handphone dan seketika itu juga, dokter Ahmad memperhatikan nomor telepon tersebut.
"Halo pak e, kapan bapak pulang?" tanya Nania yang sudah seperti antara anak dan ayah.
"Ntar saja, Nak. nanti bapak kabari kalau sudah tiba di jakarta ya." jawab profesor Dadang dari seberang.
"Nania sudah menemukan lokasi untuk membuat toko obat herbal kita, nanti Nania kirim lokasinya, Pak." ucap Nania lagi.
Profesor Dadang meminta untuk mengakhiri panggilan, karena profesor Dadang mau makan siang.
Lalu profesor Dadang berkata, kalau sudah mengirimkan uang pegangan Nania sebelum profesor Dadang pulang ke Jakarta.
Dokter Ahmad dan rekan-rekannya yang lain, sangat terkejut mendengar obrolan profesor Dadang dan Nania.
"Ners Nania, kamu penyelamat ku!" ucap dokter Ahmad.
"Kenapa Ners Nania, menjadi menjadi penyelamat mu?" tanya dokter yang terlihat masih agak muda dan merupakan wakil direktur rumah sakit.
"Asal dokter Pras, ketahui. Ners Nania, adalah putri dari profesor Dadang yang sedang kita cari keberadaan." jawab dokter Ahmad yang seperti berpuisi.
"Na... Nania...!" seseorang wanita paru baya berteriak memanggil nama Nania yang datang bersama pasangannya.
"Bu Melda, jangan teriak gini dong. ini rumah sakit, kalau mau teriak sana ke taman bunga." Nania protes akan teriakan tersebut.
"Bodoh amat, sekarang ikut saya." Sanggah bu Melda yang tidak perduli akan protes dari Nania.
"Maaf, ya Bu. kami lebih Ners Nania, jadi harap antri." ujar dokter Pras, wakil direktur rumah sakit.
Terjadilah drama yang teramat dramatis, dokter Pras yang dibantu oleh dokter Ahmad kekeh untuk menarik Nania.
Demikian juga dengan bu Melda bersama suaminya yang menginginkan Nania untuk mereka.
"Okey... okey...! bu Melda maunya apa?" ucap Nania untuk mengakhiri drama yang dramatis.
"Hebat benar loh, mentang-mentang sudah jadi pegawai negeri sipil jadi sombong sekarang.
Ibu pesan lagi teh herbal dan juga obat-obatan herbal mu seperti biasa." ucap bu Melda yang sudah merendahkan nada suaranya.
__ADS_1
"Iya, ampun ibu. hanya gara-gara itu ibu berteriak disini, Kan. bisa menelpon Nania." ungkap Nania yang terlihat kesal.
Bu Melda dan suaminya hanya tersenyum menanggapi omelan dari Nania yang sudah paham akan sifat Nania.