
Akhirnya Indra sendiri yang menghadap Dewa, hanya beberapa saat saja Indra sudah keluar dari ruangan itu.
Lalu berjalan menuju meja Nania, dan menatap Nania dengan lirih.
"Mbak Nania..!"
Indra memanggil Nania dengan lirih, tapi sepertinya enggan untuk bicara.
"Mbak ngak cemburu kalau mas Dewa mendekati perempuan itu?"
"Memutuskan untuk menikah, itu artinya harus siap dengan segala kemungkinan. salah satu siap untuk kehilangan.
seperti kata orang bijak, jika di gemgaman terlalu kuat, itu akan menyakiti hati, dan jika di gemgaman terlalu lemah itu bisa lepas atau hilang.
aku sudah pernah melakukan keduanya, tapi sama aja, sama-sama kehilangan.
tidak perlulah memikirkan hal duniawi, karena semua itu bersifat sementara. jangan terlalu mengharap nanti kecewa.
teguhkan hati dan perasaan, biarkan saja semuanya mengalir seperti air sungai, ada yang mengalir deras dan ada yang mengalir pelan.
seperti itulah kehidupan ini, penuh dengan retorika kehidupan yang sulit ditebak."
"Sumpah demi ayam goreng yang enak, Indra ngak ngerti apa yang mbak ucapkan."
"Daripada ngomel ngak jelas begitu, bantuan Nania dong. aku ngak ngerti bahasa Mandarin, Indra ngerti...?"
"Maaf ya mbak Nania, lupa aku menerjemahkannya."
Sanggah Ira, yang sedari tadi serius mendengarkan ucapan dari Nania, sementara Indra masih terlihat bingung dengan ucapan dari Nania.
Seketika itu Ira membawa file, yaitu terjemahan bahasa Mandarin pada file yang dibacanya.
"Bosan dan lapar."
Ujar Nania dan Ira pun mendekati nya lalu menunjukkan sesuatu di handphonenya tersebut.
"Yuk mari...!"
Ujar Nania lagi, dan mereka berdua langsung bergandengan tangan hendak keluar dari ruangan tersebut.
"Pada mau kemana sih?"
Nania langsung menoleh Indra yang bertanya kepada mereka, lalu berjalan menuju mejanya dan mengambil botol minuman dan tiga pil obat.
"Indra kan asistennya mas Dewa, berhubungan mas Dewa masih sibuk dengan Geisya di dalam, oleh karena itu ada tambahan tugas untuk mu.
sampaikan sama mas Dewa, agar meminum obat itu ya, karena kami berdua mau bertemu seseorang sambil makan siang."
Tanpa menunggu jawaban dari Indra, dan langsung meninggalkan Indra di ruangan tersebut.
Demikian juga pegawai perempuan yang duanya lagi.
__ADS_1
Terlihat Indra membawa obat yang diberikan Nania kepadanya dan masuk ke dalam ruangan Dewa.
Dalam ruangan itu Geisya terlihat genit dan curi-curi pandang kepada Dewa, dan seketika itu juga Indra meletakkan obat diatas meja Dewa.
"Habis kan obatnya, itu perintah mbak Nania."
Ujar Indra dan langsung pergi dari ruangan Dewa, lalu menyusul Nania dan pegawai lainnya.
"Pasti di kantin mereka..!"
Ujarnya dan turun melalui lift, benar dugaannya kalau Nania dan yang lainnya berada di kantin kantor.
"Melati..."
"Harap maklum ya, ada orang yang berusaha mendekati calon adik ipar."
Haha hahahaha hahahaha hahahaha haha haha hahahaha haha haha...
Indra yang memanggil Melati, tapi Nania malah meledeknya dan hal itu membuat mereka tertawa bersama.
"Rajin benar sampai jualan kemari...!"
Mereka yang notabenenya cewek-cewek langsung menoleh Indra karena ucapannya barusan.
"Mas Indra...
Melati itu bukan kekurangan pelanggan, tapi yang duduk bersama Melati saat ini adalah pelanggan khusus atau pelanggan VVIP."
Sanggah Melati yang terlihat tersinggung dengan ucapan calon abang iparnya itu.
"Malas mbak Nania, biasanya Indra makan bersama mas Dewa atau om dan tante. tapi om dan tante lagi pergi, sementara mas Dewa sibuk sama perempuan itu
Indra disini aja ya, janji ngak akan ngomong lagi."
Pinta Indra dan mereka akhirnya mengizinkan Indra untuk bersama mereka.
Seperti cewek-cewek pada umumnya, seolah-olah dunia hanya milik mereka sementara Indra makan dengan lahapnya.
Tidak berapa lama Dewa datang bersama Geisya dan perempuan itu menggandeng tangan Dewa di hadapan pegawai lainnya yang sedang makan siang di kantin tersebut.
Alhasil menyita semua perhatian para pegawai, karena mereka jelas-jelas mengetahui kalau Nania adalah istri Dewa yang saat ini sedang berada di kantin itu juga.
Sebab kedua orang tua Dewa, sudah memperkenalkan Nania sebagai istri anaknya lewat konferensi pers di aula waktu itu.
Dari yang tadinya berisik, sekarang tiba-tiba hening. demikian juga dengan rombongan Nania.
"Melati izin pulang ya kak...!"
"Kakak ikut kamu aja, bosan di kantor ini terus."
Nania bersama Melati beranjak terlebih dahulu, lalu di ikuti yang lainnya begitu juga Indra yang lebih memilih pergi dari kantin itu.
__ADS_1
"Mau kemana kamu? aku ngak tau cara minum obat ini."
Dewa meraih tangan Nania yang hendak pergi bersama Melati, tapi tangan suaminya di tepisnya.
"Ngak usah kyak anak kecil, terserah mas Dewa aja. mau minum obat atau ngak, semua keputusan ada ditangan mu mas."
Ucap Nania dan kemudian meninggalkan Dewa.
Dewa hanya bengong ketika istrinya pergi bersama Melati, dan Geisya memintanya untuk bersamanya.
"Mas Dewa...
Geisya harus menjadi ketua proyek profesor Dadang itu, pokoknya harus ya."
Rengek Geisya kepada Dewa, hal itu membuat pegawai lainnya seperti ilfill melihat tingkah Geisya yang sok manja.
Dari arah jalanan ibukota, ternyata Nania mintak berhenti di suatu tempat.
Dengan membawa barang belanjaannya dari Geisya, dan istri Dewa naik taksi. Melati yang hendak menemaninya di tolak olehnya.
Nania duduk dibelakang kemudi taksi, terlihat air matanya yang mengalir dan tujuannya pun tanpa arah.
"Maaf ya mbak, kita mau kemana?"
"Lurus aja ya pak, setelah simpang itu ada taman, ntar turun di situ aja."
Supir taksi itu mengganguk dan tidak berapa lama kemudian mereka tiba di taman yang dimaksud oleh Nania.
Nania memilih duduk di bangku taman, lalu menangis sejadi-jadinya sampai dirinya merasa lega.
Bahkan sampai sore Nania berada di taman tersebut, lalu memesan taksi online untuk membawanya pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah sang suami sudah menantinya si depan rumah, dengan sorot matanya yang penuh amarah.
"Dari mana saja kau?"
Nania tidak menjawab pertanyaan suaminya dan langsung pergi menuju kamarnya, tapi disusul oleh suaminya.
"Aku mau ngomong Nania."
Nania menoleh suaminya, tapi tatapannya sudah begitu sayu.
"Geisya menginginkan untuk menjadi ketua proyek itu, kamu harus membantunya agar menjadi bagian tim proyek."
"Iya mas Dewa."
Dewa merasa aneh, karena istrinya mengatakan iya. lalu sang istri beranjak ke arah kamar mandi setelah meriah handuk bersih dari lemari pakaian.
Beberapa saat kemudian Nania sudah keluar dari kamar mandi dan telah mengenakan pakaian rumah seperti biasa.
Lalu mengambil handuk dan pakaian Dewa dari lemari.
__ADS_1
"Mas Dewa mandi ya, habis itu kita makan malam dan mas harus minum obat."
Ujar Nania seraya memberikan handuk kepada suaminya.