
Hari Senin pagi, Dewa yang sedang sarapan bersama kedua orangtuanya memegang pipinya saat melihat Susi yang datang bersama suaminya.
"Ngak akan ku tampar lagi itu pipi," ucap Susi.
Barulah Dewa melepaskan tangannya dari kedua pipinya, kedua orangtuanya hanya bisa tersenyum.
"Mari makan." pinta mamanya Dewa.
"Kami berdua datang kemari memang untuk sarapan, karena ngak sempat masak."
"Ngak sempat atau keenakan bergulat." sanggah mamanya Dewa yang memotong pembicaraan Susi.
Susi hanya tersipu malu, lalu menyiapkan makanan untuk sang suami. kemudian Susi menambahkan air minum untuk kedua orangtuanya Dewa.
Nampaknya Susi tidak sungkan melayani kedua orangtuanya Dewa itu.
"Maaf...! sudah terbiasa sama adek-adek di rumah." ucap Susi karena suaminya dan juga kedua orangtuanya Dewa menatap nya.
"Ngak apa-apa Susi, ibu hanya teringat sama Nania saja. setiap pagi seperti ini dan kemudian ngomel-ngomel.
Kok, ibu jadi kangen, Iya. kangen sama Nania dan juga omelan nya.
Walaupun terkadang seperti mendiang ibu mertua, tapi seperti ada yang hilang. ngak ada lagi yang ngomel-ngomel.
Setelah di tinggalkan neneknya Dewa, ngak terlalu kehilangan banget, karena ada penggantinya.
Tapi...!" sanggah mamanya Dewa yang terlihat sangat sedih.
"Sudahlah mah...! Dewa akan akan berusaha mencari Nania, menantu mu yang cerewet itu." kata suaminya untuk menghibur istirnya.
Mereka hanya bisa tertawa terkecuali Dewa yang sedari tadi hanya terdiam.
"Dengar baik-baik mas Dewa, Aku tidak akan mintak maaf karena telah menampar mu. tapi Susi akan berusaha membantu mu untuk menemukan sahabat ku itu." Kata Susi yang masih berdiri di dekat suaminya.
Dewa baru tersenyum karena Susi bersedia membantunya, terlihat Indra meminta istrinya untuk duduk.
"Mas Indra, coba cek penerbangan ke segala arah kalimantan sejak tanggal pernikahan kita hingga hari minggu kemarin. cari atas Nania dan dokter Dedi, dokter Sera dan dokter Sonia.
Serta Sapri, atau Ners Fatimah Anayah dan juga atas nama Sari Utami." pinta Susi ke suaminya.
"Banyak amat."
"Ngak usah banyak bacot, ntar Susi ceritakan." sanggah Susi yang memotong ucapan suaminya.
Indra langsung melaksanakan perintah dari istrinya, menelpon kesana-kemari sementara Susi langsung makan.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian Indra sudah selesai menelpon dan kemudian makan bersama dengan istrinya.
"Apa hasil ndra?" Dewa bertanya yang terlihat sudah tidak sabar.
"Sabarlah, masih di cross cek itu. biarkan dulu kami makan." Susi yang menjawabnya.
Dewa hanya bisa menunggu begitu juga dengan kedua orangtuanya Dewa, terlihat mereka sudah terbiasa dengan sikap Susi yang sepertinya sama seperti sikap Nania.
Indra sudah selesai makan begitu juga dengan istrinya dan handphone Indra berdering.
Selesai menelpon wajah Indra terlihat seperti kecewa, lalu Ia menoleh istrinya.
"Hanya dokter Sera yang ada dalam list, itupun penerbang dari Kalimantan barat ke arah Jakarta." kata Indra yang terlihat kecewa.
"Kalau itu Susi tahu, Mas. karena dokter Sera sudah konfirmasi ke Susi."
"Emangnya mereka semua ada hubungan apa sama mbak Nania?" tanya Indra ke istrinya.
"Semuanya itu adalah komplotan atau tim profesor Dadang dan Nania sebagai kepala tim-nya." Susi menjawab pertanyaan suaminya.
"Kenapa ngak langsung bertanya sama dokter Sera saja?" tanya Indra dan kemudian tersenyum ke arah istrinya.
"Dokter Sera itu, sebelas dua belas dengan profesor gila itu bahkan lebih parah. malas bicara dengan harimau betina itu.
Hanya Nania yang sanggup bicara dengan harimau betina itu." jawab Susi yang terlihat kesal.
"Iya, Mas. Nania itu mendapatkan julukan sang penakluk, semua jenis pasien bisa tunduk sama Nania termasuk harimau betina itu." ucap Susi ke suaminya.
Lalu menghela napasnya dan kemudian minum teh yang sudah disajikan oleh mbak Yuni.
"Kenapa disebut harimau betina?" mbak Yuni nimbrung.
"Itu loh mbak, orangnya itu memang jenius. dokter senior banyak berkonsultasi dengannya.
Namanya Dokter Sera Handayani, spesialis bedah torak.
Beliau juga sudah menempuh pendidikan S3 tentang bedah torak di Oxford university.
Misalnya kita sebagai perawat, kita kan segan bertanya lebih banyak lagi. kemudian kalau kita salah dah ngomel-ngomel itu.
Sebenarnya memang karena kesalahan kita sendiri yang tidak mampu bertanya sama beliau.
Beda dengan Nania, semuanya main hantam. sahabat ku itu hanya menghormati suaminya itu saja, kalau ngak sudah lama itu dibantingnya." Susi menjawabnya dan juga menyindir Dewa.
"Okey...! Kalau bertanya langsung sama profesor Dadang, bisa ngak sayang?" Indra bertanya lagi.
__ADS_1
Sesaat Susi tersenyum kepada suaminya dan senyuman itu adalah senyuman paksaan.
"Suamiku sayang...! mau istrimu itu disembur sama profesor gila itu?" jawab Susi yang terlihat kesal.
"Jangan dong, ntar kulit mulus itu melepuh. profesor Dadang itu kan sejenis kodok, dimana semburannya bisa membuat kulit melepuh." jawab Indra yang sok manja pada istrinya.
Mereka semua menghela napasnya kecuali Indra yang sibuk memperhatikan kecantikan dari istrinya itu.
"Berhubung Susi sudah menjadi asisten profesor Dadang, ntar pelan-pelan Susi bertanya sama beliau.
Semoga berhasil dan jangan terlalu mengharap, namanya juga usaha.
Nania adalah saudara ku, sahabat ku dan rekan kerja ku yang sangat aku hormati dan aku sayangi.
Susi ngak mau kehilangan Nania, kita harus menemukan Nania." ucap Susi yang pada akhirnya meneteskan air matanya.
Kedua orangtuanya Dewa sepakat dengan usulan dari Susi, terlepas nantinya Nania akan tetap ingin bercerai dengan Dewa.
Tapi yang jelas kedua orangtuanya Dewa berharap Nania masih bersedia menjadi menantu.
Kedua orangtuanya Dewa tidak memaksa Nania untuk kembali menjadi istri anaknya, semua ini dilakukan hanya karena ingin mintak maaf kepada Nania.
Sebab Papa nya Dewa pernah berjanji akan bersedia membantu Nania untuk bercerai dari Dewa.
Waktu itu karena sangat kecewa terhadap sikap dan perilaku dari Dewa.
"Susi...! bisa pertemukan aku dengan dokter Pras atau dokter Imam? atau mungkin dokter Ahmad." pinta Dewa yang nada bicaranya sangatlah pelan.
"Akan aku usahakan, tapi...! dokter Imam adalah salah profesor yang ikut membantu penelitian profesor Dadang. Susi tahu rumahnya, yuk kita ke sana.
opsss...
Mas Dewa ngak boleh ikut, karena dokter Imam tidak menyukai mu karena sifat mu yang angkuh.
Jadi biar Susi dan mas Indra yang menemui dokter Imam.
Tugas mas Dewa saat ini adalah memastikan perempuan itu tidak masuk kedalam tim penelitian profesor Dadang." ucap Susi yang menatap tajam ke arah Dewa.
"Itu sekarang urusan bapak, tugas Dewa adalah menemukan istrinya." sanggah pak Basil.
Terlihat Susi mengakses handphonenya dan kemudian mengirimkan pesan ke suaminya.
"Suamiku sayang, kirimkan pesan itu ke sepupuku itu, Iya.
Pesan itu adalah daftar nama-nama anggota profesor Dadang, kali saja ada yang bisa kita dapatkan dari sana."
__ADS_1
Pinta Susi ke suaminya, sang suami hanya bisa tersenyum dan kemudian mereka berangkat menuju rumah dokter Imam.