
Terlihat Dewa meneteskan air matanya, karena sang istri tidak menyahutnya dan Dewa hanya bisa menatap wajah istrinya itu dengan tatapan tajam.
"dokter..... dokter..... dokter......."
Dewa memanggil dokter seraya menekan bel yang ada diatas ranjang Nania.
Beberapa saat kemudian dokter bersama tim nya langsung menghampiri Dewa ke ruang rawat tersebut.
"dokter....
Tadi jemari istriku bergerak, apa itu tanda kalau Nania akan sadar?"
Seketika dokter langsung memeriksa Nania, dan kemudian memeriksa kembali kondisi peralatan medis.
Kemudian Nania terlihat menggerakkan seluruh jemarinya, dan dokter tersebut memanggil nama Nania dan mendapatkan respon yang baik.
Dokter penanggung jawab tersenyum dan kemudian meminta perawat untuk menghubungi profesor.
"Profesor Dadang adalah penanggung jawab ibu Nania, metode dan pengobatan profesor Dadang telah berhasil membuat respon positif dari bu Nania."
Dewa terlihat bahagia mendengar penjelasan dokter itu, dan beberapa saat kemudian. seorang laki-laki yang berpakaian jubah dokter menghampiri mereka di ruangan rawat khusus itu.
Penampilan menarik dan unik, bisa dikategorikan aneh sebenarnya. lalu menatap wajah Dewa dengan sinis dan sepertinya tidak menyukai Dewa.
"usir manusia itu."
"kau siapa? berani-beraninya kau mengusir ku."
Lalu dokter penanggung jawab membisikkan sesuatu ke telinga Dewa, dan kemudian membawa Dewa keluar dari ruang rawat lalu membawanya ke ruang lain.
"kenapa tuan muda tidak mengenal profesor Dadang? kan tuan muda sudah pernah di periksa olehnya."
Ucapan pak Sanusi membuat Dewa terlihat menahan emosi dan kemudian menatap pak Sanusi dengan tatapannya yang menggambarkan kemarahan.
"aku tau kalau kakek peyot itu profesor Dadang, tapi berani-beraninya dia mengusir ku dari ruang rawat istriku."
haaaa........
Pak Sanusi terlihat kesal dan kemudian menghela napasnya, suara napas itu membuat Dewa marah dan melemparkan benda-benda yang disekitar nya.
"daripada tuan muda marah-marah ngak jelas, yuk biar tak antar ke ruang rawat nyonya. karena nyonya sudah siuman."
Raut wajah yang marah itu, seketika berubah menjadi bahagia karena kabar bahagia dari pak Sanusi mengenai mama nya yang sudah siuman.
Sesampainya di ruang rawat mama nya, Dewa mendapatkan sambutan amarah dari sang mama dan memalingkan wajahnya.
"mama marah sama Dewa?"
"masih nanya aja, berkat kau. mama ngak bisa melihat ibu mertuaku untuk terakhir kalinya.
Seharusnya mama ke salon, belanja dan bersenang-senang bersama ibu mertuaku dan juga menantu ku.
__ADS_1
Dasar anak egois, sana pulang aja. muak mama liat wajah mu."
Dewa hanya terdiam dan tidak berucap apapun setelah mama nya mengusirnya dari ruan rawat.
"sepertinya nyonya masih kesal melihat tuan muda.
Yuk ke ruang rawat non Nania, kali aja sudah siuman."
"jangan pak Sanusi, bawa pulang ke rumah. ntar profesor Dadang marah dan tidak mau melanjutkan pengobatan menantu ku."
"siap nyonya."
Jawab pak Sanusi kepada mama nya Dewa dan langsung mendorong tuan mudanya keluar dari ruangan tersebut.
"kita pulang tuan muda."
"ngak mau, kalau pak Sanusi membawa ku pulang, maka saya pecat."
"sorry sorry ya tuan muda, saya direkrut langsung oleh nyonya dan hanya nyonya yang bisa memecat ku.
Ngomong-ngomong tuan muda punya uang ngak?"
Dewa kesal dan terlihat semakin kesal karena pak Sanusi masih sempat bertanya kepadanya mengenai uang.
Lalu Dewa meraih dompetnya dari saku switer yang dikenakannya kemudian melemparkan dompet itu ke lantai.
Dengan santainya pak Sanusi mengambil dompet Dewa, lalu membuka dompetnya.
"tuan muda payah, masa ngak ada uang nya. tapi sok melemparkan dompet."
"nyonya ada uang cash ngak? biasanya ndok Nania yang memberikan uang cash untuk ku."
"untuk apa? dan mau berapa?"
"di persimpangan jalan dekat kompleks, ada toko roti rekomendasi dari ndok.
Enak banget dan kata si ndok, toko roti itu tidak menggunakan bahan-bahan kimia dalam pembuatan rotinya.
Ingin membeli roti tawar dan juga lapis legitnya, sangat mahal bagiku.
Mungkin sekitar lima ratus ribu rupiah, untuk dua jenis roti itu."
"benar itu pak Sanusi, karena Nania juga sudah memberi ku roti itu.
Ambil di tas, nanti tolong minta seseorang untuk mengirimkan kue lapis nya untukku ya."
"siap....
Nanti aku suruh mbak Yuni aja, sekalian mengantarkan pakaian nyonya dan juga karena kangen sama nyonya."
Percakapan antara pak Sanusi dan mama nya Dewa terlihat intens, bahkan pak Sanusi berani merogoh tasnya dan mengambil uang cash sebanyak satu juta rupiah dan kemudian mengembalikan tas tersebut ke laci lemari.
__ADS_1
Dewa hanya bengong melihat nya dan kemudian saling bertatapan mata dengan pak Sanusi.
"eh pak Sanusi, jika hanya beli roti. kan bisa pakai kartu debit atau kartu kredit yang ada di dompet ini."
"ngak ngerti memakainya, kita berangkat yuk."
Dewa hanya geleng-geleng kepala dan kemudian pak Sanusi mendorong kursi roda tersebut.
Sepanjang perjalanan menuju toko roti, Dewa hanya menatap ke depan. karena tingkah anehnya itu, akhirnya pak Sanusi bertanya.
"kenapa tuan muda menatapku seperti itu?"
"kok beraninya merogoh tas mama? aku aja ngak pernah tuh merogoh tas mama."
"salah tuan sendiri, lagian bukan hanya tas nyonya yang pernah ku rogoh, tapi tas tuan besar juga.
Kalau tas non Nania belum pernah, karena selalu paham dengan segala hal.
Insting si ndok sangat kuat dan peka orangnya."
"ndok.... non....
Mana yang sebenarnya?"
"terserah saya dong."
Jawab pak Sanusi dengan singkat, dan tidak berapa lama kemudian mereka sudah tiba di parkiran toko roti.
Tokonya tidak terlalu besar dan nampaknya sangat ramai.
"tuan muda tunggu di mobil aja ya."
Dewa tidak menanggapinya dan pak Sanusi turun dari mobil dan berlalu ke arah toko roti.
Mungkin lima belas menit menunggu, dan pak Sanusi sudah keluar dari toko roti dengan belanjaan roti yang banyak.
"banyak benar itu roti."
"iya tuan muda, karena promo sebagai pelanggan lama. tadi bayar nya cukup empat ratus lima puluh ribu rupiah sudah dapat roti yang banyak."
"entar roti basi."
"enak aja, aku dan si ndok pelanggan tetap di toko itu. makanya dapat promo khusus.
Coba tuan muda cicipi, roti nya lembut dan enak. tentunya tanpa tambahan bahan kimia yang berlebihan."
Ujar pak Sanusi, dan kemudian memberikan beberapa potong kue lapis legit itu kepada Dewa.
"ngak terlalu manis, tapi enak dan lembut."
Ucap Dewa dan kemudian menikmati kue lapis legit itu secara perlahan, sementara pak Sanusi fokus untuk menyetir dan kemudian keluar dari parkiran toko roti tersebut.
__ADS_1
Berselang beberapa menit kemudian, mereka berdua tiba di rumah, dan langsung menurunkan Dewa.
Mbak Yuni langsung membantu pak Sanusi, setelah Dewa sudah duduk di kursi roda, lalu pak Sanusi memberikan kue tersebut kepada mbak Yuni.