
Sudah dua hari Dewa kembali di rawat istrinya dan profesor Dadang sudah menyatakan ada kemajuan pada pemulihan Dewa.
Hanya perlu menghabiskan stok obat terakhir dan kemudian cek up lagi.
Nania begitu bahagia mendengar berita tersebut, dan menyarankan Dewa agar tidak gegabah lagi.
"Mas Dewa...
Bosan...
Makan di luar yuk."
Dewa mengganguk dan mereka berdua langsung naik mobil dan tentunya bersama pak Sanusi.
Dewa yang memilih tempatnya dan tidak ada masalah dengan Nania.
Sesampainya disebuah kafe yang sangat besar dan mewah, Dewa mengusir pak Sanusi.
Nania memberikan uang kepada Sanusi, agar bisa mencari tempat tongkrongan di dekat kafe.
Begitu sampai di dalam kafe, seorang perempuan melambaikan tangannya ke arah mereka berdua.
"Geisya sudah lama menunggu?"
"Ngak kok mas, tapi kenapa harus membawa Nania?"
"Kan perawat, bentar lagi juga ngak bakalan mas pakai kok."
Ternyata Geisya, adiknya Nania. seketika itu Geisya langsung menggandeng tangan Dewa dan mereka bersama-sama menuju meja yang besar.
Nania memesan makanan dan minuman untuk dirinya sendiri, dan kemudian memainkan handphone-nya.
"Santai aja, anggap aja aku ngak ada."
Ucap Nania, dan kemudian fokus ke handphonenya.
Nania berada di sudut meja lain, dan terlihat sibuk mencatat sesuatu dari handphonenya di catatannya.
Sikap Nania yang seolah-olah tidak terjadi sesuatu menjadi perhatian Dewa. akan tetapi Nania tidak memperdulikan hal tersebut.
Nania begitu serius mengerjakan sesuatu seraya menikmati makanan dan minuman yang sudah tersedia di depannya.
Apapun yang dilakukan oleh Dewa dan Geisya, dan itu tidak dipedulikan oleh Nania. semuanya seperti tidak terjadi sesuatu.
Hingga akhirnya Dewa hendak menghampiri Nania tapi tiba-tiba saja Nania di temui seorang pria yang tidak kalah tampan dengan Dewa.
"Ya Allah....
Dokter Fahri kok makin tampan aja, operasi plastik di negara mana?"
Candaan dari Nania membuat mereka berdua tertawa, lalu mereka berdua duduk berhadapan.
Terlihat Fahri begitu mengagumi sosok Nania yang sangat cantik.
__ADS_1
"Terimakasih ya Ners Nania, berkat bimbingan Ners Nania sehingga Fahri bisa menyelesaikan program koas dengan sempurna."
"Syukurlah kalau akhirnya kamu tidak menjadi kasta terendah di rumah sakit lagi."
hahahaha haha haha hahahaha hahahaha haha hahahaha haha haha......
Sepertinya Dewa sangat cemburu melihatnya, apalagi tatapan Fahri yang sangat dalam menatap Nania.
"Fahri sudah menyelesaikan PPDS dan minggu depan akan ujian, tolong doakan lulus ya."
Mereka berdua malah berdoa bersama di meja makan tersebut, dan itu membuat Dewa semakin kepanasan dan pada akhirnya.....
"Ayo pulang." Perintah Dewa
Dewa menarik tangan Nania disela-sela doa mereka, dan meninggalkan Geisya di meja lain dalam keadaan kebingungan.
"Siapa?"
Fahri bertanya kepada Nania dan jawaban Nania adalah.....
"Saya wanita bayaran konglomerat ini."
"apa-apaan sih?" Teriak Dewa
Dewa membantah Nania, dan seketika itu juga mereka menjadi pusat perhatian pengunjung lainnya.
"Fahri, jika ada uang mu dan berminat menebus ku. silahkan, karena kamu ngak rugi memiliki ku. banyak keahlian ku yang dahsyat selain di ranjang."
Ujar Nania lalu menghempaskan tangan Dewa dan kemudian pergi meninggalkan suaminya yang masih bengong.
Dewa menarik tangan Geisya dan menyuruhnya masuk ke dalam mobilnya, sementara pak Sanusi hanya bengong seraya menatap Nania.
"Buruan pak Sanusi, antar kami pulang."
Tanpa bicara pak Sanusi memberikan kunci mobilnya ke Dewa, lalu pak Sanusi meraih tangan Nania dan beranjak dari parkiran tersebut.
Lalu Dewa turun lagi dan menghampiri pak Sanusi yang memegang tangan Nania.
"Maaf tuan muda, nyonya memerintahkan aku untuk menjadi supir bagi non Nania dan juga tuan muda.
selain keluarga utama, nyonya melarang bekerja untuk orang lain."
"Kamu melawan saya, mulai hari ini kamu saya pecat."
"Seperti yang saya katakan sebelumnya, saya berhenti kerja jika nyonya sendiri yang memecat ku."
Lalu pak Sanusi melangkahkan kakinya seraya memegang tangan Nania dan pada akhirnya mereka meninggalkan Dewa di parkiran mobil tersebut.
Setelah keluar dari parkiran dan berada di pinggir jalan, pak Sanusi menghentikan taksi. lalu mereka berdua naik ke dalam taksi.
Ternyata Dewa tidak jadi bersama Geisya dan terus mengejar taksi yang di tumpangi Nania dan pak Sanusi.
ngeossssss......
__ADS_1
Dewa berhasil menghentikan taksi tersebut, dengan cara berhenti di depan taksi.
Nania segera membayar agro taksi seraya mintak maaf kepada supir taksi, lalu turun bersama pak Sanusi.
Pak Sanusi kembali mengambil alih setir dan mereka pulang secara bersama-sama.
Sesampainya di rumah dan mereka berpura-pura tidak terjadi sesuatu, dan mereka bertiga harus akting karena ada kedua orangtuanya Dewa.
Nania masuk kamar dan di susul oleh suaminya, dan seketika itu juga Dewa langsung......
plak.......
Nania ditamparnya dan air mata Nania seketika mengalir di kedua pipinya itu.
"Kau cemburu kalau aku mendekati adik mu itu, kau cemburu kan?"
Nania tidak menanggapinya dan akhirnya Dewa mendorong tubuh istrinya ke ranjang.
Lalu Dewa melucuti pakaian Nania, tapi tidak ada perlawanan sedikitpun dari sang istri bahkan sepertinya Nania sendiri yang membuka pakaiannya.
Setelah tubuh Nania tanpa busana dan Dewa yang sudah bernafsu tiba-tiba mengurungkan niatnya untuk menggagahi sang istri dan kemudian berteriak.
Berhubung Dewa tidak jadi menyetubuhi dirinya, lantas Nania beranjak dari tempat tidur dan berlalu ke kamar mandi.
Setelah keluar dari kamar mandi, Nania sudah mengenakan pakaian rumahan.
Tok....tok....tok......
"Nania..... Dewa......"
Mama Dewa mengetuk pintu kamar mereka, dan memanggil nama mereka berdua.
Seketika Dewa langsung mengenakan celana pendek dan juga koas yang diberikan oleh Nania.
"Maaf bu agak lama bukanya, tadi mengoleskan minyak ke paha mas Dewa."
"Oh gitu.....
Ibu dan bapak mau ke Singapura, karena ada urusan bisnis.
Hanya dua hari aja kok, untuk sementara waktu Indra yang menghandle kantor pusat dan Nania tetap fokus pada Dewa."
Nania hanya tersenyum menanggapi perkataan ibu mertuanya, lalu setelah pamit. bapak ibu mertuanya itu pamit untuk pergi.
Lalu Nania berjalan mendekati Dewa, seraya mengutip pakaian Dewa yang berserakan di lantai.
"Mas Dewa mandi ya, setelah minum obat dan istrihat."
Dewa tidak menanggapinya, lalu Nania mempersiapkan handuk dan juga pakaian ganti untuk suaminya.
Lalu Nania beranjak keluar kamar dan terus melangkahkan kakinya hingga ke dapur dan menyiapkan semua kebutuhan obat sang suami.
Sesampainya di kamar, Nania melihat suaminya yang masih duduk di pinggir ranjang dan masih memakai pakaian yang sama.
__ADS_1
Nania langsung menawarkan obat tersebut, awalnya di tolak oleh Dewa tapi diperingatkan keras oleh Nania dan pada akhirnya obat tersebut di teguk olehnya.