
POV Geisya.*
Geisya sudah menjalankan rencananya yang pertama yaitu membuat kesepakatan dengan Nania untuk mendapatkan Dewa.
Selanjutnya adalah cara untuk mendapatkan Dewa, yaitu memberikan umpan yang mempuni agar Dewa masuk dalam perangkap buatannya sebagai mana telah dilakoninya selama ini.
"terus rencana kita apa Geisya?"
Mamanya bertanya setelah mereka berada di dalam untuk menuju ke dasar lantai rumah sakit.
"mama tenang aja, sisanya serahkan pada Geisya. karena aku tidak kalah dalam hal mendapatkan apapun yang aku inginkan.
Apalagi merebut sesuatu dari Nania, itu keahlian Geisya."
"apa kamu yakin kalau Nania akan melepaskan Dewa begitu saja?"
"kurang yakin, tapi perjanjian dan kesepakatan itu membuat Geisya lumayan yakin.
Karena Nania mudah untuk menyerahkan apa yang dia inginkan."
Dengan begitu percaya dirinya, Geisya berkata demikian kepada mama nya dan yakin kalau dirinya akan segera mendapatkan Dewa.
Dewa adalah sang penerus Jaguar group, pria tampan yang konglomerat.
"kenapa Geisya baru sekarang berminat untuk menikah dengan Dewa?"
"karena Geisya tidak mau punya yang lumpuh, dan biarkan Nania yang mengurusnya untukku."
Senyuman licik dari Geisya dan senyuman itu bersambut dengan mama nya.
Mereka langsung menuju parkiran, dan kemudian berencana pulang ke rumah untuk melihat keadaan Papa nya yang sejak kemarin sore hanya melamun di ruang tamu.
Drrrt...... drrrt...... drrrt.......
Handphone mama nya Geisya bergetar, setelah beberapa saat kemudian wajahnya langsung muram.
"kenapa ma?"
Tanya Geisya yang penasaran karena raut wajahnya yang berubah setelah menerima panggilan telepon.
"kata si mbak, Papa mu masuk rumah sakit. Papa mu sudah dibawa ke rumah sakit tempat Nania kerja dulu."
Geisya berbelok arah menuju rumah sakit milik pemerintah daerah itu, untuk melihat keadaan Papanya.
Akhirnya mereka tiba di rumah sakit, dan langsung bertemu dengan asisten rumah tangga mereka yang membawa Brata Ankarbaya ke rumah sakit tersebut.
"gimana keadaan papa mbak?"
"belum tau non, yuk kita temui di IGD. karena bapak masih di IGD."
Asisten rumah itu menjawab pertanyaan dari Geisya, lalu mereka langsung pergi ke arah IGD dan langsung menemui Papanya yang masih ditangani dokter.
__ADS_1
Tidak berapa kemudian dokter yang menangani Brata Ankarbaya, menemui Geisya dan mama nya.
"gimana keadaan Papa ku dokter?"
Dokter itu terlihat masih muda, dan kemudian melirik Geisya.
"beruntung segera dibawa ke rumah sakit, kalau tidak mungkin bisa lebih gawat.
Tensi darah pasien sangat rendah, asam lambung yang meningkat menyebabkan sakit pada ulu hati.
Kamu Geisya kan? adiknya Ners Nania."
Dokter yang masih muda itu seperti mengenal Geisya, dan dirinya hanya mengangguk untuk menanggapi pertanyaan dari dokter tersebut.
"saya Govin, yang sempat menjadi pacar Ners Nania. ingat kah?"
Geisya tersenyum dan kemudian bersalaman dengan dokter yang tampan itu, seolah-olah mereka begitu akrab.
"kemana dokter Govin? itu kak Nania nyariin dokter loh. pergi menghilang tanpa kabar."
"nanti aja kita cerita ya, kita urus dulu pasiennya.
Tolong segera di daftarkan ya, biar langsung dibawa ke ruang rawat.
Bentar lagi aku siap kok kerjanya, jadi kita bisa ngobrol panjang lebar nantinya."
Geisya begitu bersemangat dan kemudian mengajak mamanya mamak untuk segera mendaftarkan Papa nya ke administrasi.
Setelah administrasi selesai, dan Papa nya Geisya langsung dibawa ke ruang rawat inap dan terlihat Geisya menunggu sampai dokter sampai selesai bertugas.
Akhirnya bertemu juga dengan dokter Govin, dan mereka langsung menuju kantin rumah sakit untuk ngobrol.
"kamu apa kabar Geisya? sudah selesai pendidikannya?"
"sudah dokter Govin, ini rencananya mau melanjutkan usaha Papa."
"panggil Govin aja, oh ya Ners Nania sekarang berada dimana?
Maklumlah aku baru selesai pendidikan spesialis bedah torak dan saat ini sedang magang di rumah sakit ini."
"mengambil spesialisasi dimana? masih di Indonesia?"
Dokter Govin menghela napasnya, dan sorot matanya yang sayu saat menatap Geisya.
"awalnya di universitas Indonesia, dan kemudian pertukaran mahasiswa ke Singapura.
Sebenarnya ini hanya pelarian, setelah Ners Nania memutuskan hubungan kami secara sepihak."
Geisya menghela napasnya dan seakan-akan dirinya menunjukkan empati terhadap apa yang dirasakan oleh dokter Govin.
"kak Nania sudah menikah dengan penerus Jaguar group, namanya Dewa. sebenarnya Papa ingin menjodohkan Geisya dengan Dewa.
__ADS_1
Tapi kak Nania berhasil membujuk Papa dan mama agar bisa menikah dengan Dewa.
Kak Nania menawarkan dirinya sebagai istri untuk Dewa, sekaligus sebagai perawat untuk suaminya kelak.
Usaha itu berhasil, dan Nania akhirnya bisa menikah dengan Dewa.
Tapi sepertinya kak Nania tidak bahagia dengan Dewa, karena mas Dewa itu menginginkan Geisya sebagai istrinya.
Kak Govin tau ngak, kenapa kak Nania memutuskan kakak secara sepihak?"
Dokter Govin menggelengkan kepalanya, dan sepertinya dokter itu mulai terpengaruh dengan ucapan Geisya.
"Papa awalnya setuju kalau kak Govin menjadi suami kak Nania, tapi kakak ku yang cantik itu tidak mau.
Karena waktu kak Govin masih magang jadi dokter umum kan?
intinya kak Nania tidak mau punya suami yang berpenghasilan rendah.
Minimal dokter spesialis lah, ataupun sedang magang dokter spesialis."
Dokter Govin terlihat mulai percaya dengan semua ucapan Geisya, dan seketika itu juga memegang batang lehernya.
Lalu dokter itu menundukkan kepalanya, sepertinya agak berat baginya mendengar penjelasan dari Geisya.
"tapi alasan Nania berbeda kala itu, Nania malah menuduhku selingkuh dengan mu."
"Geisya tau itu, aku juga ngak ngerti kenapa kak Nania bisa menuduhku selingkuh dengan kak Govin."
Seketika itu juga Geisya membisikkan sesuatu ke telinganya dokter Govin, lalu meminta nomor handphone dokter tampan itu dan mereka saling bertukaran nomor handphone.
Akhirnya mereka berpisah karena dokter Govin ingin istrihat setelah kerja satu harian di rumah sakit tersebut.
Lalu Geisya naik ke lantai atas, untuk menemui mama nya yang sedang berjaga-jaga di ruang rawat Papa nya.
"kenapa Papa bisa seperti ini?"
Geisya bertanya kepada mama nya dan terlihat asisten rumah itu mendekati Geisya yang duduk di samping mama nya.
"bapak ngak mau makan dan juga tidak mau istrihat, bapak selalu diruang kerja dan bekerja dan kerja.
Bahkan makanan yang mbak siapkan sampai basi di ruangan bapak.
Bapak hanya meminta kopi hitam yang kental agar tidak ngantuk."
Mama nya Geisya hanya menghela napasnya mendengarkan penjelasan dari asisten rumah tangganya, begitu juga dengan Geisya.
"nyonya.....
Non.......
Mbak pulang dulu ya, untuk mengambil pakaian bapak, nyonya dan non Geisya.
__ADS_1
Sekaligus masak untuk kita makan, karena makanan di kantin rumah sakit ngak enak."
Asisten rumah tangga itu pamit, dan hanya Geisya dan mamanya yang menjaga Brata Ankarbaya yang sedang terbaring di ranjang.