CINTA SANG PERAWAT

CINTA SANG PERAWAT
Nasib Dewa.


__ADS_3

Lalu Papa nya Dewa menatap Susi dengan tatapan yang penuh harap.


"Saat Dewa sudah tidak bisa menggerakkan kakinya, karena sempat beberapa kali berhenti minum obatnya.


Hanya istrinya yang selalu memberikan obat itu secara intens pada Dewa, dan tidak pernah absen melakukan nya."


"itulah alasan kenapa Nania bisa secepat itu menjadi kepala perawat di rumah sakit, ulet, sabar dan tentunya cerdas.


Seberapa bawelnya itu pasien dan Nania sanggup menjinakkannya.


Percuma juga bapak mintak tolong sama Susi, karena profesor Dadang tidak akan mendengarkan Ku, kecuali Nania.


Profesor sudah mengetahui keadaan Nania dan sudah memeriksanya sendiri ke rumah sakit Jawara.


Begitu juga dengan ibu mertuanya, mudah-mudahan saja Nania dan ibu mertuanya cepat siuman agar bisa menolong anak bapak.


Untuk sementara ini, tolong di perbanyak air rebusan obat herbal itu. masak lagi dengan api yang sangat kecil.


Itupun hanya bisa bertahan dua hari ke depan, dan tentunya kualitas obat tidak sebagus ramuan Nania yang kental dan kelat.


Mana obat herbal nya mbak? biar aku bantu untuk memperbanyak obat nya."


Susi menyanggah ucapan Papa nya Dewa, dan bersama-sama ke dapur untuk melihat obat herbal itu.


Sesampainya di dapur, Susi langsung menuangkan seluruh sisa air rebusan ke mangkok.


"tolong isi air ya ke wadah masak nya ya mbak. biar Susi yang menyaring sisa air rebusan ini.


Nantinya kita satukan dengan rebusan yang baru, setelah mulai mendidihkan.


Tapi ini Susi sisihkan dulu satu porsi untuk di minum malam ini."


"siap neng cantik."


prak....bram..... kresss.......


Seorang gadis cantik yang tiba-tiba datang ke dapur dan menumpahkan semuanya, mulai dari sisa rebusan obat herbal hingga obat herbal yang akan direbus ulang.


Susi dan mbak Yuni yang mencoba mempertahankan obat tersebut, akhirnya harus terkapar di lantai dengan mengeluhkan kaki mereka yang sakit.


"kurang ajar kau, bisa-bisanya kau mengambil kesempatan untuk masuk ke keluarga ini."


prak.....bram......


Indra langsung mendorong gadis itu hingga tersungkur di lantai dan pak Sanusi membantu mbak Yuni untuk berdiri.


"mentang-mentang kakak Nania pergi untuk sementara waktu, dan kau mau merebut suaminya?

__ADS_1


dasar pelakor....."


Gadis itu adalah Geisya, dan entah kenapa dia berada di tempat itu.


Susi tidak mengindahkan ucapan perempuan itu dan hanya fokus melihat obat-obat herbal yang tidak layak lagi di gunakan.


Susi terlihat kesal, geram dan menahan emosinya. karena obat terakhir itu tidak bisa digunakan lagi.


"kenapa perempuan gila ini bisa masuk kemari? lihat ini pak. obatnya sudah.......


ahhhhhh........


Susi berteriak karena kesal, semuanya sudah habis dan tidak ada lagi obat untuk Dewa.


Mbak Yuni yang sudah berdiri setelah di bantu oleh pak Sanusi dan kemudian berusaha mengutip obat herbal itu.


"ngak bisa di pakai pagi itu mbak, karena sudah bersentuhan dengan debu dari lantai ini dan itu sangat berbahaya karena sudah terkontaminasi oleh debu dan juga bakteri dari lantai.


langsung buang aja ke tong sampah, sekaligus perempuan gila itu."


"terus gimana ini neng? obatnya gimana ini?"


"oh mau gimana lagi, untuk sementara pak Pak Dewa kembali ke pengobatan medis lah.


Bawa dia ke dokter yang menanganinya, jangan sampai lumpuh total nantinya."


"tapi dokter itu menyarankan amputasi, sudah beberapa dokter baik itu dokter dalam negeri maupun dokter dari luar negeri dan menyarankan hal sama.


Obat medis yang di konsumsi oleh Dewa, memiliki efek samping.


Hanya pengobatan dari Nania yang mampu membuat keajaiban untuk Dewa. jika kembali ke dokter awal, nanti jalan terakhirnya adalah amputasi.


Aku ngak mau anakku jadi cacat seumur hidupnya.


Indra......


Kumpulkan semua dokter terbaik kita, dan perintahkan mereka semua untuk membuat menantu dan istri ku agar segera siuman."


Seketika itu juga Indra langsung melakukan suatu panggilan telepon dan kemudian berkali-kali Ia melakukannya.


"Segera akan berkumpul, sejauh ini para ahli sudah berdiskusi dan telah melakukan pemeriksaan terhadap mbak Nania.


Besok hasil tersebut akan keluar dan segera melakukan tindakan dan akan diberitahukan esok pagi kepada kita."


"emangnya kak Nania kenapa?"


Geisya yang sedari tadi hanya terduduk dan langsung menghampiri Indra dan bertanya keadaan Nania.

__ADS_1


"bukan urusan dan kau tidak perlu mengetahuinya, lagian kau ngapain kemari?"


Papa nya Dewa langsung menjawabnya dan tatapannya yang tajam ke arah Geisya, dan gadis itu seolah-oleh menantang Papa nya Dewa.


"saya datang kemari untuk menagih perjanjian om Basil dengan Papa."


"sudah sinting kau, semua sudah terlaksana. orang tua kau sudah mendapatkan suntikan dana dari keluargaku ini dan itu akhir perjanjian kami.


kalau ngak tau apa-apa, ngak usah ikut campur.


Pergi dari sini sebelum kau diseret oleh security kompleks ini.


k....e....l....u....a......r......"


Papa nya Dewa berteriak kepada Geisya, dan gadis itu langsung pergi setelah di Papa nya Dewa berteriak di depannya.


Setelah Geisya pergi dan Papa Dewa langsung menghampiri anaknya itu.


"sabar aja dulu kau ya, ini semua juga karena ulah mu.


Sedikit aja kau perduli sama istri mu, semua ini ngak akan seperti ini.


Mama mu akan selalu menemani Papa untuk mengelola perusahaan kita, dan omelan mendiang nenek mu, pasti masih bergema di rumah ini.


Apalagi setelah kesehatan sangat membaik akhir-akhir ini, sudah pasti omelan nya akan lebih nyaring.


Rumah seperti hampa rasanya, yang dulu sunyi dan setelah Nania menjadi istrimu. rumah ini menjadi sempurna.


Tapi.....


Sudahlah, semua sudah terjadi. dan yang terpenting bagaimana caranya membuat mama dan istri mu sehat kembali.


Jujur dari dalam lubuk hati Papa, ngak mau kalau kau itu bercerai dengan Nania.


Nania adalah sosok istri yang sempurna untukmu, tapi Papa ngak akan egois. jika Nania ngak bisa kau bahagiakan dan Papa ngak akan menahannya dan malahan membantunya untuk lepas darimu.


Dulu juga Papa di jodohkan dengan mama mu, tapi cinta dan kasih sayang mama mu. mampu meluluhkan hati ku.


Hanya saja mama mu berubah setelah kamu mengalami kecelakaan itu, perhatiannya semua tertuju padamu.


Mama kamu kelelahan, karena harus membantu papa di kantor. sehingga membuatnya kurang perhatian pada Papa.


Mendiang nenek mu itu, ngak pernah salah menilai orang.


Termasuk mama mu yang menjadi pilihannya dan penilaian nya terhadap Nania istrimu.


Papa nya Dewa kemudian menghela napasnya, dan seketika melirik Susi yang berdiri di dekat Indra.

__ADS_1


__ADS_2