
Beberapa saat kemudian Dewa sudah keluar dari kamar mandi dan hanya mengenakan handuk di pinggangnya.
Ada yang aneh, biasanya Nania langsung membantunya untuk mengenakan pakaiannya tapi kali ini sang istri malah sibuk dengan laptopnya.
Setelah Dewa selesai mengenakan pakaiannya dan kemudian melangkahkan kakinya ke arah meja rias Nania.
"Ayo makan."
Nania menolehnya dan kemudian menonaktifkan laptopnya, lalu mereka beranjak keluar kamar menuju meja makan.
Kedua orang tua Dewa belum pulang ke rumah, hanya mereka berdua yang ada di meja makan itu dalam keadaan diam.
Selesai makan malam, Nania langsung memberikan obat kepada suaminya dan kemudian beranjak ke kamar.
Nania telah memastikan suaminya minum obat, lalu beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
"Minyak herbal itu ngak di oleskan lagi ya?"
Dewa bertanya kepada istirnya, tapi Nania hanya memberi minyak itu dan meminta suaminya untuk mengoleskan sendiri.
Kemudian Nania mengambil kembali laptopnya dan mengerjakan sesuatu, Nania terlihat begitu sibuk hingga dirinya melupakan suaminya.
"Kamu ngapain sih?"
Nania tidak mengindahkan pertanyaan dari suaminya dan terus menerus mengetik di laptopnya.
Mungkin karena di cuekin oleh istrinya, akhirnya Dewa memilih keluar dari kamar itu seraya meraih kunci mobilnya.
Setelah Dewa pergi dari kamar, terlihat Nania menyeka air matanya dan kemudian mengakhiri pekerjaannya di laptop.
Nania meraih selimut dari lemari dan kemudian merebahkan dirinya di sofa kamar, sepertinya dirinya enggan untuk tidur di ranjang.
Baru saja rebahan dan langsung di ganggu oleh bunyi dering handphone nya, ketika Nania meraihnya dan nomor yang dikenali menghubunginya.
Nania langsung menolak panggilan itu, dan beberapa saat kemudian Nania menerima pesan.
Ternyata yang menghubunginya adalah Govin, dan lagi-lagi Nania tidak memperdulikan isi pesan tersebut.
Pesan di hapus dan nomor itu langsung diblokir olehnya dan kemudian menonaktifkan handphonenya.**
Pagi harinya Nania terbangun dan mendapati dirinya sudah berada di ranjang dan tidur bersama suaminya.
Nampaknya Nania di pindahkan oleh suaminya ke ranjang dan itu tidak dipedulikan olehnya.
Nania langsung mempersiapkan segala sesuatunya untuk keperluan suaminya, mulai dari pakaian hingga peralatan komunikasinya.
Handphone milik Dewa dalam mode silent, dan terlihat Geisya menghubunginya di pagi hari seperti ini.
Seolah-olah tidak melihat siapa yang menghubungi suaminya pagi-pagi seperti ini dan tetap melakukan aktifitas nya.
__ADS_1
Nania membangunkan suaminya dan setelah bangun langsung beranjak dari kasur lalu meraih handuk dari tangan Nania.
"Nanti jam sembilan, tepat di ruang meeting khusus administrasi rumah sakit Jawara.
akan diadakan rapat perdana untuk penyusunan anggota proyek dari profesor Dadang.
aku harap kamu bisa menerima Geisya menjadi kepala penyelenggaraannya sampai proyek itu bisa menghasilkan uang."
Nania tidak menanggapinya dan melangkah ke arah meja riasnya lalu merapikan meja rias itu.
Selesai mandi lalu berpakaian dan saatnya sarapan, alangkah terkejutnya Nania melihat Geisya yang sudah tiba di ruang tamu.
Dewa mengajaknya makan bersama, dan lagi-lagi Nania seolah-olah menganggap tidak adanya Geisya di meja makan tersebut.
Selesai makan mereka bersama-sama berangkat ke kantor, Nania berada di belakang kemudi sementara Geisya duduk disamping Dewa.
"Kak Nania tenang aja, ngak mungkin aku merebut suami kakak sendiri."
Ucapan Geisya barusan tidak di gubris oleh Nania, dan malah sibuk dengan handphone atau memang pura-pura sibuk dengan handphone itu.
Sesampainya di kantor dan mereka langsung disambut oleh jajaran dari pihak rumah sakit dan akan segera ke ruang rapat.
Semuanya sudah duduk rapi, dan Nania duduk dibarisan para ilmuwan yang berperan dalam penelitian tersebut.
Akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga, yaitu profesor Dadang.
Saat saya akan membacakan susunan para rekan profesor yang akan membantunya untuk menjalankan proyek ini.
Dari administrasi akan di ketua oleh Geisya Ankarbaya."
"Tunggu...!"
Profesor Dadang mengehentikan pembawa acara itu untuk melanjutkan pembacaan nya dan seketika itu juga semuanya terdiam.
"Kenapa profesor? apakah ada salah?"
"Saya sudah memberikan daftar orang-orang yang saya inginkan untuk membantuku dalam penyelesaian proyek.
Selain orang yang aku tunjuk, tidak boleh ada orang lainnya."
"Maaf profesor Dadang, keputusan akan penyusunan anggota profesor disusun sendiri oleh CEO Jaguar group yaitu bapak Dewa."
"Berarti proyek ini batal, dengan batalnya proyek ini dan itu artinya saya akan keluar saat ini juga dari rumah sakit Jawara."
Jawab profesor Dadang dengan tegas lalu beranjak dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan ruang meeting.
Seketika itu menjadi heboh, dan hanya Nania yang terlihat santai keluar dari ruang meeting tersebut dan menuju ruangan Dewa.
Duduk di sofa ruangan Dewa dan terlihat mengeluarkan sesuatu, seperti obat-obatan yang di titipkan nya kepada Indra kemarin untuk suaminya.
__ADS_1
"Nania, apa-apaan ini? kenapa profesor gila itu membatalkan proyek ini?"
Dewa bertanya kepada Nania yang duduk di sofa ruangannya, Dewa datang bersama Geisya.
"Obat seperti biasa dan mas Dewa harus minum setelah makan siang ya."
Dewa terlihat begitu emosi karena pertanyaannya dijawab dengan yang lain dan terlihat amarahnya dari raut wajahnya itu.
"Kamu mempermainkan aku ya? apa mau mu sebenarnya?"
"Ceraikan aku."
Jawab Nania tanpa ragu, raut wajah Dewa semakin tidak karuan dengan jawaban dari istrinya.
"Karena dokter Govin itu? terus kamu menjadi lalai membujuk profesor gila itu untuk memasukkan Geisya dalam tim nya.
apa hebatnya dokter Govin itu?"
"Jangan mengalihkan pembicaraan mas Dewa, ngak hubungannya dengan pria manapun.
semua ini murni keinginan ku, yang ingin bercerai dari mu."
"Tapi kenapa Nania?"
"Karena mas Dewa sudah pulih."
Jawab Nania dan kemudian menepis tangan Dewa dan beranjak pergi dari ruangan Dewa. melihat kejadian tersebut, terlihat Geisya begitu bahagia karena pada akhirnya Nania menginginkan perceraian.
Nania langsung pergi dari kantor pusat Jaguar group tersebut, taksi online yang dipesannya sudah tiba di dropship dan Nania langsung naik taksi online.
"Tujuan sesuai aplikasi kan mbak?"
"Iya, pak." ujar Nania.
Taksi online itu melaju dengan kecepatan sedang, tidak berapa lama kemudian sudah parkir disebut bangunan besar nan menjulang tinggi.
Ternyata tujuan Nania adalah perpustakaan daerah, yang berada tidak jauh dari alun-alun kota dan bersebelahan dengan kantor catatan sipil.
"Mbak Tina, apakah sudah menemukan arsipnya?"
Nania menyapa petugas perpustakaan tersebut, senyuman dari petugas yang cantik itu mengarah kepada Nania.
"Kemana aja sayangku?"
"Biasa mbak, Kerja." ungkap Nania.
Lalu petugas itu menunjukkan sesuatu dari arsipnya yang tebal serta sebuah buku yang terlihat seperti buku yang sangat lama.
Kemudian petugas yang bernama Tina itu, memberikan secarik kertas kepada Nania.
__ADS_1