CINTA SANG PERAWAT

CINTA SANG PERAWAT
Membujuk Nania.


__ADS_3

POV Dewa.*


Dengan kecewa Dewa ditinggalkan oleh kedua orangtuanya di ruangan Melati, setelah kedua orang tua Dewa keluar dari butik, lalu Melati masuk ke ruangannya.


"Kak Nania akan segera kemari."


Dewa terlihat antusias ketika Melati berkata kalau istrinya akan datang ke butik tersebut, seketika itu juga Melati langsung melirik Dewa.


"Mas Dewa pulang ya...! Karena kak Nania mau kemari."


"Kenapa aku pergi...! Apakah Nania membenciku?"


"No comen, terserah mas Dewa saja."


Jawab Melati dengan kecewa dan kemudian keluar dari ruangan tersebut, begitu juga dengan kakaknya dan terakhir di susul oleh Dewa.


Tidak berapa lama kemudian Nania sudah tiba di butik, awalnya tersenyum lalu terlihat biasa setelah melihat Dewa di butik tersebut.


"Kita harus bicara." Ujar Dewa.


Lalu Nania meminta ijin ke Melati untuk bicara di ruangannya, setelah mendapatkan ijin dan mereka berdua langsung menuju ruangan Melati.


"Proyek profesor Dadang itu bernilai milyaran rupiah, kamu sengaja memprovokasi profesor gila agar membatalkan proyeknya?"


"Jadi ini salah Nania?" Tanyanya.


"Menurut mu gimana...! hanya karena Geisya ikut dalam proyek, Geisya itu lulusan manajemen terbaik dari Sydney.


Pastinya Geisya bisa menghandle proyek dengan sempurna.


tolong...! aku mohon agar kamu bekerja profesional.


Aku tau kalau kamu cemburu, karena aku dekat dengan Geisya."


Dewa berhenti bicara karena melihat istrinya seolah-olah tidak mendengarkannya, dan malah fokus ke handphonenya.


"Nania...!" Bentak Dewa.


Lalu Nania menyimpan handphone miliknya ke tas kecilnya dan kemudian menatap wajah suaminya.


"Mas Dewa sudah meminum obatnya?"


Dewa menggelengkan kepalanya, karena istrinya membahas yang lain.


"Apa sih mau mu?"


"Cerai...! aku janji tidak akan menuntut apapun setelah kita bercerai."


Dewa menatap istrinya dengan tatapannya yang tajam, jawaban dari sang istri yang tidak ingin didengarkannya.


"Okey jika itu mau mu, tapi dengan satu syarat. kamu harus bisa membujuk profesor gila itu untuk melanjutkan proyeknya."


Nania tersenyum menanggapi ucapan dari suaminya, lalu beranjak dari tempat duduknya kemudian...

__ADS_1


"Saya belum selesai bicara...! duduk." perintah Dewa kepada istrinya.


Nania kembali duduk dan menatap ke arah dinding tanpa memperdulikan tatapan suaminya.


"Aku tidak akan menceraikan mu, sebelum kau berhasil membujuk profesor gila itu untuk melanjutkan proyeknya."


Ujar Dewa, tapi Nania tidak memperdulikannya dan malah memainkan kuku nya.


Lalu Nania mengambil gunting kuku dari tasnya dan kemudian malah santai menggunting kuku nya.


"Dengar ngak sih..! kalau suami lagi bicara, kamu perhatikan dengan baik-baik."


Ucap Dewa dan menekan kedua pipinya, hal membuat Nania berhenti menggunting kuku nya dan menatap mata Dewa.


"Satu... dua..."


Nania menghitung walaupun tidak jelas suaranya karena pipinya di tekan oleh suaminya dan tidak diperdulikan.


kreeek...kreek...


bram... plang...brasss....


"Ahhh...!" Dewa menjerit.


Dewa menjerit kesakitan karena Nania seperti mematahkan tangannya dan hal itu membuat Melati dan kakaknya menghampiri mereka berdua.


Dewa yang tergeletak di lantai dan memalingkan wajahnya karena malu terhadap Melati dan kakaknya yang telah tiba di ruangan itu.


Nania tidak menjawabnya dan kemudian mengambil gunting kuku nya yang terjatuh lalu meraih tasnya.


Lalu mendekati suaminya yang masih tergeletak di lantai dengan tatapannya yang tajam.


"Sudahi kekerasan mu, karena aku tidak menyukainya."


Ucap Nania lalu dari ruangan itu, dan Susi serta adiknya menyusul Nania yang akan pergi dari butiknya.


Nania sudah pergi dengan menggunakan taksi dan kemudian di susul oleh Dewa.


Ternyata Nania pulang ke rumah dan langsung menuju dapur, lagi-lagi Dewa terus mengikutinya.


"Nania...! aku mintak maaf, tapi kita butuh bicara."


Prak....


Nania membanting tutup panci dengan kuat, lalu menatap suaminya.


Kemudian keluar dari dapur dan melangkahkan kakinya ke arah dapur yang disusul oleh suaminya.


Sesampainya di kamar lalu Nania duduk di pinggir ranjang dan suaminya duduk berhadapan dengannya.


"Nanti jam tujuh malam, adalah acara lamaran Indra dan Susi. pakaian mas Dewa sudah aku siapkan."


"Terimakasih...! Aku mintak ya, karena telah berbuat kasar."

__ADS_1


"Santai aja, mas sudah makan?"


Dewa menggelengkan kepalanya dan sang istri pun tersenyum, lalu Nania mengulur tangan nya dan mereka bersama-sama keluar dari kamar.


Sesampainya di meja makan, Nania langsung menyajikan makanan dan minuman untuk suaminya.


Sang suami langsung menikmati makanan dan minuman yang tersaji di depannya, tapi Nania tidak ikut makan dan hanya menemani suaminya makan.


Dewa makan dengan lahap, beberapa saat kemudian sudah selesai makan, lalu sang istri langsung menyodorkan obat untuk di minum oleh Dewa.


"Sayang banget jika profesor Dadang membatalkan proyeknya."


Ucap Dewa setelah selesai meneguk obatnya dan kemudian menatap wajah istrinya.


"Salah mas sendiri, kan sudah aku beritahu sama mas Dewa, agar tidak mencampuri urusan penyeleksian anggota tim profesor Dadang.


seharusnya mas Dewa dan tim, cukup melakukan pengawasan dan evaluasi saja.


Tapi mas Dewa ngak mau dengar, makanya jangan suka merendahkan orang lain. sekarang mas Dewa mau ngapain?"


"Tolong bujuk profesor Dadang, bujuk agar mau melanjutkan proyek itu."


"Profesor Dadang itu ngak akan bisa di bujuk mas Dewa, karena beliau itu tidak akan mau kecewa untuk kedua kalinya.


Karena tidak akan ngaruh sekalipun Nania guling-guling di depannya, ngak akan berpengaruh."


"Kamu masih ngambek karena aku dekat dengan Geisya? emangnya apa salahnya jika Geisya menjadi kepala administrasi nya?"


"Ngak tau, tanya sendiri sama profesor Dadang.


Cemburu itu ngak pernah ada di kamus Nania, karena sudah terbiasa.


Kala itu Nania tidak setuju kalau mas Dewa memasukkan Geisya dalam timnya profesor Dadang.


karena kwatir profesor Dadang akan membatalkan proyeknya kalau ada tambahan di dalam timnya.


Profesor Dadang sudah menyiapkan tim nya dan direksi rumah sakit serta jajarannya sudah menyetujuinya.


Kantor pusat hanya perlu memantau, menilai dan mengevaluasi hasilnya. ngak perlu ikut dalam hal penentuan tim anggota.


Kantor pusat Jaguar hanya perlu membuat tim penilai yang ahli di bidangnya, dan bukan sebagai tambahan di tim nya profesor.


sebab sudah tertulis di kontrak proyek, sekali lagi Nania tekankan, kantor pusat hanya sebagai pengawas, marketing dan pendanaan.


semua ada bagiannya mas Dewa, dewan komisaris juga sudah menyetujuinya tapi karena kecerobohan mas Dewa dan semuanya berantakan parah.


Mas Dewa kan orang hebat dan berpendidikan tinggi, saatnya buktikan kepada pemegang saham Jaguar group dan jajarannya.


Tunjukkan kehebatan sang Dewa, kehebatan yang luar biasa dan mengagungkan itu."


Ucap Nania dan kemudian pergi meninggalkan dirinya di meja makan lalu pergi ke kamarnya.


Kemudian Dewa menyusul istrinya ke kamar, tapi sesampainya di kamar ternyata istrinya sudah berada di kamar mandi.

__ADS_1


__ADS_2