
Karena kecewa dengan hasil yang tidak maksimal, Dewa pamit untuk jalan-jalan agar dirinya tidak stres.
"Kata mama, jika stres seperti ini. lebih baik memanjakan diri dengan perawatan rambut dan wajah." ujar Dewa dan kemudian menghidupkan mesin mobilnya.
Dewa melajukan mobilnya menuju sebuah mall yang elit di ibu kota tersebut.
Sesampainya di parkiran dan langsung menuju lift untuk menuju lantai lima, dan begitu tiba di lantai lima. Dewa langsung menuju barbershop langganannya.
"Maaf om, Brian ngak sengaja menabrak om." ujar seorang bocah yang bernama Brian.
Dewa begitu terkejut melihat bocah laki-laki yang menabraknya, Dewa dan keluarganya baru saja membicarakan bocah yang mirip dengannya.
Kini malah bertemu secara tidak sengaja si barbershop langganannya.
Dewa jongkok agar bisa bicara dengan bocah yang bernama Brian yang mirip dengan di masa lalu.
Mulai dari hidung, wajahnya dan juga mulutnya. semua mirip dengan Dewa. hanya saja matanya yang mirip dengan Nania.
"Siapa namamu?" Dewa bertanya dan kemudian tersenyum pada anak itu.
"Namaku Brian Satria, boleh Brian tahu nama om siapa?" ucap anak itu.
"Namaku om adalah Dewa." jawabnya kepada anak tersebut.
"Waouu...! Dewa Wisnu atau Dewa Brahma?" bocah itu bertanya lagi.
"Brian...! sekarang giliran mu." bocah itu di panggil tukang cukur itu.
Brian pamit duluan ke Dewa dengan begitu sopan dan langsung menuju kursi pangkas karena sudah tiba gilirannya.
"Gaya rambut Brian harus seperti rocker," kata pria muda tukang cukur tersebut.
"Om Fahri mau di omelin bunda?" ucap Brian.
Pria yang Fahri itu langsung lemas, dengan kemudian mulai mengambil peralatannya.
"Om Fahri, sudah bosan melihat gaya rambut Brian yang itu-itu saja." kata pria itu.
"Brian juga, tapi bunda ngak suka gaya rambut yang macam-macam, kata bunda cukup yang normal saja.
Jangan berlebihan karena sesuatu yang berlebihan itu tidak bagus. Sederhana tapi bahagia, simpel tapi terlihat elegan." ujar Brian.
"Baiklah kalau begitu, karena memang Brian sudah tampan dari sananya." sanggah pria muda itu.
__ADS_1
Lalu pria yang bernama Fahri itu mulai bekerja dan terlihat sangat akrab dengan Brian.
Dewa menghampiri mereka berdua, tapi karena mereka berdua asyik ngobrol sehingga Dewa sedikit di abaikan.
"Maaf mas, tadi saya cuekin. mohon tunggu sebentar.
Brian yang lebih dulu datang kemari, rekan yang di samping ku ini juga bentar lagi selesai kok." ucap Fahri karena melihat Dewa berdiri disampingnya.
"Santai saja mas, aku ngak buru-buru. oh iya mas, apakah kenal dengan Brian?" Dewa bertanya pada Fahri.
"Om ngapain nanya-nanya? sudah kayak wartawan saja." Brian yang menjawabnya.
"Brian...! jangan cetus gitu, Dong. ngak sopan tahu?" ucap Fahri.
Brian langsung minta maaf kepada Dewa atas ucapannya yang ketus.
"Maaf mas Dewa, atas ucapan ponakan ku ini yang cetus, mamaku bekerja di rumah Brian. sehingga kami saling kenal."
Fahri meminta maaf pada Dewa dan kemudian menjelaskan akan kedekatannya dengan Brian.
"Kalau boleh tahu, nama bunda nya Brian siapa?" Dewa bertanya lagi.
Karena pertanyaan Dewa, lantas membuat Brian turun dari kursi pangkas itu dan menatap tajam ke arah Dewa.
Gayanya sudah sangat mirip dengan Dewa yang tramental dan Fahri langsung berlutut dan meraih Brian.
Seketika mereka bertiga langsung menjadi bahan perhatian dari pelanggan yang lain dan merasa aneh dengan sikap Dewa.
"Ngapain sih nanya-nanya mama orang lain? atau bapak mau menikahi mama nya bocah ini?" ucap seorang pria yang merasa terganggu.
Dewa yang mendengar sindiran tersebut langsung terdiam, sementara Brian sudah melepaskan kain dari lehernya yang digunakan rambut tidak masuk ke badannya saat potong rambut.
Dewa langsung jongkok dihadapan Brian, dengan tatapannya yang sayu.
"Om minta maaf karena membuat Brian tersinggung, Om ngak bermaksud untuk berbuat jahat.
Tapi Brian sangat mirip dengan seseorang yang om sayangi, tapi dia pergi meninggalkan Om." ucap Dewa yang masih jongkok dihadapan Brian.
"Begitu, Toh. Brian hanya merasa aneh saja, baru ketemu sudah nanya nama bunda ku.
Nama bunda ku adalah Nania, cantik dan baik hati. Brian sangat mencintai bundaku."
Mendengar jawaban dari bocah itu, Dewa langsung terduduk lemas dan air matanya langsung menetes di pipinya.
__ADS_1
"Bunda mu dimana sekarang?"
Mendengar pernyataan dari Dewa, bocah itu malah terlihat heran. hal itu dikarenakan Dewa yang sudah meneteskan air matanya.
"Kerja...! Brian kemari di antar Oma Wadeh dan sekarang sedang belanja di supermarket di lantai tiga." Brian menjawabnya dengan santai.
"Iya, Mas. mama Wadeh menitipkan Brian, selesai memangkas rambut Brian, kami langsung pulang." sanggah Fahri yang sudah berada dibelakang Brian.
Dewa hanya menatap Brian dan kemudian memeluknya erat, tapi sepertinya bocah itu menolak untuk di peluk.
"Apaan sih peluk-peluk?" ucap Brian dan memaksa untuk lepas dari pelukan Dewa.
Fahri membantunya sehingga bisa lepas dari pelukan Dewa.
"Apa-apaan sih mas? main peluk gini!" ujar Fahri dan Brian sudah berada dibelakang tubuhnya.
"Om Fahri...! pulang, Yuk! takut sama Om ini." kata bocah tampan itu karena ketakutan.
Fahri langsung menggendong Brian, lalu mengemasi barangnya dan hendak pergi dari barbershop tersebut.
"Aku kau ikut kalian berdua." pinta Dewa.
"Mas Dewa kenapa, sih? kalau bukan mas nya pelanggan tetap barbershop ku, sudah aku patahkan kepala mu itu.
Mas Dewa pergi dari sini, sebelum aku panggil security."
Fahri membentak Dewa dan memintanya untuk tidak menyakiti ponakannya, tapi Dewa malah bersujud di kaki Fahri.
"Nania itu istriku, dan Brian adalah anakku. kamu lihat sendiri betapa miripnya aku dan Brian." ujar Dewa yang masih bersujud di kaki Fahri.
Akhirnya Fahri menurunkan Brian dari gendongannya dan kemudian mencoba mencocokkan kemiripan Brian dengan Dewa.
"Terlihat agak mirip seperti, tapi ngak. Jangan bicara sembarangan, Ya.
Keluarga mbak Nania itu dari kota Ternate, jadi ngak mungkin menjadi istri mu. toh juga suami mbak Nania sudah meninggal dunia.
Ngaur...! ayo bangun, arah aku panggil security ini." bantahan dari Fahri akan ucapan Dewa.
Dewa semakin agresif dan Fahri menggendong Brian dan kemudian berjalan dengan setengah berlari untuk menghindari Dewa.
"Pak...! tolong kami, Pak. itu ada orang gila yang mengaku sebagai ayah dari ponakan ku ini. tolong singkirkan pria itu." pinta Fahri ke security yang kebetulan lewat.
Brian membenamkan wajahnya ke dada Fahri yang lebar, lalu meminta Fahri untuk membawa pergi dari tempat tersebut.
__ADS_1
Dewa sudah di cegah oleh tiga security sekaligus, alhasil Fahri dan bocah itu bisa lepas dari pantauan Dewa.