
Hari sudah menjelang sore dan Nania tidak urung bercerita tentang dirinya dan memilih pulang bersama pak Sanusi.
Perlahan tapi pasti, pak Sanusi menepi karena ada panggilan masuk di handphonenya.
Setelah selesai menerima telepon, lalu pak Sanusi melirik Nania melalui kaca spion yang ada diatasnya.
"Tuan muda, memintak Ndok, untuk menemui di suatu tempat." ucap pak Sanusi.
Nania tidak menolaknya dan mereka langsung menuju tempat yang diinginkan oleh Dewa untuk bertemu.
Sebuah coffee shop yang tidak terlalu jauh dari arah kantor pusat Jaguar group, dan Nania memintak pak Sanusi untuk menemaninya kedalam coffee shop tersebut.
Pak Sanusi mengambil meja tersendiri, dan terlihat Nania sempat tersenyum setelah melihat Dewa duduk di pojok.
"Nania, dengan cara Geisya. pasti profesor gila itu akan melanjutkan proyeknya. kami sudah menemukan keberadaan Profesor Dadang." ucap Dewa dengan begitu yakin.
Dewa kemudian terdiam karena, Geisya sudah hadir di meja mereka dan langsung duduk.
"Maaf ya, mas. pada antri di toilet," ucap Geisya seraya menatap Dewa.
Nania hanya terdiam dan seolah-olah baru mengenal Dewa dan juga Geisya, seperti ngak ekspresi cemburu atau marah.
Lalu Dewa, pamit untuk menjawab panggilan telepon dari seseorang dan nampaknya itu bersifat rahasia karena menjauhi istrinya dan juga Geisya.
"Eh... anak pungut, sebentar lagi. kau akan segera enyah dari istana megah itu. kau akan tetap menjadi pecundang." ucap Geisya dengan sadisnya.
"Bukan pecundang, tapi lebih tepatnya membuang sampah pada tempatnya. aku, hanya heran saja melihat mu.
Kamu selalu menampung sampah dariku, wajar memang, sebab mulut sangat besar dan mampu menampung berbagai sampah busuk." Ucap Nania.
Terlihat Geisya begitu geram melihat Nania, tapi tidak berani melakukan apapun terhadap Nania.
"Lihat saja ya, Nania. akan segera ku depak kau dari istana megah itu dan hidup mu akan menjadi pengemis di jalanan." ungkap Geisya yang menahan emosinya.
"Ngak usah khawatir, Geisya. saya itu berpendidikan tinggi, bukan seperti kau yang tidak SMP dan hanya bisa menjual diri demi uang.", ucap Nania.
"Auh...!" Geisya berteriak karena pakaiannya basah.
Geisya sengaja menyiram bajunya karena Dewa sudah menghampiri mereka.
"Kak, Nania. menyiram pakaian ku." ucap Geisya.
__ADS_1
"Kamu kenapa sih, Nania? kamu cemburu kalau aku dekat-dekat dengan adik mu?" tanya Dewa dengan emosinya.
Nania tidak menggubrisnya dan kemudian menumpahkan es cappucino tepat di kepala Geisya dan berikut makanan yang sudah tersaji.
"Ini baru benar, tong sampah seperti kau. memang layak menampung sampah yang tidak bisa di daur ulang." ucap Nania.
"A...ahhh...!" teriak Geisya.
Lalu Nania menjambak rambut Geisya, dan kemudian...
plak... plak...," Nania menampar pipi kanan dan pipi kiri Geisya.
"Dasar pelakor, sudah puas kamu tidur sama suamiku? dasar perempuan murahan." ucap Nania.
Geisya menjerit kesakitan dan Nania melepaskan tangannya dari kepala Geisya. kemudian Nania meraih sesuatu dari tasnya dan melemparkan beberapa foto ke wajah Geisya.
"Hebat kamu ya, ternyata kau. bukan hanya tidur dengan suamiku, tapi sudah tidur suami orang juga." ucap Nania.
Nania sengaja berkata dengan suara keras, dan foto-foto Geisya yang sedang berada di ranjang dan tidak mengenakan apapun dengan seorang pria dewasa yang berbeda-beda.
"Mas Dewa, sudah jelas-jelas mengingkari perjanjian pranikah kita. jadi tidak ada alasan lagi." ucap Nania dengan lirih.
"Nania, mohon. tolonglah agar kita berpura-pura dalam baik-baik saja, sampai selesai pernikahan Susi dan Indra." kata Nania dengan membisikkan ke telinga Dewa.
Akan tetapi Dewa, tidak menggubrisnya. wajahnya yang begitu terlihat marah dan malah membantu Geisya untuk berdiri.
Lalu Nania beranjak pergi dari kafe tersebut yang di ikuti oleh pak Sanusi.
Pak Sanusi membuka pintu mobil, dan Nania langsung masuk ke dalam.
Mobil telah melaju dengan kecepatan sedang, melalui kaca spion mobil, terlihat Nania meneteskan air matanya.
Mobil belok kanan dan itu mengarah ke arah taman alun-alun kota, beberapa saat kemudian mereka telah di taman tersebut.
Setelah parkir dan Nania, langsung keluar menuju sebuah tempat duduk di sudut taman dan seketika itu juga Nania. langsung menumpahkan air matanya.
Dari kejauhan pak Sanusi, menatap Nania yang sedang menangis seraya memegang air mineral dalam kemasan.
Sepertinya Nania, sudah mulai tenang dan pak Sanusi menghampirinya.
"Diminum dulu, Ndok!" ucap pak Sanusi seraya memberikan air mineral dalam kemasan kepada Nania.
__ADS_1
Nania meneguk air minum tersebut, hingga habis setengah. lalu menarik napasnya secara perlahan-lahan dan hingga akhirnya terlihat jauh lebih tenang.
"Tuan, akan membantumu, Ndok. membantu untuk proses perceraian itu. tapi ada suatu persyaratan yang dilimpahkan kepada tuan muda." kata pak Sanusi dan duduk disamping Nania.
"Apa syarat itu, Pak?" tanya Nania.
"Jika Geisya, berhasil membuat profesor Dadang melanjutkan proyeknya. maka perempuan itu bisa menikah dengan tuan muda." ujar pak Sanusi.
Tapi Nania malah tersenyum menanggapi ucapan dari pak Sanusi.
"Ndok, kok tersenyum?" tanya pak Sanusi dengan keheranan.
"Jika mereka memanfaatkan kelemahan yang dimaksud oleh Geisya, maka kehancuran rumah sakit Jawara akan menjadi taruhannya." ungkap Nania.
"Lah..! kok bisa Ndok?" pak Sanusi bertanya lagi.
"Nania, sudah menjelaskan. bahwa profesor Dadang itu. bukan profesor biasa. siapapun yang berani menyentuhnya, maka siap-siaplah untuk hancur.
Tolong sampaikan sama bapak dan ibu, jangan menggunakan kelemahan profesor Dadang untuk melanjutkan proyeknya." kata Asna dengan pelan.
"Emangnya, apa yang dimaksud dengan kelemahan profesor itu?" tanya pak Sanusi lagi.
"Entahlah, Pak e! Nania, sudah lama bekerja sama dengan profesor Dadang. tidak sedikitpun pun menemukan kelemahan dari profesor gila itu.
Akan tetapi, profesor Dadang. hanya mengalami nasib sial dalam berkeluarga, Nania. sama sekali tidak menemukan apapun aib yang lain atau kelemahan profesor Dadang." jelas Nania dengan tegas.
"Maksud, Ndok! kalau Geisya akan menggunakan cara licik, begitu!" tanya pak Sanusi dengan ekspresi wajah yang curiga.
"Hanya kelicikan yang menjadi kemampuan Geisya, lebih dari situ nihil. oh iya, Pak. bisakah bapak menelpon ibu dan bapak? kita perlu memberitahu hal ini.
Karena yang menjadi taruhannya adalah rumah sakit Jawara." pinta Nania.
Seketika itu juga, pak Sanusi langsung menelpon pak Basil, yang tidak lain adalah ayah dari Dewa.
Pak Sanusi sudah selesai menelpon dan kemudian menatap Nania.
"Tuan dan nyonya, sudah menyiapkan tempat yang privat untuk kita ketemuan, Ndok!" kata pak Sanusi.
Tanpa bicara mereka langsung bergerak menuju tempat yang maksud, dan berhubung hari sudah sore, sehingga jalanan agak macet.
Mereka seperti terjebak dalam kemacetan dan pada akhirnya bisa bernapas lega karena jalanan sudah mulai lancar.
__ADS_1